
Perjalanan ke Hongkongpun ternyata tidak mudah, Evelyn muntah tidak henti-hentinya, dia mabuk perjalanan belum kepalanya yang terasa begitu pusing keleyengan. Pramugari yang menemani perjalanan mereka malah sibuk membuang dan membersihkan muntahnya Evelyn yang tidak bisa ditahannya sampai ke toilet.
Jeremy yang duduk disampingnya sampai kewalahan menanganinya, memegang tubuhnya saat akan jatuh dan muntah. Untung saja mereka menggunakan pesawat pribadi yang entah Jeremy dapatkan darimna, hanya penumpangnya cuma mereka bertiga saja dengan Ryan, tapi setidaknya tidak mengganggu penumpang yang lain, hanya Ryan tampak meringis sesekali menahan bau asam dan apalah dia juga tidak mengerti tapi dia tidak ikut campur soal itu.
Pakaian Jeremy yang sedari rumah begitu rapih, sekarang kemejanya kusut bahkan keluar dari celananya karena mengurus isrinya yang terus muntah-muntah.
Diliriknya Evelyn yang berbaring disampingnya dengan kursi yang sedikit direndahkan supaya Evelyn merasa nyaman, selimut tebal menutupi sampai bahu. Wajahnya sangat pucat dan berkeringat dingin, rambutnyapun basah.
Jeremy menyandarkan tubuhnya kekursinya yang posisinya sama dengan Evelyn. Dilihatnya wanita yang sedang memejamkan matanya itu. Dalam hatinya menghitung berapa kali istrinya itu muntah. Untung dia membawa banyak baju jadi gampang ganti kalau terkena muntahannya Evelyn.
Jeremy menatap wajah pucat itu, terlihat wajah itu begitu lelah, apa sekuat itu rasa sakit karena hamil? Apa semua wanita yang hamil mengalami hal itu? Jeremy merubah posisi tidurnya menatap wajah yang terpejam itu. Sama sekali tidak pernah terbayangkan kalau dia akan serepot ini mengurus wanita hamil.
Satu menit, dua menit, tiga menit, entah berapa lama dia menatap wajah itu. Bukan tatapan hasrat ingin menidurinya, dia hanya ingin menatapnya saja. Tidak ada yang dilakukannya, sekali lagi hanya menatapnya saja.
Wanita ini begitu menyita hari-harinya, yang biasanya hari-harinya dengan wanita-wanita itu dihabiskan ditempat tidur, tidak kali ini. Dengan wanita hamil ini dia juga harus mengurus muntahnya, wanita pertama yang mengandung anaknya.
Kemudian Jeremy berfikir, dia selalu gonta ganti pasangan, apakah dari wanita yang pernah ditidurinya itu ada yang hamil? Tapi selama ini tidak pernah ada yang menuntutnya dan memberitahunya kalau dia sedang hamil anaknya, atau mungkin mereka memilih menggugurkannya karena tidak mau berurusan dengannya? Atau tidak mau repot seperti yang wanita ini lakukan?
Kalau ada yang hamil olehnya tidak mungkin tidak datang padanya dan minta uang, bahkan mungkin juga akan memerasnya meminta uang dalam jumlah yang besar.
Jeremy merubah berbaringnya melipat satu tangannya dibawah kepalanya menatap langit-langit, tiba-tiba dia merasakan gerakan disampingnya, diapun menoleh ternyata Evelyn bergerak tapi maih tertidur, tangan kirinya mengulur menyentuh tubuh wanita itu, mengusapnya sebentar membuat wanita itu kembali diam.
Ryan yang duduk agak berjauhan dari mereka hanya memperhatikan saja. Apa dia tidak salah lihat? Jeremy terlihat semakin perhatian pada istrinya, seharusnya Selena melihat ini, dan berhenti berharap pada Jeremy.
Meskipun melewati menit-menit yang begitu menyiksa selama di pesawat, akhirnya pesawat juga mendarat dan kini mereka sudah menggunakan mobil menyusuri jalanan yang begitu ramai.
Evelyn bersandar di jok mobil itu melihat kearah jendela, ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Hongkong, yang ada dibenaknya ketika mendengar nama Hongkong adalah banyaknya mafia di dunia hitam, fikirannya langsung saja merasa pusing, mengingat sudah dipastikan Jeremy salah satu dari mafia itu dan pria itu menginginkana anaknya meneruskan pekerjaannya kelak, sungguh cita-cita yang membuatnya serasa copot jantung setiap saat.
Membayangkan anaknya setiap saat nyawanya terancam, ah sungguh bukan bayangan yang bagus. Tapi apa mau dikata? Dia menikah dengan pria yang mempunyai pekerjaan seperti itu.
“Sebenarnya apa pekerjaanmu?” tanya Evelyn, tanpa menoleh pada Jeremy.
“Tidak perlu tahu apa pekerjaanku, kau diam saja dirumah, aku akan memberimu uang yang banyak, tidak perlu cerewet! Wanita biasanya sukanya begtu! Tidak perlu bertanya darimana uang itu!” jawab Jeremy sambil mengetikkan pesan diponselnya.
Evelyn menoleh pada Jeremy, menatap pria tampan yang duduk disampingnya itu.
“Apa suatu saat kau akan mencintaiku dan anakku?” tanya Evelyn, membuat Jeremy menoleh.
“Kau mulai melantur lagi. Sudah diam saja, aku tidak mau kau terlalu lelah dan sakit akhirnya membahayakan kandunganmu!” Jeremy kembali melihat ponselnya.
__ADS_1
Evelynpun diam melihat reaksi pria itu, sebenarnya dia ingin suami yang mencintainya dan mencintai anaknya nanti, tapi sepertinya memang Jeremy tidak peduli apalagi memikirkan untuk berusaha mencintainya.
Evelyn menoleh lagi kearah jendela melihat keramaian disepanjang jalan itu.
Dia terkejut saat merasakan tangan Jeremy menyentuh keningnya.
“Apa kau demam?” tanyanya.
“Tidak, aku hanya pusing saja dan lemas!”
Jeremy tidak bicara lagi, dia hanya menekan beberapa nomor di ponselnya.
“Panggilkan Dokter kandungan kerumahku! Istriku sakit!”
Evelyn kembali menoleh pada pria itu, bukankah sebenarnya pria itu sudah menunjukkaan perhatian padanya? Perhatian padanya atau pada bayinya? Jeremy menutup ponselnya dan menoleh lagi kearahnya.
“Nanti Dokter akan memeriksamu, aku tidak mau kau sakit!”
“Kau mengkhawatirkanku atau bayimu?”
“Tentu saja bayiku,” jawab Jeremy, membuat Evelyn kecewa, pria itu tidak mengkhawatirkannya ternyata malah khawatir pada bayinya saja.
“Tidak penting membahas itu!” jawab Jeremy, tanpa menoleh.
Evelyn tidak menjawab, dia kembali menyandarkan punggung dan kepalanya di miringkan ke jok, kepalanya terasa pusing semakin pusing saja, benar-benar awal kehamilan yang sangat menyiksanya.
Dia terkejut lagi saat merasakan tubuhnya tiba-tiba bergeser, tangan Jeremy menarik bahunya lebih mendekat lalu menarik kepalanya supaya bersandar ke bahu pria itu.
Evelyn sejenak tertegun dengan apa yang terjadi, pria itu menyuruhnya bersandar di bahunya? Kenapa perhatian kecil itu terasa membahagiakannya? Meskipun setelah itu Jeremy kembali sibuk dengan ponselnya.
Sekarang Evelyn melihat keluar jendela lewat jendela di samping Jeremy sambil bersandar kebahunya pria itu yang terasa begitu kokoh, meskipun seharusnya Jeremy memeluk pinggangnya juga tapi tidak apalah segini juga sudah ada perubahan yang baik.
Setelah melewati beberapa jam perjalanan, mobil mewah itu memasuki gerbang tinggi dengan beberapa satpam yang berbeda dari satpam umumnya, mereka para pria bertubuh tinggi dan kekar, terlihat sekali sangat sangar.
Terdengar ponsel Jeremy berbunyi, pria itu langsung menerima panggilan itu.
“Apa? Hem? Kau serius? Kau melihat orang-orangnya Tiger itu mengambil konsumen kita? Awasi terus, rupanya dia semakin berani main-main denganku!” gerutunya.
Evelyn mengangkat kepalanya dan menatap Jeremy, kenapa perkataan itu membuatnya merasa semakin takut saja dengan pekerjaannya Jeremy.
__ADS_1
Ditatapnya pria itu, “Kau melakukan pekerjaan yang berbahaya?”
“Sudah aku katakan jangan ikut campur pekerjaan laki-laki. Wanita hanya diam saja dirumah dan menerima uang. Apa susahnya begitu? Aku tidak suka dicereweti. Kenapa aku pergi dari rumah? Karena aku kesal selalu di omeli orangtuaku, telingaku panas setiap hari!” Jeremy kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Mereka cerewet karena mereka menyayangimu! Aku cerewet karena aku istrimu, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu!”
“Sudahlah, aku sudah terbiasa dengan pekerjaanku, tidak perlu berlebihan!”
“Aku hanya merasa khawatir saja..”
“Tidak bisakah kau jadi wanita seperti yang lainnya? Hanya melayani dan menerima uang? Apa susahnya begitu? Tidak perlu berfikir macam-macam, jangan membuat repot sendiri!”
Evelyn akhirnya diam tapi mesih menatap wajah itu, wajah yang lama semakin lama semakin menempel dibenaknya karena mereka tinggal bersama meskipun di beberapa bulan belakangan Jeremy meninggalkannya ke Hongkong.
Tiba-tiba dia terkejut lagi saat Jeremy menoleh padanya membuat tatapan mereka bertemu. Evelyn menatap mata itu, entah pemikiran apa yang tersirat dimata itu.
Jeremy menatap wajah pucat di depannya, bukan dia tidak peduli dengan ucapannya Evelyn. Wanita itu adalah wanita pertama yang tidak memikirkan uangnya tapi memikirkan dirinya.
Dilihatnya wajah itu semakin pucat saja, Evelyn sebenarnya ingin membuang muka tapi lehernya terasa berat, dia hanya terpaku dan diam saat Jeremy mencium bibir pucatnya dengan lembut. Ciuman itu tarasa begitu manis dibibirnya, ciuman yang tidak seperti biasanya yang penuh nafsu, ciumannya terasa begitu manis, sangat manis.
Beberapa saat kemudian dirasanya pria itu melepaskan ciumannya, menjauhkan wajahnya tapi masih menatapnya,“Aku hanya minta jaga bayiku dengan baik.”
Evelyn juga masih menatap mata itu, ada kesungguhan perkataan dari ucapan dan tatapan mata itu. Jeremy sangat menginginkan bayinya.
******
Readers adakah yang membaca novelku di F? Mohon maaf aku sangat ngantuk semalam sehingga banyak typo berantakan diakhir bab sampai nulis yang tidak ada kaitannya dengan cerita.
Aku sudah jadwalkan untuk di F aku nulisnya setiap jam 2 malam, sore di MT. Sebenarnya harusnya tamat tapi diminta dilanjut.
Yang belum baca boleh mampir, meskipun tidak banyak yang baca tapi masuk seleksi mendapat reward best performance, semoga dapat, dan tadi sudah lolos seleksi dapat rekomend di ig F.
Buat yang dukung semua karyaku terimakasih banyak.
Yang tidak suka, tidak perlu nyinyir, abaikan saja.
***
****
__ADS_1