Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CHAPTER 1


__ADS_3

"Maaf boss, sepertinya markas kita  yang berada di negara X, ada yang menyerang."


"Bagaimana bisa!," Ucap Damian dengan menggebrak keras meja kebesarannya.


"Sepertinya ada yang tidak beres  dengan bawahan baru yang kemarin Tuan,"Jawab Jhon, sebagai asisten Damian dikantor maupun di dunia gelapnya.


"Cari tau jelasnya dan pergilah cek markas."


" Baik Tuan... permisi." Ucap Jhon pamit dari hadapan Damian.


"Rupanya ada yang berani bermain-main denganku," gumam  Damian dengan sorotan mata tajamnya.


Damian Xarles, laki-laki yang berumur 33 tahun merupakan seorang ceo muda dari perusahaan besar  Xarles company. Selain seorang pengusaha damian juga seorang ketua mafia yang di takuti dan di segani banyaknya kalangan dunia. Damian memiliki sifat angkuh,sombong,licik,dan tak tersentuh. Damian paling tidak suka yang  nama nya penghianatan, siapapun yang melakukan penghianatan mau itu keluarga, sahabat,siapapun itu dirinya  tidak akan segan-segan menyiksanya, bahkan membunuh sang penghianat itu.


Damian juga  haus akan darah karena baginya darah adalah sebuah kepuasannya dan lagu yang paling merdu adalah teriakan mangsanya yang tersiksa,itulah kesukaannya. Maka dari itu orang-orang memberi julukan damian sebagai king of the Devil.


Lelaki bermuka datar itu Namanya terkenal' dikalangan pembisnis maupun dunia gelap. Ia terkenal dengan kekuasaannya sebagai ketua Mafia, seluruh dunia pun tunduk kepada  Damian.


Belum reda Damian menurunkan amarahnya, tiba-tiba bunyi dering telepon menggangunya. Dengan  perasaan yang masih marah Damian mengambilnya dan mengangkatnya.


"Damian, nanti sore pulang ke mansion. Mama akan mengadakan acara makan malam bersama keluarga Jessica," ucap Belvita dari sebrang sana yang notabennya adalah ibu dari Damian.


"Damian sibuk."


"Pokonya mama gak mau tau, nanti sore pulang! Kalau sampai tidak pulang mama akan mempercepat pertunanganmu walau tanpa persetujuan mu Damian!"


"Okey. Damian pulang." Putus Damian dengan sepihak menutup telponnya.


Memang biasanya Damian akan pulang ke mansion miliknya, ia jarang sekali pulang ke mansion keluarganya. Menurutnya disana sangatlah berisik dan terlalu malas dirinya meladeni keluarganya itu,memang bisa dikatakan Damian tidak sopan tapi begitulah Damian. Orang yang keras kepala dan angkuh.


"Argh sialan, selalu saja mengancamku dengan perjodohan."


"Persetanan dengan perjodohan, aku akan menghalalkan segala cara agar rubah kecil itu tidak bisa berkutik di bawahku" ucap Damian dan melanjutkan pekerjaannya demi mempercepat waktu ia dikantornya. Dirinya sudah tidak sabar keruang bawah tanah miliknya untuk bermain-main dengan para penghianat,tangan Damian sudah gatal rasanya untuk menguliti serta mendengar teriakan mangsanya.


Setengah jam kemudian akhirnya Damian telah menyelesaikan pekerjaan.


"Hah...akhirnya," gumam Damian meregangkan otot-ototnya, Selanjutnya  membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya.


Damian mengambil handphonenya,"kemari." ucap damian melalui telponnya, tidak lama kemudian datanglah orang yang tadi Damian telepon.


Tok...tok...tok...


"Permisi tuan," Ucap orang yang di balik pintu itu.


"Masuk," jawab damian dengan dingin,tidak lama pintu  pun terbuka menampilkan sosok wanita yang  terlihat hampir paru baya namun,masih tetap  terlihat cantik dan anggun.


Dengan langkah anggunnya wanita itu masuk, wanita itu  menjawab dengan sopan,"iya tuan ada yang bisa saya bantu." Ucap sekertaris  Damian yang bernama Citra Anastasya.

__ADS_1


"Adaa lagi dokumen yang harus saya kerjakan dan apa ada jadwal rapat hari ini?," ucap damian dengan dingin dan datar.


"sudah tuan, pekerjaan hari ini sudah Tuan kerjakan semua, dan juga tidak ada lagi untuk jadwal rapat hari ini, karena tadi pagi tuan Jhon yang datang untuk  mewakilinya," ucap  tenang  Citra,sembari tetap menunduk hormat namun juga tegas.


"Baik kalau begitu  saya akan segera pulang,jika ada masalah lainnya segera cepat beritahu saya dan kirim pada e-mail saya mengerti," Ucap damian dengan  dinginnya sambil beranjak dari kursi kebesarannya.


Dengan langkah cepat Damian  keluar dari ruangan dan menuju lift khusus presdir. Setelah sampai dilobby,ada beberapa karyawan menyapanya. Tapi dia  tidak sama sekali Damian respon, biarlah dianggap sombong atau apalah itu, dia  hanya  fokus terus melangkah keluar dari perusahaannya. 


Sesampai di luar, Damian bergegas  masuk kedalam mobil  yang sudah disiapkan oleh karyawan yang memang khusus untuk mengambil mobilnya ketika dirinya malas untuk keparkiran.


Kali ini dia hanya sendirian dengan mobil Ferrari hitamnya, Damian menjalankan mobilnya membelah jalan raya yang lumayan padat  dengan kecepatan sedang.


Sesuai perintah ibunya tadi,Damian membawa  jalan mobil kesayangannya itu ke masion orantuanya,sebenarnya  dirinya  sangat malas harus bertemu dengan Rubah licik itu namun,dia harus tetap bertemu karena ancaman mamahnya itu.


Dan tak lama kemudian,


Brak...


Damian tanpa sengaja menabrak seseorang yang mau melintas jalan, Damian dengan tergesa keluar mobil. Kali ini bukan tergesa karena khawatir tapi  dirinya tergesa karena menahan emosi yang hampir meledak, dimana mata orang tersebut?. Dirinya sedang dalam keadaan mood yang buruk kenapa selalu aja ada yang memperburuk moodnya.


"APA KAU MAU MATI HA!," bentak damian dengan suara lantang dan menakutkannya.


"Maaf tuan,"Ucap gadis  itu menunduk  dengan susah payah dia berdiri sambil menahan perih di tanggannya dan nyeri di kakinya.


"Maaf tuan...sekali lagi saya minta maaf..."


Tanpa Damian sadari, dirinya terdiam melihat gadis di hadapannya itu,terpesona?. Ya Damian akui gadis didepannya itu sangat cantik  dengan wajah bulat,hidung mancung,pipi tembem,bolah mata yang berwarna biru,rambut panjangnya yang berwarna hitam.


Siapa saja  yang  melihatnya pasti akan  terpesona dengan kecantikan seorang Dyra Xaviera seperti dirinya. Gadis yang berusia 22 tahun,dia anak dari pasangan Alberto Xaviera dan Vaneta xaviera.  Namun belum lama ini pasangan itu meninggal dunia.


Dyra juga  memiliki adik laki-laki yang tampang, bernama Daren Xaviera. Semejak meninggalnya kedua orangtuanya, Dyra harus menanggung biaya hidupnya beserta adiknya. Dyra pun  juga harus  menanggung perawatan Daren adiknya itu yang dinyatakan gagal ginjal dan leukimia, Dyra juga   harus bekerja  keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan pengobatan adiknya, dirinya berkerja sebagai karyawan disalah satu restoran mewah didaerahnya.


Setelah Damian sadar, Damian buru-buru mendatarkan  kembali wajahnya."cepat masuk," Ucap Damian dengan dingin,entah kenapa Dia malah menuyuruh gadis yang ada di hadapannya itu masuk ke dalam mobilnya.


Entahlah dirinya pertama kali menyuruh orang asing  masuk ke mobilnya,Dyra lah   kali pertama orang yang Damian suruh masuk kedalam mobil pribadinya, padahal dirinya baru saja bertemu kali ini. Tapi Damian seperti tidak asing dengan wajah milik Dyra itu.


Dulunya Damian menganggap seorang wanita adalah mahluk yang sangat amat ribet, menyebalkan dan hanya beban saja. Tapi kali ini Damian malah menyuruh  seorang Dyra masuk tanpa sebab.


Dan juga entah mengapa setelah Damian melihat luka ditubuh Dyra, dirinya juga merasakan sakit yang sedang dialami Dyra. Melihat wajah Dyra merintih kesakitan serta mengusap lembut pinggiran lukanya itu, Damian jadi merasa kasihan kepada Dyra. Ini salahnya yang tidak fokus saat menyetir.


Tanpa Damian sadari dirinya  telah menyalahkan Dirinya sendiri padahal tadinya saat sebelum melihat wajah orang yang ditabraknya,ia ingin sekali memaki-maki orang yang sudah membuat moodnya semakin hancur dihari ini.


"Tidak terima kasih tuan..." Tolak  Dyra  dengan tersenyum manis.


"ini hanya luka kecil,jika memakai salep pun  pasti akan segera sembuh," lanjutnya dengan lembut dan sopan.


"kau harus segara di obati,nanti lukamu bisa infeksi," kata  damian sedikit  membentak, Dyra terkejut. Tentu terkejut sekaligus takut akan bentakan damian, kali pertamanya dirinya dibentak, dulu kedua orangtuanya pun tidak pernah membentak. Kenapa orang asing seperti dia dengan enaknya membentak.

__ADS_1


Dyra yang takut pun mengikuti arahan pria itu dengan ketakutan dan menunduk, "Baik tuan saya masuk..." Final Dyra  memasuki mobil  dengan langkah tertatih-tatih. setelah di mobil dan sudah memang sabuk pengamannya, entah kenapa air matanya secara tiba-tiba luruhh begitu saja.


Dyra melihat Damian masuk pun segera mengusap air matanya dan memalingkan wajahnya kearah jendela.


"Kau menangis?," Tanya Damian heran dengan tingkah Dyra. Apa dirinya ada salah? Kenapa tiba-tiba menangis.


"Tidak tuan tadi saya hanya kelilipan," jawab Dyra berbohong.


"Apa kau tidak berbohong?"


"Ah tidak tuan...em  Tuan apakah boleh  antarkan saya kerumah sakit X saja?, disana ada seserang yang sedang menunggu saya," Ucap Dyra dengan hati-hati, sembari cemas karena takut  permintaannya akan di tolak  mentah-mentah oleh Damian.


Damian tidak menjawab ucapan Dyra, dia langsung menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil menuju rumah sakit X tanpa sepengetahuan Dyra.


Dyra yang permintaannya tidak dijawab pun dirinya hanya diam dan mengucapkan maaf. Selanjutnya Dyra hanya mengamati perjalanan yang diarahkan oleh mobil Damian. Tapi setelah di lihat-lihat kenapa jalannya seperti tidak asing.


Mobil Damian memasuki parkiran  rumah sakit yang dikatakan Dyra tadi. Disitu Dyra setengah kaget, padahal dirinya mengira bahwa Damian tidak akan mengantarkan ke permintaannya itu. Tapi ternyata salah Damian dengan baik hatinya mengantarkan Dyra ke rumah sakit itu.


"Makasih Tuan,sudah mengantarkan saya kerumah sakit ini..." Ucap gembira Dyra dan segera keluar dari mobil damian.


Damian  ikut keluar dan menjawab pertanyaan Dyra dengan deheman.


"Ya sudah Tuan, saya kedalam dulu...sekali lagi terimakasih,mari..." pamit Dyra dan segera berlari memasuki lobby rumah sakit.


Damian yang masih memantau pergerakan Dyra pun terkekeh kecil saat melihat Dyra berlari kecil,"lucu..." Gumamnya tanpa sadar.


Damian kembali memasuki mobilnya,saat akan menjalankan mobilnya dirinya menemukan dompet yang mungkin punya Dyra. Dirinya yang merasa mungkin Dyra sangat membutuhkan itu, ia segera mengambilnya dan  keluar dari mobil berniat mengembalikan kepada pemiliknya.


Setelah mengikuti langkah Dyra yang masih dia ingat, seperti dirinya lupa kemana lagi Dyra berjalan. Damian melihat kekanan  kekiri, dan  yah ketemu Dyra sedang berada di depan ruangan UGD.


"Hey! Apakah ini dompe kau?" Tanya Damian setelah sampai di hadapan Dyra.


Dyra yang kaget  dengan kehadiran Damian pun menjawab,"Ah ya Tuhan akhirnya dompetku ketemu." Ucap Dyra  mengambil dompetnya yang disodorkan Damian.


"Terimakasih Tuan..."


"Hmmm..." Jawabnya dan beranjak pergi dari hadapan Dyra.


Belum jauh dirinya berjalan, Damian mendengar percakapan antara Dyra dan dokter yang sudah keluar dari UGD tersebut. Dirinya tersenyum misterius,inilah kesempatan dirinya mendapatkan Dyra dan menggagalkan rencana ibunya.


"Tapi dok...bisakah kasih saya waktu   untuk mencari uang yang tidak sedikit itu?." Tanya Dyra dengan keadaan sedih dan kaget mendengar adiknya harus mendapatkan tindakan saat itu juga.


"Bisa nona, tapi malam ini juga Nona harus mendapatkan uang itu. Agar adik anda segera dapat penanganan, kalau tidak  maaf...adik anda tidak bisa kami selamatkan." Ucap dokter itu dan mengucapkan permisi lalu pergi dari hadapan Dyra.


Setelah kepergian dokter Dyra terduduk lemas memikirkan biaya  itu. Dapat uang dari mana dirinya yang harus mendapatkan uang sebegitu banyak dalam waktu semalam.


Ditengah dirinya tengah melamun bingung dan menangis, Dyra  dikagetkan dengan ucapan orang yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Saya bisa bantu Anda, asalkan anda bisa mengikuti apa yang saya mau dan syarat yang saya beri. Apakah anda bersedia?."


__ADS_2