Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-53 Jeremy Pulang Kampung


__ADS_3

Pak Kades


tidak bisa menutupi kesedihannya saat melihat kondisi Jeremy yang tuna daksa.


“Jeremy,


kenapa kau jadi begini? Kau dan istrimu menghilang begitu saja dan kembali kau


dalam keadaan tidak bisa apa-apa. Tidak perlu istrimu bercerita, ini semua


pasti karena kelakuanmu! Sekarang kau baru merasakan akibatnya? Ini yang Ayah


dan ibu khawatirkan dari dulu.” Pak Kades menangisi keadaannya Jeremy, lalu


menoleh pada Evelyn, melihat perutnya yang sudah membesar.


“Tinggalah


disini sampai melahirkan, Ayah tidak akan menghalangimu jika kau akan


meninggalkan Jeremy setelah melahirkan.”


Ucapan Pak Kades


membuat Jeremy membelalakkan matanya. Tidak, dia tidak mau Evelyn


meninggalkannya. Dia mencintai wanita itu, jangan, Evelyn tidak boleh pergi,


dia ingin memperbaiki kesalahannya dan tetap berkumpul dengan anak istrinya. Tapi


semua itu tidak bisa terucap, hanya dalam hati Jeremy saja.


“Iya, Ayah,


aku akan tinggal disini sampai aku melahirkan. Setelah itu mungkin aku akan


tinggal bersama Ayahku. Kalau Ayah tidak keberatan.”


Jawaban


Evelyn membuat Jeremy semakin shock, ap aitu artinya Evelyn akan meninggalkannya?


Tidak, Sayang, jangan pergi, aku mencintaimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki


semuany. Jangan pernah meninggalkanku!


“Kau ada


rencana meninggalkan Jeremy?” tanya Pak Kades.


“Ya, Ayah.


Aku tidak mau anakku nanti meniru Ayahnya atau mungkin merasa dendam pada orang-orang


yang menyakiti Ayahnya. Aku tidak mau Anakku tahu masa lalu Ayahnya.”


Shock,


Jeremy benar-benar Shock, ternyata Evelyn membawanya kepada ayahnya karena


berniat meninggalkanny. Hatinya sangat hancur. Kejadian dimasa lalu kembali


berbayang di benaknya. Bagaimana perlakuan buruknya pada Evelyn.


Hati wanita


mana yang tidak sakit diperlakukan buruk oleh suaminya?


Sayang,


tolong maafkan aku, Sayang. Tolong maafkan aku. Jeremy begitu ingin mengatakan


itu, dia sungguh sangat menyesal sudah menyia-nyiakan istrinya. Matanya melirik


pada Pak Kades, dia berharap Pak Kades akan menghalangi Evelyn meninggalkannya.


“Ayah mengerti,


Ayah tahu pasti kau sudah berpikir matang untuk memutuskan semuanya. Ayah sudah


menebak pasti Jeremy sudah memperlakukanmu sangat buruk. Ayah juga tidak setuju


dengan perilakunya Jeremy. Tolong maafkan Ayah, Sayang. Maafkan Ayah yang sudah


mengikatmu dengan menikahi Jeremy.”


Ternyata


jawabannya Pak Kades diluar dugaannya Jeremy, ayahnya itu malah setuju Evelyn


meninggalkannya. Hati Jeremy sangat kecewa. Dia berpikir keras untuk membawa


kembali istrinya, dia tidak akan pernah melepaskan istrinya, tidak akan. Semua


syarat jika ada, akan dia lakukan asal Evelyn tidak meninggalkannya.


“Aku sudah


mendapatkan rekomendasi Dokter yang akan merawat Jeremy disini,” ucap Evelyn,


menoleh pada suaminya.


“Ya. Kapan


Dokternya kesini?”


“Katanya sih,


besok.”


“Oh ya,


cucuku sudah diketahui jenis kelaminnya?”


“Prediksi


awal laki-laki, yah.” Evelyn memegang perutnya sambil tersenyum. Pak Kades juga


ikut tersenyum tapi dengan hati yang sangat sedih. Seharusnya menantunya bahagia


dengan kehamilannya bukan malah jadi seperti ini, malah mengurus Jeremy yang


sakit.


“Semoga


melahirkanmu lancar, Sayang. Kalau bisa kau jangan pergi dari rumahmu, biar


Ayah bisa melihat bayimu nanti,” kata Pak Kades.


“Aku belum

__ADS_1


tahu, Ayah. Soalnya aku mungkin akan bekerja lagi untuk membiayai putraku


nanti.”


“Tidak,


Sayang. Tidak perlu harus sekeras itu, kau tidak perlu buru-buru bekerja. Ayah


punya banyak kekayaan untuk putramu, kau tidak perlu capek-capek bekerja, tidak


masalah buat Ayah. Jeremy mungkin sakit, tapi Ayah masih punya banyak kekayaan


untuk cucu Ayah.”


Evelyn


menggeleng pelan. “Tidak seperti itu, Ayah. Aku hanya lebih nyaman saja kalau


aku bekerja. Jeremy juga masih punya perusahaan di ibukota yang aku delegasikan


pada tim management disana, selama Jeremy sakit.”


“Jeremy


punya perusahaan? Bukan illegal kan?” Pak Kades terkejut.


“Tidak,


ternyata Jeremy tidak seburuk itu. Dia punya perusahaan otomotif, mungkin hanya


itu perusahaan yang bertahan di negara ini.”


Pak Kades


menoleh pada putranya, dia tidak menyangka kalau Jeremy punya perusahaan otomotif,


lalu pada menantunya lagi.


“Bidang


otomotif, artinya perusahaan besar?”


“Iya. Tapi aku


sementara ini tidak bisa terjun langsung Yah, aku harus bedrest, kondisi


kehamilanku buruk.”


Pak Kades


terkejut mendengarnya. “Buruk bagaimana?”


“Hanya


karena aku terlalu lelah dan capek.”


“Pasti karena


Jeremy menyakitimu terus kan? Jangan menutupinya lagi!” tebak Pak Kades membuat


Evelyn terdiam.


Pak Kades


menoleh lagi pada Jeremy. “Kau ini sangat keterlaluan Jeremy, kau tega


menyakiti anak dan istrimu? Ayah setuju kalau Evelyn meninggalkanmu! Kau memang


Ayah, aku


menyesal! Menyesal, apa Ayah tidak mengerti? Aku menyesal! Kata-kata itu terus terucap


dalam hatinya Jeremy, dia ingin ayahnya tahu kalau dia menyesal, sangat


menyesal.


Pandangan


matanya beralih pada istrinya, kalau seandainya Evelyn memintanya untuk


berlutut, dia akan melakukannya, dia akan berlutut pada istrinya memohon untuk memaafkan


kesalahannya.


“Sudah Ayah,


jangan dimarahi lagi. Semua sudah terjadi. Aku sekarang hanya memikirkan kondisi


bayiku, aku berusaha untuk melahirkannya dengan sehat dan selamat.


Pak Kades


menatap menantunya dengan tatapan sedih, matanya memerah berkaca-kaca.


“Sayang,


Ayah benar-benar minta maaf, karena ulah Jeremy membuatmu menderita, Ayah minta


maaf.”


“Sudah, Ayah


jangan seperti itu. Yang penting saat ini aku dan bayiku baik-baik saja.”


Berapa detik


kemudian, Evelyn mengerutkan dahinya lalu mengendus-endus, dia merasa mencium


sesuatu yang membuatnya mual. Tangannya langsung memegang mulutnya.


Diapun langsung


pergi ke toilet yang ada di kamarnya Jeremy itu.


“Nak, kau tidak


apa-apa?” tanya Pak Kades, kemudian dia mendengar Evelyn muntah-muntah.


“Nak, kau


masih mengidam?” teriak Pak Kades, tidak ada jawaban hanya suara air kran yang


menyala.


Pak Kades


menoleh pada Jeremy lalu mendekatinya. “Kau lihat? Hamil itu tidak mudah! Dulu


ibumu juga begitu saat mengandungmu! Muntah-muntah tiap hari, tidak suka makan


ini tidak suka makan itu! Tidur saja serba salah. Kau sudah menyakiti ibumu,

__ADS_1


sekarang kau juga menyakiti istrimu, kau sungguh keterlaluan!”


Jeremy tentu


saja hanya diam, dia juga teringat pada ibunya. Dia rindu ibunya. Dia ingin


bertemu ibunya dan bersimpuh dikakinya untuk meminta maaf.


Evelyn


keluar dari kamar mandi. “Maaf Ayah, aku terkadang masih suka muntah dan mual.”


“Tidak apa,


Sayang.  Hari sudah malam, sebaiknya kau


tidur, istirahat. Besok bilang pada Bibi kau mau makan apa, apa yang kau suka atau


tidak suka. Ingat kau harus bedrest, jangan mengerjakan sesuatu yang berat.


Jaga cucu Ayah dengan baik,” pesan Pak kades.


“Iya, Ayah. Terimakasih.”


“Kau sudah


mengabari Ayahmu kalau kau sudah ada disini?”


“Belum.


Nanti aku kabari Ayah.”


“Baiklah. Tapi


tidak apa, biar Ayah yang datang ke rumahmu. Sudah lama Ayah tidak berbincang


dengan Ayahmu.”


“Baiklah. Tolong


sampaikan aku belum ke rumah, mungkin besok.” Pinta Evelyn.


“Ya, Sayang.


Nanti Ayah sampaikan. Ayah pergi dulu, mau langsung ke rumah Ayahmu.”


“Ya, Ayah. Terimakasih.”


Pak Kadespun


keluar dari kamarnya Jeremy. Evelyn melihat kearah kopernya yang bertumpuk belum


dibongkar isinya. Diapun mendekati koper itu dan mengambil baju tidurnya.


Di depan


cermin Evelyn melepaskan pakaiannya, tanpa disadarinya mata Jeremy bisa melihat


keberadaannya.


Melihat


istrinya yang berbalut pakaian dalam saja dengan perut besarnya, membuat Jeremy


tidak berkedip melihatnya. Ternyata melihat wanita hamil tidak buruk, malah


terlihat sangat sexy. Istrinya terlihat begitu cantik, dengan perut besar yang


sedang mengandung putranya. Sungguh cantik dan menggairahkan.


Jeremy


mengerutkan dahinya, dia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dia


merasa sesuatu yang bergerak dibagian bawah tubuhnya.


Bukannya dia


impoten? Kenapa dia merasa hasratnya timbul saat melihat istrinya? Jelas-jelas


kemarin Selena menyentuhnyapun dia sama sekali tidak tertarik, tapi sekarang


hanya melihat istrinya berganti pakaian hasratnya langsung muncul?


Saat menoleh


pada Evelyn, istrinya itu sudah berpakaian dan menghampirinya. Saat pindah dari


Hongkong, dia memang tidak satu tempat tidur dengan Jeremy, tapi sekarang? Mau


dimana lagi dia tidur?


“Sepertinya


aku harus tidur denganmu. Aku tidak mau membuatmu Ayahmu sedih,” ucap Evelyn.


Hati Jeremy


bersorak gembira, dia merasa lega dan senang istrinya mau tidur disampingnya.


“Aku mau


melakukannya karena aku tahu kau tidak bisa apa-apa. Kau tidak akan


menggangguku.”


Ucapan Evelyn


itu langsung mematahkan semangatnya Jeremy, ternyata istrinya tidak mau dia


sentuh, padahal dia ingin memeluk dan menciumnya. Kalau sudah begini bukankah


ini sebuah penyiksaan? Dia merasa tertarik menyentuhnya tapi istrinya


menolaknya. Dia yang katanya impoten tapi ternyata terbangun melihat istrinya


tidak berpakaian? Yang paling menyiksa adalah kalua hasratnya memuncak dan dia


hanya bisa diam saja.


Evelyn berjalan


memutar ke sebelah kirinya Jeremy, menggeraikan rambutnya tadi yang sempat diikat


saat mandi, membuatnya terlihat sangat cantik. Kalaupun saat ini Selena datang


tanpa sehelai benangpun, dia lebih tertarik pada istrinya yang memakai baju


tidur.


***

__ADS_1


__ADS_2