
“Nak, apa
kau tidak akan menahan Jeremy? Dia sudah mau berubah, Sayang. Anakmu butuh
ayahnya,” ucap Pak Kades.
“Tidak,
Ayah. Anakku tidak butuh ayahnya. Aku bisa membesarkannya sendiri. Aku bisa.”
Airmata terus menetes di pipinya Evelyn, hatinya sangat sakit tapi dia harus
kuat mengambil keputusan ini harus.
“Tapi kau
jangan menjauhkan Ayah dari cucu Ayah, ya Sayang? Jeremy sudah pergi, Ayah
tidak punya siapa-siapa lagi, selain kau dan Ayres.” Pak Kades menatap
menantunya itu dengan hati yang porak poranda.
“Tapi aku mau
tinggal di rumah Ayahku.”
“Baiklah,
kau boleh tinggal dirumah Ayahmu. Tapi kalau kau butuh apa-apa, Ayres juga,
jangan sungkan bicara sama Ayah. Ya, Sayang.”
Evelyn mengangguk,
menjatuhkan butiran baru air matanya.
***
Jeremy kembali
ke rumahnya di kota. Masuk ke rumahnya itu terasa begitu dingin dan sepi.
Dulu dia tidak
pernah merasakan itu, tapi sekarang, dingin itu terasa membuat hatinya menjadi
beku. Dia rindu anak istrinya. Melihat wajah istrinya yang menangis sambil
memeluk bayinya, menolaknya untuk bersama lagi, hatinya begitu sakit.
Entah harus
dengan cara apa dia membuktikan kalau dia mencintainya, dia sudah jatuh cinta pada
Evelyn. Tidak bersama wanita yang dicintainya hatinya terasa hampa. Tapi semua
sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Evelyn sudah menolaknya.
“Pak, saya
kembali ke kampung?” tanya Maskur.
“Ya, kau
kembali saja.”
“Ada pesan
buat Pak Kades.”
“Tidak ada.”
“Buat Non Evelyn?”
Jeremy terdiam
sesaat. “Meskipun kemungkinannnya kecil, mau satu tahun, dua tahun atau sepuluh
tahun kemudian, atau sampai kapanpun, aku
akan selalu menunggunya sampai dia mau kembali padaku, meskipun didetik detik ajalku
tiba.”
Pak Maskur
terbengong saja mendengarnya.
“Pak saya tidak
salah dengar? Saya harus bilang begitu pada Non Evelyn?”
“Ya, katakan
itu padanya. Itu yang aku rasakan. Aku mencintainya. Aku tidak pernah menyangka
kalau seseorang akan sangat mempengaruhi jiwaku. Aku seperti pria bodoh yang
cengeng tapi memang seperti itu. Tidak peduli disebut bodoh dan cengeng, tapi
aku mencintainya.”
“Baiklah
nanti saya sampaikan. Ada lagi?”
“Bantu aku
ke kamarku.”
“Baik.” Pak
Maskur akan mengangkat tubuhnya Jeremy tapi kesusahan.
“Tubuh ini,
kapan aku bisa benar-benar sembuh,”gerutu Jeremy.
“Pak Jeremy!
Mau kemana?” seorang pria menghampiri masuk ke dalam.
“Kau yang
bertanggungjawab mengurus rumahku?”
“Iya, Pak. Saya
Irvan, Bu Evelyn menunjuk saya untuk mengurus rumah ini selama Pak Jeremy
tinggal di kampung.”
“Ya, sudah,
bantu Maskur membawaku ke kamarku.”
“Baik, Pak!”
Pak Irvan
dan Pak Maskur, bersama-sama menggotong tubuhnya Jeremy dibawa naik ke lantai
atas, menuju kamarnya. Setelah itu disusul kursi rodanya.
“Kalian
__ADS_1
tunggu diluar! Nanti aku panggil.” perintahnya.
Kedua pria
itupun keluar dari kamar itu.
Jeremy memutar
kursi rodanya menuju ruangan yang terkunci itu lalu kembali lagi dengan sebuah amplop
coklat ditangannya.
“Pak Maskur!
Pak Irvan!” panggilnya.
Pak Maskur
masuk lagi kedalam kamar itu, begitu juga dengan Pak Irvan.
Jeremy
memberikan amplop coklat itu. “Berikan ini pada istriku.”
“Kalau Non
Evelyn nanya, saya jawab apa?”
“Bilang saja
tidak tahu. Berikan saja.”
“Baik, Pak.
Ada lagi?”
“Tidak ada.”
“Kalau
begitu saya pulang, ya Pak?”
“Ya.”
Pak Maskurpun
keluar dari kamar itu, kini tinggal Jeremy dengan Pak Irvan.
“Pak Irvan, aku
mau merenovasi rumah. Aku ingin membuat pavilion untuk anak-anak dan taman
bermain. Kau bisa mengaturnya?”
“Untuk anak Bu
Evelyn ya Pak? Maksudnya anak Bapak juga? Bu Evelyn sudah lahiran?”
“Ya, anakku
laki-laki, namanya Ayres.”
“Kapan Bu
Evelyn dan Den Ayres dibawa kemari, Pak? Biar kalau kesini semuanya sudah siap.”
“Tidak tahu,
mungkin tidak akan pernah datang.”
Pak Irvan terkejut
mendengarnya.
“Siapkan
akan pernah datang.”
Pak Irvan
mengangguk tanpa berkata-kata.
“Ada supir,
kan?”
“Di berhentikan,
Pak.”
“Carikan
supir, periksa mobil-mobilku, aku mau ke showroom.”
“Baik, Pak!”
Pak Irvanpun keluar dari kamar itu.
Kembali
kamar itu terasa dingin dan hampa, menoleh kearah tempat tidur, tempat tidur
itu kosong. Tidak ada lagi gadis cantik yang selalu menunggunya di rumah. Dia
begitu merindukannya. Istri yang selalu berada disisinya meskipun dia selalu
menyakitinya.
Uang yang
banyak, harta benda yang berlimpah bisa mengikat banyak wanita yang diinginkannya,
tapi tidak dengan istrinya. Semua yang dimilikinya tidak mampu menahan Evelyn
untuk tetap bersamanya. Istrinya sudah pergi.
Percuma
banyak wanita cantik yang mengelilinginya, dia hanya ingin bersama istrinya. Hanya
istrinya, yang sudah tulus mencintainya, mengabdikan dirinya untuk suaminya,
yang hanya tinggal bisa dikenang saat bersamanya. Tapi tidak banyak kenangan
manis, yang terlintas penderitaan, sakit hati dan airmata.
Jeremy
merasa menyesal sudah menyia-nyiakannya. Menjalankan kursi rodanya mendekati
jendela yang gorden tebalnya tidak ditutup. Menatap keluar yang gelap gulita.
Kemudian memutar lagi rodanya menuju tempat tidurnya yang rapih.
Tangannya
terulur menyentuh bantal yang bertumpuk ditempat tidurnya. Mengusapnya perlahan,
tempat biasa Evelyn berbaring disana.
“Meskipun
kau sudah lepas dariku, aku akan menunggumu pulang. Sampaikapanpun aku akan
menunggumu. Tidak akan ada satu wanitapun yang akan menggantikan posisimu di
__ADS_1
rumahku. Kau akan menjadi ratuku selamanya, dalam hidup dan matiku, kau akan
selalu menjadi ratuku.”
Ucapan itu
seolah hanya hembusan nafas saja karena tidak ada yang mendengarnya.
***
“Ini apa?”
tanya Evelyn saat Pak Maskur sudah kembali dan memberikan amplop coklat padanya,
keesokan harinya saat masih di rumah sakit dan bersiap-siap untuk pulang.
“Kata Pak
Jeremy, itu buat Non Evelyn. Pak Jeremy juga berpesan Sesuatu..sebentar saya ingat-ingat
dulu kata-katanya.” Pak Maskur tampak berpikir keras.
“Seharusnya
kau tulis saja,” ucap Pak Arman.
“Saya tidak
tahu pesannya akan banyak. Sebentar.”
Pak Kades
tersenyum melihat pekerjanya itu. “Masih belum ingat juga?”
“Gini Non. Meskipun
kemungkinannnya kecil, mau satu tahun, dua tahun atau sepuluh tahun kemudian,
atau sampai kapanpun, aku akan selalu menunggunya
sampai dia mau kembali padaku, meskipun didetik detik ajalku tiba. Pak Jeremy bicara
begitu.”
Semua yang
mendengarnya terkejut, Evelyn menatap Pak Maskur serasa tidak percaya.
“Jeremy bicara
begitu?” tanya Pak Kades.
“Iya, Pak
begitu. Katanya tidak apa disebut bodoh dan cengeng juga tapi memang Pak Jeremy
mencintai Non Evelyn, begitu katanya.”
Semua mata
menatap Evelyn yang segera menunduk, rasa sedih kembali menyelimuti hatinya.
Dia tidak boleh terpengaruh dengan kondisi yang sesaat. Dia tidak tahu mungkin kalau
Jeremy sudah sembuh total kata itu hanya akan menjadi kata-kata.
“Kau tidak
memikirkan lagi untuk kembali pada Jeremy?” tanya Pak Kades.
“Tidak Ayah.
Sekarang Jeremy bicara begitu karena tidak ada siapapun yang menemaninya.
Sebentar lagi dia sudah sembuh, dan kembali gagah, dia akan lupa kata-kata itu.
Akan banyak wanita yang menghiburnya, tidak perlu khawatir.” Evelyn menunduk
sambil mengeluarkan isi amplop itu.
Ternyata
berkas berkas kepemilikan banyak asset dan property.
“Apa itu,
Nak?” tanya Pak Arman.
“Surat-surat
kepemilikan tanah dan property lainnya.”
“Mungkin
Jeremy tidak mau Ayres kekurangan. Kalau begitu memang Jeremy sudah berubah,
dia memikirkan tanggungjawab padamu dan Ayres.” Pak Arman menatap putrinya.
“Aku tidak
mau menggunakannya. Aku tidak tahu darimana barang-barang ini berasal.” Evelyn
memasukkan berkas-berkas itu ke dalam amplop.
“Aku akan
bekerja lagi, aku akan menghidupi anakku dengan hasil jerih payahku saja.” Putus
Evelyn.
“Tapi jangan
kau kembali semua itu, Sayang. Kau simpan barangkali Ayres membutuhkannya!”
usul Pak Kades.
“Aku akan
menyimpannya tapi tidak menggunakannya.” Evelyn menutup amplop coklat itu.
“Terimakasih,
Pak Maskur.”
“Ya sudah jadi
kau akan pulang ke rumah sekarang?” tanya Pak Arman.
“Iya, Ayah.
Kita pulang.”
Evelyn
menoleh pada bayi yang ada di ranjang bayi itu, lalu tersenyum.
“Ayres,
Sayang, kita pulang ke rumah Kakek, Nak!” ucapnya.
Pak Kades
hanya bisa diam dan menatap menantunya yang menggendong cucunya. Dia tahu mau
Evelyn maupun Jeremy tidak ada satu hatipun yang bahagia dengan perpisahan ini.
__ADS_1
***