Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-10 Masakan Dingin Sedingin Hatinya


__ADS_3

Beberapa orang keluar dari ruang kerjanya Jeremy, sebuah markas tersembunyi di sebuah klub malam.


“Kau buat schedule meeting nanti malam,” kata Jeremy pada Ryan.


“Baik akan aku siapkan,” jawab Ryan.


Tiba-tiba pintu terbuka tanpa diketuk dulu. Seorang wanita yang sangat dikenal oleh mereka muncul. Wajah Ryan langsung masam melihatnya.


“Jeremy sayang!” seru Selena, langsung menghampiri dan duduk diatas meja didepan Jeremy, membuat rok pendeknya semakin terangkat keatas.


Ryan menahan rasa cemburu dihatinya.


“Aku keluar dulu!” ucap Ryan, tanpa menyapa Selena, segera keluar dari ruangan itu.


“Ada apa kau tiba-tiba datang kesini?” tanya Jeremy. Tangannya menyentuh pahanya Selena.


“Kau berjanjikan akan menemuiku hari ini, tapi aku merasa khawatir kau tidak datang jadi aku kesini untuk mengingatkanmu,” jawab Selena, membiarkan tangan Jeremy menyusup pahanya lebih dalam, dia sudah terbiasa seperti itu.


“Sekarang aku sedang sibuk, beberapa hari keluar kota, omzetku menurun,” kata Jeremy.


Terdengar ponselnya Jeremy berbunyi.  Selena melihat di ponsel itu ada angka tidak ada nama. Jeremy mengacuhkannya. Tapi kemudian muncul pesan. Jeremy mengambil ponselnya dan membukanya.


“Kau pulang lebih cepat ya, aku memasak ikan bakar dan sup ikannya, aku lihat dari internet,” tulis pesan itu.


Jeremy mengerutkan dahinya, darimana istrinya tahu nomor ponselnya? Apa dia sudah beli ponsel? Pake acara masak ikan bakar segala, Jeramy baru sadar kalau dia memang sudah lama tidak makan ikan bakar dan sup ikan dengan sambal kecapnya.


“Kau kenapa? Ada pesan dari siapa?” tanya Selena.


“Tidak penting!” jawab Jeremy, akan menyimpan ponselnya diatas meja.


Selena akan mengambilnya tapi Jeremy langsung membentaknya.


“Jangan ikut campur urusan pribadiku!” kata Jeremy.


“Aku cuma mau menyimpannya, aku tidak suka ada yang menganggu kita,” ucap Selena, berbohong sambil tersenyum. Dia penasaran ada pesan dari siapa reaksi Jeremy seperti itu?


Terdengar ada yang masuk lagi ke ruangan itu, ternyata Ryan.


“Jeremy, tamunya sudah datang!” kata Ryan, dia melirik sekilas pada Selena, yang sedang mendekatkan dadanya ka wajahnya Jeremy.


“Ya tunggu sebentar,” kata Jeremy, diapun menjauhkan tubuh Selena, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu.


Selena melihat ada pesan lagi masuk ke ponsel Jeremy. Matanya menoleh pada Jeremy yang menghampiri Ryan dipintu.


Tangan Selena langsung mengambil ponsel itu dan melihat pesan yang terbuka dilayar.


“Ingat, jangan pulang telat, nanti ikan bakarnya keburu dingin.” Ternyata Evelyn yang mengirim pesan.

__ADS_1


Wajah Selena langsung berubah merah, cepat-cepat di simpannya ponsel itu.


Ternyata dari istrinya Jeremy, kalau begini bisa gagal Jeremy bermalam  dengannya..


Hampir seminggu pria itu kelaur kota, dan pulang-pulang malah membawa istrinya, sangat menjengkelkan. Dia sudah menemani Jeremy bertahun-tahun, masa malah wanita itu yang dinikahinya, sangat tidak adil, batinnya


Selena turun dari meja, dan merapihkan roknya, saat Jeremy dan Ryan masuk ke ruangan itu.


“Baiklah Jeremy, aku tidak mau ada penolakan darimu, kau sudah meninggalkanku beberapa hari karena ke luar kota kemarin. Jika kau tidak datang, aku yang akan datang kesini,” kata Selena.


“Sebenarnya aku sibuk ada meeting nanti malam,” ucap Jeremy.


“Atau kau ingin kita melakukannya di meja meeting? Jadi jamuan teman meetingmu?” tanya Selena, membuat Jeremy tertawa, sedangkan Ryan memberengut saja, dia sangat cemburu Selena begitu menyukai Jeremy, tapi mau bagaimana lagi Selena tidak mau. Tapi dia yakin suatu saat Selena akan menjadi miliknya, bukan Jeremy.


“Apa kau serius akan melakukannya didepan orang banyak?” tanya Jeremy.


“Kalau kau suka aku akan melakukannya,”jawab Selena, dia akan melakukan apapun asal Jeremy tidak pulang apalagi makan berdua dengan istrinya.


Jeremy langsung memeluk Selena, wanita itu tahu saja cara untuk membuatnya bergairah. Merekapun berciuman. Ryan mamalingkan mukanya, cuma Selena yang belum pernah Jeremy berikan langsung padanya, meskipin diberikan juga Selena pasti menolaknya.


Selena mencium bibirnya Jeremy sekali lagi.


“Nanti malam aku kesini!” kata Selena.


Wanita itu keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ataupun menyapa Ryan, sakit hari sebenarnya Ryan melihat keangkuhannya Selena, tapi dia harus mengakui kalau Jeremy lebih dari segalanya darinya, dia kalah dari Jeremy.


“Kenapa tidak? Semua pria menyukai tubuhnya kan? Tidak ada ruginya,” jawab Jeremy tidak ambil pusing.


Selena menutup pintu itu dengan kesal, ternyata istrinya Jeremy itu benar-benar menjadi duri dalam daging dikehidupannya, bagaimana kalau Jeremy terpikat dengan wanita itu, karena walaubagaimanapun mereka satu rumah satu kamar, lambat laun bisa saja Jeremy jadi jatuh cinta pada istrinya.


Apalagi sekarang istrinya memasak untuk Jeremy. Selenapun berfikir keras. Sepertinya dia harus membuat Jeremy tidak pulang-pulang kerumahnya, memberi pelajaran pada istrinya supaya kapok memberi perhatian pada Jeremy.


****


Hari sudah sore, Evelyn sibuk memasak di dapur dibantu Bibi. Di sampingnya ponsel yang baru dibelinya itu menyala, dia menyiapkan bumbu-bumbu untu membuat ikan bakar dan sop ikan.


Meksipun dia belum bisa mencintai Jeremy apalagi sikapnya yang kasar, tapi Evelyn berusaha menjadi istri yang baik. Kepada siapa lagi dia berbakti kalau bukan pada suaminya, apalagi pria itu adalah pria pertama yang menyentuhnya, tidak mungkin dia membiarkan ikatan pernikahan ini hambar begitu saja.


Tadi dia sudah mengirim pesan berkali-kali tapi Jeremy sama sekali tidak membalasnya. Tapi tidak apa, dia akan menunggu, yang penting pesannya sudah dibawa Jeremy.


Tidak terasa hari sudah malam, Evelyn sudah mandi dan berdandan. Dia berharap hubungannya dengan Jeremy akan lebih baik, walau bagaimanapun dia harus melakukannya karena dia tidak mau ada perceraian di pernikahannya.


Jam sudah menunjukkan jam 7 malam, Evelyn melihat keteras, tidak ada tanda-tanda Jeremy pulang.


Masuk ke angka 8 malam, terus ke 9 malam, pria itu tidak nongol juga. Beberapa kali menelpon Jeremy tidak di angkat.


“Jeremy kau pulang jam berapa? Aku sudah menunggumu makan malam dirumah,” tulis pesan Evelyn.

__ADS_1


Jeremy melihat ponselnya berisi pesan, diapun membacanya, kemudian melihat jam di dinding pukul 9 malam, sudah larut. Disimpannya ponsel itu tanpa membalasnya. Dia sibuk dengan orang-orang yang ada di ruangan itu, membahas pekerjaannya yang ilegal.


“Bu, bagaimana kalau Ibu makan duluan, Pak Jeremy pulangnya suka larut bahkan biasanya pagi baru pulang,” kata Bibi, melihat Evelyn membuka gorden jendela.


“Aku tidak selera makan Bi. Aku sudah mengirim pesan dari tadi siang, tapi tidak satupun pesan dibalas,” ucap Evelyn, dengan rasa sedih dihatinya.


Dia merindukan pernikahan yang bahagia seperti orang-orang, berkumpul bersama anak istri, makan malam bersama, tapi sepertinya akan sulit baginya dan Jeremy.


“Nanti ibu sakit,” kata Bibi.


“Tidak apa-apa, aku akan menunggunya pulang. Mungkin dia memang sibuk,” ucap Evelyn, kembali duduk di kursi ruang tamu itu. Bibi tidak bicara lagi, diapun segera pergi.


Evelyn berbaring di sofa itu, sambil berselonjor, menunggu suaminya pulang, baru dia akan makan.


Sementara Jeremy melihat jam di dinding sudah pukul 10 malam, dia masih mendapat pesan.


“Makanan sudah dingin, kalau kau mau pulang kabari aku dulu, biar aku hangatkan dulu makanannya,” isi pesan Evelyn.


Jeremy melihat lagi jam di dinding. Wanita itu belum makan sampai jam 10 karena menunggunya pulang? Fikirnya. Bagaimana kalau dia sakit dan Ayahnya menelpon, bisa marah ayahnya karena dia tidak makan apalagi kalau badannya menjadi kurus, bisa bisa ayahnya mengomelinya terus, malas diomeli ayahnya terus kaya anak kecil, batin Jeremy.


Diapun mengambil blazernya dan bangun.


“Rapat dilanjut besok lagi, aku mau pulang!” kata Jeremy, menyimpan blazernya di tangan kirinya.


“Kau yakin kau akan pulang?” terdengar suara Selena muncul ke ruangan itu membuat semua orang menoleh pada wanita itu.


“Kau,” Jeremy menatapnya.


Selena langsung menghampirinya.


“Kau yakin akan melewatkan acara malam ini?” tanya Selena, lalu duduk diasat meja meeting itu membuat semua mata memperhatikannya.


Jeremy menatapnya.


“Kau serius mau melakukan disini didepan tamu-tamuku?” tanya Jeremy.


“Tentu saja, kenapa tidal?” jawab Selena, dan tanpa malu-malu dia melepaskan mantel panjang  yang dipakainya, memperlihatkan tubuhnya yang tidak berpakaian.


Ruangan itu langsung saja heboh, pria-pria bersorak gembira melihatnya.


Selena menatap Jeremy yang menatapnya sambil tersenyum, ini yang Jeremy suka pada Selena, wanita itu sangat pandai merayunya.


Tentu saja melihat Selena seperti itu membuat Jeremy lupa kalau istrinya sedang menunggu dirumahnya untuk makan malam.


Jeremy melempar blazer yang ada ditangannya dan langsung menghampri Selena.


******

__ADS_1


__ADS_2