Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-47 Jeremy Mundur Dari Bisnis Dunia Hitam


__ADS_3

Terdengar suara beberapa langkah kaki mendekati kamarnya Jeremy. Evelyn langsung menoleh kearah pintu, dia langsung berdiri saat Dokter Hasan terlihat masuk ke ruangan itu.


“Saya akan memeriksa Pak Jeremy,” kata Dokter Hasan.


“Ya,silahkan!” Evelyn mengangguk dan keluar dari ruangan itu, menunggu diluar supaya Dokter leluasa memeriksa Jeremy.


Saat dia menutup pintu, Evelyn terkejut melihat Ryan datang dengan langkah kakinya yang cepat menghampirinya.


“Aku mendapat kabar Jeremy sudah sadar.”


Evelyn menatap Ryan dengan tatapan tidak suka. “Bagaimana kau tahu Jeremy sadar? Aku tidak mau kau menemui Jeremy lagi.”


“Aku memang meminta Dokter Hasan untuk segera menghubungiku kalau Jeremy sudah sadar.” ujar Ryan, dia melihat perut Evelyn sudah mulai terlihat membesar.


Evelyn kembali menatap Ryan dengan tajam. “Aku minta kau menjauh dari suamiku! Jangan pernah temui suamiku lagi apalagi mengajaknya berbisnis yang terlarang lagi!”


“Hanya Jeremy yang memutuskan apakah dia akan kembali ke dunianya atau tidak!” kata Ryan, dalam hatinya dia merasa senang saja kalau Jeremy mundur dari dunianya juga dari kehidupan Selena. Tapi sayang wanita itu masih saja menolaknya meskipun Jeremy sudah tidak berdaya.


“Aku akan melarangnya!”


“Terserah kau saja. Aku kesini ingin tahu keadaannya.”


Terdengar suara pintu dibuka, perawat keluar dan memanggil Evelyn.


“Dokter ingin bicara, Bu!”


Evelyn langsung saja masuk kedalam diikuti oleh Ryan. Dilihatnya Jeremy masih membuka matanya hanya tatapannya terlihat kosong.


“Bagaimana Dok?” tanya Evelyn.


“Kondisi Pak Jeremy sudah membaik, hanya memang masih membutuhkan perawatan, belum benar-benar bisa menerima interaski dengan lingkungan sekitarnya, belum bisa mendengar dengan jelas, belum bisa bicara dan mengalami kelumpuhan. Jadi butuh waktu cukup lama untuk bisa sembuh total!” jawab Dokter Hasan.


Evelyn merasa down mendengarnya, dia sangat sedih kondisi Jeremy masih buruk dan Dokter mengatakan hal seburuk itu sudah membaik, apakah Jeremy selamanya akan seperti ini?


“Apa Jeremy benar-benar tidak bisa sembuh total? Butuh berapa lama untuk sembuh total?” tanya Ryan.


“Saya tidak bisa memastikan, tapi saya akan mencoba memberikan pengobatan dan terapi yang maksimal.”

__ADS_1


Evelyn menghampiri Jeremy yang sekarang posisi berbaringnya berubah dengan setengah badan atas


lebih tinggi dari badan bagian bawah.


Evelyn duduk disamping tempat tidur, menatapnya dengan sedih. “Aku yakin kau akan sembuh.”


Pria itu hanya menatapnya dengan kosong membuat Evelyn semakin tidak tega melihatnya, pria yang asalnya begitu gagah sekarang seperti mayat hidup.


Ryan melangkahkan kakinya mendekati Jeremy, menatap Jeremy yang sama sekali tidak menoleh kearahnya


“Kau benar-benar memiliki banyak nyawa, Jeremy, sudah hampir mati tapi kau bisa hidup lagi,” gumam Ryan, membuat Evelyn menoleh kearahnya menatap tajam.


“Oh maksudku dia beruntung berhasil selamat dari kematian,” ralat Ryan.


Evelyn tidak berpaling menatap pria itu, dia tidak suka pada Ryan meskipun pria itu orang kepercayaannya Jeremy, entah kenapa hatinya diberi tidak suka pada pria itu.


“Saya sudah menuliskan resep , juga apa saja yang harus dilakukan untuk perawatan Pak Jeremy masa terbangun dari koma. Seperti biasa saya akan mengontrol kondisi perkembangannya dengan rutin,” kata Dokter Hasan.


“Terimakasih, Dok!”


“Catatannya sudah saya berikan pada perawat, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menelpon.”


“Kalau begitu saya permisi.”


“Iya Dok. Terimakasih,” Evelyn menoleh pada perawat laki-laki yang mengerti dan langsung mengantar Dokter Hasan keluar dari ruangan itu.


“Terimakasih, Dok!” kata Ryan sebelum Dokter itu pergi, kemudian dia menoleh lagi kearah Jeremy tapi matanya terhenti karena Evelyn menatapnya.


“Bisa tolong tinggalkan kami?” pinta Evelyn pada perawat wanita.


“Baik,Bu!” jawab perawat wanita lalu keluar dari ruangan itu, kini hanya tinggal Evelyn dan Ryan saja.


“Ada apa?” tanya Ryan.


Evelyn menatap Ryan dengan tajam. “Jujur saja aku tidak suka kau datang menemui Jeremy lagi.”


“Apa? Kau sangat aneh!” Ryan tersenyum sinis.

__ADS_1


“Jeremy kondisinya sekarang tidak berdaya meskipun dia sudah sadar, jadi aku harap kau


tidak datang lagi kesini! Jeremy sudah tutup buku dengan dunia hitamnya!”


Ryan tertawa mendengarnya.”Tapi ada banyak urusan yang belum selesai.”


“Apalagi yang belum selesai? Dia sudah tidak bisa apa-apa lagi, jangan melibatkannya lagi! Aku tidak mau ada alasan apapun, aku ingin kau pergi dari kehidupannya Jeremy, selamanya!”


Ryan mengernyitkan dahinya, memang itu yang dia inginkan, menyingkirkan Jeremy. Melihat kondisi Jeremy sekarang, sesuai dengan keinginannya, tapi tetap saja selama Jeremy masih hidup itu akan menjadi ancaman juga buatnya, karena ada banyak uangnya Jeremy yang akan diambilnya diluaran. Minimal dia harus memastikan Jeremy cacat seumur hidupnya supaya dia bebas mengambil alih bisnisnya dengan mudah.


“Baiklah kalau kau maunya begitu, aku tidak akan melibatkannya lagi. Kalau dia sudah benar-benar sadar kau yang bertanggungjawab padanya atas keputusanmu ini, aku tidak mau dia menyalahkanku!”


“Ya, aku tahu yang terbaik untuk suamiku.”


Ryan menoleh lagi pada Jeremy, memperhatikan pria itu yang masih menatap kosong kedepan, pria itu benar-benar seperti mayat hidup.


“Selamat Tinggal Jeremy!”  pamit Ryan lalu beranjak keluar dari kamar itu  tanpa menoleh lagi. Hatinya sangat senang, meskipun Jeremy tidak jadi mati, tapi pria itu cacat sangat parah, tidak bisa bicara, mendengar dan lumpuh tidak bisa menggerakkan tubuhnya, masih cukup aman untuknya bergerak dengan bebas mengambil alih bisnisnya dan uangnya Jeremy. Dia dengan mudah menggantikan Jeremy dan tentu saja ada satu yang masih ingin dimilikinya, dia ingin Selena menjadi wanitanya.


Evelyn mengulurkan tangannya menyentuh pipi brewoknya Jeremy.


“Aku minta maaf mengambil keputusan ini, aku ingin yang terbaik buatmu, aku ingin kita hidup dengan tenang. Penghasilan dari perusahaan otomotifmu sudah lebih dari cukup, kau tidak perlu mencari uang lagi dengan menjual barang-barang terlarang. Aku harap kau mengerti,” ucap Evelyn lalu menurunkan tangannya dan menunduk lesu, tangannya berpindah ke perutnya.


Jeremy mengerjapkan matanya, pandangannya beralih pada gerakan tangan wanita yang sedang menunduk itu. Tangannya memegang perutnya yang semakin terlihat mulai membesar.


Evelyn mengangkat wajahnya menatap Jeremy yang matanya itu kembali menatap lurus kedepan. Tangan Evelyn menyentuh pipinya Jeremy lagi.


“Aku akan mengurusmu, sepertinya kau perlu make over. Meskipun kau sakit, tidak seharusnya kau brewokan begini. Maaf aku baru akan membersihkannya, aku takut melukai luka diwajahmu. Dan sepertinya sekarang lukanya sudah menghilang jadi aku bisa membersihkannya!”


Tangan Evelyn berpindah merapihkan selimutnya Jeremy. Mata tajam itu terus mengikuti arah tangannya Evelyn.


Evelyn kembali menatap Jeremy, pandangan pria itu kembali beralih lurus kedepan.


“Kau tahu, sebenarnya dengan sedikit brewok itu kau masih terlihat tampan, jadi aku membiarkannya,“ ucap Evelyn sambil tersenyum.


“Aku tidak tahu apa kau bisa mendengar apa yang aku katakan atau tidak, tapi aku senang kalau bayi kita laki-laki wajahnya mirip denganmu, tapi kau jangan marah kalau bayi kita perempuan wajahnya akan mirip denganku!” lanjut Evelyn masih tertawa kecil, kemudian dia diam dan menunduk lagi menghentikan tawanya.


Mata itu kembali ikut melihat ke bawah, melihat apa yang Evelyn lakukan, wajah yang tadi tertawa itu terlihat kembali murung.

__ADS_1


“Aku akan mengambil alat cukur, tunggulah sebentar!” Evelyn bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan itu, diikuti tatapan matanya Jeremy.


****


__ADS_2