
Pak Kades
tidak bisa menutupi kesedihannya saat melihat kondisi Jeremy yang tuna daksa.
“Jeremy,
kenapa kau jadi begini? Kau dan istrimu menghilang begitu saja dan kembali kau
dalam keadaan tidak bisa apa-apa. Tidak perlu istrimu bercerita, ini semua
pasti karena kelakuanmu! Sekarang kau baru merasakan akibatnya? Ini yang Ayah
dan ibu khawatirkan dari dulu.” Pak Kades menangisi keadaannya Jeremy, lalu
menoleh pada Evelyn, melihat perutnya yang sudah membesar.
“Tinggalah
disini sampai melahirkan, Ayah tidak akan menghalangimu jika kau akan
meninggalkan Jeremy setelah melahirkan.”
Ucapan Pak Kades
membuat Jeremy membelalakkan matanya. Tidak, dia tidak mau Evelyn
meninggalkannya. Dia mencintai wanita itu, jangan, Evelyn tidak boleh pergi,
dia ingin memperbaiki kesalahannya dan tetap berkumpul dengan anak istrinya. Tapi
semua itu tidak bisa terucap, hanya dalam hati Jeremy saja.
“Iya, Ayah,
aku akan tinggal disini sampai aku melahirkan. Setelah itu mungkin aku akan
tinggal bersama Ayahku. Kalau Ayah tidak keberatan.”
Jawaban
Evelyn membuat Jeremy semakin shock, ap aitu artinya Evelyn akan meninggalkannya?
Tidak, Sayang, jangan pergi, aku mencintaimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki
semuany. Jangan pernah meninggalkanku!
“Kau ada
rencana meninggalkan Jeremy?” tanya Pak Kades.
“Ya, Ayah.
Aku tidak mau anakku nanti meniru Ayahnya atau mungkin merasa dendam pada orang-orang
yang menyakiti Ayahnya. Aku tidak mau Anakku tahu masa lalu Ayahnya.”
Shock,
Jeremy benar-benar Shock, ternyata Evelyn membawanya kepada ayahnya karena
berniat meninggalkanny. Hatinya sangat hancur. Kejadian dimasa lalu kembali
berbayang di benaknya. Bagaimana perlakuan buruknya pada Evelyn.
Hati wanita
mana yang tidak sakit diperlakukan buruk oleh suaminya?
Sayang,
tolong maafkan aku, Sayang. Tolong maafkan aku. Jeremy begitu ingin mengatakan
itu, dia sungguh sangat menyesal sudah menyia-nyiakan istrinya. Matanya melirik
pada Pak Kades, dia berharap Pak Kades akan menghalangi Evelyn meninggalkannya.
“Ayah mengerti,
Ayah tahu pasti kau sudah berpikir matang untuk memutuskan semuanya. Ayah sudah
menebak pasti Jeremy sudah memperlakukanmu sangat buruk. Ayah juga tidak setuju
dengan perilakunya Jeremy. Tolong maafkan Ayah, Sayang. Maafkan Ayah yang sudah
mengikatmu dengan menikahi Jeremy.”
Ternyata
jawabannya Pak Kades diluar dugaannya Jeremy, ayahnya itu malah setuju Evelyn
meninggalkannya. Hati Jeremy sangat kecewa. Dia berpikir keras untuk membawa
kembali istrinya, dia tidak akan pernah melepaskan istrinya, tidak akan. Semua
syarat jika ada, akan dia lakukan asal Evelyn tidak meninggalkannya.
“Aku sudah
mendapatkan rekomendasi Dokter yang akan merawat Jeremy disini,” ucap Evelyn,
menoleh pada suaminya.
“Ya. Kapan
Dokternya kesini?”
“Katanya sih,
besok.”
“Oh ya,
cucuku sudah diketahui jenis kelaminnya?”
“Prediksi
awal laki-laki, yah.” Evelyn memegang perutnya sambil tersenyum. Pak Kades juga
ikut tersenyum tapi dengan hati yang sangat sedih. Seharusnya menantunya bahagia
dengan kehamilannya bukan malah jadi seperti ini, malah mengurus Jeremy yang
sakit.
“Semoga
melahirkanmu lancar, Sayang. Kalau bisa kau jangan pergi dari rumahmu, biar
Ayah bisa melihat bayimu nanti,” kata Pak Kades.
“Aku belum
__ADS_1
tahu, Ayah. Soalnya aku mungkin akan bekerja lagi untuk membiayai putraku
nanti.”
“Tidak,
Sayang. Tidak perlu harus sekeras itu, kau tidak perlu buru-buru bekerja. Ayah
punya banyak kekayaan untuk putramu, kau tidak perlu capek-capek bekerja, tidak
masalah buat Ayah. Jeremy mungkin sakit, tapi Ayah masih punya banyak kekayaan
untuk cucu Ayah.”
Evelyn
menggeleng pelan. “Tidak seperti itu, Ayah. Aku hanya lebih nyaman saja kalau
aku bekerja. Jeremy juga masih punya perusahaan di ibukota yang aku delegasikan
pada tim management disana, selama Jeremy sakit.”
“Jeremy
punya perusahaan? Bukan illegal kan?” Pak Kades terkejut.
“Tidak,
ternyata Jeremy tidak seburuk itu. Dia punya perusahaan otomotif, mungkin hanya
itu perusahaan yang bertahan di negara ini.”
Pak Kades
menoleh pada putranya, dia tidak menyangka kalau Jeremy punya perusahaan otomotif,
lalu pada menantunya lagi.
“Bidang
otomotif, artinya perusahaan besar?”
“Iya. Tapi aku
sementara ini tidak bisa terjun langsung Yah, aku harus bedrest, kondisi
kehamilanku buruk.”
Pak Kades
terkejut mendengarnya. “Buruk bagaimana?”
“Hanya
karena aku terlalu lelah dan capek.”
“Pasti karena
Jeremy menyakitimu terus kan? Jangan menutupinya lagi!” tebak Pak Kades membuat
Evelyn terdiam.
Pak Kades
menoleh lagi pada Jeremy. “Kau ini sangat keterlaluan Jeremy, kau tega
menyakiti anak dan istrimu? Ayah setuju kalau Evelyn meninggalkanmu! Kau memang
Ayah, aku
menyesal! Menyesal, apa Ayah tidak mengerti? Aku menyesal! Kata-kata itu terus terucap
dalam hatinya Jeremy, dia ingin ayahnya tahu kalau dia menyesal, sangat
menyesal.
Pandangan
matanya beralih pada istrinya, kalau seandainya Evelyn memintanya untuk
berlutut, dia akan melakukannya, dia akan berlutut pada istrinya memohon untuk memaafkan
kesalahannya.
“Sudah Ayah,
jangan dimarahi lagi. Semua sudah terjadi. Aku sekarang hanya memikirkan kondisi
bayiku, aku berusaha untuk melahirkannya dengan sehat dan selamat.
Pak Kades
menatap menantunya dengan tatapan sedih, matanya memerah berkaca-kaca.
“Sayang,
Ayah benar-benar minta maaf, karena ulah Jeremy membuatmu menderita, Ayah minta
maaf.”
“Sudah, Ayah
jangan seperti itu. Yang penting saat ini aku dan bayiku baik-baik saja.”
Berapa detik
kemudian, Evelyn mengerutkan dahinya lalu mengendus-endus, dia merasa mencium
sesuatu yang membuatnya mual. Tangannya langsung memegang mulutnya.
Diapun langsung
pergi ke toilet yang ada di kamarnya Jeremy itu.
“Nak, kau tidak
apa-apa?” tanya Pak Kades, kemudian dia mendengar Evelyn muntah-muntah.
“Nak, kau
masih mengidam?” teriak Pak Kades, tidak ada jawaban hanya suara air kran yang
menyala.
Pak Kades
menoleh pada Jeremy lalu mendekatinya. “Kau lihat? Hamil itu tidak mudah! Dulu
ibumu juga begitu saat mengandungmu! Muntah-muntah tiap hari, tidak suka makan
ini tidak suka makan itu! Tidur saja serba salah. Kau sudah menyakiti ibumu,
__ADS_1
sekarang kau juga menyakiti istrimu, kau sungguh keterlaluan!”
Jeremy tentu
saja hanya diam, dia juga teringat pada ibunya. Dia rindu ibunya. Dia ingin
bertemu ibunya dan bersimpuh dikakinya untuk meminta maaf.
Evelyn
keluar dari kamar mandi. “Maaf Ayah, aku terkadang masih suka muntah dan mual.”
“Tidak apa,
Sayang. Hari sudah malam, sebaiknya kau
tidur, istirahat. Besok bilang pada Bibi kau mau makan apa, apa yang kau suka atau
tidak suka. Ingat kau harus bedrest, jangan mengerjakan sesuatu yang berat.
Jaga cucu Ayah dengan baik,” pesan Pak kades.
“Iya, Ayah. Terimakasih.”
“Kau sudah
mengabari Ayahmu kalau kau sudah ada disini?”
“Belum.
Nanti aku kabari Ayah.”
“Baiklah. Tapi
tidak apa, biar Ayah yang datang ke rumahmu. Sudah lama Ayah tidak berbincang
dengan Ayahmu.”
“Baiklah. Tolong
sampaikan aku belum ke rumah, mungkin besok.” Pinta Evelyn.
“Ya, Sayang.
Nanti Ayah sampaikan. Ayah pergi dulu, mau langsung ke rumah Ayahmu.”
“Ya, Ayah. Terimakasih.”
Pak Kadespun
keluar dari kamarnya Jeremy. Evelyn melihat kearah kopernya yang bertumpuk belum
dibongkar isinya. Diapun mendekati koper itu dan mengambil baju tidurnya.
Di depan
cermin Evelyn melepaskan pakaiannya, tanpa disadarinya mata Jeremy bisa melihat
keberadaannya.
Melihat
istrinya yang berbalut pakaian dalam saja dengan perut besarnya, membuat Jeremy
tidak berkedip melihatnya. Ternyata melihat wanita hamil tidak buruk, malah
terlihat sangat sexy. Istrinya terlihat begitu cantik, dengan perut besar yang
sedang mengandung putranya. Sungguh cantik dan menggairahkan.
Jeremy
mengerutkan dahinya, dia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dia
merasa sesuatu yang bergerak dibagian bawah tubuhnya.
Bukannya dia
impoten? Kenapa dia merasa hasratnya timbul saat melihat istrinya? Jelas-jelas
kemarin Selena menyentuhnyapun dia sama sekali tidak tertarik, tapi sekarang
hanya melihat istrinya berganti pakaian hasratnya langsung muncul?
Saat menoleh
pada Evelyn, istrinya itu sudah berpakaian dan menghampirinya. Saat pindah dari
Hongkong, dia memang tidak satu tempat tidur dengan Jeremy, tapi sekarang? Mau
dimana lagi dia tidur?
“Sepertinya
aku harus tidur denganmu. Aku tidak mau membuatmu Ayahmu sedih,” ucap Evelyn.
Hati Jeremy
bersorak gembira, dia merasa lega dan senang istrinya mau tidur disampingnya.
“Aku mau
melakukannya karena aku tahu kau tidak bisa apa-apa. Kau tidak akan
menggangguku.”
Ucapan Evelyn
itu langsung mematahkan semangatnya Jeremy, ternyata istrinya tidak mau dia
sentuh, padahal dia ingin memeluk dan menciumnya. Kalau sudah begini bukankah
ini sebuah penyiksaan? Dia merasa tertarik menyentuhnya tapi istrinya
menolaknya. Dia yang katanya impoten tapi ternyata terbangun melihat istrinya
tidak berpakaian? Yang paling menyiksa adalah kalua hasratnya memuncak dan dia
hanya bisa diam saja.
Evelyn berjalan
memutar ke sebelah kirinya Jeremy, menggeraikan rambutnya tadi yang sempat diikat
saat mandi, membuatnya terlihat sangat cantik. Kalaupun saat ini Selena datang
tanpa sehelai benangpun, dia lebih tertarik pada istrinya yang memakai baju
tidur.
***
__ADS_1