
Jeremy langsung menghampiri Ken yang menatapnya dengan meremehkan. Jeremy menoleh pada Evelyn yang juga menatapnya dengan benci dan rasa kecewa yang mendalam.
“Kau tega menyakitiku! Kau menghancurkan hidupku dan anakmu sendiri!” ucap Evelyn, rasanya begitu berat mengucapkan itu, hatinya terlalu sakit oleh pria yang menjadi suaminya itu.
Jeremy menatap wajah yang sudah penuh dengan airmata itu, matanya bersitatap dengan mata istrinya yang penuh benci padanya, sedangkan Ken tidak bicara apa-apa karena dia tidak mengerti dengan bahasa yang Evelyn ucapkan.
Semua hening memperhatikan drama di depan mereka itu. Tapi keheningan itu sontak berbubah tegang saat tiba-tiba Ken tersentak kaget saat senjata sudah menempel di dahinya.
Krek! Krek! Krek! Krek!
Kekangan senjata dari berbagai arah tertuju pada pemilik senjata yang menempel didahinya Ken.
Ken benar-benar kaget tidak menyangka hal ini akan terjadi. Jeremy yang sedari tadi diam menerima kekalahannya berbalik menyerangnya.
Pria itu menatapnya tajam, sekali menekan pelatuk senjatanya yang menempel di dahinya Ken sedetik itu juga Ken akan mati. Jeremy tidak peduli saat semua senjata orang-orang Ken tertuju padanya. Sedangkan orang-orangnya Jeremy menodongkan senjatanya ada orang-orang Ken. Bagi yang memegang dua senjata bisa menodong kedua arah tapi bagi yang satu senjata, keselamatan ketua mereka adalah nomor satu.
Evelyn juga terbengong saja melihatnya apa yang dilakukan Jeremy. Tubuhnya gemetaran melihat banyak senjata tertuju pada kepalanya Jeremy. Bagaimana kalau Jeremy meninggal dan membuatnya menjadi janda dan bayinya akan lahir sebagai anak yatim?
“Jeremy, jangan gegabah! Jangan membunuh orang!” ucap Evelyn terbata-bata. Mimpi apa dia harus berada di lingkungan seperti ini? Melihat suasana begitu tegang semakin membuatnya merasa was was, mungkin bukan Jeremy saja yang akan mati tapi dia juga dan bayi yang belum pernah lahir.
“Apa maumu? Kau sudah kalah!”kata Ken, dia tidak bisa bergerak.
Ancamannya Jeremy tidak main-main, dia sudah mendengar Jeremy pernah membunuh orang saat masih remaja itu artinya dia tidak masalah jika membunuh dengan tangannya sendiri.
“Kau curang!” kata Jeremy.
“Kalau kau tidak mau kalah, katakan saja, tidak perlu menuduh orang lain! Kalau menuduh harus ada bukti!” Mata Ken melirik pada senjata yang menempel didahinya.
“Lepaskan istriku!”kata Jeremy.
Tentu saja Ken terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Evelyn. Melihat Ken masih diam, Jeremypun menarik pelatuknya perlahan.
“Oke oke! Istrimu ku lepaskan!” Teriak Ken, lalu memberi isyarat pada orang-orangnya yang memegang tangan Evelyn untuk melepaskannya.
Evelyn tampak bingung saat orang-orang itu melepaskan tangannya. Dia tidak tahu apakah dia harus berlari pergi atau bagaimana? Semua orang diruangan ini menodongkan senjatanya pada musuh yang berdiri didekatnya.
“Berdiri dibelakangku!” kata Jeremy.
__ADS_1
Evelyn menatap Jeremy yang sama sekali tidak menoleh kerahnya, kakinya gemetaran saat menghampiri Jeremy, jantungnya terus berdebar kencang saking shocknya. Evelyn buru-buru menghampiri Jeremy, berdiri
dibelakang tubuhnya pria itu. Matanya mengedar melihat kesekitarnya yang senjatanya tertuju pada Jeremy.
Dug dug dug.. jantungnya berbedar semakin kencang. Dia melihat tangan kiri Jeremy bergerak ke belakang dan Duk! Tangan pria itu mendorong tubuhnya supaya lebih dekat padanya. Evelyn menurut saja berdiri ketakutan. Menempel di belakang punggungnya pria itu. Kini baru dirasanya dirinya butuh perlindungan dari pria itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya antara Jeremy dan Ken.
Berdiri dibalik tubuh yang tinggi itu ternyata rasanya begitu nyaman. Evelyn melihat bagian belakang Jeremy, tangan pria itu masih berbalik ke belakang memeluk pinggangnya.
“Istrimu milikku! Kau sudah ingkar janji!” ujar Ken.
“Aku tidak peduli, aku yakin kaupun curang!”
“Kau menuduh tidak beralasan!”
“Memangnya kalau kau curang, kau mau mengaku?” Jeremy tersenyum sinis.
Ken memberengut kesal, matanya sesekali melirik senjata di dahinya.
“Aku membawa istriku lagi! Permainan kita kali ini batal!” ucar Jeremy, mulai menjauhkan senjatanya perlahan sambil mundur, semua orang semakin menajamkan instingnya dan focus pada lawannya.
Jeremy langsung memeluk pinggangnya saat kembali terdengar sura tembakan, semua orang
mencari temat berlindung dan seling emnebak. Eveyn memeluk Jeremy dengan kuat, rasanya seperti akan mati saat itu juga, pria itu masih menembakan senjatanya berkai-kali sambil melangkah mundur.
Evelyn menyadari sedari tadi berlindung di pelukan Jeremy saat pria itu bicara.
“Kau diam disini!Jangan kemana-mana!” kata Jeremy.
Pria itu melepaskan tangannya di pinggang Eveyn, lalu terdengar lagi baku tembak lagi. Evelyn yang langsung bersembunyi di balik lemari. Dia masih mendengar suara tembakan itu dan tiba-tiba terhenti lagi.
Hening..sangat hening.
Bersembunyi tapi tidak melihat apa yang terjadi membuat Evelyn merasa khawatir. Tidak ada suara apakah Jeremy tertembak? Dengan pelan dia melongokkan kepalanya mengintip di balik lemari itu dan dia terkejut saat melihat beberapa orang yang terluka tembak. Hening bukan karena tidak ada orang, tapi hening karena .. Deg! Dadanya serasa berhenti berdetak, saat melihat Jeremy dan Ken sedang saling todong dalam jarak beberapa meter.
Wajah Evelyn semakin pucat saja, dia merasa takut dengan keadaan yang seperti ini.
“Kau mulai peperangan ini!” Ken mulai bicara, dengan senjata yang focus pada kepalanya Jeremy yang berdiri di depannya.
__ADS_1
“Aku tidak terima kalah, kau curang!”
“Hah! Kau terlalu banyak alasan!”
Ken dan Jeremy sama-sama tidak ada yang mau mengelah. Hanya beberapa detik kemudian Jeremy terkejut saat tiba-tiba seseorang datang dengan menodongkan senjatanya ke kepalanya Evelyn. Wanita itu sangat pucat.
Evelyn semakin shock saja saat sebuah senjata menepel di kepalanya.
“Jeremy!” panggil Evelyn perlahan, dengan tubuh yang gemetaran, tangannya langsung dipegang pria yang menodongkan senjatanya itu.
Pria itu langsung menyeret Evelyn kearah Ken. Jeremy terkejut melihatnya, dia tidak menyangka Evelyn akan dijadikan sandera.
Ken langsung tertawa terbahak-bahak.
Krek! Senjata itu terdengar berbunyi, Evelyn meringis ketakutan, senjata itu semakin dekat saja tertodong dikepalanya. Melihat kondisi Evelyn seperti itu membuat Jeremy serba salah, dia tidak mau mengambil resiko apapun.
“Kau serahkan istrimu, dia akan aman bersamaku! Kita akhirinya semua ini, atau kau ingin membuat banyak korban lagi atas kecerobohanmu? Aku hanya mengambil hak atas kemenanganku!” kata Ken.
Jeremy melirik Evelyn yang semakin pucat saja ditodong orangnya Ken.
“Kau tidak bisa membawanya atau orangku akan menghabisinya sekarang juga!” kata Ken.
Jeremy semakin tidak bisa berkutik, dia memikirkan keadaannya Eveyn, dia juga ingat istrinya sedang hamil, dalam hatinya dia merasa menyesal telah membuat keonaran ini, seharusnya dia tidak memancing-mancing kerusuhan seperti ini dan melibatkan anak istrinya.
“Kau punya banyak wanita tidak akan rugi melepaskan istrimu!” kata Ken.
Jeremy melihat lagi Evelyn yang meringis ketakuatan karena ditodongkan senjata. Dia merasa khawatir dengan keselamatan anak istrinya. Dia bisa saja bertingkah menembak Ken atau dia yang mati tapi bagaimana Evelyn dan bayi dalam kandungannya? Senjata itu sekali tembak akan menebus kepalanya Evelayn. Akhirnya mau tidak mau Jeremy menurunkan senjatanya. Ken langsung tertawa, dia masih menodongkan senjatanya.
Ken memberi isyarat supaya Jeremy melempar senjatanya juga orang-orangnya. Dengan berat hati Jeremy mengikuti kemauannya Ken melempar senjatanya begitu juga dengan orang-orangnya. Dalam benak Jeremy kalau tahu akan ada peperangan seperti ini seharusnya dia membawa orang-orangnya lebih banyak, orang-orang Ken jumlahnya lebih banyak, sudah sangat jelas Ken merencakan semuanya.
Jeremy kembali menoleh pada Evelyn lalu pada Ken.
“Jangan sakiti istriku!” ucapnya.
Ken melirik pada orang yang sedang menodongkan senjata pada Evelyn yang segera mengamankan senjatanya, membuat Evelyn bisa kembali bernafas lega. Tapi pria yang memegangnya itu tidak melepaskan tangannya, apa artinya dia masih tawanannya musuhnya Jeremy?
***********
__ADS_1