
Lima tahun
kemudian.
“Sayang, Ibu
berangkat kerja dulu, kau jangan nakal sama Kakek, ya?” Evelyn mencium pipi
anak laki-laki berusia lima tahun itu.
“Iya, Bu!”
Ayres balas merangkul leher ibunya.
Evelyn
kembali menciumnya, lalu menoleh pada Ayahnya.
“Yah, titip
Ayres, aku berangkat.”
“Ya, Sayang,
hati-hati di jalan.”
“Kau ke kota
hanya berdua saja dengan atasanmu?”
“Iya, lusa baru
pulang. Maafkan aku sudah merepotkan Ayah.”
“Tidak
repot, lagipula di rumah ada Bibi jadi Ayah hanya menemani Ayres main saja.”
“Aku
berangkat.”
Pak Arman
mengangguk.
Evelyn
kembali menoleh pada putranya. “Sayang, dadah!”
“Dadah Ibu!”
Ayres melambaikan tangannya pada ibunya.
Evelyn
segera masuk ke mobilnya. Sebenarnya hatinya berat meninggalkan Ayres dengan
Ayahnya apalagi Ayres masih kecil seharusnya dia memberi perhatian penuh
padanya.
Meskipun
kekayaan yang Jeremy berikan cukup untuknya hanya mengurus Ayres tanpa bekerja,
tapi dia tidak mau menggunakannya. Evelyn memilih bekerja sendiri di sebuah
perusahaan swasta menjadi Sekretaris CEO, Enzi Mahendra, seorang pengusaha muda
yang belum menikah.
Sesampainya
di kantor, Evelyn terkejut karena atasannya malah sudah sampai di kantor.
“Pak Enzi, sudah
tiba duluan? Saya minta maaf datang terlambat!.”
Pria itu
berdiri bersandar ke meja sekretaris itu, sedang berbincang dengan seorang pria paruh baya.
“Aku yang
datang terlalu pagi. Sebentar lagi, kita berangkat Bu Evie!” Pria itu memanggil
Evelyn dengan sebutan Evie.
“Iya, Pak.
Saya siapkan berkasnya dulu.” Evelyn buru-buru ke mejanya.
“Bu Evie ikut
mobilku saja. Mobil Bu Evie simpen saja di kantor.”
“Tapi Pak,
saya membawa barang-barang cukup banyak, maklum perempuan.”
“Tidak masalah,
bagasi mobilku luas. Minta Pak Tomo memindahkan barang-barangnya.”
“Baik, Pak!”
Evelyn
langsung sibuk menyiapkan berkas yang akan dibawa ke Ibukota. Diapun menelpon
Pak Tomo untuk memindahkan barang-barangnya ke mobil Pak Enzi.
“Kita harus
mencari perusahaan yang bisa menyewakan alat berat lebih murah Pak, untuk
mengurangi biaya operasional,” ucap Pria paruh baya itu.
“Ya, nanti
aku cari informasinya.”
“Saya dengar
ada perusahaan Otomotif yang juga menjual alat berat untuk pabrik-pabrik,
bahkan ada khusus sewanya juga. Mungkin kalau langsung ke pusatnya akan lebih
murah.”
“Bagus kalau
begitu, semoga saja pemiliknya juga datang.”
“Pasti
datang, acara perkumpulan pengusaha akbar seperti ini jarang diadakan.”
“Pak Enzi,
semua sudah siap!” Terdengar suara Evelyn di belakang pria itu.
“Ya Bu Evie,
kita berangkat sekarang.” Pak Enzi melirik sekilas pada janda muda itu. Meskipun
janda beranak satu, Evelyn bisa mengurus
diri dengan baik, apalagi pekerjaannya menuntutnya harus selalu tampil smart
dan cekatan.
Evelyn
langung beranjak dari kursinya, mengikuti langkahnya Pak Enzi.
***
Di Ibukota,
di sebuah ruangan.
“Bu Laras!
Proposal apa ini?” Suara pria didalam itu terdengar melengking membuat Bu Laras
yang sedang berbicara dengan Bu Eka menghentikan bicaranya.
“Bu Eka dengar?
__ADS_1
Telingaku rasanya akan cepat tuli kurang dari satu tahun karena mendengar teriakannya.
“Ada apa?”
seorang pria paruh baya menghampiri meja mereka.
“Pak Jeremy!”
“Bu Laras!
Apa kau tidak dengar?”
“Ya. Pak!
Sebentar!” Bu Laras cepat-cepat pergi ke ruangan pemilik perusahaan itu.
“Inia pa?”
“Itu bukan
proposal Pak, tapi undangan acara besok, perkumpulan pengusaha senasional.”
Jeremy melemparnya
ke meja. “Tidak mutu!”
“Acara itu
diadakan Lima tahun sekali Pak.”
“Memang
agendanya apa saja?”
“Ya, seputar
sharing masalah perekonomian nasional, Pak! Biasanya perusahaan kita ikut hadir.
Atau Bapak mau diwakilkan Pak Candra? Tapi tidak ada salahnya sekarang Bapak
yang hadir, banyak yang tidak tahu Bapak kan? Orang-orang tahunya pemilik perusahaan
ini ada di Hongkong! Bisa menambah relasi juga karena semua pengusaha biasanya
menyempatkan ke acara ini. Bisa sekalian promosi apa yang kita produksi, sangat bagus untuk pemasaran.”
Jeremy
tampak mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia tidak suka pekerjaan seperti ini. Tapi
pekerjaan lamanya yang menghasilkan uang lebih mudah tidak disukai istrinya
sampai istrinya meninggalkannya.
“Ya, sudah,
kita hadir! Kau ikut! Pak Candra juga!”
“Baik, Pak. Saya
sudah menyiapkan berkasnya untuk acara itu!”
“Ya sudah
berikan saja Pak Candra, aku hanya ingin melihat saja acaranya seperti apa.”
“Baik, Pak!”
Bu Laras segera meninggalkan ruangan itu.
“Pak Candra,
kata Pak Jeremy, dia akan ikut ke acara besok.”
“Ikut?”
tanya Pak Candra.
“Iya. Bagus
juga kalau ikut kan? Banyak yang tidak tahu seperti apa pemilik perusahaan ini,
kan? Pasti heboh besok, ternyata pemiliknya masih muda, tampan gagah dan keren.”
Pak Candra
malah tersenyum saja.
kenapa ya, kok Pak Jeremy tidak menikah lagi setelah bercerai dengan Bu Evelyn?
Sudah lama kan, lima tahun.”
“Tidak tahu,
itu bukan urusan kita.”
“Pria
sekeren itu pasti cepat laku, apalagi tajir.”
Jeremy
bersandar ke kursinya dengan memejamkan matanya. Bayangan perpisahan terakhirnya
dengan istrinya dan putranya di rumah sakit kembali terbayang. Dia sama sekali tidak
punya gambar mereka, bahkan foto pernikahanpun tidak ada. Dia hanya mengukir
wajah istri dan putranya didalam kenangan saja yang akan muncul kalau dia
memejamkan matanya. Ayres belum membuka matanya waktu itu, dia tidak tahu mata
Ayres mirip dirinya atau Evelyn.
Aset-aset
yang dia miliki sudah diberikan pada istrinya, tapi info perbankan sama sekali
tidak ada penarikan dana dari rekening yang dia berikan pada Evelyn dari bagi
hasil dari beberapa perusahaan yang menggunakan propertinya. Istrinya
benar-benar tidak menggunakan uangnya.
Rasa
rindunya semakin menggunung tapi selalu ditahannya, hanya cukup dengan
membayangkannya saat memejamkan matanya atau dia akan menyibukkan diri dengan
pekerjaannya demi memupus rasa rindunya.
***
Sore
harinya.
“Disini gedungnya?”
tanya Evelyn, saat mobil atasannya itu memasuki halaman sebuah hotel mewah.
“Kau belum
pernah kesini?”
“Belum, Pak.
Hanya lihat di internet saja. Saya turun disini saja, Pak! Saya akan ke loby
untuk cek in.”
Pak Enzi
langsung menghentikan mobilnya. Sekretarisnya itu segera turun dan menuju pintu
masuk, setelah melewati pemeriksaan baru ke receptionis yang ternyata mengantri,
bahkan banyak yang baru datang.
“Penuh
ternyata..” gumam Evelyn, ikut mengantri.
Seorang
wanita berkaca mata yang lebih tua darinya menoleh pada Evelyn.
“Dari daerah?”
tanya wanita itu, sedikit menurunkan kacamatanya.
__ADS_1
“Iya!”
Evelyn mengangguk.
“Sudah lama
mengantri?”
“Iya, soalnya
yang dari daerah datangnya bersamaan. Hanya tinggal mengambil kunci saja, kan?”
“Iya.”
Terdengar
suara langkah kaki seseorang yang menyelinap begitu saja diantara antrian.
“Yang saya
sudah siap?” tanya wanita itu, membuat semua orang mendelik karena tidak
mengantri.
“Sudah Bu Laras!
Untuk tiga kamar.” Petugas receptionis langsung memberikan kuncinya pada wanita
baru datang itu.
“Semua yang
saya butuhkan sudah siap kan? Bosku agak rewel orangnya, semua harus perfect.”
“Sudah, Bu
Laras, tinggal cek saja.”
“Baiklah,
saya cek, terimakasih.” Wanita itupun pergi.
“Pasti dari
perusahaan besar, langsung dapat kunci saja,” gumam wanita berkacamata itu.
Evelyn tidak
bicara apa-apa, hanya memperhatikan punggung wanita itu yang menyelinap diantara
orang-orang yang berkumpul sangat ramai, pergi menuju pintu lift. Evelyn kembali
melangkah maju saat ada yang sudah mengambil kunci.
Bu Laras menunggu
liftnya, saat lift satunya terbuka, beberapa orang pria keluar dari lift itu.
“Bu Laras?
Cek in? Tumben! Kan deket!” sapa seorang pria berstelan jas itu.
“Sekarang bosku
dari Hongkong hadir juga, dia minta cek in.”
“Bosmu
datang dari Hongkong?”
“Iya.”
“Wah supraise
sekali bisa ketemu langsung!”
“Iya, nanti
aku kenalkan besok. Sekarang aku mau cek dulu kamarnya.”
“Oke, besok
tolong jadwalkan bertemu!”
“Iya.” Bu Laras
langsung masuk kedalam lift yang terbuka.
“Betulkan?
Pasti pengusaha besar, dari Hongkong! Tapi entah dari perusahaan apa itu? Paling
nanti kita akan tahu kalau disebutkan.” Wanita berkaca mata disamping Evelyn
terus saja bicara, lalu menoleh pada Evelyn yang jadi menoleh kea rah lift tapi
Bu Laras sudah tidak terlihat.
“Belum
kenalan, Ibu siapa?”
“Saya,
Evelyn.”
“Saya Nunik.”
“Senang
berkenalan denganmu, Bu Nunik.”
“Saya juga Bu
Evelyn. Kamarnya di lantai berapa? Berapa orang?”
“7. Berdua
saja dengan atasanku.”
“Iya, saya
juga. Bosku sudah tua tapi manja, dikit dikit Bu Nunik, dikit dikit Bu Nunik,” keluh
Bu Nunik membuat Evelyn tertawa.
“Bagaimana
dengan Bosmu?”
“Bosku masih
muda dan belum menikah, dia juga tampan.”
“Wah sangat
menyenangkan. Apa kau merayunya?”
“Apa? Tidak!”
Evelyn langsung tertawa.
“Maaf, hanya
bercanda. Tapi bos keren seperti itu sangat menyenangkan daripada Bos tua
cerewet.”
“Tidak apa.
Aku sudah punya anak.”
“Sudah punya
anak?” Bu Nunik terbelalak kaget. Evelyn mengangguk.
“Wah kau terlihat
masih gadis, masih muda dan cantik.”
“Bu Nunik
berlebihan.” Evelynpun tertawa.
Merekapun
bercakap-cakap sambil menunggu giliran mengambil kunci kamar yang sudah mereka
pesan.
***
__ADS_1