
Jeremy menahan
hatinya yang terbakar amarah. Tapi tidak ada kesempatan sedikitpun untuk melawan.
Satu senjata di ganjalkan di dagunya. Dia dipaksa melihat apa yang terjadi di
depannya.
Melihat Ryan
memeluk tubuh istrinya, darahnya semakin mendidih. Sekali lagi, dia mati tidak
masalah, tapi kalau peluru menyasar pada anak istrinya dia tidak akan memaafkan
dirinya sendiri.
Ryan mendekap
tubuh Evelyn dengan bernafsu, mencoba mencium bibirnya Evelyn yang memalingkan
mukanya, menghindari bibirnya, membuat Ryan terkekeh.
“Aku heran,
kau tidak seagresif Selena tapi kau sangat membuatku bergairah. Diammu membuatku
penasaran bagaimana kau bereaksi saat aku bisa memuaskanmu!” Ryan mencium
bahunya Evelyn sambil menoleh pada Jeremy dan tersenyum, dia bahagia sekali
melihat Jeremy mati kutu.
Untung
orang-orangnya sigap menahannya atau dia akan babak belur disiksa habis habisan
oleh pria itu.
Evelyn
merasa muak tubuhnya dipeluk oleh Ryan. Pria itu melepaskan pelukannya membuatnya
berhadapan dengan pria yang sudah tidak bisa mengendalikannya.
Senyum mengembang
di bibirnya, dan akan mencium wanita itu tapi tiba-tiba sebuah senjata sudah di
todongkan didepan wajahnya.
Ryan
terkejut begitu juga Jeremy. Dilihatnya Evelyn berdiri sambil menodongkan
senjatanya kearah Ryan.
“Angkat
tanganmu!” bentaknya.
“Evelyn
Sayang, kau tidak bisa menembak. Turunkan senjatamu!” Ryan tidak menyangka
ternyata Evelyn mau dipeluknya karena untuk mengambil senjata yang ada diatas meja itu.
“Bawa Ayres
padaku! Cepat bawa Ayres padaku!” teriak Evelyn dengan tangan yang gemetaran, kedua
tangannya memegang senjata itu, tepat di kepalanya Ryan.
Ceklek! Ryan
kembali diam.
“Bawa Ayres
padaku!” teriaknya.
Ryan melirik
orang yang bersama Ayres, yang langsung dibawanya kearah Evelyn.
“Buka matanya!
Buka!” teriaknya.
Orangnya
Jeremy melepaskan penutup matanya.
“Ibuu..”
Ayres berlari memeluk kakinya Evelyn.
“Sayang, kau
jangan main-main dengan senjata itu!” Ryan berdiri tegak, Evelyn masih
menodongkan senjatanya.
“Stop!”
tangan Evelyn gemetaran, dia tidak pernah menembak tapi dia pernah melihat Jeremy
menggunakannyanya.
Ryan terkekeh
sambil berjalan mendekat membuat Evelyn semakin mundur, sedangkan Ayres memeluk
kaki ibunya.
Jeremy akan
bergerak tapi senjata itu tidak menjauh dari kepalanya.
Ryan melangkah
lagi semakin dekat membuat Evelyn merasa gugup, dia tidak pernah menembak dan
dia hanya memberanikan diri saja.
“Sayang,
turunkan senjatamu, apa kau mau jadi pembunuh di depan anakmu?”
Evelyn
semakin gemetaran saja mendengarnya, wajahnya semakin pucat.
Ryan mengulurkan
tangannya. “Ayolah sayang, lemparkan senjatanya, aku berjanji akan melepaskanmu
dan Ayres.”
“Tidak, kau
pasti berbohong!”
__ADS_1
“Buat apa
aku berbohong!”
“Stop, Stop!”
teriak Evelyn.
Tapi Ryan
tidak menggubrisnya, dia tahu Evelyn tidak mungkin menembak.
“Berhenti!
Atau aku menembakmu!” teriak Evelyn, dengan tangan yang semakin gemetaran, tapi
Ryan tidak mau berhenti. Diapun melepaskan tembakannya kearahnya Ryan.
Dor!
Suara itu
membuat konsentrasi semua orang terganggu. Hal ini dimanfaatkan oleh Jeremy,
yang menginjak laki pria yang memegang tangannya membuat pegangannya terlepas,
karena terkejut. Dengan cepat tangannya menyikut perutnya hingga terhuyung
kebelakang dan tangannya merampas satu senjata dari orang itu yang langsung di
tembakkan ke arah Ryan.
Dor! Dor!
Suara
tembakan bukan satu kali tapi menjadi 3 kali.
Orang-orang
Jeremy menodonhkan senjatanya pada Jeremy, tapi pria itu tenang saja, karena tangannya
mengarah pada Ryan. Dia tahu anak buah Ryan tidak akan berani menembaknya tanpa
komando dari bosnya. Karena kesalahan fatal akan digantikan dengan nyawanya
yang melayang saat itu juga. Itulah kerasnya dunianya, menganggap nyawa seperti
barang murah.
Evelyn
mematung dengan wajah yang pucat, dia shock, darahnya Ryan bercipratan ke wajah
dan tubuhnya.
Ryan berdiri
dengan kepala yang bersimbah darah. Tangan Evelyn masih gemetaran senjatanya
mengarah pada Ryan. Dia telah membunuh Ryan, dia sudah berubah jadi pembunuh!
Jeremy melihat
kearah Ryan dengan tangannya yang masih siaga mengarah pada Ryan.
“Bos kalian
sudah mati!” ucap Jeremy, membuat orang-orang Ryan saling berpandangan dengan
bingung.
Mereka
“Dibalik
pintu itu kode brangkasnya 442211. Ambil semua uangnya dan nikmati masa pensiun
kalian!” ucap Jeremy, sambil menurunkan senjatanya.
Orang-oranganya
Ryan saling pandang, tanpa menunggu mereka menurunkan senjatanya, Jeremy
berjalan mendekati mejanya Ryan.
Dia tahu
orang-orangnya Ryan tidak akan membunuhnya karena tidak punya kepentingan.
Dan dalam
beberapa detik mereka pergi ke pintu itu berbondong-bondong, dan ternyata
dibalik pintu itu ada sebuah brangkas yang kodenya diberikan Jeremy tadi. Salah
seorang mencoba membukannya dan ternyata benar, brangkas itu berisi uang yang
banyak, membuat mereka senang dan segera berebut mengambilnya.
Jeremy
mengambil pakaiannya Evelyn lalu menghampiri wanita itu yang masih menodongkan
senjatanya ke depan, wanita itu terlihat shock apalagi banyak darah di
tubuhnya.
Jeremy mengambil
senjata itu lalu dilemparnya sembarang. Dilapnya darah di wajah dan tubuhnya
Evelyn itu dengan gaun yang ada di tangannya.
“Semua sudah
berakhir, kita pulang,” ucap Jeremy.
Mata Evelyn beralih
menatap Jeremy. Dia masih terlihat sangat shock.
Jeremy
melihat tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian dalam. Hatinya merasa sangat
sakit, dia tahu hati istrinya juga sakit harus berperan seperti ini.
Tapi gaunnya
sudah dilap untuk membersihkan darahnya Jeremy yang mengotori tubuhnya Evelyn.
Jeremypun
membuka kemejanya, membiarkan dirinya bertelanjang dada memperlihatkan tubuh atletisnya
dengan tato tato yang tidak pernah hilang di tubuhnya.
Dipakaikannya
kemeja itu ke tubuhnya Evelyn. Dia melihat airmata yang menetes di pipinya wanita
__ADS_1
itu. Tangannya segera menghapusnya membuat dua pasang mata itu saling menatap.
Dikancingkannya
beberap kancing kemejanya yang kebesaran, sampai menutupi tangan juga pahanya
Evelyn.
Jeremy
menoleh pada anak kecil yang memeluk kaki ibunya sambil menengadah menatapnya.
Hatinya teriris
harus memperlihatkan kekerasan yang tidak seharusnya dilihat anak kecil.
“Apa ini
perang sungguhan?” tanya Ayres.
Jeremy segera
berjongkok. “Games, yang pertempurannya kau yang memenangkannya.”
“Games?”
“Ya. Games.”
“Aku belajar
menembak seperti Ayah dan Ibu. Dor!Dor!” Ayres memperagakan cara ayahnya menembak.
Jeremy
tersenyum. “Kau memanggilku Ayah?”
Ayres terdiam,
lalu mendongak melihat ibunya.
“Apa dia
Ayahku, Bu?”
Jeremy hanya
diam saja, dia tidak mempermasalahkan dia akan dianggap ayah kandungnya Ayres
atau bukan, yang pasti dia adalah ayahnya, diakui ataupun tidak.
Evelyn menunduk
melihat Ayres. “Ya, Sayang. Dia Ayahmu. Ayah kandungmu.”
Cesss!
Terasa begitu sejuk dihatinya Jeremy mendengar jawaban Evelyn. Wanita itu mengijinkan
Ayres memanggilnya Ayah.
Ayres kembali
melihat Jeremy. “Aku mau memanggilmu Ayah, tapi ada syaratnya!”
“Hah?” Jeremy
dan Evelyn terkejut.
“Ajari aku main
games, aku akan memanggilmu Ayah.”
Jeremy langsung
tersenyum dan memeluk Ayres dengan erat, haru dihatinya tidak terbendung lagi.
Dipeluk ciumnya putranya itu, lalu digendongnya dan berdiri.
Ayres melihat
tato di dadanya Jeremy. “Ini gambar apa? Apa ini ular? Tapi bukan, ini aaapa?”
tangan mungilnya menunjuk nujuk bentuk tato ditubuhnya Jeremy.
“Coba kau
tebak, kalau kau bisa menebaknya, kita berlatih games.”
“Apa ini Dinosaurus?”
Ayres tambah bingung, wajahnya sambil mendekati dadanya Jeremy melihat tato
ayahnya.
Jeremy
tersenyum menoleh pada Evelyn yang tersenyum melihat polah putra mereka.
Terdengar
orang-orang Ryan tu berhamburan keluar dari ruangan itu.
“Bakar
tempat ini! Jangan ada yang tersisa!” perintahnya.
“Baik, Bos!”
Merekapun langsung berpencar, mencari alat-alat untuk membakar tempat itu.
Jeremy
kembali menoleh pada Evelyn. “Ayo, Sayang!” Diapun merangkul wanita itu mengajaknya
pergi dari ruangan itu.
Evelyn
menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Jeremy, sebuah ciuman mendarat di
keningnya, membuatnya menengadah dan ciuman di kening itu berpindah mencium
bibirnya dengan lembut.
“Ayah menghalangiku!”
protes Ayres karena Jeremy menunduk mencium Evelyn dan gambar tato ditubuh
ayahnya jadi terhalang sedangkan dia sedang serius menebak gambar itu.
Jeremy
tersenyum lalu mencium pipinya Ayres dengan gemas, merekapun keluar dari
ruangan itu.
Setelah mobil
yang dikendarai Jeremy meninggalkan tempat itu, beberapa waktu kemudian,
terdengar ledakan ledakan keras yang menghancurkan tempat itu dan apipun melalap
__ADS_1
membakar apapun yang ada didalamnya, termasuk tubuhnya Ryan.
***