
Jeremy
langsung menarik sprei lalu dilemparkan kearah Selena sampai wanita cantik itu
tertutup sprei.
“Kau ini
apa-apaan sih? Sepertinya kau sudah gila sejak berpisah dengan Evelyn?” teriak
Selena, sambil membuka sprei yang menutupi wajahnya.
Sambil menahan
sakit ditubuhnya yang terbentur lantai, dia pun segera bangun dan spreipun langsung
jatuh ke lantai.
“Cepat
berpakaian atau aku akan menyeretmu keluar tanpa busana!” ancam Jeremy.
“Kau ini
kenapa sih? Sensi amat? Kenapa kau sinis padaku? Karena aku tidak cantik lagi?
Aku sudah tua? Asal kau tahu saja, uangku habis untuk operasi plastic! Bertahun-tahun
aku mempercantik diri gara-gara teman penghianatmu itu merusak kulitku!”
Jeremy
terkejut mendengarnya. “Kau ini bicara apa?”
“Siapa lagi
kalau bukan teman penghianatmu? Ryan? Dia memaksaku dan merendamku dengan air
panas! Aku kesini mencarinya, aku akan balas dendam!” runtuk Selena.
“Ryan melakukan
itu?” Jeremy mengerutkan dahinya.
“Tentu saja,
dia sudah berubah jadi monster setelah menguasai bisnismu. Aku heran kenapa kau
diam saja? Aku lihat tubuhmu sudah sembuh sedia kala. Dan kau terlihat sangat
gagah. Kau tahu, aku sangat merindukanmu!”
Selena
berjalan mendekati Jeremy. Tapi beberapa detik kemudian dia menjerit, karena
kaki Jeremy yang dekat dengan ujung sprei yang ada dilantai, langsung meraih
sprei itu keatas yang langsung ditangkap tangannya dan dilemparkan menutupi
Selena.
“Jeremy! Kau
sinting!” makinya, kembali membuka sprei yang menutupi wajahnya.
Tapi
ternyata Jeremy tidak berhenti disitu saja, tangannya langsung melilitkan sprei
itu sampai Selena terjerembab keatas tempat tidur dan tidak bisa berkutik,
tubuhnya terlilit seprei hanya tinggal kepalanya saja yang terbuka, dia semakin
tidak bisa bergerak karena Jeremy mengikat ujung spreinya.
“Jeremy,
lepaskan aku!” teriak Selena.
Jeremy memutar
tubuh itu jadi terlentang, lalu satu kakinya naik ke tempat tidur.
Mencondongkan tubuhnya dengan siku yang bertumpu di lututnya.
“Dasar
pembangkang!”gerutunya.
“Kenapa? Apa
punyamu tidak berfungsi lagi?” tanya Selena lalu tertawa mengejek.
“Diam kau!”
makinya.
“Sekarang
aku tanya, kau datang kesini mau apa?”
“Tentu saja selain
aku butuh uang, aku juga rindu padamu.”
“Aku tidak
punya uang, aku sudah melepaskan bisnisku. Dan aku juga tidak membutuhkanmu lagi.
Pergi secepatnya atau kau aku akan membuangmu ke sungai!”
“Kau sangat
jahat! Habis manis kau buang! Selama ini aku selalu menuruti keinginanmu, aku
melakukan apapun untuk jadi wanitamu! Ini balasannya?” teriak Selena, dengan
marah.
“Jangan lupa,
kau bersekutu dengan Ken untuk membunuhku! Kau pikir aku tidak akan
membalasnya?” Jeremy tersenyum sinis.
“Itu semua
karena kau mencampakanku! Kau terus bersama istrimu! Aku muak! Padahal aku
sangat mencintaimu!”
Jeremy
menurunkan kakinya lalu duduk di pinggir tempat tidur itu, masih menatap Selena
yang berusaha untuk lepas dari kepompong sprei itu.
“Kau hanya
pemuas hasratku saja, kau juga tahu itu. Aku hanya mencintai istriku!”
“Kau sangat keterlaluan!”
“Aku membayarmu
lebih dari cukup. Kau tidak rugi sama sekali.”
__ADS_1
“Heh, jadi
ceritanya kau mau balas dendam? Kau mau balas dendam?” bentak Selena.
“Asal kau
tahu aku mati tidak masalah, tapi yang kau lakukan kau hampir mencelakai
istriku!”
Selena
tersenyum sinis. “Mencelakai apa?”
“Kehormatan
istriku hampir terenggut, dia hampir jadi bulan-bulanannya Ken.”
Selena langsung
tertawa. “Kau terlalu berlebihan, kita
sering membuat permainan yang lebih panas dari itu.”
“Gara-gara
ulahmu, istriku membenciku.”
Selena masih
lanjut tertawanya. “Ya, aku dengar dari yang kerja disini, ternyata Evelyn tidak
pernah kembali lagi kesini, bahkan anakmu juga. Sungguh tragis. Seorang mafia
tampan ditinggal anak istrinya!”
Baru juga
Selena habis bicara,matanya langsung terbelalak, tubuhnya bergerak-gerak tidak
bisa bernafas karena Jeremy mencekiknya.
“Jangan coba-coba
mengejekku! Aku bisa menghabisimu!” teriak Jeremy.
Selena tidak
bisa bicara, nafasnya semakin sesak, tubuhnya mengejang, dia tidak kuat tidak
bisa bernafas.
Melihat
wanita itu hampir mati, Jeremy langsung melepaskannya. Wajahnya merah padam.
Selena
terbatuk-batuk,dia sangat Shock mendapat perlakuan kasar dari Jeremy.
“Kau pikir
aku tidak berani menghabisimu? Berterimakasihlah pada Evelyn karena aku tidak
mau tanganku berdarah lagi! Bukannya aku tidak berani menghancurkan Ryan, tapi
aku sudah berjanji pada istriku untuk hidup lebih baik!”
Selena
mengatur nafasnya dalam-dalam, dia hampir mati tadi. Ternyata Jeremy memang
sudah tidak peduli padanya.
“Kau sangat
“Aku sangat
mencintainya, karena dia mencintaiku sangat tulus.” Terbersit dibayangan Jeremy
wajah istrinya, bibirnya masih merasakan tadi mencium bibir Evelyn, bibir itu
terasa sangat manis setelah bertahun-tahun tidak pernah menciumnya lagi.
“Aku
juga mencintaimu.”
Jeremy
tertawa sinis. “Kalau aku tidak punya uang apa kau mau padaku? Puih!”
“Itu kebutuhan,
mau cinta mau tidak, uang segala-galanya, itu juga prinsifmu kan?”
“Tapi kau wanita
tidak punya harga diri! Rela menggadaikan tubuhmu demi uang!”
“Apa?Kau!”
bentak Selena, sakit rasanya pria itu merendahkannya.
“Tidak
dengan istriku, dia lebih baik mati daripada kehormatannya terenggut pria lain.
Dia sangat menjaga kehormatannya padahal aku sudah menyakitinya. Menghancurkan
perasaannya. Bahkan dia masih mau merawatku yang tidak bisa apa-apa. Dia juga
menjaga bayiku dengan baik. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang semakin gemuk
karena hamil anakku. Dia tidak pernah memikirkan apa yang aku berikan untuknya,
dia hanya berusaha menjadi istriku yang baik. Dia hanya berusaha untuk menjadi
istriku.”
Muncul rasa
sedih dihatinya Jeremy mengingat kejadian-kejadian dulu yang membawa istrinya
dalam penderitaan, dijadikannya taruhan di meja judi dan hampir saja istrinya
ternodai dalam keadaan hamil. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya Evelyn
dihatinya.
“Cih, terus aja
memujinya, memujinya!” umpat Selena.
“Aku sangat
mencintainya makanya aku meninggalkannya, karena keinginannya, aku sudah
terlalu menyakitinya!”
“Bagus kalau
begitu! Aku bisa menemanimu disini, daripada kau kesepian? Aku sudah rindu bibirmu
menyapu tubuhku, sudah lama sekali kita tidak bersama, iya kan?” Selena
tersenyum menggoda.
__ADS_1
“Aku akan
menunggu istriku kembali.”
“Apa? Huh! Buat
apa? Mungkin saja dia sudah punya pacar, sudah disentuh pria lain juga, bertahun-tahun
tidak bersamamu, pasti dia juga membutuhkan pria kan? Jangan bodoh kau Jeremy!”
Jeremy
seketika terdiam. Dulu mungkin Evelyn menjaga dirinya karena statusnya adalah
istrinya, tapi sekarang kan Evelyn janda, bisa saja memang Evelyn punya pacar
makanya menolak kembali padanya.
Hati Jeremy
langsung terbakar cemburu, diapun teringat Enzi, pria muda tampan itu sangat
perhatian pada Evelyn, jangan-jangan mereka pacaran! Tidak, tidak boleh ada
pria yang menyentuh istrinya, tidak boleh! Ah dia tidak peduli kalau sudah
bercerai, itu hanya sebuah kertas. Pokoknya Evelyn tidak boleh disentuh pria
lain.
Jeremy langsung
bangun dan keluar dari kamar itu.
“Jeremy! Mau
kemana? Lepaskan aku!” teriak Selena, tapi Jeremy tidak mendengarkannya.
Di lorong lantai
atas itu dia menelpon Pak Candra.
“Acaranya
sampai kapan?” tanya Jeremy.
“Nanti malam,
Pak! Bapak akan kembali kesini?”
“Tidak, aku ada
urusan penting!”
Telponpun
ditutup. Kepala Jeremy langsung penuh dengan prasangka pada Evelyn. Malam ini
wanita cantik itu masih menginap di Hotel itu dengan atasannya. Bagaimana kalau
malam ini mereka tidur bersama? Tidak, tidak boleh, itu tidak boleh terjadi!
***
Acara di Hotel
itu selesai pada jam 10 malam.
“Pak Candra,
aku kembalikan proposalnya Pak Jeremy. Aku lihat dia tidak kembali kesini, jadi
aku berikan padamu,” kata Enzi.
“Iya, Pak
Enzi. Jadi rencanamu apa?”
“Kalau Pak
Jeremy minta persyaratan ada kantor di ibukota, kemungkinan aku akan buka
kantor sementara. Lagi pula tawaran kerja lainnya sangat membuatku tertarik.”
“Bagus kalau
begitu, Pak Enzi siapkan saja proposalnya. Nanti untuk urusan Kerjasama yang
lain bisa langsung menghubungiku.”
“Terimakasih
Pak Candra.”
“Kalau tidak
lelah, kita bisa bicara santai di loby bersama yang lain.”
“Boleh,
boleh, nanti aku bergabung!” sambut Enzi tersenyum senang.
Akhirnya Enzi
berpisah dengan Pak Candra di lift, karena kamar mereka yang berbeda lantai.
“Bu Evie,
apa kau akan ikut berbincang di loby?” tanya Enzi saat mereka menyusuri lorong menuju
kamar mereka yang berdampingan.
“Ah tidak
Pak Enzi, sepertinya aku harus mau istirahat saja, aku merasa lelah.”
“Oh iya, Bu
Evie sedang tidak enak badan, selamat beristirahat.”
“Ya Pak Enzi.”
Tangan Evelyn membuka pintu kamarnya, tersenyum pada bosnya itu lalu masuk
kedalam kamarnya.
Enzipun
bergegas pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya Evelyn.
Evelyn
menghela nafas panjang, tubuhnya terasa lelah, bukan tubuhnya saja tapi juga
hati dan pikirannya. Dia tidak menyangka hidupnya akan terusik lagi dengan
urusan Jeremy, belum lagi tadi bertemu dengan Riyan, begitu sangat menyebalkan.
Baru juga
Evelyn menyimpan tasnya diatas tempat tidur, tiba-tiba ada yang membekapnya
dari belakang, dia akan berteriak tapi bau disaputangan yang menutup hidungnya
itu membuatnya tidak sadarkan diri.
****
__ADS_1