
Jeremy melirik pada kepala yang masih tidur dibahunya. Dia mengangkat tangannya perlahan memindahkan kepalanya Evelyn ke bantal. Lalu diapun bangun dan terduduk disamping tubuh istrinya. Pemikiran tadi tiba-tiba memenuhi fikirannya. Kalau Evelyn hamil, apa yang akan dilakukannya? Apakah dia akan menyuruh Evelyn menggugurkan kandungannya?
Tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa dia tidak berfikir kearah itu? Biasanya dia tidur dengan sembarang wanita penghibur yang tentu saja sudah persiapan jangan sampai membuat dirinya hamil. Sedangkan Evelyn berbeda. Wanita itu hanya melayaninya saja.
Kepalanya menoleh pada Evelyn. Tangannya menyibakkan rambutnya Evelyn yang masih terlelap. Menatap wajah itu membuatnya tersenyum. Ada perasaan berbeda tersendiri dihatinya, wanita itu hanya setia padanya, boro-boro memikirkan pria lain.
Terdengar ponselnya berbunyi. Jeremy mengangkatnya.
“Kalian datang saja kerumah,” kata Jeremy, lalu menutup ponselnya dan bergegas ke kamar mandi.
Evelyn masih terlelap saat Jeremy sudah keluar dari kamarnya, dia menerima tamu beberapa pria diruang tamu.
Saat Evelyn bangun, suaminya sudah tidak ada disampingnya. Semalam dia tidur sangat nyenyak. Bukan semalam tapi dini hari dia baru bisa tidur.
Jeremy juga tidak biasanya, dia tidak terlalu banyak bicara dengan tamu-tamunya, yang salah satunya Ryan.
Mata Ryan juga tamu yang lainnya tampak menoleh kearah pintu masuk keruangan lain, sebenarnya bukan pintu tapi gapura penghubung ruang tamu dan ruangan lainnya.
Mereka melihat sosok wanita lewat dijalan itu berbelok ke sebelah kanan. Evelyn hanya melihat sekilas kalau suaminya sedang ada tamu, dan salah satunya Ryan.
Seorang tamu itu tiba-tiba bersiul saat melihat Evelyn menoleh kearah ruang tamu.
“Swuit wiw,” siulnya sambil mengangkat alisnya, menggoda Evelyn.
“Dia istriku, jangan mengganggunya,” ucap Jeremy, membuat tamu-tamunya terkejut dan menatap Jeremy, tapi tidak ada yang bertanya lagi.
“Maaf Pak Jeremy, aku tidak tahu,” kata pria itu.
Jeremy tidak bicara apa-apa lagi, dia kembali membahas pekerjaannya, hanya fikirannya terus memikirkan bagaimana kalau Evelyn hamil, apakah dia akan membiarkan wanita itu hamil bayinya? Apa dia siap menjadi ayah?
Ryan tampak ikut menoleh pada Evelyn. Banyak pertanyaan di kepalanya.
Dia berfikir bagaimana kalau Selena tahu kalau Jeremy sepertinya peduli pada wanita itu. Tapi bukankah itu bagus? Artinya dia punya kesempatan mendekati Selena? Selena harus tahu kalau Jeremy tidak menganggapnya lebih dari hiburan saja.
Evelyn segera pergi ke ruang makan, malas dia melihat tamu-tamunya Jeremy yang sangar, berbeda dengan Jeremy. Meskipun tubuh pria itu penuh dengan tato, Jeremy memiliki wajah yang tampan dan penampilannya sangat bersih.
“Aku akan membantu memasak,” kata Evelyn.
Bibi menatapnya.
“Sepertinya Jeremy tidak akan kemana-mana, dia menerima tamunya di rumah, aku akan memasak dan memaksanya untuk makan dirumah,” kata Evelyn lagi.
“Baiklah, Nyonya,” ujar Bibi.
Evelynpun mulai sibuk memasak di dapur dengan Bibi.
Jeremy masih mengobrol dengan tamunya itu, saat hidungnya mencium harumnya aroma asap ikan bakar dari dapur. Perutnya tiba-tiba minta diisi. Sepertinya Evelyn sedang memasak, fikirnya.
Dia masih terus mengobrol dengan tamunya, lagi-lagi tercium aroma asap itu, perutnya menjadi sangat kelaparan.
Tidak berapa lama tamunya pulang begitu juga dengan Ryan.
Jeremy akan masuk kerumah tapi kakinya terhenti di pintu dekat ruang makan, matanya melirik kearah ruangan meja makan itu. Istrinya itu sibuk bolak balik menyiapkan menu makanan diatas meja. Sesekali menyeka keringatnya dengan tangannya.
__ADS_1
Memperhatikan wanita itu yang tidak neko-neko dalam hidupnya, dan terkesan hanya menjadi wanita yang manis, membuatnya tersenyum.
Jeremy akan melangkahkan kakinya masuk ke rumah, tiba-tiba Ara menoleh kearahnya.
“Jeremy! Makanan sudah siap, kau pasti lapar kan?” tanya Evelyn agak keras karena jaraknya berdiri dengan tempat Jeremy berdiri agak jauh.
“Tidak,” jawab Jeremy, dia akan melangkahkan kakinya tapi Evelyn kembali memanggilnya.
“Makanlah, mumpung semuanya masih panas, aku akan memberi tahu Pak Kades kalau kau mau makan masakanku, aku ingin tahu komentarmu, apakah masakanku enak atau tidak,” kata Evelyn.
Mendengar nama Ayahnya disebut lagi, membuatnya kesal.
“Kau mengancam-ancamku?” bentaknya, membuat Evelyn terkejut dengan reaksinya.
“Tidak, bukan itu. Ayahmu yang memberitahuku supaya memasak makanan kesukaanmu, tidak ada salahnya kau mencobanya,” jawab Evelyn, menatap Jeremy, dia merasa kecewa dengan sikap pria itu.
“Aku sudah bekerja keras memasak,” lanjut Evelyn dengan lesu dan menunduk, hanya menggeserkan mangkuk-mangkuk diatas meja itu.
Melihatnya membuat Jeremy mengalah, apalagi sebenarnya perutnya merasa lapar. Kakinya masuk ke ruang makan itu. Evelyn langsung tesenyum lebar.
“Ayo duduklah,” ucapnya dengan gembira, sambil menyiapkan piring buat Jeremy.
Setelah mencuci tangannya, Jeremy duduk sambil menatap menu yang ada di meja itu. Dia malah terdiam melihatnya. Masakan itu membuatnya teringat pada Ibunya. Biasanya Ibunya memasak makanan kesukaannya di rumah. Tapi dia baru tahu kalau Ibunya sudah lama meninggal karena sedih memikirkannya yang kabur dari rumah.
Dia sudah tidak bisa pulang kerumah, selain dia dan temannya jadi buronan karena menjarah sebuah toko pakaian bersama geng motornya, dia menghilang ke kota dengan teman-temannya.
Hidup dijalanan bergabung dengan preman-preman di ibu kota, yang menjalankan bisnis terlarang mereka yang dijalaninya sampai sekarang dan membuatnya hidup penuh dengan kemewahan.
“Ayo makanlah, aku juga membuat sambal kecapnya,” ucap Evelyn, sambil tersenyum.
Ikan secuil itu yang sudah diberinya kecap, masuk ke mulutnya. Diapun terdiam lagi.
“Bagaimana? Apakah enak?” tanya Evelyn.
Jeremy tidak menjawab, hanya melanjutkan makannya. Evelyn tidak tahu kalau Jeremy sedang teringat pada ibunya.
Melihat Jeremy yang diam, Evelyn tidak bicara lagi. Dia hanya berdiri disamping Jeremy, menggeserkan mangkuk menu supaya lebih dekat pada pria itu.
Karena Evelyn berdiri di sampingnya, Jeremy yang sedang menunduk menyantap makannya, jadi melihat ke tubuhnya Evelyn, ke perutnya yang rata. Tiba-tiba dalam bayangannya muncul Evelyn dengan perutnya yang buncit, diapun menggelengkan kepalanya.
Dia jadi memikirkan lagi bagaimana kalau Evelyn hamil, apa sanggup dia menyuruh wanita itu menggugurkan kandungannya karena dia tidak siap menjadi ayah?
Evelyn duduk dikursi sebelahnya Jeremy, dia juga mulai makan.
“Ternyata rasanya sangat enak, aku sangat lapar,” ucapnya lalu menyantap makanan di piringnynya.
Jeremy tidak bicara, dia juga melakukan hal yang sama tanpa banyak bicara.
Evelyn sesekali menoleh pada pria itu yang sangat pendiam kali ini.
“Bagaiamana lamaran kerjamu?” tanya Jeremy, tiba-tiba teringat hal itu.
“Aku masih menunggu jawaban seminggu lagi,” jawab Evelyn.
__ADS_1
“Berapa gajinya?” tanya Jeremy.
“UMR!” jawab Evelyn.
Jeremy tertawa sinis.
“Sangat buang-buang waktu!” ucap Jeremy.
“Tidak juga, itu sudah lumayan bagus gajinya,” kata Evelyn.
Jeremy tidak bicara lagi.
“Kenapa?” tanya Evelyn.
“Tidak apa-apa, terserah padamu saja,” jawab Jeremy, lalu dia kembali makan. Dia tidak mau banyak berdebat soal itu.
Tiba-tiba ponselnya Evelyn yang ada di meja makan itu berbunyi, bekas dia searching menu menu supaya masakannya enak.
Evelyn mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.
“Ya selamat siang,” jawab Evelyn.
Kemudian dia terdiam, sedangkan Jeremy tidak terlau memperdulikan perbicaraan itu, tapi tiba-tiba dia terkejut saat Evelyn berteriak.
“Apa? Aku diterima? Dan mulai bekerja besak pagi? Terimakasih-terimakasih! Aku akan datang tepat waktu, aku tidak akan terlambat!” serunya dengan semangat, lalu telponpun di tutup.
Diapun segera memberikan pesan pada Desi dan Zaky kalau dia diterima bekerja dan ternyata Desy dan Zaky juga diterima bekerja disana.
“Senangnya,” gumamnya, lalu menoleh pada Jeremy.
“Aku diterima kerja, besok aku mulai kerja, senangnya,” ucap Evelyn.
Reaksi Jeremy hanya biasa saja.
“Kau kenapa? Seperti tidak senang?” tanya Evelyn.
“Memangnya aku harus bereaksi apa? Kerja dengan gaji segitu, senangnya dimana?” jawab Jeremy.
Evelyn langsung memberengut melihat sikap Jeremy begitu, ah tidak masalah, yang pasti dia senang diterima bekerja.
Evelyn melihat ke piringnya Jeremy yang hampir habis.
“Bagaimana rasanya” tanya Evelyn.
“Rasa apa?” tanya Jeremy.
“Masakannya, kau menghabiskan ikan dan supnya, apakah enak?” jawab Evelyn.
“Biasa saja,” jawab Jeremy, tidak mau jujur kalau masakannya sangat enak.
“Biasa saja?” Evelyn tampak kecewa.
“Ya sudah tidak apa-apa, nanti aku akan mencoba masak yang lebih enak,” kata Evelyn, menghibur diri sendiri.
__ADS_1
Jeremy tidak menjawab, dilihatnya piringnya hanya berisi sisa tulang ikan, juga sup dimangkuk itu sudah dihabiskannya dua kali, perutnya sangat kenyang. Entah kapan terakhir dia merasakan makan sekenyang ini? Tapi dia gengsi mengatakan kalau masakan Evelyn sangat lezat.
******