
Karena
Jeremy tidak mau melepaskan pelukannya, akhirnya Evelyn terlelap dipelukannya
pria itu.
Hingga
keesokan harinya merasakan ada yang menggerak-gerakkan tubuhnya.
“Bu! Bu!”
suara anak kecil samar-samar terdengar oleh Evelyn, membuatnya memicingkan
matanya.
“Bu!Bu!”
Suara anak kecil itu semakin nyaring.
Evelyn
membuka matanya dan terkejut saat melihat dada pria itu ada didepan wajahnya.
Diapun langsung mendongak, ternyata dia tidur sambil dipeluk Jeremy.
Cepat-cepat
dia bangun dan menyingkirkan tangannya Jeremy yang memeluk pinggangnya.
“Bu!”Ayres
menatapnya.
“Sayang, kau
sudah bangun?”
“Kenapa Om
itu tidur bersama kita?” tanya Ayres.
“Mungkin
kelelahan, jadi ketiduran.”
Mendengar
ada yang mengobrol membuat Jeremy membuka matanya, lalu bangun dan duduk. Tapi
bukan duduk saja, melainkan memeluk Evelyn dari belakang.
“Jeremy!”
maki Evelyn, mencoba melepaskan tangan pria itu tapi bukannya terlepas malam
semakin mempereratnya.
Ayres
melihat ibunya dipeluk pria asing, menatap dengan bingung.
“Kenapa kau
memeluk Ibuku? Lepaskan!” Tangan kecil Ayres menarik tangannya Jeremy.
“Kau cemburu
Ibumu ku peluk?”
“Jangan
ambil Ibu.”
“Ah, anak
kecil, tidak ada yang akan mengambil ibumu!” ucap Jeremy, malah mencium pipinya
Evelyn.
“Jangan
mencium Ibu!” larang Ayres.
Jeremy
bukannya menurut malah mencium pipinya Evelyn lagi.
“Jangan cium
Ibu!” teriak Ayres.
“Jeremy,
sudah, lepaskan! Nanti Ayres menangis!”
“Tidak akan,
dia anak yang kuat, tidak mungkin menangis.”
“Kau ini,
lepaskan! Nanti dia takut padamu, tidak pernah ada yang sedekat ini dengan
ibunya!” jelas Evelyn membuat Jeremy menatapnya tidak berkedip.
“Ada apa?
Kenapa kau menatapku begitu?”
Pria itu
tersenyum.
“Kenapa kau
malah tersenyum.”
“Tidak
pernah ada pria lain sedekat ini? Artinya kau masih setia padaku?”
Evelyn
terkejut menyadari kesalahan bicaranya. Wajahnya langsung memerah. Sebuah ciuman
mendarat di pipinya. Diciumnya lagi pipi wanita itu.
“Kenapa kau
terus menciumku?”
Jeremy terkekeh,
lalu melepaskan pelukannya, dan meraih tubuhnya Ayres, menggendongnya,
mendudukkannya kepangkuannya. Menatap wajah putranya lalu dicium pipinya dengan
gemas.
“Sayang, aku
Ayahmu!” cetusnya begitu saja, membuat Evelyn terbelalak kaget apalagi Ayres.
“Jeremy, apa
yang kau katakan?” teriak Evelyn.
“Ayres Sayang,
ini Ayah. Aku Ayahmu. Ayah Jeremy. Jangan panggil aku Om lagi, panggil aku
Ayah, ya?” seru Jeremy tidak menggubris perkataannya Evelyn.
__ADS_1
Wanita itu
menggelengkan kepalanya, apanya yang berubah dengan pria itu? Sikapnya begitu.
Ayres terbengong-bengong
saja.
Jeremy
menoleh pada Evelyn lalu mencondongkan tubuhnya, mencium pipinya.
Evelyn
langsung memberengut melihat sikap pria itu yang selalu semaunya.
“Kenapa kau
begitu?” protesnya.
“Karena aku senang
akhirnya kita bisa berkumpul lagi!”
“Kau ini
bicara apa?”
“Aku akan
segera pulang kampung, aku akan melamarmu pada Ayahmu, kita menikah lagi. Dan
kau, bocah kecil, jangan bersaing dengan ketampanan Ayah saat menjadi pengantin
ibumu!”
Ayres menatap
pria itu dengan bingung. “Ayah? Ayahku sudah meninggal! Kau bukan Ayahku!”
Anak itu
langsung turun dari pangkuan Jeremy, langsung mendekati ibunya yang langsung
memeluknya dengan erat.
Evelyn
menatap Jeremy dengan kesal. “Kau terlalu cepat mengatakannya.”
“Mau sekarang
atau nanti apa bedanya? Aku tetap Ayahnya.”
Jeremy menoleh
pada Ayres.
“Ayres
Sayang, mulai sekarang panggil aku Ayah. Oke?”
Ayres tidak
menjawab, hanya menempelkan kepalanya ke tubuh ibunya. Melihatnya membuat
Jeremy semakin gemas melihatnya. Diapun tersenyum dan merendahkan tubuhnya
mendakati Ayres yang semakin ketakutan, memeluk Evelyn dengan kuat.
“Kau jagoan
Ayah!” ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya Ayres.
“Jeremy..”
panggil Evelyn. Jeremy kembali bersikap tegak menatap wanita cantik itu.
“Aku sudah
juga tidak perlu bertanya kau mau atau tidak, tetap harus mau. Karena kau Ibu
dari anakku.”
Evelyn
mencibir kesal. Tapi Kemudian sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Jeremy mengecup
bibirnya lalu mencium kepalanya Ayres.
Terdengar
suara ketukan di pintu dan dering ponsel.
“Pak Jeremy,
ponselmu terus berdering, mungkin penting!”
Jeremy segera
turun dari tempat tidur itu lalu membuka pintu kamar itu.
“Mana
ponselnya!” Diapun mengambil ponsel yang terus berdering itu, dia mengerutkan
dahinya ternyata Cheng yang menelpon.
“Ada apa
Cheng?” tanya Jeremy, langsung keluar dan menutup pintunya.
Evelyn
merasa heran dengan penelpon itu, karena Jeremy malah bicara di luar seakan ada
rahasia saja.
Di
dudukkannya Ayres diatas tempat tidur, lalu berlari menuju pintu dan dibukanya
perlahan. Dilihatnya Jeremy memunggunginya sedang bicara dengan si penelpon.
“Kau yakin
itu Selena?”
Raut wajah
Evelyn langsung memerah, hatinya kesal lagi, kenapa ada Selena lagi?
“Menurutmu
siapa yang berani membunuh Selena?”
Tubuh Evelyn
langsung saja gemetar, apa dia tidak salah dengar? Kenapa Jeremy bicara begitu?
Apa Selena meninggal?
“Siapa lagi
kalau bukan Ryan, pria itu sudah mengambil semua bisnismu, apa kau tidak pernah
bertemu dengannya?” tanya Cheng.
“Tidak,
karena aku memang tidak ingin bisnis hitamku, lagi. Aku hanya mengurus perusahaan
otomotifku saja.”
__ADS_1
“Selanjutnya
apa yang akan kau lakukan?”
“Tidak ada.
Selena hanya masalaluku. Aku tidak ada urusan lagi dengannya dan aku tidak mau
ataupun ikut campur dengan siapa Selena berurusan. Dia bukan siapa-siapaku.”
“Baguslah
kalau begitu, hanya saja saranku, berhati-hatilah. Yang aku dengar Ryan sangat
berubah, dia begitu ambisius dan bertingkah. Dia seperti orang yang gila kekuasaan.”
“Hem, aku mengerti.”
Jeremy
mematikan ponselnya, saat membalikkan badannya, Evelyn sudah berdiri menatapnya.
“Ada apa
dengan Selena?”
“Kau
menguping?”
“Jawab saja.”
“Dia
meninggal kecelakaan tadi malam, sepertinya sepulang dari sini.”
Jawaban
Jeremy membuat Evelyn merasa shock.
“Menurutmu
siapa pelakunya?”
“Aku tidak
tahu,”
“Tidak
mungkin kau tidak tahu.” Evelyn menatap Jeremy penuh selidik.
“Kemungkinan
Ryan.”
“Ryan? Ada
dendam apa Ryan pada Selena?”
“Entahlah
aku tidak tahu, hanya saja..” Jeremy menatap Evelyn lekat-lekat.
“Hanya saja
apa?”
Jeremy tidak
menjawab.
“Hanya saja
apa?”
“Tidak ada,
Sayang. Jangan menatapku begitu, cantik.” Pria itu malah mendekat dan tangannya
mengulur akan memeluk Evelyn, tapi wanita menghindar.
“Apa aku dan
Ayres terancam?” tanyanya penuh selidik.
“Tidak, Sayang.
Tidak seserius itu.” Jeremy mencoba berbohong.
“Ini yang
aku takutkan, makanya aku ingin pergi jauh dari kehidupanmu. Masa lalumu yang
buruk seakan sudah mandarah daging.”
“Kau ini
bicara apa? Masa laluku memang buruk, terus apa aku tidak boleh merubah hidupku
menjadi lebih baik? Aku juga ingin bahagia hidup normal dengan anak dan istriku.
Bukan kau saja yang ingin begitu.”
Evelyn
langsung diam.
“Mengertilah
kondisiku.”
Evelyn tidak
menjawab, langsung membalikkan badannya masuk lagi ke kamarnya Ayres.
Jeremy
mengaluarkan ponselnya berbicara dengan seseorang lalu pergi ke kamarnya.
**
Ditempat
yang berbeda.
“Jadi polisi
sudah menemukan mayatnya?” tanya Ryan pada seorang pria yang baru saja masuk
keruangannya.
“Iya Bos. Selena
sudah mati.”
Ryan
tersenyum senang, hatinya merasa puas membuat hidup Selena sengsara. Setelah uangnya
habis untuk perawatan kulitnya, wanita cantik itu mati sia-sia.
Tapi ada
satu yang mengganjal dihatinya, dia tidak suka Jeremy hidup bahagia denga anak
istrinya. Meskipun bisnis pria itu sudah ada ditangannya, entah kenapa dia merasa
belum puas kalau belum mendapatkan semua yang dimiliki Jeremy. Bosan dia terus
terusan jadi kaki tangannya Jeremy, menjadi bagian yang menikmati bekasnya pria
itu. Masa lalu yang begitu merendahkan dirinya.
__ADS_1
***