Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-12 Teman Baru Evelyn


__ADS_3

Taxi berhenti disebuah gedung perkantoran bertingkat.


“Turun disini saja Pak,” kata Evelyn, sambil memberikan ongkos taxi, lalu diapun segera turun, sambil kepalanya celingukan melihat kearah gedung kira-kira banyak orang yang melamar tidak.


Kakinya terus melangkah memasuki halaman gedung itu setelah melewati portal kendaraan keluar masuk. Di loby dia bertanya-tanya pada satpam tentang lowongan itu.


Akhirnya dia masuk dan ternyata di loby sudah banyak orang yang menunggu giliran untuk interview. Semalam dia sudah memasukkan datanya lewat email, itupun dengan identitas yang ada di kampungnya, sedangkan dirumah Jeremy dia tidak punya identitas apapun.


Evelyn duduk mengantri dengan yang lainnya. Saking banyaknya pelamar, membuatnya menunggu sampai sore hari. Dia sudah sangat lelah, tadi break makan siang dulu masih harus menunggu lama lagi. Begitu sulitnya mencari pekerjaan.


Sambil menunggu dia berkenalan dengan seorang wanita dan seorang pria.


“Kalian belum dipanggil?” tanya Evelyn.


“Belum, sepertinya kita beriga yang paling akhir,” jawab wanita itu.


Setelah mengobrol-ngorbol dengan mereka, ternyata mereka sudah memasukkan lamaran dari hari-hari sebelumnya, sedangkan dia baru semalam, pantas saja lama ngantrinya baru dipanggil.


“Perkenalkan namaku Evelyn,” kata Evelyn sambil mengulurkan tangannya.


“Aku Desi, ini temanku Zaky,” kata Desi mencolek tangannya Zaky, seorang pria yang berkaca mata dan bertubuh tinggi kurus, wajahnya lumayan tampan dengan kulit putih dan hidungnya yang mancung.


“Aku Evelyn,” kata Evelyn.


“Zaky,” jawab pria itu sambil tersenyum.


“Zaky!” terdengar seorang moderator memanggil.


“Aku dipanggil,” kata Zaky pada Desi dan Evelyn, merekapun mengangguk.


“Semangat! Semangat!” seru Evelyn dan Desi.


Zaky langsung masuk ke dalam ruangan interview.


“Kau tinggal dimana?” tanya Desi pada Evelyn.


“Aku..itu di daerah…” Evelyn menyebutkan alamat tempat tinggalnya Jeremy.


“Wow, itu kan kawasan elit, kau melamar sebagai apa disini? Semua lowongan hanya untu karyawan biasa,” kata Desi.


“Iya, aku memang melamar untuk menjadi karyawan biasa,” ujar Evelyn.


“Maksudku yang tinggal dikawasan itu kan kebanyakan pejabat tinggi atau pengusaha, harga rumahnya juga sangat mahal,” kata Desi.


“Oh, aku numpang di rumah Paman dan Bibiku. Aku dari kampung,” jawab Evelyn, berbohong.


“Ooh..pantas, aku fikir aneh saja yang tinggal disana melamar jadi karyawan biasa, ada juga CEO baru pantas,” kata Desi.


Evelyn hanya tersenyum. Dia tidak tahu pekerjaan Jeremy kategori apa, dia hanya tahu rumahnya sangat mewah berasa dikawasan elit ibukota.


Giliran berikutnya adalah Desi, setalah itu barulah Evelyn yang terakhir benar- benar terakhir.

__ADS_1


“Aku duluan ya, sudah kau simpankan nomerku, nanti kalau ada panggilan  kita kontak-kontak ya,” kata Desi sambil pamitan pulang bersama Zaky yang sudah memunggunya dari tadi.


“Iya,” jawab Evelyn.


Di dalam ruang interview sudah duduk beberapa orang bagian personalia. Evelyn sudah mulai dipersilahkan untuk memperkenalkan diri.


“Ini datanya masih data luar kota?” tanya penginterview, seorang pria yang tidak terlalu tua, terlihat berwibawa.


“Iya, saya baru datang kemarin jadi belum punya data baru,” jawab Evelyn.


“Tinggal dengan siapa disini? Apa statusmu? Kau sudah menikah?” tanyanya lagi.


Ditanya begitu membuat Evelyn terdiam dan bingung.


“Disini kau belum menikah, terus tinggal dengan siapa disini?” tanya pewawancara.


“Dengan Paman dan Bibi,” jawab Evelyn berbohong.


“Jadi kau belum menikah?” tanya pewawancara, memastikan.


“Be belum,” jawab Evelyn berbohong.


Dia bingung kalau dia bilang sudah menikah, dia tidak akan mendapatkan pekerjaan ini.


“Sebelumnya kau bekerja dimana?” tanya pewawancara dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Evelyn menjawabnya dengan lancar semua pertanyaan dari pewawancara itu.


“Biak Pak, Bu, terimakasih,” ucap Evleyn, dia merasa lega akhirnya dia selesai  meskipun dia harus berbohong dengan statusnya kalau dia belum menikah, tapi memang dia juga tidak memilkiki administrasi pernikahan, karena menikahnya sangat mendadak.


Karena hari sudah sore saat keluar gedung tentu saja bersamaan dengan para karyawan pulang kerja membuat jalananpun macet. Alhasil taxinya berjalan tersendat-sendat.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam Evelyn baru sampai rumah. Dia melihat mobilnya Jeremy ada dirumah dan satu lagi mobil yang tidak dia ketahui mobil siapa.


Saat masuk ruang tamu, Evelyn terkejut ada tiga orang perempuan sedangg berbincang diruang tamu itu.


Semua wanita itu menoleh kearahnya. Evelyn menatap mereka, dan hatinya langsung tidak nyaman melihat dandanan mereka yang begitu ketat dan ****.


“Kalian siapa?” tanya Evelyn, membuat mereka tertawa.


“Harusnya kami yang bertanya kau siapa, sepertinya baru melihatmu dirumah Jeremy,” kata wanita satunya.


“Aku istrinya!” jawab Evelyn, tentu saja semua wanita itu terkejut lalu mereka pun  tertawa.


“Apa aku tidak salah dengar? Orang seperti Jeremy menikah? Sampai tua juga  Jeremy tidak akan menikah, dia pembosan!” kata satunya lagi.


Wajah Evelyn langsung memerah.


Evelyn langsung masuk ke dalam rumah, tidak menghiraukan perkataan mereka. Setelah menaiki tangga, Evelyn mencari-cari keberadaannya Jeremy.


Dia mendengar suara tawa perempuan di arah kamarnya, bukan kamar Jeremy.

__ADS_1


Kaki Evelyn mendekati arah suara, dia juga mendengar suara Jeremy. Tangannya gemetaran, saat memegang gagang pintu itu, jantungnya berdebar kencang, pikiran buruk muncul dikepalanya. Dia takut melihat yang tidak-tidak tapi dia harus melihat apa yang mereka lakukan didalam kamarnya.


Ceklek! Bunyi gagang pintu terbuka.


“Siapa yang datang Jer?” tanya suara wanita.


Hati Evelyn sudah tidak tahu rasanya apa, mendengar suara wanita di kamarnya.


Jeremy menoleh kearah pintu yang seketika terbuka.


Tidak jauh dari yang di bayangkan Evelyn, pria itu sedang bermesraan denagn seorang waniata tanpa berpakaian.  Wajah Evelyn langsung memerah dan dia sangat murka.


“Apa yang kalian lakukan di kamarku?” teriaknya dengan marah, langsung menuju tempat tidur.


Wanita itu tampak terkejut, menatap Evelyn lalu pada Jeremy. Sebelum menyadari apa yang terjadi, Evelyn langsung menghampiri dan dia langsung menjambak rambut wanita itu, menariknya turun dari tempat tidur.


“Keluar kau dari kamarku!” usir Evelyn.


“Hei lepaskan!” teriak wanita itu saat tubuhnya terjatuh ke lantai.


“Keluar dari kamarku!” teriak Evelyn lagi, diraihnya pakaian wanita itu  yang ada di kursi lalu dilemparnya pada wanita itu, yang menatapnya dengan heran.


“Kau siapa seenaknya menjambak rambutku?” teriak wanita itu dengan kesal.


“Aku istrinya Jeremy!” teriak Evelyn.


Wanita itu tampak shock, dia menoleh pada Jeremy.


“Kau pergi!” kata Jeremy.


Wanita itupun keluar kamar, berpakaian sambil berjalan dan terus menggerutu tidak jelas.


Evelyn menatap Jeremy, dengan matanya yang merah. Marah, sakit hati, juga sedih melihat perilaku bebasnya Jeremy.


“Aku sudah  bilang kau tidak  boleh berhubungan dengan wanita lain, kau tidak mengerti juga?” bentak Evelyn.


Jeremy balas menatapnya dengan  kesal.


“Kau sangat menggangguku, aku sudah bilang jangan ikut campur urusanku!” teriak Jeremy.


“Tentu saja aku akan ikut campur karena kau suamiku!” kata Evelyn.


“Tapi aku tidak suka kau mengekang ngekangku!” keluh Jeremy.


“Bagaimana aku tidak marah, kalian tidur di kamarku!” teriak Evelyn dengan keras.


Airmata sudah mnggenag saja dipipinya, diapun keluar dari kamar itu pergi ke kamarnya Jeremy dan menjatuhkan dirinya ditempat tidur itu, menelungkup lalu menangis.


Menangisi nasibnya yang buruk.  Sepertinya dicintai suaminya itu hanyalah sebuah mimpi. Suaminya tidak akan bisa berubah, baru juga kemarin dia bermalam dengan Selena sekarang membawa- bawa lagi wanita yang lain. Kenapa nasibnya begitu buruk?


*******

__ADS_1


__ADS_2