
Buk! Buk! Buk!
“Jeremy! Hentikan! Jeremy!”
“Jeremy! Kenapa kau diam saja?”
“Aku istrimu, kau tega melakukan ini padaku?”
“Bagaimana kalau aku melakukannya dengan istrimu seperti yang kau lakukan dengan Selena?” seraut wajah bermata sipit menyeringai padanya lalu menoleh pada sosok wanita dengan pakaiannya yang acak acakan, sebagian dada terbuka, kaki jenjangnya terekspose bebas.
“Aku sedang hamil! Lepaskan aku!”
Buk! Buk! Buk!
“Jeremy, bangun! Jeremy! Kau tidak boleh mati!”
“Apa dia sudah mati?”
“Aku tinggal mematahkan lehernya maka habis sudah riwayatnya!”
“Aku senang melihatmu seperti ini!” seraut wajah lain tersenyum sinis padanya.
“Apa kau tidak mau melihat bayimu lahir?” suara wanita itu memekik membuat telinganya sakit.
Dirasanya ada hangat dijari-jarinya saat menyentuh kulit perut itu.
“Aku tidak mau bayiku lahir tanpa ayah!” wanita itu menatapnya dan menggerak gerakkan bibirnya entah apa lagi yang diucapkannya, hanya rasa hangat perut itu menjalar keseluruh tubuhnya. Sangat hangat, mengalir keseluruh pembuluh darahnya membuat darah bekunya kembali mengental.
Perlahan jari itu berkedut, sekali.
“Kau sudah memeriksa semuanya?” Terdengar suara laki-laki bayangannya melintasi tempat tidurnya.
“Sudah, tidak ada yang berubah!” suara seorang wanita berbaju putih berdiri menatapnya.
“Aku akan membuat laporan untuk Dokter Hasan, jam 9 nanti dia akan datang memeriksa Pak Jeremy.”
Jari itu berkedut dua kali.
“Aku akan berangkat bekerja, kalian jaga suamiku!” suara seorang wanita terdengar ditelinganya begitu jelas. Disusul suara sepatu semakin mendekat.
“Aku akan berangkat bekerja bersama bayimu! Dia bayi yang baik, tidak rewel saat aku bekerja, meskipun kadang rasa mualnya tidak tertahankan jika dipagi hari! Sepertinya dia laki-laki! Dia akan akan jadi anak yang tampan sepertimu!” Sosok itu berasa ada disamping tempat tidurnya, berdiri menatapnya.
“Aku berangkat! Kalau ada apa-apa cepat telpon aku!”
“Baik Bu!”
Langkah sepatu itu terdengar menjauh.
“Kau catat apa saja perkembangannya!”
__ADS_1
“Ya!” Terasa ada yang bergerak merapihkan selimutnya.
Beberapa jari mulai berkedut.
“Coba kau cek lagi nadinya!”
“Baiklah!”
Jari-jari itu kembali berkedut.
“Pak Jeremy! Pak Jeremy! Ada pergerakan dari Pak Jeremy! Ambilkan alat bantu!”
“Baiklah!”
“Bu! Bu Evelyn! Pak Jeremy sadar!”
“Bu!”
“Ukhu! Ukhu!”
Evelyn yang sedang menuruni tangga dengan membawa tasnya terkejut mendengar teriak-teriakan dari lantai atas.
Perawat itu berlari menuju tangga. “Bu! Pak Jeremy sudah sadar!”
“Apa?” Evelyn terkejut bukan main, sejenak dia terbengong tidak percaya!”
Tubuh Evelyn mendadak kaku, kakinya tidak bisa digerakkan, rasanya tidak bisa dipercaya apa yang didengarnya. Perawat itu langsung berlari lagi menuju kamar rawatnya Jeremy.
Jeremy sadar? Pria itu sadar? Evelyn masih merasa shock mendengarnya. Wajahnya seketika memucat. Dengan tubuh yang gemetaran Evelyn melangkahkan kakinya naik lagi ke lantai atas.
Kakinya berhenti dipintu yang terbuka. Tubuhnya masih terasa gemetaran. Dilihatnya dua perawat itu begitu sibuk mengurus Jeremy.
Dibalik pandangan yang terhalang oleh perawat yang berpakaian putih-putih, mata itu didalam kelopak matanya yang mencengkung, menatap dengan pandangan kosong kearahnya.
Evelyn berdiri mematung, selain gemetaran, tubuhnya mendadak berkeringat dingin. Matanya bersitatap dengan mata yang terlihat hampa itu. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, melihat sosok pria itu telah bangun dan menatapnya sayu.
“Pak Jeremy, apa kau bisa mendengar suara saya?” tanya perawat laki-laki.
Mata sayu itu berkedip.
“Kalau Bapak bisa mendengar, tolong katakan sesuatu!” kata perawat laki-laki itu. Jeremy hanya diam tidak bersuara, lidahnya tidak bisa digerakkan.
Perawat laki-laki menoleh pada perawat wanita. “Kau sudah menelpon Dokter Hasan?”
“Sudah, mungkin sebentar lagi sampai!”
Perawat laki-laki menoleh pada Evelyn yang hanya diam mematung di pintu.
“Bu! Kami sudah menelpon Dokter Hasan untuk memeriksa Pak Jeremy lebih lanjut.”
__ADS_1
Evelyn melangkahkan kakinya perlahan mendekati tempat tidur. Matanya melihat kearah Jeremy yang masih terbaring lemas dan matanya menatapnya sayu.
“Apa Pak Jeremy sudah sadar?” tanya Evelyn, padahal sudah jelas-jelas mata Jeremy menatapnya.
“Sudah Bu, hanya keadaannya masih tidak baik. Pak Jeremy masih belum bisa menerima respon dengan baik dan belum bisa bicara, nanti Dokter Hasan akan memeriksanya lebih detil!”
Perawat itu pergi menjauh mengambil berkas catatannya dan berbicara dengan perawat wanita. Evelyn melangkah lebih dekat, menatap mata itu yang tidak lepas menatapnya tanpa mengucapkan kata-kata.
“Apa kau benar-benar sudah sadar?” tanya Evelyn dengan hati-hati, rasanya tidak percaya setelah satu bulan lebih Jeremy koma dan sekarang pria itu sedang menatapnya tapi dalam kondisi yang memprihatinkan, tidak bisa bicara.
Tidak ada pergerakan apapun dari Jeremy, hanya menatap istrinya itu, sekedar menatapnya.
Evelyn menoleh pada para perawat itu. “Apa Pak Jeremy mengenaliku?”
“Kami belum tahu Bu. Mungkin saja memorynya belum benar-benar pulih. Kadang butuh waktu juga untuk menetralisasi obat-obatan yang selama ini diberikan!” jawab perawat laki-laki.
Evelyn kembali menatap Jeremy. “Apa kau mengenaliku?”
Sama sekali tidak ada pergerakan dari pria itu, bahkan matanya menatapnya tidak berkedip membuat Evelyn merasa takut.
Daimbilnya ponselnya untuk menelpon Pak Candra. “Aku tidak ke kantor dulu sekarang, suamiku baru sadar tapi belum diperiksa intensiif oleh Dokter! Kalau ada apa-apa kau bisa menelponku!”
“Pak Jeremy sudah sadar?”
“Iya hanya kondisinya belum baik,” jawab Evelyn sambil menoleh pada Jeremy yang hanya membuka matanya tidak berkedip.
“Itu sudah perkembangan yang baik Bu! Saya ikut senang! Nanti kalau ada apa-apa saya menghubungi Ibu!”
“Iya!” ponselpun ditutup.
Evelyn melihat ponselnya yang sudah mati, lalu menoleh pada Jeremy yang masih diam membisu, berbaring terlentang menatap langit-langit. Perawat itu kembali memeriksanya dan mencatatkan sesuatu di catatan yang dipegangnya.
Evelyn menghela nafas pendek, mencoba menenangkan hatinya yang mendadak gelisah,jantungnya berdebar kencang. Bukan dia tidak senang Jeremy sadar, hanya tiba-tiba saja dia merasa takut, apakah kalau Jeremy sadar pria itu akan kembali menyakitinya dan bayinya? Tiba-tiba dia merasa berkeringat lebih.
Dilihatnya kembali sosok yang berbaring itu, lalu pada perawat.
“Kalau sudah sadar begini, biasanya berapa lama ingatan pasien pulih?” tanya Evelyn.
“Untuk pastinya saya kurang tahu Bu, biasanya beda-beda tergantung kondisi pasien. Nanti Ibu bisa tanyakan pada Dokter Hasan, mudah mudahan dijalan tidak macet, segera sampai untuk memeriksa Pak Jeremy!” jawab perawat laki-laki.
Evelyn mengangguk lalu menoleh lagi pada Jeremy. Dengan perlahan Evelyn duduk di pinggir tempat tidur itu, disamping tubuhnya Jeremy, menatap pria itu yang tidak bergeming hanya menatap langit-langit.
“Aku senang kau sudah sadar!” ucap Evelyn. Tidak ada reaksi apapun dari Jeremy.
“Aku akan berusaha supaya kau bisa sembuh total seperti dulu!” lanjutnya.
Masih tidak ada reaksi apa-apa dari Jeremy.
***
__ADS_1