Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-60 Setelah Lima Tahun


__ADS_3

Lima tahun


kemudian.


“Sayang, Ibu


berangkat kerja dulu, kau jangan nakal sama Kakek, ya?” Evelyn mencium pipi


anak laki-laki berusia lima tahun itu.


“Iya, Bu!”


Ayres balas merangkul leher ibunya.


Evelyn


kembali menciumnya, lalu menoleh pada Ayahnya.


“Yah, titip


Ayres, aku berangkat.”


“Ya, Sayang,


hati-hati di jalan.”


“Kau ke kota


hanya berdua saja dengan atasanmu?”


“Iya, lusa baru


pulang. Maafkan aku sudah merepotkan Ayah.”


“Tidak


repot, lagipula di rumah ada Bibi jadi Ayah hanya menemani Ayres main saja.”


“Aku


berangkat.”


Pak Arman


mengangguk.


Evelyn


kembali menoleh pada putranya. “Sayang, dadah!”


“Dadah Ibu!”


Ayres melambaikan tangannya pada ibunya.


Evelyn


segera masuk ke mobilnya. Sebenarnya hatinya berat meninggalkan Ayres dengan


Ayahnya apalagi Ayres masih kecil seharusnya dia memberi perhatian penuh


padanya.


Meskipun


kekayaan yang Jeremy berikan cukup untuknya hanya mengurus Ayres tanpa bekerja,


tapi dia tidak mau menggunakannya. Evelyn memilih bekerja sendiri di sebuah


perusahaan swasta menjadi Sekretaris CEO, Enzi Mahendra, seorang pengusaha muda


yang belum menikah.


Sesampainya


di kantor, Evelyn terkejut karena atasannya malah sudah sampai di kantor.


“Pak Enzi, sudah


tiba duluan? Saya minta maaf datang terlambat!.”


Pria itu


berdiri bersandar ke meja sekretaris itu, sedang berbincang dengan  seorang pria paruh baya.


“Aku yang


datang terlalu pagi. Sebentar lagi, kita berangkat Bu Evie!” Pria itu memanggil


Evelyn dengan sebutan Evie.


“Iya, Pak.


Saya siapkan berkasnya dulu.” Evelyn buru-buru ke mejanya.


“Bu Evie ikut


mobilku saja. Mobil Bu Evie simpen saja di kantor.”


“Tapi Pak,


saya membawa barang-barang cukup banyak, maklum perempuan.”


“Tidak masalah,


bagasi mobilku luas. Minta Pak Tomo memindahkan barang-barangnya.”


“Baik, Pak!”


Evelyn


langsung sibuk menyiapkan berkas yang akan dibawa ke Ibukota. Diapun menelpon


Pak Tomo untuk memindahkan barang-barangnya ke mobil Pak Enzi.


“Kita harus


mencari perusahaan yang bisa menyewakan alat berat lebih murah Pak, untuk


mengurangi biaya operasional,” ucap Pria paruh baya itu.


“Ya, nanti


aku cari informasinya.”


“Saya dengar


ada perusahaan Otomotif yang juga menjual alat berat untuk pabrik-pabrik,


bahkan ada khusus sewanya juga. Mungkin kalau langsung ke pusatnya akan lebih


murah.”


“Bagus kalau


begitu, semoga saja pemiliknya juga datang.”


“Pasti


datang, acara perkumpulan pengusaha akbar seperti ini jarang diadakan.”


“Pak Enzi,


semua sudah siap!” Terdengar suara Evelyn di belakang pria itu.


“Ya Bu Evie,


kita berangkat sekarang.” Pak Enzi melirik sekilas pada janda muda itu. Meskipun


janda beranak satu, Evelyn  bisa mengurus


diri dengan baik, apalagi pekerjaannya menuntutnya harus selalu tampil smart


dan cekatan.


Evelyn


langung beranjak dari kursinya, mengikuti langkahnya Pak Enzi.


***


Di Ibukota,


di sebuah ruangan.


“Bu Laras!


Proposal apa ini?” Suara pria didalam itu terdengar melengking membuat Bu Laras


yang sedang berbicara dengan Bu Eka menghentikan bicaranya.


“Bu Eka dengar?

__ADS_1


Telingaku rasanya akan cepat tuli kurang dari satu tahun  karena mendengar teriakannya.


“Ada apa?”


seorang pria paruh baya menghampiri meja mereka.


“Pak Jeremy!”


“Bu Laras!


Apa kau tidak dengar?”


“Ya. Pak!


Sebentar!” Bu Laras cepat-cepat pergi ke ruangan pemilik perusahaan itu.


“Inia pa?”


“Itu bukan


proposal Pak, tapi undangan acara besok, perkumpulan pengusaha senasional.”


Jeremy melemparnya


ke meja. “Tidak mutu!”


“Acara itu


diadakan Lima tahun sekali Pak.”


“Memang


agendanya apa saja?”


“Ya, seputar


sharing masalah perekonomian nasional, Pak! Biasanya perusahaan kita ikut hadir.


Atau Bapak mau diwakilkan Pak Candra? Tapi tidak ada salahnya sekarang Bapak


yang hadir, banyak yang tidak tahu Bapak kan? Orang-orang tahunya pemilik perusahaan


ini ada di Hongkong! Bisa menambah relasi juga karena semua pengusaha biasanya


menyempatkan ke acara ini. Bisa sekalian promosi apa yang  kita produksi, sangat bagus untuk pemasaran.”


Jeremy


tampak mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia tidak suka pekerjaan seperti ini. Tapi


pekerjaan lamanya yang menghasilkan uang lebih mudah tidak disukai istrinya


sampai istrinya meninggalkannya.


“Ya, sudah,


kita hadir! Kau ikut! Pak Candra juga!”


“Baik, Pak. Saya


sudah menyiapkan berkasnya untuk acara itu!”


“Ya sudah


berikan saja Pak Candra, aku hanya ingin melihat saja acaranya seperti apa.”


“Baik, Pak!”


Bu Laras segera meninggalkan ruangan itu.


“Pak Candra,


kata Pak Jeremy, dia akan ikut ke acara besok.”


“Ikut?”


tanya Pak Candra.


“Iya. Bagus


juga kalau ikut kan? Banyak yang tidak tahu seperti apa pemilik perusahaan ini,


kan? Pasti heboh besok, ternyata pemiliknya masih muda, tampan gagah dan keren.”


Pak Candra


malah tersenyum saja.


kenapa ya, kok Pak Jeremy tidak menikah lagi setelah bercerai dengan Bu Evelyn?


Sudah lama kan, lima tahun.”


“Tidak tahu,


itu bukan urusan kita.”


“Pria


sekeren itu pasti cepat laku, apalagi tajir.”


Jeremy


bersandar ke kursinya dengan memejamkan matanya. Bayangan perpisahan terakhirnya


dengan istrinya dan putranya di rumah sakit kembali terbayang. Dia sama sekali tidak


punya gambar mereka, bahkan foto pernikahanpun tidak ada. Dia hanya mengukir


wajah istri dan putranya didalam kenangan saja yang akan muncul kalau dia


memejamkan matanya. Ayres belum membuka matanya waktu itu, dia tidak tahu mata


Ayres mirip dirinya atau Evelyn.


Aset-aset


yang dia miliki sudah diberikan pada istrinya, tapi info perbankan sama sekali


tidak ada penarikan dana dari rekening yang dia berikan pada Evelyn dari bagi


hasil dari beberapa perusahaan yang menggunakan propertinya. Istrinya


benar-benar tidak menggunakan uangnya.


Rasa


rindunya semakin menggunung tapi selalu ditahannya, hanya cukup dengan


membayangkannya saat memejamkan matanya atau dia akan menyibukkan diri dengan


pekerjaannya demi memupus rasa rindunya.


***


Sore


harinya.


“Disini gedungnya?”


tanya Evelyn, saat mobil atasannya itu memasuki halaman sebuah hotel mewah.


“Kau belum


pernah kesini?”


“Belum, Pak.


Hanya lihat di internet saja. Saya turun disini saja, Pak! Saya akan ke loby


untuk cek in.”


Pak Enzi


langsung menghentikan mobilnya. Sekretarisnya itu segera turun dan menuju pintu


masuk, setelah melewati pemeriksaan baru ke receptionis yang ternyata mengantri,


bahkan banyak yang baru datang.


“Penuh


ternyata..” gumam Evelyn, ikut mengantri.


Seorang


wanita berkaca mata yang lebih tua darinya menoleh pada Evelyn.


“Dari daerah?”


tanya wanita itu, sedikit menurunkan kacamatanya.

__ADS_1


“Iya!”


Evelyn mengangguk.


“Sudah lama


mengantri?”


“Iya, soalnya


yang dari daerah datangnya bersamaan. Hanya tinggal mengambil kunci saja, kan?”


“Iya.”


Terdengar


suara langkah kaki seseorang yang menyelinap begitu saja diantara antrian.


“Yang saya


sudah siap?” tanya wanita itu, membuat semua orang mendelik karena tidak


mengantri.


“Sudah Bu Laras!


Untuk tiga kamar.” Petugas receptionis langsung memberikan kuncinya pada wanita


baru datang itu.


“Semua yang


saya butuhkan sudah siap kan? Bosku agak rewel orangnya, semua harus perfect.”


“Sudah, Bu


Laras, tinggal cek saja.”


“Baiklah,


saya cek, terimakasih.” Wanita itupun pergi.


“Pasti dari


perusahaan besar, langsung dapat kunci saja,” gumam wanita berkacamata itu.


Evelyn tidak


bicara apa-apa, hanya memperhatikan punggung wanita itu yang menyelinap diantara


orang-orang yang berkumpul sangat ramai, pergi menuju pintu lift. Evelyn kembali


melangkah maju saat ada yang sudah mengambil kunci.


Bu Laras menunggu


liftnya, saat lift satunya terbuka, beberapa orang pria keluar dari lift itu.


“Bu Laras?


Cek in? Tumben! Kan deket!” sapa seorang pria berstelan jas itu.


“Sekarang bosku


dari Hongkong hadir juga, dia minta cek in.”


“Bosmu


datang dari Hongkong?”


“Iya.”


“Wah supraise


sekali bisa ketemu langsung!”


“Iya, nanti


aku kenalkan besok. Sekarang aku mau cek dulu kamarnya.”


“Oke, besok


tolong jadwalkan bertemu!”


“Iya.” Bu Laras


langsung masuk kedalam lift yang terbuka.


“Betulkan?


Pasti pengusaha besar, dari Hongkong! Tapi entah dari perusahaan apa itu? Paling


nanti kita akan tahu kalau disebutkan.” Wanita berkaca mata disamping Evelyn


terus saja bicara, lalu menoleh pada Evelyn yang jadi menoleh kea rah lift tapi


Bu Laras sudah tidak terlihat.


“Belum


kenalan, Ibu siapa?”


“Saya,


Evelyn.”


“Saya Nunik.”


“Senang


berkenalan denganmu, Bu Nunik.”


“Saya juga Bu


Evelyn. Kamarnya di lantai berapa? Berapa orang?”


“7. Berdua


saja dengan atasanku.”


“Iya, saya


juga. Bosku sudah tua tapi manja, dikit dikit Bu Nunik, dikit dikit Bu Nunik,” keluh


Bu Nunik membuat Evelyn tertawa.


“Bagaimana


dengan Bosmu?”


“Bosku masih


muda dan belum menikah, dia juga tampan.”


“Wah sangat


menyenangkan. Apa kau merayunya?”


“Apa? Tidak!”


Evelyn langsung tertawa.


“Maaf, hanya


bercanda. Tapi bos keren seperti itu sangat menyenangkan daripada Bos tua


cerewet.”


“Tidak apa.


Aku sudah punya anak.”


“Sudah punya


anak?” Bu Nunik terbelalak kaget. Evelyn mengangguk.


“Wah kau terlihat


masih gadis, masih muda dan cantik.”


“Bu Nunik


berlebihan.” Evelynpun tertawa.


Merekapun


bercakap-cakap sambil menunggu giliran mengambil kunci kamar yang sudah mereka


pesan.


***

__ADS_1


__ADS_2