Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-52 Keputusan Terakhir


__ADS_3

Ryan terus


mengikuti kemana Evelyn pergi, sambil melihat situasi kapan dia bisa membuat menyudutkan


mobil itu supaya masuk jurang, minimal mengalami kecelakaan beruntun dan sejenisnya.


Tapi lama


kelamaan dia mengerutkan dahinya karena jalur yang dilewati Evelyn bukanlah


jalan menuju kantornya Jeremy, membuatnya tidak terburu-buru memepet mobil itu.


Dia penasaran Evelyn akan kemana.


Dilambatkannya


mobilnya, dan terus mengikuti dari belakang. Mobilnya ikut dipelankan saat


mobilnya Eveleyn ternyata memberi send ke kiri dan langsung belok kiri, membuat


Ryan memperlambat mobilnya dan melihat gedung yang dituju Evelyn, ternyata


rumah bersalin. Istrinya Jeremy itu masuk gedung Rumah Sakit bersalin.


Tentu saja


Ryan tidak mungkin ikut belok atau Evelyn akan melihat kalau dia mengikutinya


dan tidak ada yang bisa dia lakukan disana apalagi harus melewati  pos satpam.


Sambil


menggerutu akhirnya Ryan melanjutkan mobilnya lurus melewati Rumah Bersalin


itu, karena memang jalannya hanya jalan satu arah tidak bisa juga membuatnya


berbelok lagi.


Selena


melihat jam di dinding, dia merasa heran belum mendapat kabar apapun dari Ryan


padahal dia tahu Ryan sedang mengintai mobil Evelyn.


Diapun berjalan


menuju jendela dan mendial nomornya Ryan.


“Halo!” Sapa


Ryan dengan earphonenya, masih melajukan mobilnya di jalan raya.


“Bukannya


kau mengikuti mobilnya? Kenapa kau belum juga memberiku kabar  kalau kau sudah melenyapkan wanita itu?”


Selena samasekali tidak peduli kalau pembicaraannya terdengar oleh Jeremy.


“Dia sedang


ke Rumah bersalin. Kenapa? Kau ingin bersenang-senang dengan Jeremy? Kau


menyuruhku melenyapkan Evelyn supaya kau bisa bersenang-senang dengannya?”


bentak Ryan.


Selena


terkejut dengan perubahan sikapnya Ryan itu. “Apa? Kau berani membentakku?”


Ryan


tersenyum kecut. “Sayangku Selena, aku juga tidak bodoh. Kau melenyaplam Evelyn


supaya kau bisa bersama Jeremy kan? Bukan Evelyn yang seharusnya ku lentapkan


tapi Je..re..my.”


Raut wajah


Selena berubah memerah menahan marah, semua diluar dugaan kalau ternyata Ryan


akan berubah pikiran. “Kau! Kau berani melakukan itu? Kau mau melenyapkan Jeremy?”


Perkataan


Selena membuat Jeremy terkejut, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.


“Tentu saja


kenapa tidak?”


“Hem? Apa


kau mampu melakukannya?”


“Tentu saja,


kenapa tidak? Melenyapkan Jeremy akan lebih mudah daripada melenyapkan Evelyn. Kematian


evelyn tidak menuntungkan buatku!” Ryanpun terkekeh, dia sudah menebak pasti


Selena akan panik. Dia bukannya tidak tahu apa yang ada di pikirannya Selena. Hanya


saja melihat Evelyn ke Rumah Bersalin itu membuatnya berpikir ulang untuk melenyapkan


wanita hamil.


Selena kesal


bukan main, ternyata Ryan malah batal mencelakai Evelyn.


“Aku tidak


akan membiarkan kau mencelakai Jeremy!” gerutu Selena.


“Pria itu


sudah tidak bisa apa-apa, buat apa juga kau pertahankan? Aku lebih bisa


memberikan apa yang kau butuhkan!”


Selena


membalikkan tubuhnya menghadap Jeremy, pria yang duduk bersandar tidak berdaya,


memang benar Jeremy sudah tidak bisa apa-apa. Tapi dia tidak ingin ada wanita


lain yang bersama Jeremy.


Terdengar


suara langkah kaki mendekati kamar itu membuat Selena mematikan ponselnya. Ryan


menyeringai, dia bisa tahu Selena kesal bukan main, kemudian wajahnya berubah


garang, dia membulatkan tekadnya untuk menghabisi Jeremy. Menuntaskan hal-hal


yang mungkin dikemudian hari akan mengganggu bisnisnya.

__ADS_1


“Bu, Dokternya


sudah datang.” Ternyata perawat datang bersama Dokter, muncul di pintu yang


terbuka.


“Siang, Bu!”


Sapa Dokter yang agak terkejut karena bukan Evelyn yang ada di ruangan itu.


“Kau periksa


saja. Aku ingin tahu perkembangannya. Dan satu lagi aku ingin tahu apa Jeremy mengalami


impotensi?”


 “Baik, Bu.” Dokter mulai melakukan


pemeriksaan, Selena menunggu dengan pikiran dan hati yang gelisah. Dia merasa bingung


dengan rencana yang akan dia tempuh.


“Bagaimana?”


tanya Selena.


“Benar, Bu. Saraf


seksualnya Pak Jeremy terganggu.”


Selena


memberengut, melipat kedua tangan didadanya menatap Jeremy. Bagaimana dia akan


bisa betah dengan pria dengan masalah seperti itu? Jeremy benar-benar mayat


hidup sekarang.


“Apa dia


akan sembuh?” tanya Selena.


“Bisa tapi mungkin


butuh waktu lama, bersamaan dengan kondisi fisiknya harus membaik.”


“Ternyata


kau memang tidak berguna, Jeremy. Entah apa yang harus aku lakukan padamu.”


Selena tidak


bicara lagi, diambilnya tasnya lalu dia meninggalkan ruangan itu dengan kesal.


Jeremy hanya bisa melihat kepergiannya.


Setelah


Dokter memeriksa kondisi Jeremy, perawat keluar dari kamarnya Jeremy,


mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


“Halo, Pak


Ryan, Dokter sudah memeriksa Pak Jeremy.”


“Hasilnya?”


 “Pak Jeremy mengalami impotensi.”


Ryan langsung


tanpa dia melakukan apapun sudah dipastikan Selena tidak akan bisa bersama


Jeremy lagi. Tapi wajahnya kemudian berubah masam saat mengingat susahnya Selena


melayaninya, entah kalau kondisi Jeremy seperti itu sekarang.


***


“Tidak boleh


bekerja berat dan stress. Harus bedrest.”


“Tapi Dokter,


saya banyak pekerjaan.”


“Mungkin  bisa diatur dengan mewakilkan pada oranglain,


Bu. Menunggu kondisi Ibu dan janin membaik.”


Evelyn sudah


kembali berada di mobilnya menuju kantornya Jeremy, masih mengingat apa yang


dikatakan Dokter kandungan tadi. Ternyata dia tidak bisa terjun langsung


mengurus perusahaannya Jeremy demi kondisi kandungannya membaik.


Terdengar


bunyi ponsel di tangannya, ternyata telpon dari Dokternya Jeremy.


“Dokter, kau


sudah memeriksa suamiku?” tanya Evelyn.


“Sudah, Bu.”


“Bagaimana


keadaannya?”


“Masih butuh


waktu untuk pengobatan dan pemulihan, juga saya perlu beritahukan kalau saraf


seksualnya Pak Jeremypun terganggu.”


Evelyn


terkejut mendengarnya, ternyata Jeremy benar-benar tidak bisa apa-apa, entah


bagaimana reaksinya Jeremy.


“Ada kabar


baik, Bu.”


“Kabar baik,


apa?”


“Pendengaran


Pak Jeremy sudah ada perkembangan, sudah bisa mendengar sedikit-sedikit.”


“Bisa

__ADS_1


mendengar? Se sejak kapan?” Evelyn terkejut. Dia tidak tahu apa tadi pria itu


bisa mendengar? Tapi yang pasti itu adalah kabar yang sangat baik.


“Dok, sepertinya


aku harus menghentikan bekerja sama denganmu sementara waktu. Aku ada rencana


membawa suamiku ke kampung minimal sampai aku melahirkan? Karena aku juga perlu


menjaga kesehatatan bayiku. Bisakah kau merekomendasikan Dokter yang bisa merawat


suamiku selama di kampung?”


“Baik, Bu. Akan


saya siapkan laporan kesehatannya pada Dokter baru.”


Pembicaraan


dengan Dokter itupun terputus. Evelyn memutuskan untuk tinggal di kampung


sampai dia melahirkan. Hasrat hati ingin meninggalkan Jeremy, tapi bisakah dia


meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti itu? Tentu saja tidak.


Justru karena


Jeremy tidak bisa apa-apa, dia tidak bisa meninggalkannya, karena Jeremy adalah


suaminya.


Setelah membicarakan


dengan tim management perusahaannya Jeremy juga pengacara-pengacaranya, Evelyn kembali


pulang ke rumah sore harinya.


Tidak ada


waktu yang sangat membahagiakan bagi Jeremy, selain kedatangan istrinya.


Mendengar


langkah kakinya saja membuat matanya langsung berbinar.


“Aku


terpaksa menghentikanmu,” ucap Evelyn pada perawat itu yang langsung terkejut


mendengarnya.


“Tapi kenapa.


Bu? Apa saya melakukan kesalahan?”


“Tidak,


bukan kesalahan, tapi aku dan suamiku akan pindah ke kampung.”


“Ibu tidak


akan membawaku?” tanya perawat itu, dia masih ingin merawat Jeremy karena dia


mendapatkan bayaran tambahan dari Ryan untuk segala informasi kesehatannya pria


itu.


“Maaf, tidak.


Dikampung aku bisa mengurus suamiku sendiri. Lagipula banyak orang disana.”


Jawaban


Evelyn membuat perawat itu kecewa.


“Kau


berkemas saja. Aku akan segera pulang kampung.”


Perawat itupun


tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya keluar dari ruangan itu.


“Pak Ryan,


Bu Evelyn memberhentikan saya. Katanya mau pulang kampung dengan Pak Jeremy.”


Ryan tertawa


mendengarnya. “Jeremy, Jeremy, kau benar-benar sudah hancur,” batin pria itu.


“Baiklah,


aku akan mentransfer uangmu, pekerjaanmu selesai.” Ryan mengakhiri


pembicaraannya dengan perawat itu, lagipula memang dia tidak membutuhkannya


lagi. Sudah dipastikan Jeremy tidak akan sembuh cepat, mungkin saja tidak akan


bertahan lama dengan sakitnya. Melenyapkan Jeremy malah akan membuat hidup pria


itu keenakan, membiarkannya dalam penderitaan itu akan lebih baik.


“Tapi kau


sangat beruntung Jeremy, kau memiliki istri yang baik, itulah kebodohanmu!”


seringainya.


Evelyn berdiri


tidak jauh dari tempat tidurnya Jeremy, menatap pria yang sedang menatapnya itu


dengan tatapan senangnya. Hati Jeremy bahagia melihat istrinya yang sedang


hamil itu baik-baik saja.


“Kata Dokter


kau bisa sedikit sedikit mendengar, itu kabar yang baik. Dan setelah bicara


dengan pengacara perusahaanmu, aku memutuskan membawamu pulang ke kampung. Kau pasti


rindu ayahmu kan? Kita akan tinggal disana, sampai aku melahirkan, karena aku


juga perlu menjaga bayi kita.”


Hati Jeremy


terharu mendengarnya, dia begitu bangga pada istrinya, dia berjanji akan berusaha


untuk sembuh, dia yakin dia akan sembuh untuk bisa menjaga dan membahagiakan


anak istrinya meskipun dia tahu dia membutuhkan waktu dan perjuangan yang tidak


mudah untuk melakukannya.


***

__ADS_1


***


__ADS_2