Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-82 Games


__ADS_3

Jeremy menahan


hatinya yang terbakar amarah. Tapi tidak ada kesempatan sedikitpun untuk melawan.


Satu senjata di ganjalkan di dagunya. Dia dipaksa melihat apa yang terjadi di


depannya.


Melihat Ryan


memeluk tubuh istrinya, darahnya semakin mendidih. Sekali lagi, dia mati tidak


masalah, tapi kalau peluru menyasar pada anak istrinya dia tidak akan memaafkan


dirinya sendiri.


Ryan mendekap


tubuh Evelyn dengan bernafsu, mencoba mencium bibirnya Evelyn yang memalingkan


mukanya, menghindari bibirnya, membuat Ryan terkekeh.


“Aku heran,


kau tidak seagresif Selena tapi kau sangat membuatku bergairah. Diammu membuatku


penasaran bagaimana kau bereaksi saat aku bisa memuaskanmu!” Ryan mencium


bahunya Evelyn sambil menoleh pada Jeremy dan tersenyum, dia bahagia sekali


melihat Jeremy mati kutu.


Untung


orang-orangnya sigap menahannya atau dia akan babak belur disiksa habis habisan


oleh pria itu.


Evelyn


merasa muak tubuhnya dipeluk oleh Ryan. Pria itu melepaskan pelukannya membuatnya


berhadapan dengan pria yang sudah tidak bisa mengendalikannya.


Senyum mengembang


di bibirnya, dan akan mencium wanita itu tapi tiba-tiba sebuah senjata sudah di


todongkan didepan wajahnya.


Ryan


terkejut begitu juga Jeremy. Dilihatnya Evelyn berdiri sambil menodongkan


senjatanya kearah Ryan.


“Angkat


tanganmu!” bentaknya.


“Evelyn


Sayang, kau tidak bisa menembak. Turunkan senjatamu!” Ryan tidak menyangka


ternyata Evelyn mau dipeluknya karena untuk mengambil senjata yang ada diatas meja itu.


“Bawa Ayres


padaku! Cepat bawa Ayres padaku!” teriak Evelyn dengan tangan yang gemetaran, kedua


tangannya memegang senjata itu, tepat di kepalanya Ryan.


Ceklek! Ryan


kembali diam.


“Bawa Ayres


padaku!” teriaknya.


Ryan melirik


orang yang bersama Ayres, yang langsung dibawanya kearah Evelyn.


“Buka matanya!


Buka!” teriaknya.


Orangnya


Jeremy melepaskan penutup matanya.


“Ibuu..”


Ayres berlari memeluk kakinya Evelyn.


“Sayang, kau


jangan main-main dengan senjata itu!” Ryan berdiri tegak, Evelyn masih


menodongkan senjatanya.


“Stop!”


tangan Evelyn gemetaran, dia tidak pernah menembak tapi dia pernah melihat Jeremy


menggunakannyanya.


Ryan terkekeh


sambil berjalan mendekat membuat Evelyn semakin mundur, sedangkan Ayres memeluk


kaki ibunya.


Jeremy akan


bergerak tapi senjata itu tidak menjauh dari kepalanya.


Ryan melangkah


lagi semakin dekat membuat Evelyn merasa gugup, dia tidak pernah menembak dan


dia hanya memberanikan diri saja.


“Sayang,


turunkan senjatamu, apa kau mau jadi pembunuh di depan anakmu?”


Evelyn


semakin gemetaran saja mendengarnya, wajahnya semakin pucat.


Ryan mengulurkan


tangannya. “Ayolah sayang, lemparkan senjatanya, aku berjanji akan melepaskanmu


dan Ayres.”


“Tidak, kau


pasti berbohong!”

__ADS_1


“Buat apa


aku berbohong!”


“Stop, Stop!”


teriak Evelyn.


Tapi Ryan


tidak menggubrisnya, dia tahu Evelyn tidak mungkin menembak.


“Berhenti!


Atau aku menembakmu!” teriak Evelyn, dengan tangan yang semakin gemetaran, tapi


Ryan tidak mau berhenti. Diapun melepaskan tembakannya kearahnya Ryan.


Dor!


Suara itu


membuat konsentrasi semua orang terganggu. Hal ini dimanfaatkan oleh Jeremy,


yang menginjak laki pria yang memegang tangannya membuat pegangannya terlepas,


karena terkejut. Dengan cepat tangannya menyikut perutnya hingga terhuyung


kebelakang dan tangannya merampas satu senjata dari orang itu yang langsung di


tembakkan ke arah Ryan.


Dor! Dor!


Suara


tembakan bukan satu kali tapi menjadi 3 kali.


Orang-orang


Jeremy menodonhkan senjatanya pada Jeremy, tapi pria itu tenang saja, karena tangannya


mengarah pada Ryan. Dia tahu anak buah Ryan tidak akan berani menembaknya tanpa


komando dari bosnya. Karena kesalahan fatal akan digantikan dengan nyawanya


yang melayang saat itu juga. Itulah kerasnya dunianya, menganggap nyawa seperti


barang murah.


Evelyn


mematung dengan wajah yang pucat, dia shock, darahnya Ryan bercipratan ke wajah


dan tubuhnya.


Ryan berdiri


dengan kepala yang bersimbah darah. Tangan Evelyn masih gemetaran senjatanya


mengarah pada Ryan. Dia telah membunuh Ryan, dia sudah berubah jadi pembunuh!


Jeremy melihat


kearah Ryan dengan tangannya yang masih siaga mengarah pada Ryan.


“Bos kalian


sudah mati!” ucap Jeremy, membuat orang-orang Ryan saling berpandangan dengan


bingung.


Mereka


“Dibalik


pintu itu kode brangkasnya 442211. Ambil semua uangnya dan nikmati masa pensiun


kalian!” ucap Jeremy, sambil menurunkan senjatanya.


Orang-oranganya


Ryan saling pandang, tanpa menunggu mereka menurunkan senjatanya, Jeremy


berjalan mendekati mejanya Ryan.


Dia tahu


orang-orangnya Ryan tidak akan membunuhnya karena tidak punya kepentingan.


Dan dalam


beberapa detik mereka pergi ke pintu itu berbondong-bondong, dan ternyata


dibalik pintu itu ada sebuah brangkas yang kodenya diberikan Jeremy tadi. Salah


seorang mencoba membukannya dan ternyata benar, brangkas itu berisi uang yang


banyak, membuat mereka senang dan segera berebut mengambilnya.


Jeremy


mengambil pakaiannya Evelyn lalu menghampiri wanita itu yang masih menodongkan


senjatanya ke depan, wanita itu terlihat shock apalagi banyak darah di


tubuhnya.


Jeremy mengambil


senjata itu lalu dilemparnya sembarang. Dilapnya darah di wajah dan tubuhnya


Evelyn itu dengan gaun yang ada di tangannya.


“Semua sudah


berakhir, kita pulang,” ucap Jeremy.


Mata Evelyn beralih


menatap Jeremy. Dia masih terlihat sangat shock.


Jeremy


melihat tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian dalam. Hatinya merasa sangat


sakit, dia tahu hati istrinya juga sakit harus berperan seperti ini.


Tapi gaunnya


sudah dilap untuk membersihkan darahnya Jeremy yang mengotori tubuhnya Evelyn.


Jeremypun


membuka kemejanya, membiarkan dirinya bertelanjang dada memperlihatkan tubuh atletisnya


dengan tato tato yang tidak pernah hilang di tubuhnya.


Dipakaikannya


kemeja itu ke tubuhnya Evelyn. Dia melihat airmata yang menetes di pipinya wanita

__ADS_1


itu. Tangannya segera menghapusnya membuat dua pasang mata itu saling menatap.


Dikancingkannya


beberap kancing kemejanya yang kebesaran, sampai menutupi tangan juga pahanya


Evelyn.


Jeremy


menoleh pada anak kecil yang memeluk kaki ibunya sambil menengadah menatapnya.


Hatinya teriris


harus memperlihatkan kekerasan yang tidak seharusnya dilihat anak kecil.


“Apa ini


perang sungguhan?” tanya Ayres.


Jeremy segera


berjongkok. “Games, yang pertempurannya kau yang memenangkannya.”


“Games?”


“Ya. Games.”


“Aku belajar


menembak seperti Ayah dan Ibu. Dor!Dor!” Ayres memperagakan cara ayahnya menembak.


Jeremy


tersenyum. “Kau memanggilku Ayah?”


Ayres terdiam,


lalu mendongak melihat ibunya.


“Apa dia


Ayahku, Bu?”


Jeremy hanya


diam saja, dia tidak mempermasalahkan dia akan dianggap ayah kandungnya Ayres


atau bukan, yang pasti dia adalah ayahnya, diakui ataupun tidak.


Evelyn menunduk


melihat Ayres. “Ya, Sayang. Dia Ayahmu. Ayah kandungmu.”


Cesss!


Terasa begitu sejuk dihatinya Jeremy mendengar jawaban Evelyn. Wanita itu mengijinkan


Ayres memanggilnya Ayah.


Ayres kembali


melihat Jeremy. “Aku mau memanggilmu Ayah, tapi ada syaratnya!”


“Hah?” Jeremy


dan Evelyn terkejut.


“Ajari aku main


games, aku akan memanggilmu Ayah.”


Jeremy langsung


tersenyum dan memeluk Ayres dengan erat, haru dihatinya tidak terbendung lagi.


Dipeluk ciumnya putranya itu, lalu digendongnya dan berdiri.


Ayres melihat


tato di dadanya Jeremy. “Ini gambar apa? Apa ini ular? Tapi bukan, ini aaapa?”


tangan mungilnya menunjuk nujuk bentuk tato ditubuhnya Jeremy.


“Coba kau


tebak, kalau kau bisa menebaknya, kita berlatih games.”


“Apa ini Dinosaurus?”


Ayres tambah bingung, wajahnya sambil mendekati dadanya Jeremy melihat tato


ayahnya.


Jeremy


tersenyum menoleh pada Evelyn yang tersenyum melihat polah putra mereka.


Terdengar


orang-orang Ryan tu berhamburan keluar dari ruangan itu.


“Bakar


tempat ini! Jangan ada yang tersisa!” perintahnya.


“Baik, Bos!”


Merekapun langsung berpencar, mencari alat-alat untuk membakar tempat itu.


Jeremy


kembali menoleh pada Evelyn. “Ayo, Sayang!” Diapun merangkul wanita itu mengajaknya


pergi dari ruangan itu.


Evelyn


menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Jeremy, sebuah ciuman mendarat di


keningnya, membuatnya menengadah dan ciuman di kening itu berpindah mencium


bibirnya dengan lembut.


“Ayah menghalangiku!”


protes Ayres karena Jeremy menunduk mencium Evelyn dan gambar tato ditubuh


ayahnya jadi terhalang sedangkan dia sedang serius menebak gambar itu.


Jeremy


tersenyum lalu mencium pipinya Ayres dengan gemas, merekapun keluar dari


ruangan itu.


Setelah mobil


yang dikendarai Jeremy meninggalkan tempat itu, beberapa waktu kemudian,


terdengar ledakan ledakan keras yang menghancurkan tempat itu dan apipun melalap

__ADS_1


membakar apapun yang ada didalamnya, termasuk tubuhnya Ryan.


***


__ADS_2