Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-18 Jeremy Ulang Tahun


__ADS_3

“Langsung pulang saja!” perintah Jeremy pada supir, saat mereka sudah berada didalam mobil.


“Baik, Pak!” jawab supir.


Sesekali Evelyn menoleh pada pria itu yang duduk disampingnya, penilaiannya kalau wajah Jeremy itu memang berubah pucat, entah kenapa. Apa terjadi sesuatu? Tapi apa? Tidak ada yang menakutkan disana kecuali kelakuannya Jeremy sendiri dengan brodyguardnya.


Evelyn terkejut saat pria itu menoleh padanya yang kepergok sedang menatapnya.


“Apa kau tidak ada kerjaan lain selain melihatku, Heh?” tanya Jeremy dengan ketus.


Wajah Evelyn langsung memerah dan mengalihkan pandangannya kearah jendela. Kadang dia tidak percaya kalau pria seketus itu adalah suaminya. Tapi memang sikap Jeremy agak berubah, beberapa kali ponselnya berbunyi direjecknya.


Evelyn menoleh lagi pada pria itu yang kembali menerima panggilan yang lagi-lagi di rejectnya, bukan direjeck saja tapi dimatikan.


Jeremy menoleh lagi kearah istrinya itu, Evelyn segera memalingkan wajahnya keluar jendela lagi. Tapi sekarang Jeremy tidak bicara apa-apa. Di benaknya Jeremy masih terlintas kejadian tadi melihat wanita hamil itu.


Dia masih bingung kalau Evelyn sampai hamil, apa yang akan dilakukannya, membiarkan bayi itu lahir atau menyuruhnya menggugurkannya? Bagaimana kalau sampai ayahnya tahu Evelyn hamil terus digugurkan? Mungkin Ayahnya akan mati saat itu juga gara-gara berita itu. Tapi punya anak? Ah tidak, apa enaknya punya anak? Ribet! Batinnya.


Jeremy menoleh pada Evelyn.


“Mmm,” dia mau bertanya tapi tampak berfikir keras, membuat Evelyn menoleh padanya.


“Ada apa?” tanya Evelyn.


Mata Jeremy melihat arah perut Evelyn.


“Ada apa dengan perutku?” tanya Evelyn, keheranan.


Jeremy tidak menjawab, dia kembali memalingkan wajahnya menatap keluar jendela, tingkahnya membuat Evelyn keheranan, sepertinya ada yang difikirkan pria itu. Tapi dia tidak banyak bertanya, kembali melihat keluar jendela seperti yang dilakukan Jeremy.


Sesampainya dirumah, Eveyn melihat sebuah mobil yang sepertinya pernah dilihatnya parkir di rumah Jeremy.


“Kau ada tamu?” tanya Evelyn pada Jeremy, sebelum mereka turun.


Pria itu tidak menjawab, hanya langsung turun saja. Akhirnya Evelynpun turun tanpa banya bicara.


Pertanyaannya terjawab, saat  Jeremy masuk ke dalam rumah, seorang wanita menyerbunya dan langsung memeluk juga menghujani pria itu dengan ciumannya.


Deg! Jantung Evelyn serasa berhenti berdetak melihatnya, rasa perih kembali muncul di hatinya. Sebenarnya ingin menangis melihat itu semua tapi tidak, dia tidak boleh rapuh, dia harus kuat. Memang tidak akan mudah menghentikan kebiasaan Jeremy untuk tidak berhubungan dengan wanita lain, tapi demi mempertahankan pernikahan yang sudah terlanjur terjadi, dia harus bisa merubah Jeremy dan menghentikannya.


Evelyn masuk kedalam ruangan itu dengan tenang padahal menahan hati yang sebenarnya sakit.


“Ehm! Lepaskan suamiku!” ucapnya, dan berusaha untuk sanggup melihat suaminya berciuman sehot itu dengan wanita itu yang tiada lain Selena.


Selena melepaskan ciumannya, matanya melirik pada Evelyn lalu pada Jeremy.


“Kau mengabaikan panggilanku, jadi aku datang kerumahmu,” kata Selena, sambil jarinya melap bibirnya Jeremy yang terkena lipstiknya. Kedua tangannya masih melingkar dilehernya Jeremy, matanya kembali melirik pada Evelyn lalu pada Jeremy lagi.


“Ada apa?” tanya Jeremy, menatap wanita itu.


“Kau janji kan akan akan menemuiku,” jawab Selena.


“Nanti malam, tidak sekarang,” kata Jeremy, sambil melepaskan tangan Selena.

__ADS_1


Evelyn tidak beranjak dari tempatnya berdiri, meski sakit dan sebernarnya tidak sanggup melihat kemesraan suaminya dengan wanita itu, dia harus bisa menahan diri untuk tidak menangis dan meratapi diri, menyadari kalau dia tidak dicintai suaminya.


“Aku tahu karena acaranyapun nanti malam,” ucap Selena.


“Acara apa?” tanya Jeremy.


“Kau kan ulang tahun hari ini! Apa kau lupa? Aku membuat pesta untukmu,” kata Selena.


“Aku tidak pernah ingat aku ulang tahun,” ucap Jeremy.


Eveleyn terdiam mendengarnya, dia tidak tahu kalau Jeremy ulang tahun.


Selena menoleh pada Evelyn dan tersenyum dingin.


“Kau tidak tahu suamimu ulang tahun? Payah!” ucapnya.


Evelyn tidak menjawab, dia masih merasa terkejut dengan kabar ini.


“Aku tidak suka dirayakan! Sejak kapan aku merayakan ulangtahun,” kata Jeremy, sambil berjalan menuju sofa dan duduk disana.


Selena langsung menghampirinya dan duduk di tangan sofa itu dengan mengangkat satu kakinya yang membuat roknya semakin terangkat, memperlihatkan kakinya yang mulus.


Lagi-lagi Evelyn harus bersabar dan menahan diri melihatnya, apalagi Selena dengan tidak malu-malu melingkarkan tangannya ke leher Jeremy dan suaminya itu menyimpan tangannya dipaha Selana dan mengusapnya dengan lembut.


Sakit? Tentu saja sakit melihatnya, tapi dia tidak akan menyerah, dia pastikan dia tidak akan pernah melihat pemandangan itu lagi dirumah ini, tidak akan melihat Jeremy dengan wanita-wanitanya lagi di rumah ini. Hanya ada satu wanita dirumah ini, yaitu dirinya, istrinya.


“Kau membuat acara ulang tahun untuk suamiku?” tanya Evelyn menghampiri Selena dan Jeremy yag sedang bersikap semesra itu. Mungkun bukan karena sengaja Jeremy melakukannya tapi memang dia sudah terbiasa seperti itu.


“Kau tidak perlu tahu, karena aku tidak mengundangmu!” kata Selena.


“Tentu saja Jeremy harus datang, aku sudah membuatkan pesta yang meriah buat Jeremy. Sudahlah sebaiknya kau tidak perlu ikut campur!” yang menjawab Selena.


“Kau pasti datang kan sayang? Apa aku perlu menjemputmu?” tanya Selena, mendekatkan wajahnya kewajahnya Jeremy.


“Acaranya di hotel  berbintang, kau pssti suka, aku juga sudah membooking kamar buat kita, kita habiskan malam berdua,” kata Selena, mengusap pipinya Jeremy.


Jeremy menatap Selena.


“Apa kau mempunyai hadiah istimewa?” tanya Jeremy.


“Tentu saja, aku ada permainan baru untukmu, kau pasti suka,” jawab Selena, sambil tersenyum, lalu mencium bibirnya Jeremy dan pria itu membalasnya, merekapun berciuman lagi di depan Evelyn.


Sungguh sebenarnya  sakit melihatnya, meskipun antara dia dan Jeremy belum ada cinta tapi mereka sudah terikat pernikahan dan pria itu adalah pria yang pertama menyentuhnya, hatinya mersa sakit dengan sikap Jeremy yang bersikap seperti itu didepannya seolah tidak menghargai perasaannya.


Tiba-tiba terdengar ponsel Jeremy berbunyi. Jeremy melepaskan ciumannya pada Selena lalu mengambil ponselnya dari sakunya.


Selena menyusupkan jemarinya kedada Jeremy sambil melirik pada Evelyn yang mematung, menahan diri untuk tidak menangis melihat mereka.


“Aku terima telpon dulu!” kata Jeremy, lalu bangun dan langsung masuk kedalam ruangan lain untuk menerima telpon. Kini tinggal Evelyn dengan Selena.


Evelyn menghampiri Selena, menatapnya dengan tajam.


“Aku minta kau jauhi suamiku,” ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


Selena tersenyum sinis balas menatap Evelyn.


“Menjauhi? Buat apa? Seharusnya kau yang menyingkir dari kehidupan Jeremy,” kata Selena dengan ketus.


“Aku istrinya, aku lebih berhak atas suamiku daripada wanita penghibur sepertimu!” balas Evelyn.


Selena langsung bangun dari kursinya dan menatap Evelyn.


“Aku tahu Jeremy tidak mencintaimu, dia tidak suka menikaah, jadi tidak perlu sok- sok an menjadi istrinya!” kata Selena.


“Aku tidak perlu Jeremy mencintaiku atau tidak, yang pasti aku tidak mau ada wanita manapun dalam kehidupan suamiku,” ujar Evelyn.


Selenapun tertawa.


“Kau pede sekali bicara begitu. Jeremy itu pria bebas, dia suka kebebasan, sungguh mimpi buruk dia harus menikah denganmu,” kata Selena.


“Aku tidak peduli apa yang kau katakan, aku minta menyingkirlah dari kehidupan saumiku, jangan pernah datang lagi kerumah ini! Mulai hari ini aku pastikan kau tidak akan pernah bisa masuk ke rumah ini lagi,” kata Evelyn.


Selenapun tertawa.


“Kau mengancamku? Kau merasa berkuasa terhadap Jeremy? Mungkin bagi wanita lain bisa, tapi bagiku tidak. Apa kau tahu aku mengenal Jeremy lebih darimu, jadi aku tahu kalau Jeremy yang akan menyingkirkanmu, bukan aku!” ujar Selena.


Evelyn akan bicara lagi tapi Jeremy datang keruangan itu.


“Aku sedang sibuk ada urusan, kau pergi saja, nanti aku datang kesana!” kata Jeremy pada Selena.


“Baiklah kalau begitu, aku tunggu,” kata Selena pada Jeremy.


 “Jangan lupa kau siapkan menu kesukaanku, aku suka makanan jenis  seafood, bisa lan?” tanya Evelyn tiba-tiba, membuat Selena dan jeremy menoleh padanya.


“Buat apa kau mengatakan itu?” tanya Selena.


Evelyn berjalan menghampiri Jeremy lalu memeluk tangannya.


“Tentu saja menu spesial untukku,  karena aku akan datang mendampingi saumiku ke pesta itu,” jawab Evelyn, membuat Selena dan Jeremy terkejut.


Jeremy langsung menatap Evelyn.


“Aku istrimu, masa kau ulang tahun aku tidak ikut merayakan?” kata Evelyn sambil tersenyum manis, senyum yang sebenarnya terasa pahit dihatinya.


“Sebaiknya kau tidak perlu ikut,” jawab Jeremy.


“Kenapa? Sudah seharusnya istri mendampingi suaminya di hari ulang tahunnya,” kata Evelyn lagi lalu menoleh pada Selena.


“Kau siapkan saja pestanya yang meriah jangan lupa menu tambahan makanan yang aku suka, kami akan datang tepat waktu,” ucap Evelyn.


Selena sungguh merasa marah dan kesal, wajahnya langsung ditekuk dan berubah masam.


“Apa lagi yang kau tunggu? Atau suamiku tidak akan pernah datang kepestamu!” kata Evelyn.


Selena semakin sebal saja, dia menoleh pada Jeremy yang tampak tidak membantah apa yang dikatakan Evelyn.


“Jeremy aku pulang , jangan lupa kau datang dan sebaiknya tidak usah membawa wanita ini yang akan membuat kacau acara kita!” kata Selena, lalu pergi dari ruangan itu dengan kesal.

__ADS_1


Jeremy menoleh pada Evelyn yang balas menatapnya.


*******


__ADS_2