
"Daddy! Stop!" pekik Nickolas dan Samuel bersamaan. Keduanya baru saja tiba di mansion bersama Daddynya. Mereka panik tatkala melihat Daddynya menghajar seorang pria yang disinyalir suami adik mereka. Dengan cepat keduanya memisahkan Leon agar tak kembali melayangkan pukulan.
Suasana mencekam di ruangan. Lunna begitu kecewa melihat hati Daddynya belum melunak sedikitpun. Leon mendengus pelan kemudian meminta dua anaknya untuk melepaskan dirinya. Ia beralih menatap Lunna yang memalingkan mukanya.
"Nak, Daddy merindukan mu," kata Leon hendak mendekat.
"Jangan sentuh aku!" Lunna mundur beberapa langkah sembari mengusap perutnya hendak memberitahu Leon bahwa dia tengah hamil.
Leon tergugu. Melihat Lunna terkesan menghindarinya. Detik selanjutnya dia baru menyadari tubuh anaknya terlihat berisi.
"Kau hamil?"
"Iya, aku hamil anak Jack!" kata Lunna ketus.
"Cih, sampai kapanpun aku tidak pernah menganggapnya ada." Leon hendak berlalu pergi meninggalkan semua orang di dalam ruangan.
"Ya sudah, anak kembar triplet ku juga tidak akan menganggap kakeknya ada nanti!" kata Lunna dengan lantang. Membuat Lily berserta kumpulan manusia di ruangan membelalakan matanya. Entah Lunna bercanda atau apa akan tetapi mereka merasakan aura yang menguar di ruangan berbeda.
Deg.
Hati Leon seperri di remas oleh sesuatu yang tak kasat mata mendengar perkataan Lunna barusan. Sebelum melangkah, ia melirik putra kembarnya untuk mengikutinya ke ruang kerja. Mengerti dengan bahasa isyarat, Nickolas dan Samuel pamit undur diri, mereka pun menebak sepertinya akan di marah juga. Sebab hari ini keduanya melakukan kesalahan fatal di perusahaan.
Selepas kepergian Leon, Nickolas dan Samuel. Lily menarik nafas panjang, dan mulai mencairkan suasana dengan melontarkan guyonan. Ia juga mengajak teman-teman Jack dan Lunna untuk makan bersama.
Setelah selesai menyantap hidangan. Yuri, Kristin, Abe dan Hira di perintahkan Jack pergi ke perusahaan miliknya. Mereka mengangguk patuh, segera melaksanakan tugas masing-masing. Sedangkan Darla pamit undur diri, harus mempacking barang dagangan sebab pesanannya semakin hari semakin bertambah banyak.
Kini Jack, Lunna dan Lily berbincang-bincang di ruang tamu melepaskan kerinduan yang terpendam sejak lama. Suara tawa terdengar menghiasi bilik tersebut. Seketika hening manakala Leon, Nickolas dan Samuel bergabung di ruangan. Aura permusuhan masih tersirat di kedua mata Leon. Pria itu menatap sengit Jack sedari tadi.
__ADS_1
"Daddy! Bisa tidak usah menatap suamiku seperti itu. Walau bagaimana pun dia adalah bapak dari anak-anakku!" cerocos Lunna dengan geram. Daddynya bersikap berlebihan pada Jack.
"Cih! Suka-suka Daddy! Dia siapa?! Hanya orang asing di rumah ini!" Leon menahan sebal, Lunna semakin berani padanya.
"Leon!" Lily melebarkan mata membuat Leon memalingkan mukanya. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak muda lagi menarik tangan Leon, kemudian beranjak.
"Ayo kita ke ruang kerjamu, Leon! Ini perintah!" Bak anak kecil Leon pasrah manakala melihat pancaran mata Lily seakan siap mengulitinya. Sebelum melangkah Leon melemparkan pandangan intimidasi kepada Jack.
Tinggalah, Jack, Lunna, si kembar di ruangan. Lunna memberengut kesal, mengapa Daddynya itu sangat keras kepala. Detik selanjutnya ia beralih menatap Nickolas dan Samuel yang sedang asik dengan dunianya. Keduanya tengah duduk bersantai dengan meneguk anggur merah.
"Kenapa kalian masih di sini, Kak?" tanya Lunna penasaran.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" Samuel malah balik bertanya. Dengan santai melipat kakinya kemudian melirik Nickolas sejenak. Keduanya berbicara melalui mata batin.
"Cih! Ini kan masih jam kerja!" Entah mengapa melihat wajah kedua kakak kembarnya itu membuatnya semakin kesal.
Seketika Nickolas memutus kontak mata, ketika melihat asisten mansion masuk ke ruangan membawa beberapa cemilan. Tiba-tiba ide jahil terlintas dibenaknya.
"Oh my God! Jack mengapa kau melihat bokong wanita itu, kau tak memikirkan perasaan adikku apa, ya aku tau memang Lunna terlihat mengembang seperti donat tapi dia masih cantik kok," kata Nickolas tanpa jeda sedikitpun. Membuat Jack mulai panik saat mendapatkan tatapan dari Lunna.
"Tidak, Baby! Nickolas berbohong–"
"Oh, jadi kau mengatakan aku bohong begitu?" potong Nickolas cepat.
"Bukan begitu maksudku–"
"Sudah! Stop! Malam ini kau tidur di luar Jack Harlow!" sela Lunna sembari beranjak dari tempat duduknya dan mengusir asisten tersebut dengan memberikan bahasa isyarat. Asisten itu sangat tak enak hati. Meski dia juga menaruh rasa pada Jack Harlow' pria dengan sejuta pesona menurutnya. Akan tetapi dia sadar diri sebab saingannya adalah Lunna. Wanita yang sangat cantik dan berkharisma menurut penilaiannya.
__ADS_1
Jack semakin panik. Melihat Lunna pergi meninggalkan dirinya seorang diri bersama kakak kembarnya. Selepas kepergian Lunna. Jack hendak menyusul namun diurungkannya ketika mendengar suara tawa Nickolas dan Samuel terdengar.
Jack mendengus kasar. "Kalian sengaja, Kan?"
"Kalau sudah tahu, mengapa bertanya, welcome to my family Jack!" Nickolas mendekat kemudian menepuk perlahan pundak Jack tengah berdiri mematung.
"Jadi aku di terima?" Jack segera tersadar. Menatap penuh harap Nickolas.
"Iya, kami menerimamu. Asal kau tidak macam-macam dengan adikku, kalau kau menyakitinya! Kau akan mati di tanganku!" Nikcolas mengancamnya dengan menampilkan raut wajah serius.
"Terimakasih." Jack mengembangkan senyuman setidaknya saudara-saudara Lunna sudah mau menerimanya.
"Tapi kau harus berkerja keras meluluhkan hati Daddy!" Samuel menimpali.
"Iya, aku tau itu. Hmm tapi karena ulah kalian Lunna marah padaku," kata Jack jujur.
"Hahaha! Sudah lah, hitung-hitung ujian dari kami, lebih baik kau menyusulnya nanti saja. Sekarang temani kami bermain catur agar kau bisa meluluhkan hati Daddy!" Nickolas berkata lugas membuat Jack mengerutkan dahinya.
***
Malam menyapa. Saat ini Jack berada di luar pintu kamar. Lunna benar-benar murka padanya dan tidak mengizinkannya masuk ke dalam kamar. Jack mendesah kasar, kemudian menyenderkan punggungnya ke tembok.
"Huh, aku tidak mampu berjauhan darinya..." Jack bergumam pelan.
Derap langkah kaki seseorang mengalihkan atensi Jack. Dengan cepat ia menoleh ke sumber suara, melihat Leon tengah memegang bantal guling.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Leon ketus.
__ADS_1
"Sama seperti yang kau lakukan Tuan Andersean." Jack menebak jika Leon juga di usir mertuanya akibat permasalahan tadi siang. Ia beruntung memiliki mertua perempuannya sangat pengertian dan berpihak padanya.