
Jeremy merasa gelisah dan tidak percaya atas apa yang didengarnya dari temannya Evelyn itu. Sampai di rumah, dia akan mengulurkan tangannya membantu Evelyn turun dari mobilnya tapi kemudian diurungkannya, kenapa dia jadi perhatian begitu? Kabar kehamilan Evelyn membuatnya serba salah.
“Aku perlu bicara denganmu!” ucapnya lalu masuk kedalam rumah.
Evelyn mengikutinya dengan lesu.
“Duduk!” perintah Jeremy dengan menggerakkan kepalanya menunjuk kearah kursi tamu itu, sambil dia juga duduk disebrang kursi itu dengan tubuh yang masih bertelanjang dada karena kemejanya dipakai menghapus airmata Evelyn tadi.
Evelynpun duduk dengan ragu di kursi itu dan menunduk.
Jeremy menatap wanita yang ada di hadapannya itu, matanya terutama tertuju pada perutnya Evelyn.
“Katakan padaku, apa benar kau hamil?” tanya Jeremy.
Evelyn diam tidak menjawab.
“Kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Mm, tidak, aku tidak hamil!” jawab Evelyn, berbohong.
Kini Jeremy yang diam, dia melipatkan kedua tangannya di dadanya dan menatap Evelyn dengan tajam.
“Kau bicara jujur?” tanyanya.
“Iya,” jawab Evelyn masih menunduk.
Tiba-tiba Jeremy berteriak,”Mana jasku tadi?” kepalanya menoleh kearah pintu yang terbuka.
Seorang pria tinggi besar masuk sambil memberikan jasnya.
“Ambilkan ponselku!”
Pria tinggi besar itu mengambil ponsel yang ternyata ada di saku jas Jeremy, lalu diberikan pada Jeremy.
“Ryan!” panggil Jeremy, menoleh lagi kearah pintu.
Ryan yang tadi ada diluar langsung masuk ke dalam ruangan itu.
“Panggilkan Dokter kandungan sekarang juga!”
Mendengar perkataan Jeremy membuat Evelyn terkejut dan menatap pria itu.
“Kenapa kau memanggil Dokter kandungan? Aku tidak hamil!”
Jeremy menatap tajam Evelyn, sedangkan Ryan langsung mencari nomor ponsel Dokter kandungan yang bisa dipanggil sekarang juga ke rumahnya Jeremy.
Ditatap seperti itu membuat Evelyn memilih menunduk lagi, dia berfikir keras bagaimana caranya supaya Jeremy tidak tahu kalau dia hamil? Tapi dengan memanggil Dokter kandungan sudah dipastikan dia tidak bisa menghindar lagi. Apa yang akan dilakukannya jika Jeremy tahu soal kehamilannya?
Jeremy memanggil Bibi untuk mengambilkan kemejanya dan menyimpan jas dan kemejanya yang tadi.
Entah berapa lama Evelyn duduk dikursi itu seperti disidang. Pria itu hanya sibuk dengan menelpon soal kerjaannya saja, sampai akhirnya Dokter kandungan itu tiba bersama seorang perawat.
“Cepat periksa istriku! Aku ingin tahu dia hamil atau tidak?”
“Baik Pak!” jawab Dokter itu, kemudian menoleh pada Evelyn yang sedang menatapnya. Sudah tidak ada harapan lagi untuk menghindar dari Dokter itu.
“Kau bisa pakai kamarku!” ucap Jeremy pada Dokter itu, lalu menoleh pada Evelyn.
“Jangan bikin masalah! Ayo masuk! Dokter akan memeriksamu!” ucapnya dengan ketus.
__ADS_1
“Mari Bu!” ajak Dokter itu.
Melihat Evelyn yang seperti enggan diperiksa, membuat Jeremy menghampirinya dan meraih tangan Evelyn supaya berdiri.
Meskipun Evelyn tidak mau Jeremy mengetahui kehamilannya, melihat wajah Jeremy yang menatapnya tajam, membuat Evelyn mau berdiri dan terpaksa mengikutinya ke kamar Jeremy.
Pria itu tampak tidak sabar menunggu Dokter itu memeriksa istrinya. Dia sengaja menggeser kursi diruangan itu dengan posisi yang strategis untuk melihat pemerikasaan itu. Matanya tidak berkedip menatap setiap gerakan Dokter itu. Tidak ada sedikitpun celah bagi Evelyn untuk bernegosiasi dengan Dokter itu untuk berbohong pada Jeremy supaya tidak mengatakan kalau dia sedang hamil.
“Bagaimana?” tanya Jeremy saat dilihatnya Dokter itu selesai memeriksa.
Dokter itu menoleh pada Jeremy.
“Istri Bapak memang sedang hamil. Perkiraan sekitar 8 minggu, untuk pastinya bisa dilakukan USG di rumah sakit bersallin,” jawab Dokter.
“Itu artinya apa?” tanya Jeremy.
“Bapak akan segera punya anak!”
Jeremy langsung tersenyum, antara shock, tidak percaya dan aneh, segala amcam perasaan muncul dihatinya. Lalu menoleh pada Evelyn yang memberengut saja, dia pun berubah masam melihat ekspresi Evelyn begitu, ada rasa kesal karena sudah jelas alasan kenapa Evelyn pergi dari rumah karena ingin menutupi kehamilannya.
Jeremy menoleh lagi pada Dokter yang berjalan menuju meja kursi, kemudian duduk disana sambil menuliskan sesuatu di atas meja.
“Ini resep untuk istri Bapak. Tolong kerjasamanya untuk menjaga ibu dan bayi supaya dalam kadaaan sehat sampai masa melahirkan nanti,” ucap Dokter itu sambil memberikan secarik kertas pada Jeremy.
“Apa ini?” Jeremy melihat kertas itu dan membacanya, dia tidak bisa membaca tulisan yang ada di kertas itu.
“Resep obat penguat kandungan dan vitamin, bisa di tebus di apotek.”
Jeremy menoleh kearah pintu.
“Ryan! Kemari!” teriaknya.
“Bawa ini ke Apotik!” perintah Jeremy.
Ryan membaca kertas itu lalu menatap Jeremy.
“Istrimu benar-benar hamil?” tanya nya.
Ryanpun menjadi teringat Selena. Apa reaksi Selena kalau tahu Evelyn mengandung anaknya Jeremy? Apa wanita itu akan terus mengaharapkan Jeremy?
Melihat Ryan yang cuma diam saja membuat Jeremy kesal.
“Kenapa kau diam saja? Cepat pergi!” bentaknya.
Ryan menoleh pada Evelyn yang bergerak bangun lalu duduk di tempat tidurnya. Tatapannya bertemu dengan tatapannya Evelyn, tanpa bicara apa-apa lagi, dia keluar dari kamar itu.
Jeremy menatap Dokter itu.
“Jadi apa maksudmu dengan kerjasama itu? Kerjasama semacam apa?” tanyanya dengan bingung.
“Bapak harus ikut memperhatikan kesehatan ibu dan anak, jangan biarkan ibu hamil stress. Ibu hamil harus selalu bahagia, tidak boleh lelah, harus makan makanan yang bergizi,” papar Dokter itu.
Jeremy tampak mengerutkan dahinya, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Dokter itu.
“Dia tidak akan stress, aku sudah memberinya uang yang banyak, dia bisa membeli apa saja yang dia mau, kalau untuk membeli susu hamil, nanti aku pilihkan susu ibu hamil yang terbaik!” kata Jeremy.
Dokter tampak mengangguk-angguk dana tersenyum senang mendengarnya.
“Jangan lupa untuk menjaga perasaan Ibu hamil yang sensitive, selalu memperhatikan dan menyayanginya itu akan membuat bayi dalam kandungan tumbuh dengan sehat sampai bayi itu lahir!”
__ADS_1
“Memperhatikan dan menyayanginya? Maksudnya apa?” Jeremy mengerutkan keningnyanya tampak berfikir serius.
“Tadi itu, buat ibu hamil selalu bahagia.”
“Ah ribet amat! Kenapa wanita hamil begitu merepotkan?” keluh Jeremy.
“Memang seperti itu! Hamil bukan berarti ibu saja yang menjaganya tapi perlu perhatian ayah si bayi juga.”
“Ya ya aku mengert! Terus itu bagaimana dengan jenis kelaminnya? Aku tidak mau anak perempuan! Aku mau anak laki-laki!”
Mendengar perkataan Jeremy itu tentu saja membuat Evelyn terkejut, pria itu menginginkan bayi laki-laki! Apakah nanti dia bisa berpura-pura bayinya perempuan saja supaya Jeremy tidak menginginkan bayinya? Sepertinya itu celah untuk membuat Jeremy tidak mengambil bayinya, harus berpura-pura bayinya perempuan saja nanti kalau jenis kelaminnya sudah terlihat.
Dokter menatap Jeremy.
“Untuk saat ini jenis kelamin belum terlihat, anak laki-laki atau perempuan sama saja.”
“Ah tidak! Aku ingin bayi laki-laki!” Jeremy bersikeras.
“Semoga bayinya laki-laki!”
“Jadi kapan aku tahu jenis kelaminnya?”
“Menunggu usia kehamilan sekitar 4 bulan biasanya sudah terlihat jenis kelaminnya!” jawab Dokter.
Jeremy tampak berfikir lagi, diapun menoleh pada Evelyn yang memalingkan muka menghindari tatapannya Jeremy. Hem Jeremy menatap tajam istrinya itu, dia harus melakukan sesuatu supaya istrinya tidak kabur lagi.
“Baiklah Pak, ada yang ditanyakan lagi? Untuk selanjutnya Bapak bisa membawa istri Bapak langsung control ke rumah sakit bersalin tempat saya praktek, supaya pemeriksaan lebih akurat!”
“Tidak, aku rasa sudah cukup! Kau tunggu dulu sebentar!” jawab Jeremy, sambil bangun dari duduknya dan meninggalkan Dokter itu menuju bagian dari kamar itu, membuka sebuah pintu yang terkunci password lalu masuk kesana.
Jeremy keluar lagi dengan membawa dua gepok uang, menghampiri Dokter itu lalu melempar uang itu ke hadapannya Dokter itu.
“Ini bayaranmu!’
Dokter itu spontan menerima uang gepokan itu dengan terkejut melihatnya. Uang itu begitu banyak hanya untuk sekedar memeriksa ibu hamil.
“Tapi Pak Ini..” Dokter menatap Jeremy.
“Sudah ambil saja! Anggap saja itu bentuk kebahagiaanku karena istriku hamil!”
Dokter itu kembali melihat uang ditangannya seakan tidak percaya mendapat bayaran sebanyak itu. Perawat yang bersamanya tampak ikut terkejut juga dan langsung tersenyum senang, hanya beberapa menit memeriksa saja mendapatkan uang sebanyak itu.
“Sudah pergi sana!” usir Jeremy.
“Jangan lupa minum obatnya yang teratur, dan jadwal control langsung ke rumah sakit!” kata Dokter.
“Iya!”
“Baiklah saya permisi! Sekali lagi selamat anda akan segera menjadi ayah.”
“Hem!”
Dokter dan perawat itupun keluar dari kamarnya Jeremy. Kini kamar itu sepi setelah kepergian mereka.
Jeremy mendekati Evelyn yang masih memalingkan mukanya tidak mau menatap Jeremy. Pria itu menghentikan langkahnya tidak jauh dari hadapan Evelyn.
“Tatap aku!” perintah Jeremy.
Evelyn masih memalingkan mukanya tidak mau melihat pria itu.
__ADS_1
*****