Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-22 Jeremy Berencana Pergi ke Hongkong


__ADS_3

Evelyn bangun dari tempat tidur itu, menghampiri lemari pakaiannya dan melihat-lihat pakaian kerjanya yang belum semua dirapihkan. Seandainya Jeremy mengajaknya ke Hongkong mungkin pakaian itu tidak akan terpakai. Tetapi kalau dia tetap disini dia bisa melanjutkan pekerjaannya mulai besok.


Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Evelyn keluar dari kamar itu. Diatas tangga dia meruncingkan pendengarannya menebak-nebak apakah teman Jeremy itu masih ada? Tidak kedengaran apa-apa. Akhirnya Evelyn pergi ke kamarnya Jeremy.


Ternyata kamar itu kosong, tidak ada Jeremy disana. Evelyn mulai menguap, malam yang sangat melelahkan, pergi ke pesta tapi belum makan apapun dan sama sekali tidak ada selera makan, apalagi mendengar percakapan Jeremy tadi yang membuatnya merasa gelisah.


Evelyn mulai berbaring ditempat tidur itu, saat tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dia menoleh kearah pintu. Ternyata Jeremy yang masuk dan langsung menghampirinya. Berdiri didekat tempat tidur dan menatapnya.


“Aku mau pergi ke Hongkong!” kata Jeremy.


Evelyn bangun dari tidurnya, duduk menatap Jeremy.


“Ke Hongkong? Kapan?” tanya Evelyn, menatap pria itu yang terlihat menjulang tinggi karena dia menatapnya sambil duduk.


“Besok,” jawab Jeremy.


Evelynpun diam.


“Tapi aku tidak bisa mengajakmu,” lanjut Jeremy.


“Berapa lama?” tanya Evelyn.


“Lumayan lama mungkin 2 bulanan atau bisa 3 bulan 4 bulan,” jawab Jeremy.


Evelyn kembali diam.


Jeremy beranjak dari hadapannya Evelyn sambil membuka jasnya lalu dilempar ke kursi. Pria itu juga membuka kemejanya yang memperlihatkan tubuhnya yang atletis dan bertato, membuatnya terlihat sangat macho, ditambah wajahnya yang tampan.


Entah menurun dari siapa wajahnya itu, bahkan tidak ada mirip miripnya dengan Pak Kades. Bisa saja Jeremy mirip dengan Ibunya, pasti ibunya yang sangat cantik, Pak Kades sebagai orang yang terkenal dari keluarga kaya pasti memilih wanita cantik untuk jadi istrinya.


 Jeremy memiliki tubuh yang gagah, rasanya tidak percaya kalau dia pernah memeluk tubuh segagah itu, batin Evelyn.


Jeremy kembali melempar kemejanya ke kursi yang tadi meski hasilnya kemeja itu jatuh ke kursi yang lain. Kemudian pria itu masuk kesebuah pintu yang Evelyn tidak tahu ruangan apa itu karena disana terdapat sebuah alat pintu masuk dan dilihatnya Jeremy menekan beberapa angka baru membuka pintu itu. Sepertinya ruangan itu sangat rahasia makanya dikunci seperti itu, entah apa isi ruangan itu.


Tidak berapa lama pria itu keluar lagi dengan membawa sebuah kantong plastik berukuran cukup besar berwarna hitam.


Evelyn hanya menatapnya saat pria itu melemparkan plastik itu ke atas tempat tidur.


“Buatmu! Selama aku tidak ada dirumah!” kata Jeremy, sambil duduk dipinggir tempat tidur dan membuka sepatunya.


“Apa ini?” tanya Evelyn, tangannya menyentuh kantong plastik itu, lalu dia membukanya dan matanya terbelalak kaget karena isinya uang bergepok-kepok, dibukanya plastick itu dengan lebar, lalu menatap Jeremy.

__ADS_1


“Uang?” tanya Evelyn lagi, menatap Jeremy yang berbaring terlentang di depannya, memamerkan dada dan perutnya yang rata, kemudian melipat kedua tangannya kebawah kepalanya.


“Hem!” jawab Jeremy.


Evelyn membongkar isi plastik itu tumpah ke tempat tidur, membuat tempat tidur itu penuh uang berserakan bergepok-gepok.


“Uang sebanyak ini?” tanya Evelyn lagi.


“Iya, itu untuk kebutuhanmu selama aku tidak ada dirumah, kau bisa menggunakannya terserah untuk apa. Semua biaya rumah dan gaji bibik dan lain-lain sudah diurus oleh bagian keuangan di kantorku,” jawab Jeremy.


“Kantor?” tanya Evelyn bingung, dia tidak tahu Jeremy punya kantor.


“Aku ada usaha otomotif, seluruh yang bekerja padaku semua yang mengurus menager keuangan disana!” jawab Jeremy.


“Kau punya usaha otomotif? Aku baru tahu!” ucap Evelyn, terkejut mendengarnya, dia hanya berfikir kalau Jeremy hanya menjual barang-barang terlarang saja.


“Hanya sampingan saja,” jawab Jeremy.


Evelynpun terdiam, usaha otomotif sampingan? Usaha utamanya apa? Pantas saja Jeremy selalu dikelilingi wanita-wanita penghibur, dia pasti sangat royal pada wanita-wanita itu.


Evelyn menoleh pada uang itu lagi. Kalau Jeremy punya usaha otomotif kenapa uangnya berupa fisik begini? Jarang orang yang menyimpan uang fisik dirumah dengan jumlah yang sangat besar.


Jeremy membuka matanya dan menoleh pada Evelyn yang malah diam melihat uang itu.


“Ini sangatbanyak!” kata Evelyn.


“Terus yang jadi masalahnya apa?” tanya Jeremy, kadang merasa kesal karena Evelyn selalu bersikap begitu setiap diberi uang. Wanita lain sampai berseru kegirangan kalau diberinya uang. Sangat aneh istrinya itu.


Evelyn tidak menjawab, dia memasukkan kembali uang itu ke plastik, sedangkan Jeremy hanya memperhatikannya.


“Ada yangingin aku tanyakan,” kata Evelyn.


“Apa?” tanya Jeremy.


Evelyn menatap


pria yang sedang menatapnya itu.


“Soal Selena,” kata Evelyn.


Jeremy mengalihkan pandangannya kearah langit-langit, seakan malas diberi pertanyaan itu.

__ADS_1


“Kau tidak pacaran dengannya?” tanya Evelyn, dengan ragu. Dalam hatinya dia takut jawaban Jeremy akan menyakitkan.


“Apa maksudmu pacaran? Aku hanya membayarnya,” jawab Jeremy.


Evelynpun diam. Dia tidak tahu apakah itu jawaban yang bagus atau tidak.  Entah kenapa dia merasa lega saja mendengarnya. Setidaknya Jeremy tidak memiliki perasan khusus pada Selena.


Evelyn tidak bicara lagi, dia membereskan uang itu. Jeremy kembali meliriknya, menatap wanita itu yang  masih memasukkan uang itu. Beberapa hari ini hampir tiap malam dia melihat wajah itu ada di kamarnya, bukan di kamarnyasaja tapi juga di penjuru rumahnya. Menatap wajah cantiknya yang natural, wanita itu terlihat sangat manis.


Dari wajah pandangannya turun ke leher yang bergerak gerak saat Evelyn menelan ludah, turun ke dadanya yang sama sekali tidak terlihat. Hanya wanita itu yang berpenampilan seperti itu jika bersamanya ditempat tidur. Tidak ada wanita yang berpenampilan menggoda disampingnya, dengan memperlihatkan seluruh tubuhnya yang ****. Bahkan wanita itu cuma sedang memasukkan uang kedalam kantong plastic.


Dari dada turun keperut, pandangan Jeremy  berhenti disana, memikirkan lagi perkataannya Cheng tadi, dia harus mempunyai anak laki-laki.


Dari perut turun lagi kebagian lain, bagian sentisif itu yang tidak pernah tersentuh pria lain salain dirinya. Dilihatnya kaki Evelyn yang melipat itu sedikit menyingkap diatas lututny. Terasa ada desiran didadanya Jeremy.


Hanya seperti itu, selalu seperti itu, hanya melihat sedikit bagian tubuh istrinya, selalu membuatnya merasa bergairah. Dan selalu juaga tidak pernah ada godaan yang serius dari istrinya, mungkin saja wanita itu memang tidak pernah berfikir apa-apa.


Evelyn menyelesaikan memasukkan uang itu dan menoleh pada Jeremy, dia terkejut karena pria itu sudah duduk dan menatapnya dengan jarak yang dekat. Gara-gara memikirkan uang itu membuat Evelyn tidak menyadari pergerakan dia mendekatinya.


Dia terkejut menatap Jeremy yang menundukkan kepalanya mendekati wajahnya.


“Aku harus punya anak laki-laki,” kata Jeremy, membuat Evelyn semakin terkejut saja.


“Anak laki-laki? Maksudmu apa?” tanya Evely, hatinya langsung merasa was-was.


Jeremy menatap wajah cantik itu. Dia sudah melanggar prinsipnya untuk tidak menyentuhnya lagi, tapi ternyata dia sudah melakukannya berkali-kali. Daya tarik wanita ini sangat kuat menguasai dirinya.


Evelyn menatap mata pria itu, dia mendadak jadi gugup ditatap seperti itu, jantungnya semakin berdebar kencang saja.


“Anak laki-laki,” gumam Evelyn lagi.


“Iya anak laki-laki untuk menjadi penerusku,” jawab Jeremy.


Evelyn langsung saja berkeringat dingin, mengingat pekerjaan Jeremy yang sangat beresiko itu, dia keberatan kalau putranya melanjutkan pekerjaan seperti itu. Wajahnya langsung memucat.


“Aku belum punya niat punya anak,” jawab Evelyn, membuat Jeremy terkejut.


Dia sama sekali tidak bergerak menatapnya, dia tahu istrinya sedang gelisah.


“Sepertinya aku akan tidur di kamar sebelah saja, aku tida mau mengganggu istirahatmu, selamat malam!” ucap Evelyn sambil akan turun dari tempat tidur. Entah kenapa dia malah jadi takut hamil naknya Jeremy, dia takut masa depan putranya akan hancur.


Evelyn mengerakkan tubuhnya, tapi tubuhnya tertahan karena tangan Jeremy ada diantara tubuhnya.

__ADS_1


Diapun menoleh pada Jeremy yang langsung saja mencium bibirnya. Evelyn tidak bisa bicara lagi saat tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke tempat tidur dalam pelukannya Jeremy.


********


__ADS_2