
Ryan terus
mengikuti kemana Evelyn pergi, sambil melihat situasi kapan dia bisa membuat menyudutkan
mobil itu supaya masuk jurang, minimal mengalami kecelakaan beruntun dan sejenisnya.
Tapi lama
kelamaan dia mengerutkan dahinya karena jalur yang dilewati Evelyn bukanlah
jalan menuju kantornya Jeremy, membuatnya tidak terburu-buru memepet mobil itu.
Dia penasaran Evelyn akan kemana.
Dilambatkannya
mobilnya, dan terus mengikuti dari belakang. Mobilnya ikut dipelankan saat
mobilnya Eveleyn ternyata memberi send ke kiri dan langsung belok kiri, membuat
Ryan memperlambat mobilnya dan melihat gedung yang dituju Evelyn, ternyata
rumah bersalin. Istrinya Jeremy itu masuk gedung Rumah Sakit bersalin.
Tentu saja
Ryan tidak mungkin ikut belok atau Evelyn akan melihat kalau dia mengikutinya
dan tidak ada yang bisa dia lakukan disana apalagi harus melewati pos satpam.
Sambil
menggerutu akhirnya Ryan melanjutkan mobilnya lurus melewati Rumah Bersalin
itu, karena memang jalannya hanya jalan satu arah tidak bisa juga membuatnya
berbelok lagi.
Selena
melihat jam di dinding, dia merasa heran belum mendapat kabar apapun dari Ryan
padahal dia tahu Ryan sedang mengintai mobil Evelyn.
Diapun berjalan
menuju jendela dan mendial nomornya Ryan.
“Halo!” Sapa
Ryan dengan earphonenya, masih melajukan mobilnya di jalan raya.
“Bukannya
kau mengikuti mobilnya? Kenapa kau belum juga memberiku kabar kalau kau sudah melenyapkan wanita itu?”
Selena samasekali tidak peduli kalau pembicaraannya terdengar oleh Jeremy.
“Dia sedang
ke Rumah bersalin. Kenapa? Kau ingin bersenang-senang dengan Jeremy? Kau
menyuruhku melenyapkan Evelyn supaya kau bisa bersenang-senang dengannya?”
bentak Ryan.
Selena
terkejut dengan perubahan sikapnya Ryan itu. “Apa? Kau berani membentakku?”
Ryan
tersenyum kecut. “Sayangku Selena, aku juga tidak bodoh. Kau melenyaplam Evelyn
supaya kau bisa bersama Jeremy kan? Bukan Evelyn yang seharusnya ku lentapkan
tapi Je..re..my.”
Raut wajah
Selena berubah memerah menahan marah, semua diluar dugaan kalau ternyata Ryan
akan berubah pikiran. “Kau! Kau berani melakukan itu? Kau mau melenyapkan Jeremy?”
Perkataan
Selena membuat Jeremy terkejut, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
“Tentu saja
kenapa tidak?”
“Hem? Apa
kau mampu melakukannya?”
“Tentu saja,
kenapa tidak? Melenyapkan Jeremy akan lebih mudah daripada melenyapkan Evelyn. Kematian
evelyn tidak menuntungkan buatku!” Ryanpun terkekeh, dia sudah menebak pasti
Selena akan panik. Dia bukannya tidak tahu apa yang ada di pikirannya Selena. Hanya
saja melihat Evelyn ke Rumah Bersalin itu membuatnya berpikir ulang untuk melenyapkan
wanita hamil.
Selena kesal
bukan main, ternyata Ryan malah batal mencelakai Evelyn.
“Aku tidak
akan membiarkan kau mencelakai Jeremy!” gerutu Selena.
“Pria itu
sudah tidak bisa apa-apa, buat apa juga kau pertahankan? Aku lebih bisa
memberikan apa yang kau butuhkan!”
Selena
membalikkan tubuhnya menghadap Jeremy, pria yang duduk bersandar tidak berdaya,
memang benar Jeremy sudah tidak bisa apa-apa. Tapi dia tidak ingin ada wanita
lain yang bersama Jeremy.
Terdengar
suara langkah kaki mendekati kamar itu membuat Selena mematikan ponselnya. Ryan
menyeringai, dia bisa tahu Selena kesal bukan main, kemudian wajahnya berubah
garang, dia membulatkan tekadnya untuk menghabisi Jeremy. Menuntaskan hal-hal
yang mungkin dikemudian hari akan mengganggu bisnisnya.
__ADS_1
“Bu, Dokternya
sudah datang.” Ternyata perawat datang bersama Dokter, muncul di pintu yang
terbuka.
“Siang, Bu!”
Sapa Dokter yang agak terkejut karena bukan Evelyn yang ada di ruangan itu.
“Kau periksa
saja. Aku ingin tahu perkembangannya. Dan satu lagi aku ingin tahu apa Jeremy mengalami
impotensi?”
“Baik, Bu.” Dokter mulai melakukan
pemeriksaan, Selena menunggu dengan pikiran dan hati yang gelisah. Dia merasa bingung
dengan rencana yang akan dia tempuh.
“Bagaimana?”
tanya Selena.
“Benar, Bu. Saraf
seksualnya Pak Jeremy terganggu.”
Selena
memberengut, melipat kedua tangan didadanya menatap Jeremy. Bagaimana dia akan
bisa betah dengan pria dengan masalah seperti itu? Jeremy benar-benar mayat
hidup sekarang.
“Apa dia
akan sembuh?” tanya Selena.
“Bisa tapi mungkin
butuh waktu lama, bersamaan dengan kondisi fisiknya harus membaik.”
“Ternyata
kau memang tidak berguna, Jeremy. Entah apa yang harus aku lakukan padamu.”
Selena tidak
bicara lagi, diambilnya tasnya lalu dia meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
Jeremy hanya bisa melihat kepergiannya.
Setelah
Dokter memeriksa kondisi Jeremy, perawat keluar dari kamarnya Jeremy,
mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.
“Halo, Pak
Ryan, Dokter sudah memeriksa Pak Jeremy.”
“Hasilnya?”
“Pak Jeremy mengalami impotensi.”
Ryan langsung
tanpa dia melakukan apapun sudah dipastikan Selena tidak akan bisa bersama
Jeremy lagi. Tapi wajahnya kemudian berubah masam saat mengingat susahnya Selena
melayaninya, entah kalau kondisi Jeremy seperti itu sekarang.
***
“Tidak boleh
bekerja berat dan stress. Harus bedrest.”
“Tapi Dokter,
saya banyak pekerjaan.”
“Mungkin bisa diatur dengan mewakilkan pada oranglain,
Bu. Menunggu kondisi Ibu dan janin membaik.”
Evelyn sudah
kembali berada di mobilnya menuju kantornya Jeremy, masih mengingat apa yang
dikatakan Dokter kandungan tadi. Ternyata dia tidak bisa terjun langsung
mengurus perusahaannya Jeremy demi kondisi kandungannya membaik.
Terdengar
bunyi ponsel di tangannya, ternyata telpon dari Dokternya Jeremy.
“Dokter, kau
sudah memeriksa suamiku?” tanya Evelyn.
“Sudah, Bu.”
“Bagaimana
keadaannya?”
“Masih butuh
waktu untuk pengobatan dan pemulihan, juga saya perlu beritahukan kalau saraf
seksualnya Pak Jeremypun terganggu.”
Evelyn
terkejut mendengarnya, ternyata Jeremy benar-benar tidak bisa apa-apa, entah
bagaimana reaksinya Jeremy.
“Ada kabar
baik, Bu.”
“Kabar baik,
apa?”
“Pendengaran
Pak Jeremy sudah ada perkembangan, sudah bisa mendengar sedikit-sedikit.”
“Bisa
__ADS_1
mendengar? Se sejak kapan?” Evelyn terkejut. Dia tidak tahu apa tadi pria itu
bisa mendengar? Tapi yang pasti itu adalah kabar yang sangat baik.
“Dok, sepertinya
aku harus menghentikan bekerja sama denganmu sementara waktu. Aku ada rencana
membawa suamiku ke kampung minimal sampai aku melahirkan? Karena aku juga perlu
menjaga kesehatatan bayiku. Bisakah kau merekomendasikan Dokter yang bisa merawat
suamiku selama di kampung?”
“Baik, Bu. Akan
saya siapkan laporan kesehatannya pada Dokter baru.”
Pembicaraan
dengan Dokter itupun terputus. Evelyn memutuskan untuk tinggal di kampung
sampai dia melahirkan. Hasrat hati ingin meninggalkan Jeremy, tapi bisakah dia
meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti itu? Tentu saja tidak.
Justru karena
Jeremy tidak bisa apa-apa, dia tidak bisa meninggalkannya, karena Jeremy adalah
suaminya.
Setelah membicarakan
dengan tim management perusahaannya Jeremy juga pengacara-pengacaranya, Evelyn kembali
pulang ke rumah sore harinya.
Tidak ada
waktu yang sangat membahagiakan bagi Jeremy, selain kedatangan istrinya.
Mendengar
langkah kakinya saja membuat matanya langsung berbinar.
“Aku
terpaksa menghentikanmu,” ucap Evelyn pada perawat itu yang langsung terkejut
mendengarnya.
“Tapi kenapa.
Bu? Apa saya melakukan kesalahan?”
“Tidak,
bukan kesalahan, tapi aku dan suamiku akan pindah ke kampung.”
“Ibu tidak
akan membawaku?” tanya perawat itu, dia masih ingin merawat Jeremy karena dia
mendapatkan bayaran tambahan dari Ryan untuk segala informasi kesehatannya pria
itu.
“Maaf, tidak.
Dikampung aku bisa mengurus suamiku sendiri. Lagipula banyak orang disana.”
Jawaban
Evelyn membuat perawat itu kecewa.
“Kau
berkemas saja. Aku akan segera pulang kampung.”
Perawat itupun
tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya keluar dari ruangan itu.
“Pak Ryan,
Bu Evelyn memberhentikan saya. Katanya mau pulang kampung dengan Pak Jeremy.”
Ryan tertawa
mendengarnya. “Jeremy, Jeremy, kau benar-benar sudah hancur,” batin pria itu.
“Baiklah,
aku akan mentransfer uangmu, pekerjaanmu selesai.” Ryan mengakhiri
pembicaraannya dengan perawat itu, lagipula memang dia tidak membutuhkannya
lagi. Sudah dipastikan Jeremy tidak akan sembuh cepat, mungkin saja tidak akan
bertahan lama dengan sakitnya. Melenyapkan Jeremy malah akan membuat hidup pria
itu keenakan, membiarkannya dalam penderitaan itu akan lebih baik.
“Tapi kau
sangat beruntung Jeremy, kau memiliki istri yang baik, itulah kebodohanmu!”
seringainya.
Evelyn berdiri
tidak jauh dari tempat tidurnya Jeremy, menatap pria yang sedang menatapnya itu
dengan tatapan senangnya. Hati Jeremy bahagia melihat istrinya yang sedang
hamil itu baik-baik saja.
“Kata Dokter
kau bisa sedikit sedikit mendengar, itu kabar yang baik. Dan setelah bicara
dengan pengacara perusahaanmu, aku memutuskan membawamu pulang ke kampung. Kau pasti
rindu ayahmu kan? Kita akan tinggal disana, sampai aku melahirkan, karena aku
juga perlu menjaga bayi kita.”
Hati Jeremy
terharu mendengarnya, dia begitu bangga pada istrinya, dia berjanji akan berusaha
untuk sembuh, dia yakin dia akan sembuh untuk bisa menjaga dan membahagiakan
anak istrinya meskipun dia tahu dia membutuhkan waktu dan perjuangan yang tidak
mudah untuk melakukannya.
***
__ADS_1
***