Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-84 Selalu Bersama ( End )


__ADS_3

Tiga bulan


kemudian.


 “Satu..Dua..Tiga..!”


Evelyn melempar buket bunga pengantinnya ke belakang.


Langsung


terdengar riuh yang berebutan bunga itu.


Pasangan


pengantin membalikkan badannya melihat tamu-tamu yang saling dorong berebut bunga


yang baru saja Evelyn lempar.


Senyum mengembang


di keduanya saat seorang tetangga Jeremy yang mendapatkan bunga itu.


“Satu bunga


tidak cukup. Aku tidak tahu kalau di kampung banyak yang jomblo!” ucap Jeremy


membuat istrinya mendelik.


“Apa maksudmu


bicara begitu?” Nada suara Evelyn tiba-tiba ketus.


“Tidak ada


maksud apa-apa cuma bicara saja.”


“Apa kau mau


menikahi jomblo-jomblo sekampung, begitu?”


“Tidak.”


“Cara


bicaramu begitu! Jadi ini maksudmu mengundang orang satu desa untuk berwisata


di pantai ini? Kau sedang menyeleksi gadis-gadis yang jomblo?”


“Tidak, Sayang.


Tidak begitu.” Jeremy terkejut melihat sikap istrinya yang malah terus-terusan


marah.


“Kau mau


pamer kau punya uang banyak juga?”


“Tidak, Sayang.


Tidak begitu..Kenapa kau jadi galak sekali sekarang? Ingat kau sedang hamil,


jangan marah-marah terus, nanti bayinya jadi pemarah! Aku mau anaknya perempuan


yang cantik bukan yang pemarah!”


Evelyn


memberengut, diapun langsung pergi saja meninggalkan Jeremy.


“Sayang, kau


mau kemana?” teriak Jeremy.


Evelyn tidak


menjawab hanya pergi saja ke pesisir pantai, sambil membuka sepatunya. Jeremy


mengikutinya.


Dua bulan


ini sejak hamil lagi, Evelyn sangat sensitive dan moodnya berubah-ubah, selalu


marah-marah juga curigaan, membuatnya kehawalahan kadang, tapi  dia berpikir mungkin karena bawaan bayi dan


badannya tidak nyaman jadi uring-uringan terus.


Padahal waktu


hamil Ayres, Evelyn tidak suka marah-marah seperti sekarang dan manjanyapun


minta ampun, ingin beli ini beli itu, setiap yang disukanya harus dibeli.


Untung saja dia kaya raya, apapun yang diinginkan Evelyn selalu dia penuhi.


Tapi meski


begitu, dia sangat menyayanginya, makanya memilih mengalah. Dia tahu selama ini


banyak membuat istrinya menangis, jadi sekarang dia selalu bertekad untuk membahagiakannya.


“Sayang,


jangan marah begitu. Aku minta maaf.”


“Kau selalu


begitu, aku bosan mendengar kata maafmu. Aku sebal kebiasaanmu tidak bisa berubah.”


“Kebiasaan


yang mana? Aku sudah berubah, Sayang. Tidak ada wanita manapun yang bisa membuatku


berpaling darimu!” Jeremy masih mengikuti kemana kaki istrinya pergi. Kalau


sudah seperti ini, kepalanya terasa mau pecah karena harus mencari cara supaya


istrinya tidak marah lagi dan itu sangat sulit.


Evelyn


berdiri melihat kearah lautan, angin berhembus kencang menerpa rambut dan

__ADS_1


gaunnya. Jeremy langsung memegang tangannya. Meski istrinya marah-marah terus


tidak lantas membuatnya kesal dan mengabaikannya. Dia memahami kalau tiga bulan


pertama masa-masa sulit kehamilan, itu yang Dokter katakan saat memeriksakan


kehamilan istrinya.


“Bukannya


sekarang acara resepsi pernikahan kita?”


“Kenapa bertanya


begitu?”


Jeremy


tersenyum lalu menoleh pada istrinya yang juga menatapnya. Istrinya terlihat


sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Menyesal rasanya dulu tidak membuat


acara pernikahan seperti ini.


“Kau sangat


cantik,” pujinya, membuat senyum istrinya mengembang, membuat Jeremy merasa


senang bukan main. Daritadi istrinya itu terus saja mengomel.


“Kalau kau


tersenyum kau terlihat cantik.”


Evelyn masih


tersenyum menatapnya.


“Apa tidak bisa


kau bersikap seperti ini, daripada kau marah-marah kau kelihatan..”


“Jelek?”


Evelyn langsung cemberut.


Jeremy malah


terkekeh, tapi ternyata istrinya tidak marah, malah tiba-tiba saja mencium


pipinya, membuat Jeremy semakin senang. Kenapa tidak dari tadi saja selembut


ini? Wanita hamil sangat membingungkan!


“Kau bahagia


bersamaku?” tanya Jeremy, memeluk pinggang istrinya.


“Ya.” Evelyn


mengangguk. Jeremy merasa lega, untuk menjaga mood hati istrinya benar-benar


membuatnya merasa sangat kewalahan. Apapun yang dilakukannya harus serba hati-hati


Evelyn balas


memeluk tubuhnya Jeremy, sambil melihat kearah laut. Kalau sikap istrinya sudah


seperti ini, hati kesal Jeremy langsung hilang.


“Aku sangat


mencintaimu,” ucapnya, sambil mencium rambutnya Evelyn yang menyandarkan


kepalanya ke dadanya.


“Rasanya


semua ini seperti terbangun dari mimpi.” Terdengar Evelyn bicara.


“Terkadang


aku berpikir, kenapa harus melewati hari-hari yang pahit akhirnya berubah


menjadi manis.”


“Ya, manis


untuk selamanya. Bertiga, eh berempat!” Satu tangan Jeremy mengusap perut


istrinya yang masih rata.


“Aku ingin


anak perempuan.”


“Laki-laki


atau perempuan sama saja. Mereka pasti lucu-lucu.”


“Seperti Kakaknya.


Eh kemana dia? Dari tadi belum melihatnya?” Jeremy mendadak tegang begitu juga


Evelyn.


“Mungkin


sama Ayah!”


“Ibuuu!


Ayaah!” Tiba-tiba Ayres berlari dari kerumunan orang -orang yang berkumpul


sepanjang pantai itu. Pak Arman dan Pak Kades hanya tersenyum memperhatikan


cucu mereka yang berlari menuju orangtuanya.


“Biar sama


kami! Terimakasih sudah menjaga putraku!” teriak Jeremy pada ayahnya dan ayah


mertuanya.

__ADS_1


Ayres


berlari menghampiri ibunya. “Gendong!”


Jeremy langsung


berjongkok. “Kakak sama Ayah dulu ya, Sayang! Di perut Ibu ada dede bayi. Kaka


kan kakinya suka tidak bisa diam, nanti nendang adik bayi!”


“Habisnya


adik bayi kenapa di perut Ibu terus? Ayah janjikan mau mengajarkan games dengan


adik bayi? Fiuw! Fiuw!” Ayres malah memicingkan matanya dengan dua tangan


menggenggam sambil menembak kearah laut.


Jeremy menatap


putranya dengan haru. Anak kecil yang tampan itu benar-benar membawanya kedalam


kebahagiaan, membuatnya mengerti arti keluarga, cinta dan kasih sayang.


“Anak Ayah,


naik ke bahu Ayah!”


Ayres


langsung menurut naik ke bahunya Jeremy dan memeluk kepala ayahnya itu. Jeremy


langsung berdiri, Evelyn hanya tersenyum saja melihat ayah dan anak itu yang


seperti pinang dibelah dua hanya postur tubuhnya saja yang berbeda.


“Adik bayi kapan keluarnya? Aku tidak sabar Ayah memberiku tembakan


perang.”


“Kau yang sabar, setelah adik bayi lahir, ayah berikan tembakan


perang.”


“Ah masih lama! Disekolah teman-teman tidak punya adik bayi


punya tembakan Perang.” Ayres berceloteh, sambil menempelkan dagunya ke


kepalanya Jeremy.


Satu tangan Jeremy memeluk pinggangnya Ayres. Satunya lagi merapihkan


rambut istrinya yang tertiup angin kencang yang baru saja lewat.


“Bukan tidak punya adik bayi. Adik bayinya ditinggal di


rumah, tidak dibawa ke sekolah,” jawab Jeremy.


“Ooh..”


Mendengar percakapan Ayah dan anak itu membuat Evelyn ingin


tertawa. Dia memang tidak suka kalau Ayres memegang mainan tembakan, jadi


berusaha untuk tidak membelikannya.


“Tapi kalau menunggu adik bayi lama, aku ketinggalan dari


temanku, Yah!”


“Tentu saja tidak, nanti Ayah ajarkan cara menembak yang jitu.”


“Ah lama..” Ayres kembali mengeluh.


Tangan Evelyn memegang pantatnya Ayres. “Tidak akan lama.


Kakak rajin belajar, naik kelas, adik bayi lahir.”


“Baju polisinya sudah boleh beli kan, Bu?”


“Iya nanti Ibu belikan.”


“Aku akan mengajak adik bayi untuk menumpas kejahatan di bumi


ini.”


“Kau besar dulu, nanti kau jadi polisi.”


Terdengar lagi suara Ayres memeragakan tembakan. Entah kenapa


anak itu begitu ingin menjadi polisi, yang dalam kehidupan nyata malah menjadi


musuh ayahnya.


Tangan Evelyn memeluk pinggangnya Jeremy, yang langsung mencium


keningnya.


“Aku senang kita selalu bersama,” ucap Jeremy.


“Aku juga!” Evelyn balas mencium pipinya Jeremy.


“Aku mencintaimu,” lanjutnya.


“Aku juga mencintaimu juga Ayres dan bayi yang belum lahir.


Kalian orang-orang yang sangat berarti buatku.”


Satu tangan Jeremy beralih menggenggam tangannya Evelyn


dengan erat, menggenggam tangan wanita yang dicintainya, satu-satunya ratu yang


ada di hati dan dalam hidupnya. Tidak akan pernah ada satu wanitapun yang bisa


menggantikannya.


Diciumnya tangan istrinya itu, membuat Evelyn menoleh padanya


dan kembali tersenyum bahagia. Merekapun terus berjalan menikmati sore hari


yang indah. Sore yang terasa hangat, sehangat hati mereka.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2