
Jeremy langsung menelpon Ryan.
“Cari istriku!” perintahnya.
“Mencarinya kemana? Aku tidak tahu harus mencari kemana,” ujar Ryan.
“Terserah kau mau mencarinya kemana!” teriak Jeremy, dia cemas.
Cemas bukan karena mencemaskan Evelyn tapi dia mencemaskan kalau sampai ayahnya menelpon dan ingin bicara dengan istrinya, apa yang akan dikatakannya?
Dia sangat kesal, kenapa Evelyn sampai kabur dari rumah, padahal dia sudah memberinya banyak uang, mau apa lagi?
“Masalahnya istrimu tidak ada saudara disini kan? Aku tidak jelas mau mencari kemana!” kata Ryan dengan bingung.
“Kalau jelas, aku tidak akan menyuruhmu mencarinya!” teriak Jeremy dengan keras.
Selena sampai tersentak kaget melihatnya, begitu paniknya pria itu mencari wanita itu, sebegitu pentingkah wanita itu bagi Jeremy? Lagi-lagi hatinya terbakar cemburu. Dia tahu pekerjaannya hanya untuk memuaskan nafsu pria itu, tapi disisi lain dia juga menyukainya.
Jeremy pelanggannya yang tidak terlalu banyak keluhan bahkan termasuk sempurna. Dia tampan dan gagah, dia single, dia juga royal dengan uangnya, memberikan uang begitu banyak padanya tanpa tuntutan apa-apa selain bisa membuatnya puas saja.
Ditatapnya pria yang terus saja mondar-mandir sambil mengomel pada Ryan.
“Coba kau tanya-tanya ke Bibi, ke Satpam, terserah aku tidak mau apa yang kau lakukan! Pokoknya cepat temukan dia!” teriak Jeremy lagi, lalu menutup ponselnya.
“Tidak bisakah kau tidak perlu berteiak-teriak?” tanya Selena.
“Diam kau!” bentak Jeremy.
Selenapun akhirnya diam, mungkin hanya itu kekurangannya Jeremy, dia termasuk pria yang kasar dan suka memaki. Akhirnya Selen tidak bicara lagi, dia memilih berbaring saja dan tidur.
Jeremy menoleh kearah Selena, tapi yang dia fikirkan Evelyn.
Meskipun bingung, Ryan tetep melaksanakan perintahnya Jeremy. Dia bertanya pada Bibi dan Satpam tapi tidak ada yang tahu kemana Evelyn pergi. Ke mal-mal sekitar yang dekatpun yang sekira tempat nongkrong makan atau belanja, disusurinya untuk mencari Evelyn. Alhasil wanita itu tidak ditemukan juga sampai esok harinya.
“Bagaimana?” tanya Jeremy pada Ryan, saat tiba di rumahnya dimalam harinya.
“Belum ketemu!” jawab Ryan.
“Dasar bodoh!” maki Jeremy.
Ryanpun diam, dia sudah biasa di maki-maki oleh Jeremy seperti itu. Dia juga bingung harus mencari kemana sedangkan tidak ada petunjuk sama sekali.
Selena sudah berdandan cantik malam itu, langsung menyambut Jeremy yang baru pulang.
__ADS_1
“Kenapa kau masih marah-marah juga dari kemarin? Aku sudah memesan tempat untuk kita makan,” kata Selena.
Jeremy menoleh pada Selena. Jauh sekali wanita itu dengan Evelyn yang bersusah payah memasak makanan yang enak untuk dirinya, sedangkan Selena tahunya berkuliner di tempat-tempat mewah.
“Kau pergi saja sendiri, aku pulang sekarang,” kata Jeremy, tentu saja Selena terkejut.
“Bukannya kita akan malan malam?” tanya Selena.
“Kau pergi saja sendiri,” ujar Jeremy, sambil menelpon seseorang dan membicarakan perkerjaannya, tanpa menghiraukan Selena. Kakinya melangkah begitu cepat sambil berbicara di telpon.
Selanapun terdiam, dia merasa tidak berarti apa-apa bagi Jeremy, pria itu sama sekali tidak berubah meskipun dia sudah menyatakan cintanya tapi Jeremy masih bersikap seperti itu, tidak ada perhatian lebih hanya uang saja yang royal.
Apapun yang dimintanya selalu diberikannya. Kenapa tidak dia saja yang memiliki Jeremy? Kenapa Jeremy harus menikah dengan wanita lain? Apa kurangnya dia?
Selenapun duduk di sofa dengan lesu, seharusnya dia profesioanal dengan pekerjaannya dan tidak jatuh cinta pada Jeremy.
Selena menghela nafas panjang, dia ingin tahu apa Jeremy benar-benar akan pulang atau tidak, ternyata benar, Jeremy langsung pulang malam itu juga.
Bahkan tanpa banyak bicara, pria itu keluar begitu saja melupakan kalau dia masih ada di rumah itu.
Sepanjang jalan Jeremy merasa gelisah memikirkan kenapa Evelyn pergi dari rumah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan ayahnya jika tahu kalau istrinya itu minggat dari rumah. Kenapa Evelyn bersikap yang aneh-aneh? Kenapa wanita itu malah menyusahkannya?
Dini hari Jeremy sampai di rumahnya, dia langsung saja berteriak-teriak pada Satpam dan Bibi.
“Tidak Pak, Ibu tidak bilang apa-apa!” jawab Bibi, gemetaran.
“Harusnya kau menahannya, laporan padaku!” teriak Jeremy.
“Kan Bapak tidak memberikan nomor yang akan dihubungi, Bapak juga tidak meninggalkan pesan itu sebelum pergi ke Hongkong, Bibi ga berani menghubungi Bapak,” kata Bibi.
Jeremypun diam, dia memang meninggalkan rumah ini tidak peduli apapun soal Evelyn, tidak pernah berfikir kalau wanita itu akan pergi. Dia heran uang sudah diberikan begitu banyak tapi ternyata Evelyn pergi begitu saja.
Tidak berapa lama Ryan segera datang kerumahnya, karena sebelumnya sudah di telpon.
“Aku masih mengantuk,” ucap Ryan.
“Kerjamu tidak becus! Kau tidak bisa mengerahkan orang untuk mencarinya?” bentak Jeremy, langsung memaki Ryan yang baru datang.
Sebenarnya Ryan kesal selalu dimaki Jeremy jika hasil pekerjaannya tidak disukainya tapi dia hanya bisa menerima karena dia bergantung penghasilan dari Jeremy juga perlindungan keselamatannya diantara geng di dunia hitam mereka.
“Istrimu sendirian disini, kau sendiri suaminya tidak tahu menahu kira-kira dia pergi kemana, apalagi aku? Anak- anak sudah mencari ke tempat yang kira-kira dikunjungi perempuan,” kata Ryan, menahan marah dihatinya, dia mendendam karena Jeremy selalu semena-mena dan meremehkannya.
“Kau memang tidak becus!” maki Jeremy lagi, membuat Ryan diam, percuma berdebat dengan Jeremy.
__ADS_1
“Jadi kita akan mencari kemana lagi? Aku siap mengerahkan anak-anak,” kata Ryan kemudian.
Meskipun Ryan tidak suka pada Jeremy, tapi dia harus menjilatnya demi banyaknya uang yang terus mengalir ke kantongnya.
Jeremy terdiam dengan bingung, dia tidak menjawab. Dia segera beranjak tanpa bicara apa-apa lagi pada Ryan.
Saat masuk ke dalam kamarnya, tentu saja sepi karena Eveyn juga kadang tidak ada di dalam kamar itu. Dia benar-berna bingung mau mencari kemana? Dia dibela-belain meninggalkan pekerjaannya di Hongkong demi mencari wanita itu. Kalau tahu begini lebih baik membawa Evelyn ke Hongkong saja.
Tiba-tiba Jeremy teringat kalau Evelyn diterima bekerja, tapi dia tidak tahu istrinya itu bekerja dimana.
Diedarkannya pandangannya keseluruh ruangan tapi tidak ada tanda-tanda apapun jejak yang ditinggalkan istrinya, kemudian teringat kalau Evelyn menyimpan barangnya di kamar sebelah. Diapun segera keluar dari kamar itu menuju kamar yang biasa Evelyn tempati.
Pintu kamar itu di dorongnya dan ternyata tidak dikunci. Jeremy melihat kesekeliling kamar itu yang rapih, diapun membuka lemari-lemari yang ada disana dan ternyata tidak semua pakaian yang dibawa Evelyn. Yang pasti pakaian kerja tidak ada yang tersisa.
Dimana kira-kira Evelyn bekerja? Jeremy membuka-buka laci barangkali ada jejak yang mengarah pada keberadaannya Evelyn, dan saat membuka laci lemari itu dia melihat beberapa berkas lamaran kerja.
Dengan tergesa-gesa dibacanya satu-satu, ada beberapa perusahaan tapi dimana Evelyn bekerja? Ah tidak masalah, dia akan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari istrinya ke perusahaan-perusahaan itu, meskipun mungkin sangat beresiko berurusan dengan polisi, dia tidak peduli, pokoknya Evelyn harus ditemukan.
Jeremy membawa berkas-berkas lamaran kerja itu lalu keluar dari kamarnya Evelyn langsung menemui Ryan.
“Nanti pagi kerahkan semua anak-anak untuk mencari istriku ke perusahaan-perusahaan itu! Bantai saja bagi siapapun yang melawan atau lapor polisi!” perintahnya pada Ryan sambil melempar berkas itu diatas meja.
Ryan mengambilnya dan membacanya.
“Jadi kau tidak tahu istrimu bekerja dimana?” tanya Ryan.
“Mana aku tahu! Aku tidak peduli dia bekerja dimana!” jawab Jeremy.
“Apa kau tidak memberinya uang sampai dia bekerja begini?” tanya Ryan.
“Sudah! Tapi dia itu…, entahlah dia itu wanita jenis apa, sudah diberi uang masih mencari pekerjaan! Merepotkan diri sendiri!” gerutu Jeremy.
“Oke, kita bergerak jam 9 pagi,” kata Ryan.
“Bagaimana kalau dia ditemukan, apa aku harus membawanya kemari?” tanya Ryan kemudian.
“Tidak, tidak! Jangan menyentuhnya! Aku yang akan menjemputnya!” jawab Jeremy.
“Oke!” jawab Ryan, sambil memanggil berkas lamaran kerja itu lalu keluar meninggalkan rumahnya Jeremy.
Jeremy duduk di sofa dengan kesal, dia benar-benar marah pada Evelyn yang seenaknya pergi dari rumah. Bagaimana kalau Evelyn tidak ditemukan? Apa yang harus dikatakannya pada ayahnya?
****
__ADS_1