Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-74 Kabar Kematian Selena


__ADS_3

Karena


Jeremy tidak mau melepaskan pelukannya, akhirnya Evelyn terlelap dipelukannya


pria itu.


Hingga


keesokan harinya merasakan ada yang menggerak-gerakkan tubuhnya.


“Bu! Bu!”


suara anak kecil samar-samar terdengar oleh Evelyn, membuatnya memicingkan


matanya.


“Bu!Bu!”


Suara anak kecil itu semakin nyaring.


Evelyn


membuka matanya dan terkejut saat melihat dada pria itu ada didepan wajahnya.


Diapun langsung mendongak, ternyata dia tidur sambil dipeluk Jeremy.


Cepat-cepat


dia bangun dan menyingkirkan tangannya Jeremy yang memeluk pinggangnya.


“Bu!”Ayres


menatapnya.


“Sayang, kau


sudah bangun?”


“Kenapa Om


itu tidur bersama kita?” tanya Ayres.


“Mungkin


kelelahan, jadi ketiduran.”


Mendengar


ada yang mengobrol membuat Jeremy membuka matanya, lalu bangun dan duduk. Tapi


bukan duduk saja, melainkan memeluk Evelyn dari belakang.


“Jeremy!”


maki Evelyn, mencoba melepaskan tangan pria itu tapi bukannya terlepas malam


semakin mempereratnya.


Ayres


melihat ibunya dipeluk pria asing, menatap dengan bingung.


“Kenapa kau


memeluk Ibuku? Lepaskan!” Tangan kecil Ayres menarik tangannya Jeremy.


“Kau cemburu


Ibumu ku peluk?”


“Jangan


ambil Ibu.”


“Ah, anak


kecil, tidak ada yang akan mengambil ibumu!” ucap Jeremy, malah mencium pipinya


Evelyn.


“Jangan


mencium Ibu!” larang Ayres.


Jeremy


bukannya menurut malah mencium pipinya Evelyn lagi.


“Jangan cium


Ibu!” teriak Ayres.


“Jeremy,


sudah, lepaskan! Nanti Ayres menangis!”


“Tidak akan,


dia anak yang kuat, tidak mungkin menangis.”


“Kau ini,


lepaskan! Nanti dia takut padamu, tidak pernah ada yang sedekat ini dengan


ibunya!” jelas Evelyn membuat Jeremy menatapnya tidak berkedip.


“Ada apa?


Kenapa kau menatapku begitu?”


Pria itu


tersenyum.


“Kenapa kau


malah tersenyum.”


“Tidak


pernah ada pria lain sedekat ini? Artinya kau masih setia padaku?”


Evelyn


terkejut menyadari kesalahan bicaranya. Wajahnya langsung memerah. Sebuah ciuman


mendarat di pipinya. Diciumnya lagi pipi wanita itu.


“Kenapa kau


terus menciumku?”


Jeremy terkekeh,


lalu melepaskan pelukannya, dan meraih tubuhnya Ayres, menggendongnya,


mendudukkannya kepangkuannya. Menatap wajah putranya lalu dicium pipinya dengan


gemas.


“Sayang, aku


Ayahmu!” cetusnya begitu saja, membuat Evelyn terbelalak kaget apalagi Ayres.


“Jeremy, apa


yang kau katakan?” teriak Evelyn.


“Ayres Sayang,


ini Ayah. Aku Ayahmu. Ayah Jeremy. Jangan panggil aku Om lagi, panggil aku


Ayah, ya?” seru Jeremy tidak menggubris perkataannya Evelyn.

__ADS_1


Wanita itu


menggelengkan kepalanya, apanya yang berubah dengan pria itu? Sikapnya begitu.


Ayres terbengong-bengong


saja.


Jeremy


menoleh pada Evelyn lalu mencondongkan tubuhnya, mencium pipinya.


Evelyn


langsung memberengut melihat sikap pria itu yang selalu semaunya.


“Kenapa kau


begitu?” protesnya.


“Karena aku senang


akhirnya kita bisa berkumpul lagi!”


“Kau ini


bicara apa?”


“Aku akan


segera pulang kampung, aku akan melamarmu pada Ayahmu, kita menikah lagi. Dan


kau, bocah kecil, jangan bersaing dengan ketampanan Ayah saat menjadi pengantin


ibumu!”


Ayres menatap


pria itu dengan bingung. “Ayah? Ayahku sudah meninggal! Kau bukan Ayahku!”


Anak itu


langsung turun dari pangkuan Jeremy, langsung mendekati ibunya yang langsung


memeluknya dengan erat.


Evelyn


menatap Jeremy dengan kesal. “Kau terlalu cepat mengatakannya.”


“Mau sekarang


atau nanti apa bedanya? Aku tetap Ayahnya.”


Jeremy menoleh


pada Ayres.


“Ayres


Sayang, mulai sekarang panggil aku Ayah. Oke?”


Ayres tidak


menjawab, hanya menempelkan kepalanya ke tubuh ibunya. Melihatnya membuat


Jeremy semakin gemas melihatnya. Diapun tersenyum dan merendahkan tubuhnya


mendakati Ayres yang semakin ketakutan, memeluk Evelyn dengan kuat.


“Kau jagoan


Ayah!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya Ayres.


“Jeremy..”


panggil Evelyn. Jeremy kembali bersikap tegak menatap wanita cantik itu.


“Aku sudah


juga tidak perlu bertanya kau mau atau tidak, tetap harus mau. Karena kau Ibu


dari anakku.”


Evelyn


mencibir kesal. Tapi Kemudian sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Jeremy mengecup


bibirnya lalu mencium kepalanya Ayres.


Terdengar


suara ketukan di pintu dan dering ponsel.


“Pak Jeremy,


ponselmu terus berdering, mungkin penting!”


Jeremy segera


turun dari tempat tidur itu lalu membuka pintu kamar itu.


“Mana


ponselnya!” Diapun mengambil ponsel yang terus berdering itu, dia mengerutkan


dahinya ternyata Cheng yang menelpon.


“Ada apa


Cheng?” tanya Jeremy, langsung keluar dan menutup pintunya.


Evelyn


merasa heran dengan penelpon itu, karena Jeremy malah bicara di luar seakan ada


rahasia saja.


Di


dudukkannya Ayres diatas tempat tidur, lalu berlari menuju pintu dan dibukanya


perlahan. Dilihatnya Jeremy memunggunginya sedang bicara dengan si penelpon.


“Kau yakin


itu Selena?”


Raut wajah


Evelyn langsung memerah, hatinya kesal lagi, kenapa ada Selena lagi?


“Menurutmu


siapa yang berani membunuh Selena?”


Tubuh Evelyn


langsung saja gemetar, apa dia tidak salah dengar? Kenapa Jeremy bicara begitu?


Apa Selena meninggal?


“Siapa lagi


kalau bukan Ryan, pria itu sudah mengambil semua bisnismu, apa kau tidak pernah


bertemu dengannya?” tanya Cheng.


“Tidak,


karena aku memang tidak ingin bisnis hitamku, lagi. Aku hanya mengurus perusahaan


otomotifku saja.”

__ADS_1


“Selanjutnya


apa yang akan kau lakukan?”


“Tidak ada.


Selena hanya masalaluku. Aku tidak ada urusan lagi dengannya dan aku tidak mau


ataupun ikut campur dengan siapa Selena berurusan. Dia bukan siapa-siapaku.”


“Baguslah


kalau begitu, hanya saja saranku, berhati-hatilah. Yang aku dengar Ryan sangat


berubah, dia begitu ambisius dan bertingkah. Dia seperti orang yang gila kekuasaan.”


“Hem, aku mengerti.”


Jeremy


mematikan ponselnya, saat membalikkan badannya, Evelyn sudah berdiri menatapnya.


“Ada apa


dengan Selena?”


“Kau


menguping?”


“Jawab saja.”


“Dia


meninggal kecelakaan tadi malam, sepertinya sepulang dari sini.”


Jawaban


Jeremy membuat Evelyn merasa shock.


“Menurutmu


siapa pelakunya?”


“Aku tidak


tahu,”


“Tidak


mungkin kau tidak tahu.” Evelyn menatap Jeremy penuh selidik.


“Kemungkinan


Ryan.”


“Ryan? Ada


dendam apa Ryan pada Selena?”


“Entahlah


aku tidak tahu, hanya saja..” Jeremy menatap Evelyn lekat-lekat.


“Hanya saja


apa?”


Jeremy tidak


menjawab.


“Hanya saja


apa?”


“Tidak ada,


Sayang. Jangan menatapku begitu, cantik.” Pria itu malah mendekat dan tangannya


mengulur akan memeluk Evelyn, tapi wanita menghindar.


“Apa aku dan


Ayres terancam?” tanyanya penuh selidik.


“Tidak, Sayang.


Tidak seserius itu.” Jeremy mencoba berbohong.


“Ini yang


aku takutkan, makanya aku ingin pergi jauh dari kehidupanmu. Masa lalumu yang


buruk seakan sudah mandarah daging.”


“Kau ini


bicara apa? Masa laluku memang buruk, terus apa aku tidak boleh merubah hidupku


menjadi lebih baik? Aku juga ingin bahagia hidup normal dengan anak dan istriku.


Bukan kau saja yang ingin begitu.”


Evelyn


langsung diam.


“Mengertilah


kondisiku.”


Evelyn tidak


menjawab, langsung membalikkan badannya masuk lagi ke kamarnya Ayres.


Jeremy


mengaluarkan ponselnya berbicara dengan seseorang lalu pergi ke kamarnya.


**


Ditempat


yang berbeda.


“Jadi polisi


sudah menemukan mayatnya?” tanya Ryan pada seorang pria yang baru saja masuk


keruangannya.


“Iya Bos. Selena


sudah mati.”


Ryan


tersenyum senang, hatinya merasa puas membuat hidup Selena sengsara. Setelah uangnya


habis untuk perawatan kulitnya, wanita cantik itu mati sia-sia.


Tapi ada


satu yang mengganjal dihatinya, dia tidak suka Jeremy hidup bahagia denga anak


istrinya. Meskipun bisnis pria itu sudah ada ditangannya, entah kenapa dia merasa


belum puas kalau belum mendapatkan semua yang dimiliki Jeremy. Bosan dia terus


terusan jadi kaki tangannya Jeremy, menjadi bagian yang menikmati bekasnya pria


itu. Masa lalu yang begitu merendahkan dirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2