
Keesokan harinya Evelyn sudah bersiap-siap pergi ke kantor Jeremy. Sebenarnya tubuhnya terasa lelah karena rasa mual masih sering menyerangnya. Ditatapnya dirinya di depan cermin, wajahnya sangat pucat karena sudah muntah berkali-kali.
Disentuhnya perutnya, diusapnya dengan lembut. Mulai hari ini dia akan menggantikan Jeremy, memimpin perusahaan otomotifnya. Dia sama sekali tidak ada pengalaman dibidang otomotif tapi dia harus bisa karena perusahaan itu milik suaminya yang harus tetap berjalan selama Jeremy mengalami koma. Ada banyak orang yang mengandalkan hidupnya mencari nafkah bekerja diperusahaannya Jeremy.
“Sayang, hari ini Ibu akan mengajakmu jalan-jalan melihat kantor Ayahmu. Baik-baiklah diperut Ibu, sayang, biar semua urusan berjalan lancar,” gumamnya sambil terus mengusap perutnya perlahan. Sebenarnya dia ingin istirahat di rumah tapi dia tidak boleh mengabaikan pekerjaan penting yang sedang menantinya.
Satu jam kemudian Pak Candra datang untuk menjemput Evelyn. Tidak banyak yang Evelyn tanyakan, dia masih merasa bingung dengan kenyataan ini. Jeremy sang mafia ternyata seorang CEO, pemilik perusahaan besar yang go internasional. Sangat disayangkan pria itu juga menjalani bisnis yang illegal dan sangat beresiko.
Saat berada didalam mobilnya, dari kejauhan terlihat banyak gedung menjulang tinggi yang begitu kokoh. Awalnya Evelyn tidak berpikir kalau mobil yang mereka tumpangi akan memasuki salah satu gedung menjulang tinggi itu.
Dilihatnya di bangunan pertama sebuah bangunan besar dengan berdinding kaca yang sangat luas, didalamnya terdapat banyak jenis mobil keluaran terbaru.
“Ini kantornya Pak Jeremy?” tanya Evelyn, melongokkan kepalanya kedekat jendela kaca mobil saat mobil itu berhenti di depan bangunan berdinding kaca itu.
Seorang satpam langsung mengambilkan tanda parkir khusus.
“Benar Bu, mari turun! Sepertinya tamu-tamu sudah berdatangan!” jawab Pak Candra, matanya melihat kearah parkiran yang penuh.
Evelyn hanya mengangguk tidak bicara lagi. Dilihatnya Pak Candra sudah duluan turun dan bicara dengan Pak Satpam, diapun bergegas turun.
Pak Satpam menoleh pada Evelyn dan langsung memberi hormat.
“Selamat datang Bu Evelyn!”
“Terimakasih!”
“Maaf Bu, di garasi ada mobil balapnya Pak Jeremy yang dikirimkan dari bengkel, belum diambil oleh Pak Jeremy!”
Evelyn mengerutkan dahinya tidak mengerti. “Mobil balap? Mobilnya rusak?”
“Bukan, sepertinya sudah selesai di modifikasi!” jawab Pak Satpam.
“Biarkan saja mobil itu, nanti Jeremy, maksudku Pak Jeremy yang akan mengambilnya!”
“Baik Bu!” jawab Pak Satpam.
__ADS_1
Pak Candra menoleh pada Evelyn.“Kita masuk sekarang, Bu?”
“Ya!” Evelyn mengangguk. Kakinya langsung melangkah saat melihat Pak Candra mendahului melangkah menuju gedung berdinding kaca bening itu.
Dipintu masuk, dua orang satpam membukakan pintu dan memberi salam.
“Ini Bu Evelyn, istrinya Pak Jeremy!” kata Pak Candra.
“Siap! Lapor! Saya Agus!” Lapor Pak satpam yang dibajunya ada tulisan Agus.
“Siap! Lapor! Saya Gono!” Lapor Pak Satpam satunya lagi.
Evelyn menatap dua satpam itu dan hanya mengangguk saja, dia merasa aneh dengan semua itu. Kemudian datang seorang pria berstelan jas biru tua menghampiri dan memperkenalkan dirinya.
“Siang Bu, saya Gerry, Manager pemasaran,” sapanya sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan Evelyn.
“Siang!” jawab Evelyn menerima tangannya Pak Gerry.
“Para tamu sudah datang?” tanya Pak Candra.
“Sudah Pak, para tamu langsung ke ruang meeting di lantai 7.”
“Bu Kania, ini Bu Evelyn istrinya Pak Jeremy,” kata Pak Candra, lalu menoleh pada Evelyn.
“Ini Bu Kania, sekretarisnya Pak Jeremy!”
Evelyn menatap wanita itu, dia sedikit keheranan, ternyata sekretarisnya Jeremy itu bukanlah wanita cantik yang **** yang memakai rok mini dengan bajunya yang ketat dan belahan dada yang rendah. Wanita itu berusia sekitar 35 tahunan dengan menggenakan stelan blazer celana panjang warna abu-abu, dengan tatanan make up yang menyolok menunjukkan wanita yang smart. Dilehernya tergantung ID Card dan sebuah kalung usb.
“Siang Bu, saya Kania! Maaf saya terlambat, saya sedang mengurus pameran peluncuran produk mobil tebaru kita! Sayang sekali Pak Jeremy tidak bisa ikut test drivenya!” kata Bu Kania sambil mengulurkan tangannya pada Evelyn. Wanita itu terlihat sangat lincah dan supel.
Evelyn semakin bingung saja melihat situasi ini, apa dia sedang bermimpi? Dia merasa sedang berada di dunia yang berbeda. Apa mungkin yang dimaksud Pak Jeremy itu adalah Jeremy yang lain? Apa mungkin Pak Canda itu salah orang?
“Bu, ada masalah?” tanya Pak Candra melihat Evelyn dengan bingung karena sedari tadi Evelyn banyak diam dan terlihat sangat kaku.
“Tidak, tidak ada, aku hanya merasa bingung saja,” jawab Evelyn.
__ADS_1
“Mm..Pak Candra. apa kita bisa bicara dulu sebentar?” tanya Evelyn, tangannya menunjuk kearah lain lalu menoleh pada Bu Kani dan Pak Gerry yang dipanggil seseorang.
Dilihatnya lagi banyak orang berdatangan kedalam ruangan itu.
“Bu, maaf saya menerima tamu dulu!” kata Bu Kania diikuti oleh Pak Gerry.
“Ya, silahkan!” jawab Evelyn, lalu menoleh pada Pak Candra, jadi dia tidak perlu menjauh lagi dari mereka.
“Ada apa Bu?” tanya Pak Candra, mengerti kalau ada yang ingin dibicarakan oleh Evelyn.
“Mm.. apa kau tidak salah orang? Kau tidak salah orang kan?”
Pak Candra menatap Evelyn dengan bingung. “Maskud Ibu apa?”
“Maksudku barangkali kau salah orang. bukan Jeremy suamiku yang kau maksud!”
Pak Candra langsung tersenyum. “Tidak ada yang salah Bu, saya tahu kapan Pak Jeremy menempati rumah itu, saya tidak mungkin salah!”
“Mungkin Ibu hanya gugup saja, tapi Ibu tidak perlu khawatir nanti akan saya bantu, kalau ada yang ingin ditanyakan akan saya jelaskan!” lanjut Pak Candra. Masih dengan senyumnya.
“Ya. Maaf kondisiku juga sedang tidak baik, aku sedang hamil jadi agak kurang focus!” ucap Evelyn beralasan, padahal dia benar-benar sangat bingung karena merasa ini bukanlah dunianya Jeremy.
Evelyn melihat Pak Gerry dan Bu Kania sibuk dengan tamu-tamu yang datang. Beberapa orang yang datang itu sebagian melihat-lihat mobil yang pajang disana.
“Mari Bu, kita akan mulai rapatnya. Sekalian saya perkenalkan kalau sementara waktu perusahaan Ibu yang memimpin. Kalau Ibu butuh pengacara akan saya siapkan!” perkataan Pak Candra membuyarkan lamunannya Evelyn.
“Iya!” jawab Evelyn, kakinya langsung mengikuti Pak Candra.
Pria itu melangkah mendahuli dengan langkah kakinya yang lebar, meskipun terlihat sudah berumur, Pak Candra masih terlihat gagah dan bersemangat. “Nanti kalau Ibu ingin melihat apa saja operasionalnya, akan saya antar!”
“Iya, terimakasih!”
Evelyn tidak bicara lagi, kakinya terus mengikuti Pak Candra masuk kedalam lift.
Tangannya mengusap-usap perutnya dengan pelan. “Sayang, ternyata Ayahmu tidak seburuk yang Ibu kira!” gumannya.
__ADS_1
Pak Candra menoleh pada Evelyn karena merasa ada yang bicara, wanita itu langsung terdiam dan melihat lurus kedepan bersamaan dengan pintu lift yang menutup.
*****