
Keesokan
harinya.
Ruangan itu
penuh dengan para eksekutif beberapa generasi, dan tentunya bukan para
pengusaha kecil.
Evelyn
menemani bosnya, Pak Enzi, berbincang dengan seorang pria yang lebih tua.
“Sekretaris
baru?” tanya pria itu.
“Tidak, cuma
memang baru sekarang aku membawanya. Evie, ini Pak Tito.” Enzi memperkenalkan Evelyn
pada Pak Tito. Merekapun saling
bersalaman.
“Kau sangat
cantik, apa kalian pacaran? Pak Enzi masih single kan?” seloroh Pak Tito.
Enzi akan
bicara tapi Evelyn segera memotong. “Tidak, saya udah punya anak.”
“Oh, sudah
menikah, maaf-maaf, saya hanya bercanda. Bu Evelyn terlihat masih sangat muda.”
Evelyn hanya
tersenyum saja, punya atasan tampan dan masih muda pasti berpikir ada hubungan
dengan sekretarisnya.
“Pak Tito,
aku butuh informasi perusahaan yang menyewakan alat berat, aku dengar ada
perusahaan otomotif yang juga bergerak dibidang jasa sewa alat berat. Apa kau
bisa rekomendasikan? Siapa tahu kalau perusahaan besar bisa memberikan harga
murah,” kata Pak Enzy.
“Oh iya ada,
Pak Candra. Coba nanti aku pertemukan dengan Pak Candra, sepertinya belum
datang!”
Sedang
berbincang-bincang begitu, terdengar kasak kusuk yang saling berbisik entah apa
yang memancing para eksekutif itu melakukan itu.
“Ada apa?”
tanya Enzi.
“Katanya Pemilik
perusaahan Otomotif dari Hongkong hadir juga sekarang. Pada penasaran saja karena
selama ini relasi perusahaan itu tidak pernah bertemu dengan pemiliknya, karena
sibuk mengurus usaha lain di Hongkong.”
“Wah, bikin
penasaran.”
“Cuma
selentingan yang aku dengar, dia seorang gembong mafia di Hongkong, entah itu
kabar benar atau tidak. Namanya juga gossip.”
Evelyn
terkejut mendengarnya, tapi dia tidak menebak-nebak apakah itu Jeremy atau
bukan. Jeremy tidak mungkin mau hadir di acara-acara seperti ini. Bisa jadi dia
sudah kembali ke Hongkong.
Terdengar
derap langkah ramai memasuki ruangan itu.
“Pak Candra
kau datang dengan siapa?” tanya seorang pria .
“Ini, Pak
Jeremy, dari Hongkong, CEO juga pemilik saham satu-satunya di perusahaan tempat saya bekerja.” Pak
Candra memperkenalkan Jeremy pada pria itu.
“Senang bicara
dengan anda, Pak Jeremy. Saya hanya mendengar namanya saja.”
Dalam
sekejap banyak orang yang berkumpul mengerubungi Jeremy.
Pria itu
yang tidak banyak bergaul dengan orang-orang ramah seperti itu, hanya menerima uluran
tangan mereka saja. Mata dan telinganya tetap tajam, insting mafia tetap
dipakai, dia sudah terbiasa mencurigai siapapun yang ada didepannya.
__ADS_1
Pak Tito
celingukan melihat orang-orang bekumpul itu menghalangi sosok yang baru datang.
“Ya ampun,
dia keren sekali..”gumam suara wanita membuat Evelyn menoleh.
“Bu Nunik?”
“Kau sudah
bertemu belum dengan pengusaha dari Hongkong itu?”
“Belum,
memangnya kenapa?”
“Dia ganteng
abis. Haduuh ingin sekali rasanya aku menjadi sekretarisnya. Sungguh beruntung
Bu Laras.”
Evelyn
terdiam, kenapa hatinya mendadak tidak tenang? Ada yang menyebut nyebut mafia
Hongkong rasanya hatinya menjadi gelisah. Tidak mungkin Jeremy kan? Memangnya
mafia dari Hongkong Jeremy saja?
Buk! Bu
Nunik menyenggol bahunya Evelyn. “Jangan melamun, tidak boleh membayangkan kau
menjadi sekretaris pengusaha dari Hongkong itu, bosmu sudah sangat tampan.”
“Tidak, aku
tidak memikirkan hal itu.”
“Pak Candra!”
seru Pak Tito, melambaikan tangannya.
“Pak Enzi,
ayo aku perkenalkan dengan Pak Candra!” ajak Pak Tito yang langsung diikuti
oleh Enzi. Evelyn langsung saja mengikutinya.
“Pak Candra,
aku perkenalkan pengusaha muda berbakat, Pak Enzi.” Pak Tito langsung memperkenalkan
Enzi yang langsung bersalaman dengan Pak candra.
Pria paruh
baya itu tersenyum ramah tapi tiba-tiba dia terkejut melihat sosok yang bersama
Enzi.
“Bu Evelyn?”
Evelyn yang
tidak menyangka kalau Pak Candra itu adalah karyawan di perusahaannya Jeremy,
terpaku juga melihatnya.
“Pak Candra?”
tanya Evelyn, tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
“Bu Evelyn
bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu.” Pak Candra langsung bersalaman dengan
Evelyn.
“Kalian
saling kenal?” tanya Pak Tito keheranan begitu juga Enzi.
“Bu Evelyn ini
kan..”
“Saya
sekretarisnya Pak Enzi,” Evelyn langsung memotong.
Pak Candra
terdiam mendengarnya, dia menebak kalau Evelyn tidak mau orang tahu statusnya.
“Saya Enzi,
Pak!” Enzi bersalaman dengan Pak Candra.
Bu Laras
yang sedang memperkenalkan Jeremy pada orang-orang yang dia kenal, menoleh
kearah Pak Candra dan dia terkejut melihat Evelyn sedang berbincang dengan Pak
Candra.
“Pak Jeremy!
Pak!” panggil Bu Laras.
Jeremy tidak
menjawab.
Bu Laras mencolek
tangannya Jeremy, sambil bejinjit berbisik. “Ada Bu Evelyn!”
“Dimana?”
tanya Jeremy, dengan jantung yang berdebar kencang.
__ADS_1
“Disana,
dengan Pak Candra!” bisik Bu Laras lagi.
Jeremy
menoleh kearah yang ditunjuk Bu Laras, dan dia terpaku melihatnya, ada bahagia
di hatinya saat melihat mantan istrinya itu. Kerinduan yang disimpannya
bertahun-tahun seakan sudah tidak tertampung lagi. Matanya tidak berkedip
melihat sosok mantan istrinya itu, bahkan hanya bersalaman sebentar saat ada
yang menyapanya.
Merasa ada
yang memperhatikannya, membuat Evelyn menoleh pada Jeremy.
Tubuhnya
terasa tiba-tiba kaku. Sekian lama tidak melihatnya, sekarang bertemu diacara
yang diluar dugaan akan hadir.
Pria itu
tetap terlihat tampan, dan terlihat semakin gagah dan matang. Pria itu berubah
menjadi seorang eksekutif. Berjuta rasa bergejolak didadanya.
Evelyn cepat
mengalihkan pandangannya, dia tidak kuasa menerima tatapan yang begitu tajam
menghujam jantungnya.
“Maaf, aku
ke toilet sebentar.” Evelyn segera pergi tanpa menunggu jawaban dari yang lain.
Jeremy hanya
melihat kepergiannya, dia kembali berbincang dengan eksekutif yang lainnya,
tapi hatinya tidak tenang ingin bicara dengan Evelyn.
Melihat
Evelyn yang tidak kembali-kembali ke ruangan itu membuatnya merasa tidak tenang.
“Aku pergi
dulu!” Jeremy langsung saja pergi, Bu Laras hanya bisa menatap kepergiannya
lalu menoleh pada Pak Candra yang saling pandang.
Sementara
itu Evelyn hanya bersandar di lorong toilet wanita, menahan isak tangisnya yang
ingin meledak saat itu juga. Rasa sakit yang dulu tiba-tiba muncul lagi. Dia
tidak menyangka kalau akan bertemu Jeremy disini. Dia pikir Jeremy akan kembali
ke Hongkong, mungkin memang kebetulan saja sedang ada disini.
Evelyn menghela
nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. Dia dan Jeremy sudah tidak ada
hubungan lagi. Dia bukan siapa-siapa Jeremy sekarang dan tidak perlu memikirkan
pria itu lagi, bisa jadi sudah banyak wanita yang menemani Jeremy selama lima
tahun ini.
Setelah
menghembuskan nafas yang panjang, Evelyn keluar dari lorong toilet wanita itu
dan melewati pintu setengah badan, kemudian langsung berbelok tapi dia langsung
terkejut saat melihat sosok pria yang ada di benaknya itu sudah berdiri
menatapnya.
Merekapun
saling pandang tanpa ada yang bicara, diabaikannya orang-orang yang lalu lalang
bahkan tidak sadar kalau mereka sudah menghalangi jalan.
Evelyn langsung
berjalan cepat melewati Jeremy tanpa menyapa.
“Apa kabarmu?”
tanya Jeremy.
Evelyn tidak
menjawab, dia akan beranjak tapi Jeremy bicara lagi.
“Bagaimana
kabar Ayres?” tanyanya.
“Aku tidak
mengenalmu, aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan.” Evelyn langsung saja pergi
terburu-buru, menahan hati yang sebenarnya sangat sedih.
Jeremy terdiam
melihat sikap mantan istrinya itu, rasanya seperti mimpi bisa melihat wajah
mantan istrinya lagi, meskipun sikap Evelyn masih menghindar darinya.
Jeremy mencoba
menenangkan hatinya dan menerima keadaan ini, dia berusaha untuk bersabar.
__ADS_1
Diapun berbalik meninggalkan tempat itu kembali menuju ruangan workshop.
***