Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-59 Janji Cinta Mati Jeremy


__ADS_3

“Nak, apa


kau tidak akan menahan Jeremy? Dia sudah mau berubah, Sayang. Anakmu butuh


ayahnya,” ucap Pak Kades.


“Tidak,


Ayah. Anakku tidak butuh ayahnya. Aku bisa membesarkannya sendiri. Aku bisa.”


Airmata terus menetes di pipinya Evelyn, hatinya sangat sakit tapi dia harus


kuat mengambil keputusan ini harus.


“Tapi kau


jangan menjauhkan Ayah dari cucu Ayah, ya Sayang? Jeremy sudah pergi, Ayah


tidak punya siapa-siapa lagi, selain kau dan Ayres.” Pak Kades menatap


menantunya itu dengan hati yang porak poranda.


“Tapi aku mau


tinggal di rumah Ayahku.”


“Baiklah,


kau boleh tinggal dirumah Ayahmu. Tapi kalau kau butuh apa-apa, Ayres juga,


jangan sungkan bicara sama Ayah. Ya, Sayang.”


Evelyn mengangguk,


menjatuhkan butiran baru air matanya.


***


Jeremy kembali


ke rumahnya di kota. Masuk ke rumahnya itu terasa begitu dingin dan sepi.


Dulu dia tidak


pernah merasakan itu, tapi sekarang, dingin itu terasa membuat hatinya menjadi


beku. Dia rindu anak istrinya. Melihat wajah istrinya yang menangis sambil


memeluk bayinya, menolaknya untuk bersama lagi, hatinya begitu sakit.


Entah harus


dengan cara apa dia membuktikan kalau dia mencintainya, dia sudah jatuh cinta pada


Evelyn. Tidak bersama wanita yang dicintainya hatinya terasa hampa. Tapi semua


sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Evelyn sudah menolaknya.


“Pak, saya


kembali ke kampung?” tanya Maskur.


“Ya, kau


kembali saja.”


“Ada pesan


buat Pak Kades.”


“Tidak ada.”


“Buat Non Evelyn?”


Jeremy terdiam


sesaat. “Meskipun kemungkinannnya kecil, mau satu tahun, dua tahun atau sepuluh


tahun kemudian, atau sampai kapanpun,  aku


akan selalu menunggunya sampai dia mau kembali padaku, meskipun didetik detik ajalku


tiba.”


Pak Maskur


terbengong saja mendengarnya.


“Pak saya tidak


salah dengar? Saya harus bilang begitu pada Non Evelyn?”


“Ya, katakan


itu padanya. Itu yang aku rasakan. Aku mencintainya. Aku tidak pernah menyangka


kalau seseorang akan sangat mempengaruhi jiwaku. Aku seperti pria bodoh yang


cengeng tapi memang seperti itu. Tidak peduli disebut bodoh dan cengeng, tapi


aku mencintainya.”


“Baiklah


nanti saya sampaikan. Ada lagi?”


“Bantu aku


ke kamarku.”


“Baik.” Pak


Maskur akan mengangkat tubuhnya Jeremy tapi kesusahan.


“Tubuh ini,


kapan aku bisa benar-benar sembuh,”gerutu Jeremy.


“Pak Jeremy!


Mau kemana?” seorang pria menghampiri masuk ke dalam.


“Kau yang


bertanggungjawab mengurus rumahku?”


“Iya, Pak. Saya


Irvan, Bu Evelyn menunjuk saya untuk mengurus rumah ini selama Pak Jeremy


tinggal di kampung.”


“Ya, sudah,


bantu Maskur membawaku ke kamarku.”


“Baik, Pak!”


Pak Irvan


dan Pak Maskur, bersama-sama menggotong tubuhnya Jeremy dibawa naik ke lantai


atas, menuju kamarnya. Setelah itu disusul kursi rodanya.


“Kalian

__ADS_1


tunggu diluar! Nanti aku panggil.” perintahnya.


Kedua pria


itupun keluar dari kamar itu.


Jeremy memutar


kursi rodanya menuju ruangan yang terkunci itu lalu kembali lagi dengan sebuah amplop


coklat ditangannya.


“Pak Maskur!


Pak Irvan!” panggilnya.


Pak Maskur


masuk lagi kedalam kamar itu, begitu juga dengan Pak Irvan.


Jeremy


memberikan amplop coklat itu. “Berikan ini pada istriku.”


“Kalau Non


Evelyn nanya, saya jawab apa?”


“Bilang saja


tidak tahu. Berikan saja.”


“Baik, Pak.


Ada lagi?”


“Tidak ada.”


“Kalau


begitu saya pulang, ya Pak?”


“Ya.”


Pak Maskurpun


keluar dari kamar itu, kini tinggal Jeremy dengan Pak Irvan.


“Pak Irvan, aku


mau merenovasi rumah. Aku ingin membuat pavilion untuk anak-anak dan taman


bermain. Kau bisa mengaturnya?”


“Untuk anak Bu


Evelyn ya Pak? Maksudnya anak Bapak juga? Bu Evelyn sudah lahiran?”


“Ya, anakku


laki-laki, namanya Ayres.”


“Kapan Bu


Evelyn dan Den Ayres dibawa kemari, Pak? Biar kalau kesini semuanya sudah siap.”


“Tidak tahu,


mungkin tidak akan pernah datang.”


Pak Irvan terkejut


mendengarnya.


“Siapkan


akan pernah datang.”


Pak Irvan


mengangguk tanpa berkata-kata.


“Ada supir,


kan?”


“Di berhentikan,


Pak.”


“Carikan


supir, periksa mobil-mobilku, aku mau ke showroom.”


“Baik, Pak!”


Pak Irvanpun keluar dari kamar itu.


Kembali


kamar itu terasa dingin dan hampa, menoleh kearah tempat tidur, tempat tidur


itu kosong. Tidak ada lagi gadis cantik yang selalu menunggunya di rumah. Dia


begitu merindukannya. Istri yang selalu berada disisinya meskipun dia selalu


menyakitinya.


Uang yang


banyak, harta benda yang berlimpah bisa mengikat banyak wanita yang diinginkannya,


tapi tidak dengan istrinya. Semua yang dimilikinya tidak mampu menahan Evelyn


untuk tetap bersamanya. Istrinya sudah pergi.


Percuma


banyak wanita cantik yang mengelilinginya, dia hanya ingin bersama istrinya. Hanya


istrinya, yang sudah tulus mencintainya, mengabdikan dirinya untuk suaminya,


yang hanya tinggal bisa dikenang saat bersamanya. Tapi tidak banyak kenangan


manis, yang terlintas penderitaan, sakit hati dan airmata.


Jeremy


merasa menyesal sudah menyia-nyiakannya. Menjalankan kursi rodanya mendekati


jendela yang gorden tebalnya tidak ditutup. Menatap keluar yang gelap gulita.


Kemudian memutar lagi rodanya menuju tempat tidurnya yang rapih.


Tangannya


terulur menyentuh bantal yang bertumpuk ditempat tidurnya. Mengusapnya perlahan,


tempat biasa Evelyn berbaring disana.


“Meskipun


kau sudah lepas dariku, aku akan menunggumu pulang. Sampaikapanpun aku akan


menunggumu. Tidak akan ada satu wanitapun yang akan menggantikan posisimu di

__ADS_1


rumahku. Kau akan menjadi ratuku selamanya, dalam hidup dan matiku, kau akan


selalu menjadi ratuku.”


Ucapan itu


seolah hanya hembusan nafas saja karena tidak ada yang mendengarnya.


***


“Ini apa?”


tanya Evelyn saat Pak Maskur sudah kembali dan memberikan amplop coklat padanya,


keesokan harinya saat masih di rumah sakit dan bersiap-siap untuk pulang.


“Kata Pak


Jeremy, itu buat Non Evelyn. Pak Jeremy juga berpesan Sesuatu..sebentar saya ingat-ingat


dulu kata-katanya.” Pak Maskur tampak berpikir keras.


“Seharusnya


kau tulis saja,” ucap Pak Arman.


“Saya tidak


tahu pesannya akan banyak. Sebentar.”


Pak Kades


tersenyum melihat pekerjanya itu. “Masih belum ingat juga?”


“Gini Non. Meskipun


kemungkinannnya kecil, mau satu tahun, dua tahun atau sepuluh tahun kemudian,


atau sampai kapanpun,  aku akan selalu menunggunya


sampai dia mau kembali padaku, meskipun didetik detik ajalku tiba. Pak Jeremy bicara


begitu.”


Semua yang


mendengarnya terkejut, Evelyn menatap Pak Maskur serasa tidak percaya.


“Jeremy bicara


begitu?” tanya Pak Kades.


“Iya, Pak


begitu. Katanya tidak apa disebut bodoh dan cengeng juga tapi memang Pak Jeremy


mencintai Non Evelyn, begitu katanya.”


Semua mata


menatap Evelyn yang segera menunduk, rasa sedih kembali menyelimuti hatinya.


Dia tidak boleh terpengaruh dengan kondisi yang sesaat. Dia tidak tahu mungkin kalau


Jeremy sudah sembuh total kata itu hanya akan menjadi kata-kata.


“Kau tidak


memikirkan lagi untuk kembali pada Jeremy?” tanya Pak Kades.


“Tidak Ayah.


Sekarang Jeremy bicara begitu karena tidak ada siapapun yang menemaninya.


Sebentar lagi dia sudah sembuh, dan kembali gagah, dia akan lupa kata-kata itu.


Akan banyak wanita yang menghiburnya, tidak perlu khawatir.” Evelyn menunduk


sambil mengeluarkan isi amplop itu.


Ternyata


berkas berkas kepemilikan banyak asset dan property.


“Apa itu,


Nak?” tanya Pak Arman.


“Surat-surat


kepemilikan tanah dan property lainnya.”


“Mungkin


Jeremy tidak mau Ayres kekurangan. Kalau begitu memang Jeremy sudah berubah,


dia memikirkan tanggungjawab padamu dan Ayres.” Pak Arman menatap putrinya.


“Aku tidak


mau menggunakannya. Aku tidak tahu darimana barang-barang ini berasal.” Evelyn


memasukkan berkas-berkas itu ke dalam amplop.


“Aku akan


bekerja lagi, aku akan menghidupi anakku dengan hasil jerih payahku saja.” Putus


Evelyn.


“Tapi jangan


kau kembali semua itu, Sayang. Kau simpan barangkali Ayres membutuhkannya!”


usul Pak Kades.


“Aku akan


menyimpannya tapi tidak menggunakannya.” Evelyn menutup amplop coklat itu.


“Terimakasih,


Pak Maskur.”


“Ya sudah jadi


kau akan pulang ke rumah sekarang?” tanya Pak Arman.


“Iya, Ayah.


Kita pulang.”


Evelyn


menoleh pada bayi yang ada di ranjang bayi itu, lalu tersenyum.


“Ayres,


Sayang, kita pulang ke rumah Kakek, Nak!” ucapnya.


Pak Kades


hanya bisa diam dan menatap menantunya yang menggendong cucunya. Dia tahu mau


Evelyn maupun Jeremy tidak ada satu hatipun yang bahagia dengan perpisahan ini.

__ADS_1


***


__ADS_2