Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CHAPTER 6


__ADS_3

Dyra yang baru saja pulang dari tempat kerjanya pun segera merebahkan badannya ke kasur singgel milik dirinya. Dengan mata terpejam Dyra menghembuskan nafasnya berat, kejadian yang terjadi saat ditempat kerja sangatlah membuat dirinya ketakutan dan terkejut saat mengetahui bahwa Damian adalah Boss dipekerjaan saat dirinya kerja. Dyra menggira Tonilah yang menjadi boss besar di restoran itu. Namun ternyata kebenaran terkuak hari ini, orang yang menolongnya itu yang menjadi boss nya saat ini.


Dyra membuka matanya melihat lurus kearah plafon kamarnya,sangat teringat jelas raut kemarahan milik Damian tadi,rahang tegasnya terlihat sangat mengetat saat membentak Toni. Dyra menggelengkan kepalanya menghilangkan ingatan tadi walau dirinya merasa takut dengan bentakan Damian. Tapi Dyra juga bersyukur atas kemarahan yang diperbuat oleh Damian tadi,dari kemarahan Damian dirinya tidak jadi dipecat.


Katakanlah Dyra jahat,tapi nyatanya memang begitu adanya.


Setelah dirasa sudah sedikit rileks dan sudah tidak terlalu capek banget, Dyra bangun dari tempat tidurnya,ia berjalan kearah lemari mengambil perlengkapan yang akan dia pakai dan berjalan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Kurang lebih 15 menit,Dyra keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.


Dyra berjalan kearah keluar kamar dan mengambil baju milik Damian yang terletak dikursi ruang santai lalu membawanya kearah tempat mesin cuci.


"Walau terlihat kotor seperti ini, namun masih sangat wangi ternyata bajunya." Dyra menghirup baju Damian dalam-dalam dan. Memasukkan kemesin cuci.


Serasa sudah bersih Dyra meletakkannya di mesin pengering,Dyra mengambil baju yang sudah siap untuk dijemur, dirinya membawa baju milik Damian yang sudah dicuci kearah halaman belakang yang biasa untuk menjemur baju milik dirinya.


Setelah menjemur baju milik Damian, Dyra berjalan kembali masuk kedalam rumah kerjaan ruang makan ." Tinggal makan dan otw kerumah sakit deh,"ucap Dyra mengambil lauk yang tadi pagi disimpan didalam kulkas dan memanaskannya kembali untuk makan malam.


***


Damian meregangkan tubuhnya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dilihatnya jam dipergelangan tangannya,jam menunjukkan pukul 20.25 malam. Hari ini tubuhnya sangat lelah akibat kerjaannya yang sangat menumpuk karena sedikit terhambat oleh masalah tadi pagi dicabang resto di Dyra bekerja.


Damian melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya, sayup-sayup telinganya mendengar suara yang sangat tidak asing. Setelah melihat kearah belakang, ternyata itu suara para teman-temannya.


"Sudah free kan?" Tanya David dengan merangkul pundak Damian.


Damian mengangguk dengan kedua tangan masuk kedalam sakunya."ngeclublah,udah lama kita ga main kesana." Ajak David.


"Iyalah Dam,ayok udah lama kita ga pesta semenjak waktu itu." Alister ikut mengajak Damian, rasanya sangat sudah lama tidak meminum minuman favoritnya itu.


Kata pesta disitu bukanlah seperti pesta seperti Yang kalian bayangkan. Disana mereka berempat akan melakukan pesta minuman,yang berupa tantangan juga pastinya. Jikalau ada yang kalah akan dipastikan mendapatkan hukuman yang sangat nikmat bagi yang kalah.


Damian mengangguk,memang rasanya sudah lama dirinya tidak menginjakan kakinya disana. Sudah lama juga dirinya tidak mengecek club' milik dirinya itu. Yaps memang benar itu club' milik Damian seorang.


Sesampainya ditempat tujuan. Damian, Jhon, David dan Alister melangkahkan kakinya masuk kedalam club' tersebut.


Kedatangan mereka sangat disambut baik oleh penjaga yang Damian tugaskan dipintu depan."selamat datang tuan..."sapa penjaga dengan sedikit menunduk dan diangguki Damian.


Damian diikuti para temannya mulai memasuki pintu kaca yang melihatkan para wanita dan pria sedang meliukkan badannya dibawah cahaya yang minim dan lampu kedap kedip serta bunyi musik yang sangat kencang.


"Woyilah, si Tuan datang juga akhirnya." Sapa bartender dengan senyuman menggembala yang bernamatag Panca.


Damian menepuk pundak panca dengan tersenyum kecil."gimana kabar disini?" Tanya Damian pada panca yang sedang menyapa para teman Damian ala lelaki.


"Baik lah, sangat aman terkendali!"sombong Panca,"kali ini mau minum apa nih? Kayak biasa?" Panca bertanya pada Damian namun Damian malah menyuruh Panca bertanya pada David,Jhon dan Alister.


"Seperti biasa ajalah, jangan lupa dengan sedikit ditambahkan racikan ajaib milik Lo itu." Jawab David dan diangguki Alister. " Iya bener jangan lupa juga siapkan target kita malem ini." Ucap Alister dengan senyuman smirknya.


Panca mengangguk dan berpamit untuk membuatkan pesannya dan Damian,Jhon,David serta Alister berjalan kearah tempat khusus milik mereka.


"Lihatlah Al,dia sangat sexy sekali," David menunjukkan kearah salah satu perempuan yang sedang meliuk-liukkan badannya dibawah lampu disko.


Alister yang sedang fokus berjalan pun menoleh." Lebih sexynan dia," tunjuknya kearah Kenan yang terlihat perempuan yang sedang berjoget ria ditengah-tengah ramainya pengunjung dengan satu gelas penuh minuman ditangannya.


"Sama-sama sexy menurut saya Tuan," kata Jhon berjalan mendahului David dan Alister menyusul Damian yang sudah hampir sampai ditempat yang dituju.

__ADS_1


David dan Alister melongo dibuatnya,saat mendengar perkataan dari Jhon yang jarang sekali Jhon akan memuji para wanita penghibur diclub. Jhon lah yang paling anti untuk merusak perempuan, yang ada dipikirannya ketika melukai perempuan adalah seperti dirinya melukai ibunya.


Setelah sampai mereka berempat duduk dengan Damian yang menyenderkan badannya dikursi dan memejamkan mata, David dan Alister melihat lapar kerah luar ruangan yang melihatkan para perempuan berjoget,dan Jhon yang masih anteng dengan handphonenya.


"Dam,apakah ada masalah?" Alister bertanya saat melihat wajah Damian yang sepertinya terlihat sangat lelah.


Damian menegakkan tubuhnya dan menghela nafas panjang,"gue dijodohin,dan parahnya perjodohan itu akan dipercepat." Kata Damian dengan wajah lesunya.


"Tante Belvita masih kekeh mau jodohin Lo dengan si Mak lampir itu?" David yang mulai tertarik pun ikut menimpalinya dengan salah satu wanita yang tadi dirinya panggil sudah bergelayut manja dipangkuannya.


Jhon hanya menyimak dan meminum minuman yang sudah sampai." Iya, tapi gue punya rencana." Damian menuangkan minumannya kegelas dan meneguknya."gue akan nikahin pekerja diresto cabang dengan syarat yang udah gue buat."kata Damian yang meneguk kembali minumannya.


"Maksud Lo?" Tanya Alister.


Damian disitu menjelaskan semua kejadian yang terjadi pada dirinya dari ketemu Dyra saat hampir menabraknya dan dengan Damian yang membantu Dyra namun dengan satu syarat harus meningkah dengan dirinya.


"Gila Lo!" Bentak David yang langsung ditatap tajam oleh Damian."saran gue jangan main-main deh Dam, kasihan cewek yang tak bersalah itu." Ucap Alister dan diangguki oleh David.


"Iya lah gila aja,dia ga tau apa-apa dan hanya dengan Lo membantu pengobatan adiknya,dia akan jadi sengsara ditangan Lo!"


"Kita liat saja nanti." Jawab santai Damian.


"Jangan sampai menyesal Tuan dengan tindakan tuan sendiri," timpal Jhon yang sedari tadi diam.


"Sudah-sudah sekarang malem ini kita lupakan masalah kita terlebih dahulu, mari cheers!" David mengangkat gelasnya dan mereka berempat cheers dengan tantangan siapa yang tepat duluan berarti dialah yang kalah dan akan mendapatkan hukuman untuk melakukan *** dengan perempuan pilihan mereka berempat.


Kali ini yang kalah adalah David, David sudah tepar lebih dahulu tapi masih tetap dalam keadaan sadar walau sudah tidak bisa diajak ngobrol. Damian,Jhon dan Alister melihat dan memilih perempuan yang sedang berjoget, pilihannya jatuh pada perempuan yang terlihat polos dan masih terlihat muda wajahnya, sepertinya perempuan itu baru-baru ini bekerja di bar milik Damian. Tapi mereka tebak kekuatannya masih bisa mengimbangi permainan David walau pasti perempuan itu akan tak sadarkan diri selanjutnya.


***


Dyra berjalan dengan tangan kanan menenteng baju ganti untuk sang adik dan tangan ditangan kiri membawa Sling bag. Hampir saja Dyra membuka pintu kamar tapi Dyra urungkan karena merasakan adanya getaran di tas yang dirinya bawah.


"Halo Ta,ada apa?" Dyra mengsapa saat panggilan sudah tersambung.


"Dyra lu dimana? gue ada di depan rumah Lo ni..." Tanya seseorang disebrang telepon.


"Emm...itu anu, gue...gue lagi di luar,ada urusan." Dyra menjawab dengan nada yang terbatah-batah.


"Ih! Lo ya gue kan mau ketemu si ganteng gue, sama ini ada makanan dari nyokap buat Lo sama si ganteng. Ohiya ko di rumah sepi banget...si ganteng ikut sama Lo?"


"Emm i-iyaa daren ikut dia katanya dia boring di rumah mulu," jawab Dyra gugup.


"Ha? tumben tuh si ganteng bilang boring, biasanya paling seneng dia, kalo sendirian di rumah." Jawab herannya.


"I-iya ga tau nih...tumben," Ucap Dyra yang masih gugup.


"Lu kenapa si ko kaya nya lu lagi gugup gitu." Tanyanya,heran dengan jawaban Dyra yang menurutnya terbata-bata.


"Ha gugup? hahaha... kata siapa gugup gue,gue lagi sakit perut nih,lagi ngantri di wc," bohong Dyra diselingi dengan ketawa yang menurutnya sangat tidak ada yang lucu.


"He Lo kira gue percaya DYRA XAVIERA!" Ucap Tamara, orang yang menelepon Dyra dengan menekankan nama lengkap Dyra.


"Lo sekarang dimana sherlok ke gue. Gue susul Lo." Tamara sudah tau betul bagaimana seorang Dyra yang akan berucap gugup saat berbohong.


"Eh engga usah gue jauh soalnya,takut Lo kemaleman di jalan apa lagi Lo kan bawanya motor jangan deh,mending Lo bantu mami di resto pasti rame kan di resto," jawab Dyra panik. Dirinya salah orang kalau mau berbohong, dia Tamara orang yang mudah sekali menebak gelagatnya.

__ADS_1


"Udah Lo tenang aja di resto ada papi gue kok, kebetulan sekarang lagi ngambil cuti dan juga gue engga mau jadi obat nyamuk pasangan yang kaga inget umur itu. Udah Lo mending sherlok. Cepet,ga pake lama!"


"Tapi Ta...."baru saja mau melanjutkan ucapannya sambungan terputus dengan sendirinya.


"Halo Ta,halo Tamara Gelardine!! akhhh bagaimana ini," Dyra dengan panik memencet handphonenya kasar,dia tau jika memberi tahu keberadaannya pasti sahabatnya akan sangat panik ketika mengetahui dirinya dirumah sakit, walau bukan dirinya yang sakit tapi pasti di Tamara akan sangat panik.


Tamara Geraldine, sosok gadis cantik yang memiliki sifat tomboy dan cerewet. Tamara gadis yang seumuran dengan Dyra, Tamara adalah sosok gadis yang sudah bersahabat dengan Dyra sendari kecil, Dyra juga sering kali memanggil orang tua Tamara dengan sebutan mami dan papi sangking dekatnya Dyra kepada keluarga Tamara. Tamara bukanlah dari kalangan orang kaya seperti Dyra dan satu sahabatnya,ayahnya Tamara Ethan Geraldine, bekerja sebagai menejer di perusahaan Xaviera campany,sedang kan sang mami memiliki restoran yang diberinama gladine resto.


Tamara juga terkadang membantu mengelola resto dengan sang ibu,namun Tamara baru-baru ini saja membuka bisnisnya sendiri yaitu cafe yang sangat di gandrungi kalangan muda mudi.


Dyra yang takut Tamara akan semakin marah pun segera mengsharelok  dan memberi tau berada diruangan mana adiknya dirawat.


"Malam dok," Dyra membuka pintu,disana terlihat dokter dan suster yang masih bertugas mengecek kondisi  perkembangan Daren.


"Malam juga nona..."dokter membalasnya dan menjelaskan keadaan Daren yang sudah sangat baik. " Baik,  saat ini kondisi pasien sudah sangat baik. Pasien' sudah dinyatakan sembuh. Pasien juga bisa pulang sesudah menghabiskan cairan infus ini."jelasnya dan diangguki Dyra,lalu dokter beranjak pergi dari hadapan Dyra bersama susternya.


"Kakak seneng sekali rasanya, mendengar kamu segera pulang dek..."


Daren mengangguk,"Daren tak kalah senengnya kak. Akhirnya Daren bisa sembuh dan balik sama kakak," kakak beradik itu saling berpelukan dengan perasaan haru nan senang.


Berbeda dengan Tamara, yang saat ini sangat shock menerima pesan dari Dyra. Yang tadinya misu-misu saat mendengar jawaban Dyra, dan langsung beranjak pulang dari kediaman rumah Dyra. Tapi ternyata setelah tiba dirumah Tamara dikejutkan oleh  pesan Dyra yang menyatakan bahwa Daren tengah dirawat dirumah sakit akiba penyakitnya.


Memang Tamara sudah lama mengetahui penyakit dari adiknya temannya itu.


Tamara yang tengah bersantai pun segera  mengganti pakaiannya dan mengambil  handphonenya tanpa mengambil Sling bag, Tamara sangat malas sekali soal membawa tas. Oleh karena itu Tamara disebut perempuan tomboi oleh para temannya.


"Mi, Tamara pamit dulu...mau kerumah sakit," Tamara menyalimi tangan mami dan papinya yang berada diruang tamu tengah  mengecek laporan  pekerjaannya.


"Siapa yang sakit Tam? Kamu sakit?!" Tanya mami Tamara.


"Bukan Mi, ternyata tadi pas Dyra disamperin ga dirumah tuh, dia lagi ngejaga adiknya dirumah sakit. Bilangnya aja lagi boring si Daren tau taunya lagi dirumah sakit emang ya tuh si Dyra ga tau apa ya   hilang kabar selama beberapa hari dan ngasih kabar tiba-tiba dirumah sakit. Awas aja tuh anak kalau ketemu tak pites-pites!" Jawab Tamara dengan misu-misu.


Mami dan papi Tamara jujur sangat terkejut mendengar ucapan Tamara, Dyra yang sudah dianggap anak oleh dirinya ternyata lagi dalam keadaan sulit." Yasudah  salam buat Dyra dan adiknya. Jangan gitu ah... mungkin Dyra ada alasan lain tidak memberi tau kondisinya." Tutur papi Tamara dan diangguki  mami Tamara.


"Hati-hati sudah malam ini jangan ngebut-ngebut naik motornya!" Ingat maminya dan diacungi jempol oleh Tamara lalu pergi menjalankan motornya.


"Tau ga si Lo! Gue sebel banget sama Lo tau ga, setelah hilang kabar selama tiga hari dan pas ngasih kabar ternyata si Daren lagi dirumah sakit dan parahnya Lo ngasih kabar saat Daren dah mulai pulang!!" Tajuk Tamara yang memasukan baju milik Daren ke tas.


Daren sudah menghabiskan cairan infusnya dan sekarang mereka lagi berberes pakaian untuk  membawa Daren pulang dari rumah sakit.


"Sudah lah Ta, kan udah dikasih tau juga. Gue tuh ga mau ngerepotin Lo sama keluarga Lo, Makanya gue ga mau bilang sama Lo kondisi gue sama Daren saat ini." Sebal Dyra yang Sudah capek mendengar ocehan dari mulut tipis milik Tamara.


Semenjak datang keruangan Daren,Tamara sudah mengoceh tak jelas kearah Dyra yang sudah tak memberi tau kondisinya. Dari pertama datang yang membuat Dyra dengan Daren hampir jantungan dan sampai saat ini yang masih tetap mengoceh tak jelas,yang jadi pertanyaan Dyra apakah mulutnya tidak berbusa yang sudah mengoceh hampir 10 menit lamanya tanpa berhenti.


"Ya sama aja Lo bohongin gue, gue tuh siapanya Lo si Dyra!!!" Marah Tamara yang sebenernya merajuk.


"Keluarga lah kan Lo udah bilang kalau kita tuh keluarga, kita bertiga tuh keluarga, Lo, gue dan si lemot itu kan keluarga." Dyra menjawab tak kalah sewot dari Tamara. Huh Rasanya capek sekali meladeni si tomboy ini.


Tamara berkacak pinggang,"nah tuh dah tau! Tapi kenapa masih selalu bilang sungakan lah, ga mau ngerepotin lah! Kalau kaya gini tuh gue jadi merasa gagal tau ga jadi sahabat Lo!" Suara Tamara melemah diakhir kalimat, dia udah sangat-sangat sayang sekali kepada Dyra dan silemot itu.


Daren menghembuskan nafas capeknya." Udah lah kak,jangan marahi kakak aku. Capek nih aku denger kak Tamara teriak-teriak Mulu." Jengah Daren 6ang mendengar pertengkaran Tamara dengan kakaknya.


"Ya...ya...ya..." Dyra cemberut,"selalu aja Dyra yang dibela!" Gerutu Tamara yang memasukan bajunya dengan kasar tapi ucapan Tamara masih bisa Daren dengar dengan jelas."kan kak Dyra kakak aku! Jelas dong aku bela kak Dyra. Lah situ siapa!" Ejek Daren dan dipelototi Tamara dengan berkacak pinggang.


Dyra hanya geleng-geleng melihat pertengkaran Tamara dengan Daren.

__ADS_1


__ADS_2