Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-66 Siapa Yang Menculik Evelyn ?


__ADS_3

Jeremy


langsung menarik sprei lalu dilemparkan kearah Selena sampai wanita cantik itu


tertutup sprei.


“Kau ini


apa-apaan sih? Sepertinya kau sudah gila sejak berpisah dengan Evelyn?” teriak


Selena, sambil membuka sprei yang menutupi wajahnya.


Sambil menahan


sakit ditubuhnya yang terbentur lantai, dia pun segera bangun dan spreipun langsung


jatuh ke lantai.


“Cepat


berpakaian atau aku akan menyeretmu keluar tanpa busana!” ancam Jeremy.


“Kau ini


kenapa sih? Sensi amat? Kenapa kau sinis padaku? Karena aku tidak cantik lagi?


Aku sudah tua? Asal kau tahu saja, uangku habis untuk operasi plastic! Bertahun-tahun


aku mempercantik diri gara-gara teman penghianatmu itu merusak kulitku!”


Jeremy


terkejut mendengarnya. “Kau ini bicara apa?”


“Siapa lagi


kalau bukan teman penghianatmu? Ryan? Dia memaksaku dan merendamku dengan air


panas! Aku kesini mencarinya, aku akan balas dendam!” runtuk Selena.


“Ryan melakukan


itu?” Jeremy mengerutkan dahinya.


“Tentu saja,


dia sudah berubah jadi monster setelah menguasai bisnismu. Aku heran kenapa kau


diam saja? Aku lihat tubuhmu sudah sembuh sedia kala. Dan kau terlihat sangat


gagah. Kau tahu, aku sangat merindukanmu!”


Selena


berjalan mendekati Jeremy. Tapi beberapa detik kemudian dia menjerit, karena


kaki Jeremy yang dekat dengan ujung sprei yang ada dilantai, langsung meraih


sprei itu keatas yang langsung ditangkap tangannya dan dilemparkan menutupi


Selena.


“Jeremy! Kau


sinting!” makinya, kembali membuka sprei yang menutupi wajahnya.


Tapi


ternyata Jeremy tidak berhenti disitu saja, tangannya langsung melilitkan sprei


itu sampai Selena terjerembab keatas tempat tidur dan tidak bisa berkutik,


tubuhnya terlilit seprei hanya tinggal kepalanya saja yang terbuka, dia semakin


tidak bisa bergerak karena Jeremy mengikat ujung spreinya.


“Jeremy,


lepaskan aku!” teriak Selena.


Jeremy memutar


tubuh itu jadi terlentang, lalu satu kakinya naik ke tempat tidur.


Mencondongkan tubuhnya dengan siku yang bertumpu di lututnya.


“Dasar


pembangkang!”gerutunya.


“Kenapa? Apa


punyamu tidak berfungsi lagi?” tanya Selena lalu tertawa mengejek.


“Diam kau!”


makinya.


“Sekarang


aku tanya, kau datang kesini mau apa?”


“Tentu saja selain


aku butuh uang, aku juga rindu padamu.”


“Aku tidak


punya uang, aku sudah melepaskan bisnisku. Dan aku juga tidak membutuhkanmu lagi.


Pergi secepatnya atau kau aku akan membuangmu ke sungai!”


“Kau sangat


jahat! Habis manis kau buang! Selama ini aku selalu menuruti keinginanmu, aku


melakukan apapun untuk jadi wanitamu! Ini balasannya?” teriak Selena, dengan


marah.


“Jangan lupa,


kau bersekutu dengan Ken untuk membunuhku! Kau pikir aku tidak akan


membalasnya?” Jeremy tersenyum sinis.


“Itu semua


karena kau mencampakanku! Kau terus bersama istrimu! Aku muak! Padahal aku


sangat mencintaimu!”


Jeremy


menurunkan kakinya lalu duduk di pinggir tempat tidur itu, masih menatap Selena


yang berusaha untuk lepas dari kepompong sprei itu.


“Kau hanya


pemuas hasratku saja, kau juga tahu itu. Aku hanya mencintai istriku!”


“Kau sangat keterlaluan!”


“Aku membayarmu


lebih dari cukup. Kau tidak rugi sama sekali.”

__ADS_1


“Heh, jadi


ceritanya kau mau balas dendam? Kau mau balas dendam?” bentak Selena.


“Asal kau


tahu aku mati tidak masalah, tapi yang kau lakukan kau hampir mencelakai


istriku!”


Selena


tersenyum sinis. “Mencelakai apa?”


“Kehormatan


istriku hampir terenggut, dia hampir jadi bulan-bulanannya Ken.”


Selena langsung


tertawa. “Kau terlalu berlebihan,  kita


sering membuat permainan yang lebih panas dari itu.”


“Gara-gara


ulahmu, istriku membenciku.”


Selena masih


lanjut tertawanya. “Ya, aku dengar dari yang kerja disini, ternyata Evelyn tidak


pernah kembali lagi kesini, bahkan anakmu juga. Sungguh tragis. Seorang mafia


tampan ditinggal anak istrinya!”


Baru juga


Selena habis bicara,matanya langsung terbelalak, tubuhnya bergerak-gerak tidak


bisa bernafas karena Jeremy mencekiknya.


“Jangan coba-coba


mengejekku! Aku bisa menghabisimu!” teriak Jeremy.


Selena tidak


bisa bicara, nafasnya semakin sesak, tubuhnya mengejang, dia tidak kuat tidak


bisa bernafas.


Melihat


wanita itu hampir mati, Jeremy langsung melepaskannya. Wajahnya merah padam.


Selena


terbatuk-batuk,dia sangat Shock mendapat perlakuan kasar dari Jeremy.


“Kau pikir


aku tidak berani menghabisimu? Berterimakasihlah pada Evelyn karena aku tidak


mau tanganku berdarah lagi! Bukannya aku tidak berani menghancurkan Ryan, tapi


aku sudah berjanji pada istriku untuk hidup lebih baik!”


Selena


mengatur nafasnya dalam-dalam, dia hampir mati tadi. Ternyata Jeremy memang


sudah tidak peduli padanya.


“Kau sangat


“Aku sangat


mencintainya, karena dia mencintaiku sangat tulus.” Terbersit dibayangan Jeremy


wajah istrinya, bibirnya masih merasakan tadi mencium bibir Evelyn, bibir itu


terasa sangat manis setelah bertahun-tahun tidak pernah menciumnya lagi.


“Aku


juga mencintaimu.”


Jeremy


tertawa sinis. “Kalau aku tidak punya uang apa kau mau padaku? Puih!”


“Itu kebutuhan,


mau cinta mau tidak, uang segala-galanya, itu juga prinsifmu kan?”


“Tapi kau wanita


tidak punya harga diri! Rela menggadaikan tubuhmu demi uang!”


“Apa?Kau!”


bentak Selena, sakit rasanya pria itu merendahkannya.


“Tidak


dengan istriku, dia lebih baik mati daripada kehormatannya terenggut pria lain.


Dia sangat menjaga kehormatannya padahal aku sudah menyakitinya. Menghancurkan


perasaannya. Bahkan dia masih mau merawatku yang tidak bisa apa-apa. Dia juga


menjaga bayiku dengan baik. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang semakin gemuk


karena hamil anakku. Dia tidak pernah memikirkan apa yang aku berikan untuknya,


dia hanya berusaha menjadi istriku yang baik. Dia hanya berusaha untuk menjadi


istriku.”


Muncul rasa


sedih dihatinya Jeremy mengingat kejadian-kejadian dulu yang membawa istrinya


dalam penderitaan, dijadikannya taruhan di meja judi dan hampir saja istrinya


ternodai dalam keadaan hamil. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya Evelyn


dihatinya.


“Cih, terus aja


memujinya, memujinya!” umpat Selena.


“Aku sangat


mencintainya makanya aku meninggalkannya, karena keinginannya, aku sudah


terlalu menyakitinya!”


“Bagus kalau


begitu! Aku bisa menemanimu disini, daripada kau kesepian? Aku sudah rindu bibirmu


menyapu tubuhku, sudah lama sekali kita tidak bersama, iya kan?” Selena


tersenyum menggoda.

__ADS_1


“Aku akan


menunggu istriku kembali.”


“Apa? Huh! Buat


apa? Mungkin saja dia sudah punya pacar, sudah disentuh pria lain juga, bertahun-tahun


tidak bersamamu, pasti dia juga membutuhkan pria kan? Jangan bodoh kau Jeremy!”


Jeremy


seketika terdiam. Dulu mungkin Evelyn menjaga dirinya karena statusnya adalah


istrinya, tapi sekarang kan Evelyn janda, bisa saja memang Evelyn punya pacar


makanya menolak kembali padanya.


Hati Jeremy


langsung terbakar cemburu, diapun teringat Enzi, pria muda tampan itu sangat


perhatian pada Evelyn, jangan-jangan mereka pacaran! Tidak, tidak boleh ada


pria yang menyentuh istrinya, tidak boleh! Ah dia tidak peduli kalau sudah


bercerai, itu hanya sebuah kertas. Pokoknya Evelyn tidak boleh disentuh pria


lain.


Jeremy langsung


bangun dan keluar dari kamar itu.


“Jeremy! Mau


kemana? Lepaskan aku!” teriak Selena, tapi Jeremy tidak mendengarkannya.


Di lorong lantai


atas itu dia menelpon  Pak Candra.


“Acaranya


sampai kapan?” tanya Jeremy.


“Nanti malam,


Pak! Bapak akan kembali kesini?”


“Tidak, aku ada


urusan penting!”


Telponpun


ditutup. Kepala Jeremy langsung penuh dengan prasangka pada Evelyn. Malam ini


wanita cantik itu masih menginap di Hotel itu dengan atasannya. Bagaimana kalau


malam ini mereka tidur bersama? Tidak, tidak boleh, itu tidak boleh terjadi!


***


Acara di Hotel


itu selesai pada jam 10 malam.


“Pak Candra,


aku kembalikan proposalnya Pak Jeremy. Aku lihat dia tidak kembali kesini, jadi


aku berikan padamu,” kata Enzi.


“Iya, Pak


Enzi. Jadi rencanamu apa?”


“Kalau Pak


Jeremy minta persyaratan ada kantor di ibukota, kemungkinan aku akan buka


kantor sementara. Lagi pula tawaran kerja lainnya sangat membuatku tertarik.”


“Bagus kalau


begitu, Pak Enzi siapkan saja proposalnya. Nanti untuk urusan Kerjasama yang


lain bisa langsung menghubungiku.”


“Terimakasih


Pak Candra.”


“Kalau tidak


lelah, kita bisa bicara santai di loby bersama yang lain.”


“Boleh,


boleh, nanti aku bergabung!” sambut Enzi tersenyum senang.


Akhirnya Enzi


berpisah dengan Pak Candra di lift, karena kamar mereka yang berbeda lantai.


“Bu Evie,


apa kau akan ikut berbincang di loby?” tanya Enzi saat mereka menyusuri lorong menuju


kamar mereka yang berdampingan.


“Ah tidak


Pak Enzi, sepertinya aku harus mau istirahat saja, aku merasa lelah.”


“Oh iya, Bu


Evie sedang tidak enak badan, selamat beristirahat.”


“Ya Pak Enzi.”


Tangan Evelyn membuka pintu kamarnya, tersenyum pada bosnya itu lalu masuk


kedalam kamarnya.


Enzipun


bergegas pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya Evelyn.


Evelyn


menghela nafas panjang, tubuhnya terasa lelah, bukan tubuhnya saja tapi juga


hati dan pikirannya. Dia tidak menyangka hidupnya akan terusik lagi dengan


urusan Jeremy, belum lagi tadi bertemu dengan Riyan, begitu sangat menyebalkan.


Baru juga


Evelyn menyimpan tasnya diatas tempat tidur, tiba-tiba ada yang membekapnya


dari belakang, dia akan berteriak tapi bau disaputangan yang menutup hidungnya


itu membuatnya tidak sadarkan diri.


****

__ADS_1


__ADS_2