
Tiga bulan
kemudian.
“Satu..Dua..Tiga..!”
Evelyn melempar buket bunga pengantinnya ke belakang.
Langsung
terdengar riuh yang berebutan bunga itu.
Pasangan
pengantin membalikkan badannya melihat tamu-tamu yang saling dorong berebut bunga
yang baru saja Evelyn lempar.
Senyum mengembang
di keduanya saat seorang tetangga Jeremy yang mendapatkan bunga itu.
“Satu bunga
tidak cukup. Aku tidak tahu kalau di kampung banyak yang jomblo!” ucap Jeremy
membuat istrinya mendelik.
“Apa maksudmu
bicara begitu?” Nada suara Evelyn tiba-tiba ketus.
“Tidak ada
maksud apa-apa cuma bicara saja.”
“Apa kau mau
menikahi jomblo-jomblo sekampung, begitu?”
“Tidak.”
“Cara
bicaramu begitu! Jadi ini maksudmu mengundang orang satu desa untuk berwisata
di pantai ini? Kau sedang menyeleksi gadis-gadis yang jomblo?”
“Tidak, Sayang.
Tidak begitu.” Jeremy terkejut melihat sikap istrinya yang malah terus-terusan
marah.
“Kau mau
pamer kau punya uang banyak juga?”
“Tidak, Sayang.
Tidak begitu..Kenapa kau jadi galak sekali sekarang? Ingat kau sedang hamil,
jangan marah-marah terus, nanti bayinya jadi pemarah! Aku mau anaknya perempuan
yang cantik bukan yang pemarah!”
Evelyn
memberengut, diapun langsung pergi saja meninggalkan Jeremy.
“Sayang, kau
mau kemana?” teriak Jeremy.
Evelyn tidak
menjawab hanya pergi saja ke pesisir pantai, sambil membuka sepatunya. Jeremy
mengikutinya.
Dua bulan
ini sejak hamil lagi, Evelyn sangat sensitive dan moodnya berubah-ubah, selalu
marah-marah juga curigaan, membuatnya kehawalahan kadang, tapi dia berpikir mungkin karena bawaan bayi dan
badannya tidak nyaman jadi uring-uringan terus.
Padahal waktu
hamil Ayres, Evelyn tidak suka marah-marah seperti sekarang dan manjanyapun
minta ampun, ingin beli ini beli itu, setiap yang disukanya harus dibeli.
Untung saja dia kaya raya, apapun yang diinginkan Evelyn selalu dia penuhi.
Tapi meski
begitu, dia sangat menyayanginya, makanya memilih mengalah. Dia tahu selama ini
banyak membuat istrinya menangis, jadi sekarang dia selalu bertekad untuk membahagiakannya.
“Sayang,
jangan marah begitu. Aku minta maaf.”
“Kau selalu
begitu, aku bosan mendengar kata maafmu. Aku sebal kebiasaanmu tidak bisa berubah.”
“Kebiasaan
yang mana? Aku sudah berubah, Sayang. Tidak ada wanita manapun yang bisa membuatku
berpaling darimu!” Jeremy masih mengikuti kemana kaki istrinya pergi. Kalau
sudah seperti ini, kepalanya terasa mau pecah karena harus mencari cara supaya
istrinya tidak marah lagi dan itu sangat sulit.
Evelyn
berdiri melihat kearah lautan, angin berhembus kencang menerpa rambut dan
__ADS_1
gaunnya. Jeremy langsung memegang tangannya. Meski istrinya marah-marah terus
tidak lantas membuatnya kesal dan mengabaikannya. Dia memahami kalau tiga bulan
pertama masa-masa sulit kehamilan, itu yang Dokter katakan saat memeriksakan
kehamilan istrinya.
“Bukannya
sekarang acara resepsi pernikahan kita?”
“Kenapa bertanya
begitu?”
Jeremy
tersenyum lalu menoleh pada istrinya yang juga menatapnya. Istrinya terlihat
sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Menyesal rasanya dulu tidak membuat
acara pernikahan seperti ini.
“Kau sangat
cantik,” pujinya, membuat senyum istrinya mengembang, membuat Jeremy merasa
senang bukan main. Daritadi istrinya itu terus saja mengomel.
“Kalau kau
tersenyum kau terlihat cantik.”
Evelyn masih
tersenyum menatapnya.
“Apa tidak bisa
kau bersikap seperti ini, daripada kau marah-marah kau kelihatan..”
“Jelek?”
Evelyn langsung cemberut.
Jeremy malah
terkekeh, tapi ternyata istrinya tidak marah, malah tiba-tiba saja mencium
pipinya, membuat Jeremy semakin senang. Kenapa tidak dari tadi saja selembut
ini? Wanita hamil sangat membingungkan!
“Kau bahagia
bersamaku?” tanya Jeremy, memeluk pinggang istrinya.
“Ya.” Evelyn
mengangguk. Jeremy merasa lega, untuk menjaga mood hati istrinya benar-benar
membuatnya merasa sangat kewalahan. Apapun yang dilakukannya harus serba hati-hati
Evelyn balas
memeluk tubuhnya Jeremy, sambil melihat kearah laut. Kalau sikap istrinya sudah
seperti ini, hati kesal Jeremy langsung hilang.
“Aku sangat
mencintaimu,” ucapnya, sambil mencium rambutnya Evelyn yang menyandarkan
kepalanya ke dadanya.
“Rasanya
semua ini seperti terbangun dari mimpi.” Terdengar Evelyn bicara.
“Terkadang
aku berpikir, kenapa harus melewati hari-hari yang pahit akhirnya berubah
menjadi manis.”
“Ya, manis
untuk selamanya. Bertiga, eh berempat!” Satu tangan Jeremy mengusap perut
istrinya yang masih rata.
“Aku ingin
anak perempuan.”
“Laki-laki
atau perempuan sama saja. Mereka pasti lucu-lucu.”
“Seperti Kakaknya.
Eh kemana dia? Dari tadi belum melihatnya?” Jeremy mendadak tegang begitu juga
Evelyn.
“Mungkin
sama Ayah!”
“Ibuuu!
Ayaah!” Tiba-tiba Ayres berlari dari kerumunan orang -orang yang berkumpul
sepanjang pantai itu. Pak Arman dan Pak Kades hanya tersenyum memperhatikan
cucu mereka yang berlari menuju orangtuanya.
“Biar sama
kami! Terimakasih sudah menjaga putraku!” teriak Jeremy pada ayahnya dan ayah
mertuanya.
__ADS_1
Ayres
berlari menghampiri ibunya. “Gendong!”
Jeremy langsung
berjongkok. “Kakak sama Ayah dulu ya, Sayang! Di perut Ibu ada dede bayi. Kaka
kan kakinya suka tidak bisa diam, nanti nendang adik bayi!”
“Habisnya
adik bayi kenapa di perut Ibu terus? Ayah janjikan mau mengajarkan games dengan
adik bayi? Fiuw! Fiuw!” Ayres malah memicingkan matanya dengan dua tangan
menggenggam sambil menembak kearah laut.
Jeremy menatap
putranya dengan haru. Anak kecil yang tampan itu benar-benar membawanya kedalam
kebahagiaan, membuatnya mengerti arti keluarga, cinta dan kasih sayang.
“Anak Ayah,
naik ke bahu Ayah!”
Ayres
langsung menurut naik ke bahunya Jeremy dan memeluk kepala ayahnya itu. Jeremy
langsung berdiri, Evelyn hanya tersenyum saja melihat ayah dan anak itu yang
seperti pinang dibelah dua hanya postur tubuhnya saja yang berbeda.
“Adik bayi kapan keluarnya? Aku tidak sabar Ayah memberiku tembakan
perang.”
“Kau yang sabar, setelah adik bayi lahir, ayah berikan tembakan
perang.”
“Ah masih lama! Disekolah teman-teman tidak punya adik bayi
punya tembakan Perang.” Ayres berceloteh, sambil menempelkan dagunya ke
kepalanya Jeremy.
Satu tangan Jeremy memeluk pinggangnya Ayres. Satunya lagi merapihkan
rambut istrinya yang tertiup angin kencang yang baru saja lewat.
“Bukan tidak punya adik bayi. Adik bayinya ditinggal di
rumah, tidak dibawa ke sekolah,” jawab Jeremy.
“Ooh..”
Mendengar percakapan Ayah dan anak itu membuat Evelyn ingin
tertawa. Dia memang tidak suka kalau Ayres memegang mainan tembakan, jadi
berusaha untuk tidak membelikannya.
“Tapi kalau menunggu adik bayi lama, aku ketinggalan dari
temanku, Yah!”
“Tentu saja tidak, nanti Ayah ajarkan cara menembak yang jitu.”
“Ah lama..” Ayres kembali mengeluh.
Tangan Evelyn memegang pantatnya Ayres. “Tidak akan lama.
Kakak rajin belajar, naik kelas, adik bayi lahir.”
“Baju polisinya sudah boleh beli kan, Bu?”
“Iya nanti Ibu belikan.”
“Aku akan mengajak adik bayi untuk menumpas kejahatan di bumi
ini.”
“Kau besar dulu, nanti kau jadi polisi.”
Terdengar lagi suara Ayres memeragakan tembakan. Entah kenapa
anak itu begitu ingin menjadi polisi, yang dalam kehidupan nyata malah menjadi
musuh ayahnya.
Tangan Evelyn memeluk pinggangnya Jeremy, yang langsung mencium
keningnya.
“Aku senang kita selalu bersama,” ucap Jeremy.
“Aku juga!” Evelyn balas mencium pipinya Jeremy.
“Aku mencintaimu,” lanjutnya.
“Aku juga mencintaimu juga Ayres dan bayi yang belum lahir.
Kalian orang-orang yang sangat berarti buatku.”
Satu tangan Jeremy beralih menggenggam tangannya Evelyn
dengan erat, menggenggam tangan wanita yang dicintainya, satu-satunya ratu yang
ada di hati dan dalam hidupnya. Tidak akan pernah ada satu wanitapun yang bisa
menggantikannya.
Diciumnya tangan istrinya itu, membuat Evelyn menoleh padanya
dan kembali tersenyum bahagia. Merekapun terus berjalan menikmati sore hari
yang indah. Sore yang terasa hangat, sehangat hati mereka.
TAMAT
__ADS_1