
Jeremy segera berpakaian dan dia menuruni tangga menghampiri wanita-wanita itu yang tampak kaget.
“Pak Jeremy, benar dia istrimu?” tanya salah satunya.
“Iya,” jawab Jeremy.
“Pantas saja marah, lain kali jangan di rumah deh janjiannya, malah jadi ada acara jambak-jambakan gini!” keluh wanita yang tadi dijambak Evelyn itu.
Jeremy merogoh saku celananya mengeluarkan uang gepokan dan melemparkan pada wanita yang di jambak itu.
“Buat kalian, cepat pergi!” usir Jeremy.
Mendapat uang sebanyak itu di tangannya membuat wanita itu tersenyum.
“Sepertinya aku tidak masalah jika sesekali dijambak lagi tinggal ke salon,” ucapnya cengengesan melihat uang gepokan ditangannya.
“Sudah jangan macam-macam, cepat pergi!” usir Jeremy.
“Ya sudah kita pulang saja Pak Jeremy,” kata mereka, lau berpamitan keluar rumah.
Jeremy kesal sekali dia belum ngapa-ngapain sudah datang istrinya yang merusak acara senang-senangnya.
Diapun segera menuju kamarnya. Dilihatnya wanita itu sedang menangis menelungkup diatas kasur.
“Kau benar-benar merusak acaraku!” bentak Jeremy.
Evelyn tidak menghiraukan perkataannya Jeremy, terus saja menangis. Kenapa hatinya begitu putus asa melihat kelakuan suaminya. Apakah dia harus menyerah dan memilih berpisah dengan suaminya? Atau mempertahankannya dan berharap Jeremy suatu saat akan mencintainya?
“Daripada kau menangis disini membuatku pusing, lebih baik kau keluar dari kamarku!” usir Jeremy.
“Aku tidak mau!” kata Evelyn.
“Apa? Tidak mau? Kamarmu bukan disini! Tuh disana!” teriak Jeremy.
“Aku bilang tidak mau, tidak mau!” teriak Evelyn.
“Apa?” Jeremy terkejut mendengarnya.
“Ini kamarku juga!” kata Evelyn lalu menangis lagi.
“Apaan sih ini?” gerutu Jeremy.
“Aku istrimu, jadi aku harus tidur denganmu!” kata Evelyn, bangun sambil menghapus airmatanya.
“Maksudmu apa kau harus tidur dikamarku tiap hari begitu?” tanya Jeremy dengan ketus.
__ADS_1
“Iya, aku akan tidur dikamarmu, supaya kau bisa melihatku tiap hari di kamarmu dan kau menyadari kalau kau itu sudah punya istri!” jawab Evelyn.
Jeremy menatap Evelyn dengan kesal, tiba-tiba dia menghampirinya dan menarik tangan Evelyn sampai jatuh dari tempat tidur.
Evelyn terkejut, dia terduduk dilantai, menahan sakit di pantatnya, tapi kemudian dia bangun dan naik lagi ke tempat tidur.
Jeremy tidak menyangka kalau Evelyn akan naik lagi ke tempat tidur, diapun menariknya lagi membuat Evelyn jatuh lagi.
Evelyn tidak menyerah, dia naik lagi ke tempat tidur itu, semakin membuat Jeremy kesal, dia akan menarik lagi tangan Evelyn tapi wanita itu bicara.
“Kau melarangku tidur disini, maka aku akan bicara dengan Ayahmu kalau kau melarangku tidur dikamarmu!” kata Evelyn.
“Apa? Kau ini apa-apaan? Kau mau mengadu-ngadu pada Ayahku begitu? Lama-lama kau semakin berani ya,” bentak Jeremy.
“Bukan mengadu, memang kenyataanya begitu! Kau membawa wanita kekamarku tapi kau melarang istrimu tidur di kamarmu. Ayahmu harus tahu seperti apa kelakuanmu selama ini,” kata Evelyn.
“Tanpa kau jelaskanpun, Ayahku tahu soal itu, Ayahku pernah melihat Selena di ponselku. Lagipula aku membawa wanita itu bukan ke kamarku tapi kamar yang lain,” ujar Jeremy.
Evelynpun terdiam, dia mengerti sekarang, kenapa Pak Kades membawa Jeremy melamarnya ke rumah, pasti Pak Kades bermaksud melindunginya dari Jeremy. Sepertinya dia memang tidak bisa meninggalkan Jeremy, akan ada banyak orang yang tersakiti, dia harus membuat Jeremy berubah meskipun itu sangat sulit.
“Tetap sama saja, itu melukai harga diriku sebagai istrimu!” kata Evelyn.
“Lagi-lagi membicarakan soal harga diri istri, membosankan!” gerutu Jeremy, diapun pergi mengambil ponselnya, lalu berjalan memutar naik ke tempat tidur bersebelahan dengan Evelyn.
Evelyn tidak bicara lagi, dia juga malas bertengkar. Sungguh dia bingung apa yang harus dilakukannya dengan suami sepetri ini? Bercerai? Meninggalkannya? Semua sungguh menyakitkan, apakah pernikahannya akan seperti ini terus? Diapun kembali terisak.
“Bosan, aku melihatmu cengeng, menangis melulu,” keluh Jeremy, sambil bersandar dan menselonjorkan kakinya.
Evelyn tidak menghiraukan apa yang dikatakan pria itu, dia terus saja terisak.
Jeremy melirik wanita yang sedang menangis itu, ada yang menarik dimatanya. Karena terbaring menelungkup rok nya tersingkap keatas, seakan sedang menggodanya. Jeremy memalingkan mukanya. Tapi matanya kembali melirik lagi kearah yang tersingkap itu. Hasratnya tiba-tiba timbul.
Diapun tersenyum merasakan hasrat yang kembali timbul dalam dirinya, ada apa ini? Kenapa dia harus tergoda hanya dengan melihat bagian tubuh Evelyn yang biasa saja? Sudah berkali-kali dia menyentuhnya, tapi kenapa dia tidak merasa bosan melakukannya? Kenapa dia tergoda lagi-tergoda lagi? Apa ada yang salah dalam dirinya? Hanya melihat setengan paha istrinya saja, fikirannya sudah kemana-mana.
Jangankan merayu menggoda dan berusaha **** dimatanya, wanita ini malah sedang menangisi hal yang tidak penting. Masa hanya karena dia tidur dengan wanita lain bisa marah seperti itu dan sekarang menangis tidak jelas.
Jeremy mengalihkan pandangannya lagi. Tapi kemudiun matanya melirik lagi. Ada apa ini? Kenapa hasratnya selalu timbul pada wanita yang sama sekali tidak melakukan apapun padanya? Dia tertarik dengan Selena maupun wanita lain karena mereka begitu semangat merayunya, berbeda dengan istrinya, wanita itu malah menjengkelkannya setiap hari.
Semakin ditahan tidak bisa ditahannya. Dia sudah mengucapkan kata kalau dia pembosan, dia tidak bisa tidur dengan satu wanita, tapi entah sekarang yang dirasanya lain, kenapa dia selalu tertarik pada istrinya? Hasratnya sudah tidak bisa dibendung lagi, ah sudahlah masa bodoh dengan prinsipnya.
Jeremy menyimpan ponselnya, lalu mendekati Evelyn dan tangannya menarik tubuh Evelyn supaya mendekat.
“Jeremy!” seru Evelyn dengan kaget, tubuhnya menghadap Jeremy, diapun menatapnya dengan heran.
Tidak ada jawaban dari pria itu, yang langsung mencium bibirnya, tangannya menyusuri tubuhnya.
__ADS_1
“Aku mau apa?” tanya Evelyn kaget.
“Kau fikir mau apa?” tanya Jeremy.
Evelyn pun tertegun, tadi dia bertengkar dengan pria ini dan kenapa pria ini malah mau menyentuhnya sekarang.
“Aku lelah,” tolak Evelyn, dia masih kesal pria itu sudah menyakiti hatinya lagi.
“Aku tidak mau mendengar penolakan, aku ini suamimu kan?”tanyanya.
Evelyn terdiam, apa maksud dari perkataannya Jeremy itu. Katanya dia pembosan dia tidak suka tidur dengan wanita itu-itu saja, beberapa hari tingal disini saja sudah berapa kali pria itu menyentuhnya, sungguh ucapannya tidak bisa dipercaya.
Evelyn berusaha bangun dan menghindar, dia masih kesal dengan kelakuan Jeremy tadi. Tapi pria itu memeluknya erat membuatnya tidak bisa lolos dari pelukan Jeremy yang memeluknya semakin erat.
Satu kali, dua kali, pria itu menyentuhnya tidak cukup satu kali. Sebenarnya ada sedih dihaatinya Evelyn, seharusnya pria itu melakukannya dengan cinta bukan karena hasratnya saja.
Diliriknya pria itu yang tampak kelelahan dan berbaring terlentang dengan peluh diseluruh tubuhnya.
Evelyn mengambil selimut dan menyelimutinya, tapi pria itu malah menendang selimut dengan kakinya, membiarkan tubuhnya terbuka, mungkin memang Jeremy seperti itu.
Akhirnya Evelyn membiarkan Jeremy tanpa selimut, dia hanya menyelimuti dirinya sendiri dan berbaring disamping Jeremy.
*****
Derrrd…
Suara ponsel terdengar nyaring, dikeesokan harinya.
Jeremy membuka matanya dengan berat, diliriknya wanita itu meringkuk dibahu kirinya. Tangan kanannya menggapai- gapai mencari ponsel yang berdering itu.
Akhirnya ditemukannya ponsel itu diatas kepalanya.
“Ayah, ada apa menelponku terus?” tanya Jaremy, mnatap ayahnya dilayar.
“Mana Evelyn?” tanya Pak Kades tidak menjawab pertanyaan Jeremy.
“Sedag tidur, tuh!” kata Jeremy mengarahkan ponselnya pada Evelyn yang menelungkup disampingnya.
Pak Kades terkejut melihatnya, tapi dia merasa senang, itu artinya hubungan Jeremy dan Evelyn sudah membaik.
“Ya sudah, jangan mengganggu tidurnya. Ayah senang melihat kalian akur, semoga kau pulang nanti membawa cucu buat Ayah,” kata Pak Kades.
Tentu saja Jeremy sangat terkejut, cucu? Diapun menoleh pada Evelyn, dia baru teringat kalau dari awal dia menyentuhnya, Evelyn masih gadis, wanita itu belum pernah disentuh pria manapun, tentu saja Evelyn tidak menggunakan kontrasepsi, dan diapun tidak pernah menggunakan pengaman. Mereka sudah melakukannya berkali-kali, apakah Evelyn akan hamil? Dan mereka akan punya bayi? Kepala Jeremy langsung saja berdenyut-denyut.
*****
__ADS_1