
David yang baru saja bangun dari tidurnya, melihat kearah samping. Dilihatnya ada gadis yang sudah tak menjadi gadis lagi setelah kejadian yang semalam David lakukan. David tak menyangka kalau Dirinya lah yang merenggutnya pertama' kali. David kira orang yang sudah masuk kedalam club', berarti sudah tak lagi virgin. Ternyata dugaannya salah, gadis dihadapannya ini adalah gadis yang hilang masa depannya ditangan David.
David berdiri bersih-bersih dan memakai bajunya. Dilihatnya mata yang sembab dan dengan jelas bekas aliran air mata yang terpatri di wajah perempuan itu. David jadi mengingat kembali bagaimana pergulatan panas tadi malam bersamanya, dan bagaimana teriakan kesakitan serta tangisan yang memintanya untuk menyudahi aktivitasnya.
Tak ayal David tadi malam sangat menikmati pergulatan panas tadi malam. Membayangkannya saja sudah membuat dirinya trunOn kembali. Pergulatan terenak menurut David adalah pergulatan semalam. Walau sudah pernah beberapa kali bersama orang yang masih bersegel namun tadi malah sangatlah enak dari lainnya.
Melihat kembali bekas wajah yang sayu membuat David menjadi kasihan. Dirinya telah merusak anak perempuan orang, dan dirinya telah merusak masa depan orang.
David menggeleng-gelengkan kepalanya, bodoamat dengan apa yang akan terjadi pada masa depan perempuan itu,David hanya menjalankan hukuman yang diberikan temannya. Salahkan saja temannya itu yang sudah memilihkan gadis yang masih bersegel itu. Toh biasanya juga para wanita penghibur akan meminum obat setelah melakukan *** dan juga pasti banyak wanita *** yang tidak mau kebobolan. David tak ambil pusing.
"Bodoamat lah siapa suruh,sudah masuk ke club'. Tapi dilihat sih nih anak masih terlihat polos..."
Bulu mata yang lentik bergerak menyesuaikan cahaya lampu yang masuk kedalam matanya.
Mata indah nan sayu terbuka, tatapan kosong dipancarkan oleh pemilik mata yang menggenggam erat selimut diatas dadanya. Kejadian tadi malam pun terulang kembali bagai kaset rusak dikepalanya.
"Urusan kita selesai!" David melempar uang segepok dan beranjak keluar setelah memakai lengkap pakainya.
Clarissa mematung melihat uang yang berserakan diatas pahanya. Kalau bukan gara-gara ayahnya yang menjebaknya,pasti nasib dirinya tidak akan seperti ini.
Satu tetes air mata meluruh dipipi,Clarissa merapikan uangnya lalu mengambilnya.
Clarissa beranjak dari kasur dan memungut bajunya. Tak munafik dirinya membutuhkan yang itu, toh dirinya sudah kotor biarlah orang beranggapan dirinya jala*g.
Clarissa berharap dari kejadian tadi malam tidak akan membuahkan hasil nyawa didalam perutnya.
Tapi apakah akan terjadi kemauannya itu,saat diingat pria itu menggempur habis-habisan tubuhnya. Dan tak ayal banyak sekali cairan pria itu memenuhi rahimnya. Semoga saja...tapi seandainya keinginannya tidak tercapai,tidak apa dirinya akan menerima lapang dada anak itu.
Dirinya Tidak mau menjadi orang jahat, seperti orang diluaran sana yang mengugurkan kandungan. Disaat banyak orang menginginkan hamil,lantas kenapa saat dirinya dikasih kepercayaan malah akan menghilangkannya? Itu Tidak akan Clarissa lakukan.
"Aku terima kalau memang engkau hadir disini...temani aku dan bantu aku saat kau sudah hadir disini...." Clarissa mengusap perut ratanya yang terbalut dengan baju, dirinya akan memberikan separuh uang itu kepada ayahnya dan separuhnya untuk memenuhi kehidupan dirinya.
Dengan tekad yang tinggi Clarissa putuskan akan pergi dari rumah itu, dia pasti bisa memulai kehidupan bahagia walau seorang diri. Dirinya sudah capek diatur terus menerus oleh ayahnya. Akibat ayahnya lah luka ini Clarissa tanggung.
Prak...
Clarissa melempar uang setelah sampai rumah, Clarissa melempar uang itu diwajah ayahnya yang sedang bermesraan dengan wanita sewaanya."puas! Puas ayah membuat aku seperti ini hah?!" Clarissa menatap Bagas,dengan tajam namun tersirat kekosongan.
"Dapat banyak juga..." Bagas menganggukkan kepalanya.
"Aku capek Yah... Aku capek,ayah sudah membuat aku menjadi wanita kotor,apa ayah tidak merasa gagal menjadi ayah melihat aku seperti ini?"
Bagas menggeleng,"tidak malah saya sangat senang sekali mendapatkan uang cuma-cuma seperti ini." Jawab Bagas enteng yang membuat luka Clarissa tergores semakin dalam.
Clarissa melihat Bagas dan wanita itu menghitung uang yang tadi dirinya lempar. Sangat tidak percaya ayahnya seperti itu."besok kesana lagi dan dapatkan lebih dari ini!" Bagas mengipas-ngipaskan uang itu diwajahnya.
"Gak! Aku tak mau lagi masuk ketempat haram itu lagi!"
"Jangan membantah orang tua!"
Clarissa tertawa hambar," apa orang tua? Orang tua Clarissa sudah meninggal. Clarissa hanya memiliki orang tua seperti ibu, Clarisa tidak mempunyai orang tua seperti ayah! Orang tua yang membuat luka pada anaknya sendiri. Apa pantas disebut orang tua!" Dengan memejamkan mata Clarissa menghembuskan nafas memburunya.
Bagas termenung mendengar ucapan Clarissa namun Bagas segera menghilangkannya. "Clarissa mau pergi yah..." Lirih Clarissa.
"Silakan! Silakan pergi kalau boleh pergi jauh-jauh dan jangan kembali kehadapan saya lagi. Uang ini akan bisa menghidupi saya selama kau anak sialan pergi!" Bagas menunjuk kearah pintu.
"Okey, kalau itu mau ayah. Clarissa pergi...ayah jaga diri baik-baik. Sejahat jahatnya ayah, ayah tetap ayah terbaik Clarissa. Clarissa sayang ayah...makasih lukanya dan jangan lupa makan,ayah juga harus jaga kondisi ayah... Clarissa pamit..." Dengan senyum manisnya Clarissa berucap namun tetap saja air matanya tak mau berhenti berkeluaran menatap ayahnya.
__ADS_1
Ayah yang membuat dirinya sampai dititik ini, ayah yang dulunya sangat memanjakan dirinya ternyata dialah luka pertama dihatinya.
Clarissa pergi hanya membawa baju dan barang yang tadi dirinya bawah.
Terakhir dilihat hari ini pukul 20.23
Dyr
01.30✓
Clarissa menghembus nafasnya,sudah dirinya duga pasti Dyra sudah tidur jam set 2 dini hari.
Clarissa memesan taksi dan pergi untuk mencari hotel untuk tidur satu malam.
***
Clarissa Ecclestone, gadis dengan wajah ayu nan mungil. Clarisa memiliki sifat yang bijak namun terkadang juga sangat lemot. Dia adalah gadis periang yang selalu memecahkan kesunyian diantara kedua sahabatnya, Dyra dan Tamara.
Yaps benar Clarissa adalah salah satu teman dari Dyra.
Semejak kejadian dimana kecelakaan merenggut nyawa ibunya Clarissa jadi anak yang mudah sekali bengong, dan sesekali terlihat murung. Keluarga Tamara dulunya sangat kaya melebihi keluarga Dyra tapi ternyata kekayaan itu lenyap begitu saja saat ayahnya ditinggal meninggal oleh ibunya. Saat itu Bagas menjadi depresi berat setelah ditinggal pergi Sukma,ibu Clarissa. Dan dari kejadian itu pula Bagas bangkrut dan sekarang Bagas menganggur dan untuk melupakan keberadaan Sukma Bagas selalu bermain dengan wanita bayarannya.
Clarissa sangat menyayangi ayahnya, namun rasa kecewa datang pada malam itu saat Clarissa ditipu. Ayahnya bilang akan mengajaknya berjalan-jalan. Clarissa yang sudah sangat lama sekali tida meet time bersama ayahnya pun sangat senang.
Tapi kesenangan itu pudar kala ternyata ayahnya membawa dirinya untuk dijual kepada tante-tante yang memang mengoleksi perempuan dan akan dijual keclub untuk dijadikan uang.
Awalnya Clarissa menolak tapi mendengar ancaman ayahnya yang akan mencelakai temannya pun Clarissa hanya mengangguk mengikuti kemauan ayahnya itu, dengan berat hati. Didalam hatinya dibergumakan maaf kepada ibunya serta temannya. Dia gagal menjadi perempuan, ternyata kegagalan dibuat oleh ayahnya.
****
Ia membuka lebar matanya saat melihat notif pesan dari Clarissa.
...Clariss...
...Online...
01.30✓✓
^^^iya clarr,ada apa,tumben jam segitu chat^^^
^^^05.35✓✓^^^
...Clariss...
...Online...
Boleh nanti kita bertemu ga?gua mau ngomong sama lu dan tamara?✓✓
^^^oke tinggal atur ajh itu mah...^^^
^^^05.40✓✓^^^
^^^Tapi lo yang ngomong ya sama tamara gua mau siap-siap kerja dulu..^^^
^^^05.40✓✓^^^
Oke lah kalau itu mah aman dyr....kayanya sorean ajh gasih biasalah dicafe yang biasa kita nongkrong dlu ya??
__ADS_1
✓✓
^^^Ship lah....^^^
^^^05.46✓✓^^^
***
Berbeda ditempat lain, David Sedari pulang dari club, dirinya tidak bisa memejamkan matanya. Kantong mata membuktikan bahwa David benar-benar tidak bisa tidur semalaman.
David kembali meneguk champagne-nya. Untuk kesekian kalinya ia mengabaikan pusing dikepalanya, bahkan David sudah menidurkan kepalanya dimeja mini bar miliknya.
Mata tajam milik David kini terpejam namun masih tetep melanjutkan aksi meneguk champagne-nya.
"Arghh...sialan siapa cewek itu. Dasar cewek sialan berani-beraninya membuat otak saya hampir pecah." Dengan mata terpejam David menuangkan kembali dan meneguknya dengan meluber-luber kemeja bar.
Ia meletakkan gelasnya dengan keras lalu mengacak rambutnya dengan frustasi. Pikirannya selalu menuju kearah wajah penuh air mata gadis yang ia tiduri beberapa jam yang lalu.
Entah kenapa ada kesakitan tersendiri dihatinya saat mengingat kembali kejadian yang telah terjadi tadi malam.
Biasanya tak seperti ini, setelah melakukan *** dirinya pasti akan bersemangat kembali. Seperti hp yang hampir ke habisan baterai dengan segera di cas pasti akan kembali hidup dan digunakan. Ini berbeda seperti sebelum-sebelumnya, gadis itu membuat pikirannya berkecamuk.
David melempar gelas kearah tembok."persetan dengan semua itu. Saya benar-benar jatuh pada pesona gadis itu!" David bergumam dengan mata terpejam.
"Tapi saya bingung, perasaan apa yang saat ini saya rasakan!" David berdiri dan kembali dengan sengaja menyingkirkan botol yang tadi isinya telah diminum dari mejanya hingga pecah berantakan.
Tanpa memikirkan itu dengan enteng David berjalan sempoyongan diatas pecahan kaca kearah lift menuju kekamarnya.
"She's mine" sadar atau tak sadar David mengklaim Clarissa secara tidak langsung.
***
"Jhon keruanganku sekarang!"
"Siap tuan"
Damian melanjutkan meneliti hasil meeting yang tadi diselenggarakan. Dengan seksama Damian meneliti keseluruhan map yang berisikan poin-poin utama kerja sama dengan Dominant' company. Alis Damian terlihat mengerut saya menemukan tak ketidak pahaman tulisan tersebut, namun setelah paham Damian mengangguk-anggukkan kepalanya dan melanjutkannya dengan urut supaya tidak ada yang tertinggal poin-poin utamanya.
Tok...tok...tok...
"Masuk"
Dilihatnya Jhon berjalan dengan pandangan yang sama seperti dirinya, bringas dan tajam.
"Siang tuan" Jhon berdiri didepan meja Damian lalu menunduk.
Damian mengangguk,"Carikan informasi lebih tentang gadis yang bernama Dyra. Lalu bawalah dia kemari dari resto cabang saya yang ada di jalan Alaska nomor 05." Kata Damian dan diangguki Jhon, setelahnya Jon berpamitan pergi mencarikan apa yang Damian mau.
Dengan seringai an tipis Damian berucap,"engkau sudah masuk dalam targetku..."
Saat ini Dyra tengah menjalankan tugas sebagai waiters. Dyra tengah membawakan makanan dengan anggun kearah pelanggan yang datang.
"Dyr,tolong bantu antarkan pesanan ini pada meja nomor 2," Nani yang melihat Dyra baru sampai kearah dapur pun segera menyuruhnya mengantarkan kemeja yang diminta.
"Shiap mbak...sini" Dyra mengambil nampan yang ditangan Nani dan mengantarkan keraah pelanggan dimeja itu.
Deg...
__ADS_1
Pandangan Dyra terkunci pada mata tajam pelanggan itu.