Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Feeling Seorang Ibu


__ADS_3

Esok harinya. Matahari menyinari mansion Harlow yang terletak di hutan belantara. Di sebuah kamar yang didominasi cat berwarna putih terdapat percikan darah di lantai dan di dinding juga. Di dalam ruangan seorang wanita berambut panjang tergeletak tak berdaya dengan posisi tubuh meringkuk.


"Lunna A!!!" Yuri berteriak nyaring.


Pria itu menyelonong masuk ke dalam kamar Lunna. Sedari tadi, dia menunggu Lunna di ruangan tengah saat Lunna tak kunjung tiba. Dengan perasaan gelisah, kaki jenjangnya berjalan menuju kamar Lunna hendak memeriksa keadaannya. Namun belum sampai di ambang pintu. Matanya melotot melihat pintu kamar Lunna terbuka lebar, belum lagi bau anyir darah menguar dari dalam kamar.


"Lunna A, bangun...."


"Maafkan Yuri yang tak bisa menjaga Lunna...."


Yuri membawa tubuh Lunna ke dalam pangkuannya sembari menepuk-nepuk pelan kedua pipi Lunna. Seketika air bening membasahi pipinya.


Lunna bergeming, tak ada tanda-tanda matanya membuka. Namun dada Lunna masih naik dan turun dengan pelan. Seluruh tubuhnya dipenuhi darah dan bibirnya nampak pucat.


"Yuri! Bawa Lunna ke kamarku! Lakukan tugasmu sekarang!" perintah Jack yang baru saja tiba. Beberapa detik lalu, ia mendengar teriakan Yuri menggema sampai ke ruang tengah.


Yuri menoleh, melayangkan tatapan yang sulit diartikan. Namun tanpa banyak kata ia mematuhi perintah Jack.


Kini, hanya Jack yang berada di kamar Lunna. Matanya menelisik keadaan sekitar dengan tatapan datar tanpa ekspresi sedikitpun. Ia berjalan menyusuri tiap sudut ruangan Lunna. Dering handphone berbunyi, Jack mengalihkan pandangan matanya ke nakas.


"Hallo?" sapa Jack terlebih dahulu.


Di sebrang sana Kristin mengerutkan dahi, saat yang mengangkat telepon adalah Jack bukan Lunna. Jack menyapa kembali kala Kristin tak menyahut sama sekali.


"Baik lah, aku tu—"


"Tunggu Tuan, maaf aku hanya terkejut. Hmm, itu.. Lunna di mana?" tanya Kristin to the point. Entah mengapa perasaannya tak karuan sedari malam. Belum lagi pesan singkat tak dibalas Lunna sama sekali.


"Dia sedang sakit, Yuri akan melobi brand yang berkerjasama dengan Lunna," kata Jack lalu memutuskan sambungan secara sepihak.


Sedangkan Kristin menggeram sebal saat mendapati Jack menutup telepon tanpa persetujuan darinya.


"Semoga saja Lunna baik-baik saja," Kristin bergumam pelan lalu menghela nafas.


[Kamar Jack]


Terdengar cicitan pintu terbuka. Seketika Yuri dan Sahara menoleh, melihat Jack dengan wajah datar masuk ke dalam kamar. Dengan sigap Yuri dan Sahara beranjak dari tempat tidur, mengambil posisi masing-masing di sisi kiri ranjang.

__ADS_1


Jack memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Pandangannya tak lepas dari Lunna yang tengah terbaring di tempat peraduannya. Kini, Lunna sudah tak seperti tadi. Dengan terpaksa Sahara membersihkan tubuh Lunna atas perintah Jack.


"Kau sudah menghubungi Dokter?" tanya Jack kepada Yuri yang masih berurai air mata.


"Sudah, Tuan..." Suara Yuri terdengar serak sampai-sampai hinggusnya pun ikut keluar.


"Cih, kau sangat cengeng!" Sahara berseru tanpa sadar. Kepalanya menunduk cepat tatkala mendapati Jack tengah memandanginya dengan tatapan dingin.


'Mampus aku.'


"Keluar kau!" seru Jack sembari menunjuk Sahara. Tanpa banyak kata Sahara mengangguk dan berlalu pergi. Selepas kepergian Sahara, Jack beralih menatap Yuri.


"Sebegitu sukanya kau dengan Lunna?"


Suara Jack terdengar dingin dan tajam membuat Yuri menelan ludah kasar. Yuri enggan menyahut, karena dia telah melakukan kesalahan dengan menangisi istri Tuannya.


"Kau pergilah ke kantor, urus semua perkerjaanku dan katakan pada brand yang berkerjasama bersama Lunna digantikan Britney saja, hari ini aku tidak berkerja," kata Jack cepat. Yuri mengangguk, namun sebelum melangkah ia melirik Lunna sekilas, kemudian berlalu pergi.


Jack menatap datar punggung asistennya itu yang menghilang di balik pintu. Matanya beralih menatap Lunna sedang tertidur pulas di ranjang. Dengan perlahan Jack menaiki tempat tidur, melihat seksama wajah Lunna. Satu tangannya terulur mengelus pipi kanan Lunna.


"Maaf, ini semua karena ulah ayahmu, dia yang memulai semuanya," desis Jack pelan sambil tak hentinya membelai pipi Lunna yang nampak lebam.


Getaran ponsel di saku jasnya menghentikan gerakan tangan Jack. Dengan cepat Jack beranjak, lalu mengambil ponsel.


"Hallo?"


"Bagaimana? Apa dia sudah mati?" tanya seseorang di sebelah sana.


Jack tak langsung membalas. Detik selanjutnya, ia berkata,"Belum."


Seseorang di ujung sana menggeram sebal. "Kenapa belum?!"


Belum sampai bibir Jack membuka terdengar ketukan pintu dari luar. Membuat Jack mematikan sambungan telepon.


Seorang pria berpostur gempal dan memakai pakaian serba putih menyembul dari luar.


"Mr.Jack, tumben sekali kau memintaku ke mansion?" tanya pria paruh baya itu. Jack membalas hanya dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


*


*


Sementara itu, di Indonesia.


Lily nampak grasak-grusuk. Sedari tadi, ia tak bisa tertidur. Entah mengapa perasaannya tak karuan. Lily bergonta-ganti posisi di tempat tidur. Tanpa ia sadari pergerakkannya membuat sang suami yang berada disebelah terbangun. Dengan perlahan kelopak mata Leon membuka, mengerjap-erjap beberapa kali dan menoleh ke samping.


"Honey, kenapa belum tidur?" tanya Leon sambil memeluk Lily dari belakang dan menaruh dagunya di pundak istrinya.


"Astaga, maaf aku membangunkan mu," kata Lily tak enak hati karena telah menganggu tidur Leon.


"It's Okay," Leon melabuhkan kecupan sekilas di pipi Lily. Lalu kembali bertanya,"Kenapa belum tidur?"


Lily menghela nafas kasar. "Honey, aku tidak bisa tidur, perasaanku tidak enak, apa terjadi sesuatu pada Lunna?"


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, sudah tidurlah," kata Leon.


Lily menghela nafas sesaat, sembari melepaskan tangan Leon dari pinggangnya, lalu berbalik. Gurat kecemasan terukir jelas diwajahnya.


"Tidak, perasaanku tidak pernah salah Honey, aku yakin terjadi sesuatu padanya. Bisa saja dia sakit atau apa, kau tahu sendiri, Kan? Lunna itu sangat ceroboh, siapa tahu saja dia terjatuh di lokasi syuting atau—"


Secepat kilat Leon mengangkat satu jari telunjuknya dan menaruh di ujung bibir Lily.


"Shftt, tenanglah. Dia pasti baik-baik saja, atau bila perlu kita ke sana minggu depan," kata Jack menenangkan sang istri yang nampak khawatir.


"Kenapa tidak besok saja?" tanya Lily cepat. Seketika rasa sesak menjalar didadanya. Dia pun tak tahu mengapa bersikap berlebihan. Padahal ia sudah menanyakan kabar putrinya melalui wh*tsapp beberapa jam yang lalu.


Leon menarik nafas panjang. "Besok aku harus menghadiri pertemuan dengan perusahaan Jepang, Honey. Kau tahu sendiri, Nick dan Sam masih harus aku bimbing," kata Leon menatap lekat sang istri berharap dia mengerti.


Lily memberengut kesal. "Ya sudah! Biar aku saja yang sendiri ke sana," katanya sambil memanyunkan bibir.


Leon malah terkekeh pelan melihat kekesalan istrinya. Lalu mengecup bibir ranum Lily lagi.


"Honey! Aku serius!" Lily berseru cukup nyaring sambil menampilkan muka marahnya.


Akan tetapi bagi Leon, raut wajah istrinya, nampak menggemaskan. Tangan kekarnya merengkuh tubuh Lily kemudian membenamkan wajah Lily ke dalam dadanya.

__ADS_1


"Honey, tenanglah aku yakin Lunna baik-baik saja. Dia wanita yang kuat sama seperti dirimu, besok kita telepon dia. Sekarang dia pasti sibuk syuting," kata Jack lalu melabuhkan kecupan di pucuk kepala Lily sembari tangannya mengelus punggung istrinya.


"Hmm, baiklah. Aku tak mau Lunna kenapa-kenapa, Honey. Feeling seorang ibu tidak pernah salah. Walaupun aku hanya ibu sambungnya." Lily semakin menelusupkan wajahnya ke dada bidang Leon. Berharap apa yang dirasakan hanya perasaannya saja.


__ADS_2