Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CHAFTER 5


__ADS_3

Beralih kepada Dyra yang kini sedang bersiap-siap untuk bekerja. Namun, sebelum berangkat kerja Dyra akan menemui adiknya terlebih dahulu.


Serasa sudah lengkap dengan pakaiannya,Dyra mengambil Sling bag dan memoleskan tipis liptin untuk menambah kesan hidup dari wajahnya yang terlihat putih alami.


SKIP!


Sesampainya di rumah sakit Dyra langsung menuju kamar inap sang adik,dengan langkah kecilnya Dyra tersenyum membalas orang-orang yang dilewatinya. saat hampir sampai,Dyra melihat dokter dan suster yang baru saja keluar dari kamar inap sang adik, Dyra mempercepat langkahnya menghampiri dokter dan suster.


"Dok,bagaiman keadaan adik saya?" Tanya Dyra saat sesampainya di hadapan dokter dan suster yang baru saja keluar dari kamar inap adiknya.


Dokter serta suster tersenyum lembut,"Kondisi pasien sekarang dalam kondisi stabil, dianjurkan untuk minum obat secara teratur dan jangan dulu untuk stress atau banyak pikiran, agar bisa mempercepat penyembuhan pasien."


Dengan wajah bahagia Dyra menganggukan kepalanya."Syukurlah jika keadaan adik saya stabil, terimakasih Banyak Dok atas bantuannya."ucap dyra sambil tersenyum lega dia bersyukur mendengar kondisi adiknya yang sudah stabil.


"Baik, sama-sama nona, itu sudah tugas saya. Kalau bergitu saya permisi." Dokter mengangguk sambil berlalu pergi dari hadapan dyra dan di ikuti suster di belakangnya.


Tanpa menunggu lama, setelah dokter pergi menjauh dari ruangan Daren, Dyra segera membuka pintu ruangan Daren.


Clekk....


pintu terbuka,Dyra menyebulkan kepalanya di belahan pintu. Badan Dyra yang berada diluar ruangan tapi kepala Dyra menyembul mengintip Daren. Dyra tersenyum melihat darren sedang mengupas kulit jeruk.


Daren yang melihat kepala kakaknya menyembul pun tersenyum lebar sambil memandang binar kearah Dyra."Apa yang kamu rasakan dek," Dyra berjalan kearah sang adik.


Daren memasukkan buah jeruk kemulutnya,"Ehmm rasanya sangat bosan kak,kapan aku bisa keluar dari rumah sakit ini..."ucap Daren sambil merengek, Dyra yang mendengar rengekan sang adik hanya tertawa kecil karna dia tau adiknya sangat tidak menyukai yang namanya rumah sakit.


Dyra mengelus sebentar pucuk rambut Daren."Sabar ya makanya kamu harus rajin minum obat,kamu udah makan dek?" Tanya Dyra sambil menarik kursi yang ada di pinggir ranjang lalu mengambil alin jeruk yang belum selesai dikupas oleh Daren.


Daren mengangguk"Ehm aku sudah makan kak. kakak tau kan makanan rumah sakit itu tidak enak, rasanya hambar." adu Daren kepada sang kakak, lagi-lagi Dyra hanya tertawa kecil sambil menggeleng mendengar ucapan sang adik.


Dyra benar-benar bersyukur melihat wajah sang adik sudah ceria seperti sekarang. Walau masih terlihat pucat dan masih lemas tapi ini sudah membuatnya bahagia.


kali ini Dyra sudah tidak lagi tertawa kecil penuh dengan kebohongan, Dyra kali ini tertawa lepas melihat raut wajah menggemaskan sang adik dengan keadaan yang mulai membaik. Daren yang melihat baru pertama kali kakaknya tertawa lepas setelah kepergian orangtua mereka pun, tersenyum senang melihat kakaknya yang tidak lagi sedih karna melihat kondisinya yang semakin hari semakin memburuk. Daren berjanji akan membuat senyuman itu terpatri dengan permanen dibibir mungil Dyra dan juga tidak akan membuat Dyra kembali menangis dalam diam.


Sekarang Daren benar-benar lega sudah tidak lagi melihat air mata yang terus mengalir dari mata indah kakaknya. Daren benci melihat kakak satu-satunya ini saat mengangis.


"Ya sudah, kalau begitu kamu minum obat dulu." Dyra mengambilkan obat yang sudah tersedia dipiring kecil didekatnya.


Daren menerima gelas air yang diberikan oleh Dyra, berserta obatnya."makasih kak..." Ucapnya dan meminum obat dengan gampang,tidak seperti Dyra yang meminum obat harus menggunakan mediasi berupa pisang,ataupun kalau tidak harus dihancurkan terlebih dahulu. Dyra memang tidak bisa meminum obat menggunakan air putih secara langsung, dirinya dari dulu tidak pernah mendapatkan obat berupa kapsul. Dulu ketika sakit pasti Alberto akan meminta pada dokter yang menanganinya, untuk memberikan sirup atau obat dalam bentukan yang sudah dihancurkan terlebih dahulu.


Dyra mengangguk, setelah melihat adiknya selesai meminum obat pun Dyra berdiri." Ya udah kalau gitu kakak berangkat kerja dulu okey..."ucap Dyra dengan lembut.


"Kenapa harus bekerja lagi kak? Kan sekarang aku udah sembuh,biarkan aku saja nanti yang akan kerja. Kakak cukup diam dirumah,aku ga mau kakak kecapekan,cukup kemarin aku sudah merepotkan kakak." Kata Daren.


"Kakak gak bisa dek, kakak udah nyaman sama pekerjaan kakak. Dan juga kita masih butuh biaya untuk kita hidup,kakak juga ga ngeizinin kamu untuk berkerja. Kakak ga mau kamu sakit lagi,kakak hanya mau kamu setelah sembuh melanjutkan sekolah kamu agar bisa menjunjung kembali keadaan kita, paham?" Jelas Dyra dengan nada sendunya. Dyra tidak mau kalau Daren akan kembali sakit ketika kelelahan saat bekerja, biarlah dirinya yang berkerja untuk menafkahi adiknya. Toh benarkan Dyra anak tertua sudah pasti akan menjadi tulang punggung keluarga saat orangtuanya sudah tidak ada.


Daren menunduk,"Tapi aku malu sama kakak,Daren selalu nyusahin kakak." Ucap Daren sendu melihat kerah wajah kakaknya.


Dyra menangkup wajah Daren dan mengelus kelas kedua pipi tirus Daren." Kakak tidak merasa disusahkan oleh kamu dek, kakak malah bangga pada diri kakak sendiri bisa menjalani kehidupan ini walau tanpa papa dan mama, kakak cuma minta doain kakak agar bisa dapet rezeki yang lebih, buat kamu melanjutkan sekolah okey." Pinta Dyra dengan mata yang berkaca-kaca, Dirinya akan lemah ketika mengingat memory saat dulu.


Daren mengangguk dan memeluk Dyra, dengan erat Dyra membalasnya.


"Ya sudah kalau begitu kakak berangkat kerja dulu okey, doain kakak agar semuanya lancar." Dyra mencium kening Daren lumayan lama.


Daren mengangguk,"kakak jangan lupa makan yah, kakak juga harus jaga kesehatan kita berjuang bersama-sama kak untuk mencapai pelangi kita," Dyra tersenyum mendengar ucapan adiknya namun tetap mengangguk, " okey shiap boss kecil,Kamu juga jangan lupa istirahat agar cepet pulang kerumah..." Ucap Dyra melambaikan tangan dan beranjak pergi dari ruangan Daren.


Daren menatap sendu kepergian kakaknya, dirinya berjanji akan sekolah sungguh-sungguh agar bisa membanggakan kakakanya serta kedua orangtuanya yang sudah terlebih dahulu disurga.


"Papa,mama, bantu kak Dyra mencari rezeki untuk kehidupan kita berdua. Dan mohon bantu aku agar bisa menyelesaikan keinginanku menjadi Dosen,agar senantiasa bisa mengajar anak-anak yang kurang biaya untuk sekolah. Aku janji kak tidak akan mengecewakan kakak. Akan kubawa kan pelangi untuk kakak setelah badai ini." Gumam Daren menatap pintu yang ditutup oleh Dyra.


****


"Hay Dyra apa kabar?" Sapa salsa teman kerja Dyra yang bertugas di bagian kasir.

__ADS_1


"Hay juga kak" balas sapaan Dyra kepada salsa sambil tersenyum manis, dan langsung pamit menuju kearah dapur karena dia ingin mengambil baju rompi yang memang khusus pekerja disitu.


Terlihat beberapa rekan kerjanya yang sudah terlebih dahulu tiba, mereka tersenyum kearah dirinya, ada juga yang terlihat sinis memandang dirinya. Dyra yang melihat itu pun membalasnya tak kalah ramah dengan senyuman dan sapaan. Biarlah mereka yang sinis kepada dirinya, selagi masih bisa ditolerir dirinya tidak memikirkannya. toh tidak dapat luka kan dari pandangan sinis mereka.


Setelah selesai memakai baju rompi khusus restoran itu, Dyra meletakkan Sling bag beserta baju yang dia pakai di loker dekat dapur.


"Hey hey... Cepet beresin tempat depan,katanya bos besar akan datang hari ini." Suruh Nani, sebagai atasan dibagian waiters.


Mereka semua mengangguk dan segera pergi dari dapur untuk membereskan meja depan.


" Dyra, tolong kamu bantuin Rani bikin sajian untuk menyambut kedatangan boss besar okey, dan nanti tolong antarkan kedepan saat saya sudah memanggil." Dyra yang hampir keluar dari arah dapur pun terpaksa berhenti dan mengikuti arahan yang diberikan oleh Nani," baik mba..." Ucap Dyra dan membantu Rani membuat hidangan penyambutan.


Disini Dyra bekerja sebagai waiters,walau waiters tapi Dyra tidak mengerjakan hanya waiters saja, disini Dyra bisa bekerja membantu didapur, karena masakan Dyra terbilang sangat enak.


Waktu itu Dyra ditawarkan untuk menjadi chef saja, namun Dyra menolaknya dengan alasan Dyra tidak pede dengan masakannya yang terbilang masih minim dibandingkan Rani yang merupakan chef di restoran itu.


"Dyr, tolong bawakan minuman ke depan ke meja nomor 45." Suruh Nani yang datang dengan membawa buku daftar menu.


Dyra dengan cepat menaruh gelas yang sudah berisikan minuman yang dia buat,"okey mba," ucapnya dan pergi berjalan kearah luar dengan langkah hati-hati namun terbilang cepat.


Dyra melihat kearah meja yang disebutkan oleh Nani tadi, Dyra mendongak saat mendengar nama dirinya disebut. Betapa terkejutnya saat melihat keberadaan Damian beserta asistennya yang sedang duduk berdiskusi dengan direktur restoran yang tadinya Dyra kira dialah pemilik resto ini, namun siapa sangka ternyata Damianlah direktur utama restoran tempat bekerjanya. Sesempit itu dunia.


Mata tajam milik Damian bertubrukan langsung dengan mata teduh milik Dyra.


***


Damian yang baru saja masuk kedalam resto milik dirinya pun berjabat tangan dengan pengelolaan restoran miliknya.


"Selamat datang tuan..." Sapa Toni dengan menjabat tangan milik Damian, Damian hanya mengangguk dan duduk ditempat yang sudah disediakan.


"Gimana dengan keuangan bulan ini Ton?" Tanya Damian yang melihat-lihat daftar menu.


"Penghasilan untuk bukan ini sangat melonjak jauh dari bulan kemarin tuan,ini disebabkan oleh masakan yang dibuat oleh salah satu waiters kita." Jelas Toni dengan ramah.


"Sayangnya dia menolak untuk menjadi chef Tuan, dia masih minder dengan masakannya."


Damian mengangguk-angguk," memangnya siapa waiters itu?"


Toni yang melihat Dyra sedang berjalan kearahnya pun menunjuk kearah Dyra,"itu tuan, dia Dyra."


Damian dengan sepontan melihat kearah yang ditunjuk oleh Toni, mata tajamnya bertubrukan langsung dengan mata teduh milik Dyra.


"Ternyata gadis itu."guman Damian yang tak terdengar oleh siapapun.


***


Dyra yang matanya bertubrukan langsung dengan pandangan Damian pun seketika gugup dan tidak fokus dengan nampan yang dirinya bawa oleng dan jatuh menyiram Damian karena terkejutnya.


Byurrr...


Dengan tidak sengaja Dyra menumpahkan minuman yang ,ia bawa.


"Tuan..."


" Tuan Damian...."


Teriak Jhon beserta Toni secara bersamaan.


Brakk...


Damian menggebrak meja dengan keras sehingga membuat semua orang yang berada diruangan itu diam tanpa suara.


Tubuh Dyra bergetar ketakutan mendengar gebrakan meja yang dilakukan Damian." Bisakah anda berkerja secara profesional!" Sarkas Damian dengan nada kerasnya.

__ADS_1


"Maaf tuan...saya tidak sengaja," ucap Dyra menunduk sambil bergumam menyatakan maafnya.


"Maafkan waiters saya tuan,saya berjanji akan memecat dia." Kata Toni dengan takut berhadapan dengan Damian.


"Saya mohon tuan, jangan pecat saya...saya mohon." Pinta Dyra mengatupkan kedua tangannya serta menangis.


"Kau sudah ceroboh memilih karyawan seperti dia!" Ucap Damian pada Toni dengan tajam.


Damian hanya diam dan melepaskan jasnya, "cucikan baju saya sampai bersih!" Ucap Damian melempar jasnya dimeja lalu pergi dari restoran diikuti oleh Jhon.


Dyra mengambil jas milik Damian dan pergi beranjak dari hadapan Toni sebelumnya ia sudah meminta maaf kepada Toni.


"DYRA!!" Panggil Toni dirinya tidak terima dengan ucapan Damian.


Dyra yang tadinya akan masuk kedalam dapur pun segera membalikkan badannya berjalan kearah Toni." I-iya pak..." Jawabnya


Plak....


"Tamparan ini ga sebanding sama malunya saya terhadap tuan Damian!" Sentak Toni dengan keras.


Dyra memegang pipinya yang terkena tamparan dari Toni,"maaf pak, saya tadi tidak sengaja."


"Kamu sudah melakukan hal yang sangat fatal Dyra!,mulai hari ini kamu saya pecat!"


Dyra yang mendengar ucapan Toni pun langsung bersujud memeluk kaki Toni."saya mohon pak,jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini,kalau bisa saya akan menggantikan semua kerugian yang akan diambil tuan Damian," pinta Dyra dengan memeluk kaki Toni.


Dengan tidak punya hatinya, Toni menendang tubuh Dyra dengan keras."saya sudah tidak mau lagi mempunyai karyawan seperti kamu paham!!!" Ucap keras Toni mencengkram erat rahang milik Dyra.


Disitu Dyra hanya menangis tersedu-sedu menahan rasa sakit serta dipermalukan didepan para karyawan lainnya, bersyukurnya restoran kali ini tidak ada pengunjung karena memang masih ditutup.


Para karyawan yang lainnya hanya melihat Dyra kasihan, Meraka tak berani menolong. Mereka tidak mau memiliki nasib seperti Dyra.


"SIAPA YANG BERANI MEMECAT DIA!!"


****


Damian yang sudah sampai di mobil pun merogoh saku celananya dengan gelisah,Jhon yang melihatnya pun segera bertanya." Ada apa tuan? Apakah ada yang ketinggalan."tanya Jhon


"Seperti handphone saya ketinggalan dimeja." Ucap Damian." Yasudah kalau begitu biar saya ambilkan," Jhon beranjak keluar.


"Tunggu Jhon, biar saya saja yang mengambilnya" Jhon mengangguk dan menunggu Damian didalam mobil.


"SIAPA YANG BERANI MEMECAT DIA!!" Bentak keras Damian yang melihat Dyra diperlakukan tidak layak oleh Toni.


"Bangun," suruh Damian melihat kearah Dyra.


Toni yang mendengar bentakan Damian pun terkejut bukan main, dirinya tidak menyangka kalau Damian akan kambali kedalam resto.


"Atas hak apa anda MEMECAT karyawan saya!" Ucap Damian menekan pada kata MEMECAT menatap tajam kearah Toni.


Toni yang ditatap seperti itu tentu saja takut," dia sudah membuat baju anda terserah minuman tuan." Jawab Toni menunduk.


"Apakah atas mempermasalahkan masalah itu?"


Toni menggeleng,"tidak tuan."


"Lantas kenapa anda menginjak-injak karyawan saya?"


Kalah telak, Toni tidak bisa menjawab pertanyaan dari Damian."kamu!" Daikin menunjuk kearah Dyra."Baguskah merendahkan diri tanpa kesalah yang kau perbuat!"


Dyra menggeleng namun tetep menunduk,Damian menggela napas berat." Toni! Anda saya pecat, saya tidak mau mempunyai kepercayaan brengsek seperti anda!"


"Dan kamu Dyra pulang obati lukamu,lalu cuci jas saya dan bawa kealamat rumah saya"

__ADS_1


__ADS_2