Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-61 Serasa Mimpi


__ADS_3

Keesokan


harinya.


Ruangan itu


penuh dengan para eksekutif beberapa generasi, dan tentunya bukan para


pengusaha kecil.


Evelyn


menemani bosnya, Pak Enzi, berbincang dengan seorang pria yang lebih tua.


“Sekretaris


baru?” tanya pria itu.


“Tidak, cuma


memang baru sekarang aku membawanya. Evie, ini Pak Tito.” Enzi memperkenalkan Evelyn


pada Pak Tito.  Merekapun saling


bersalaman.


“Kau sangat


cantik, apa kalian pacaran? Pak Enzi masih single kan?” seloroh Pak Tito.


Enzi akan


bicara tapi Evelyn segera memotong. “Tidak, saya udah punya anak.”


“Oh, sudah


menikah, maaf-maaf, saya hanya bercanda. Bu Evelyn terlihat masih sangat muda.”


Evelyn hanya


tersenyum saja, punya atasan tampan dan masih muda pasti berpikir ada hubungan


dengan sekretarisnya.


“Pak Tito,


aku butuh informasi perusahaan yang menyewakan alat berat, aku dengar ada


perusahaan otomotif yang juga bergerak dibidang jasa sewa alat berat. Apa kau


bisa rekomendasikan? Siapa tahu kalau perusahaan besar bisa memberikan harga


murah,” kata Pak Enzy.


“Oh iya ada,


Pak Candra. Coba nanti aku pertemukan dengan Pak Candra, sepertinya belum


datang!”


Sedang


berbincang-bincang begitu, terdengar kasak kusuk yang saling berbisik entah apa


yang memancing para eksekutif itu melakukan itu.


“Ada apa?”


tanya Enzi.


“Katanya Pemilik


perusaahan Otomotif dari Hongkong hadir juga sekarang. Pada penasaran saja karena


selama ini relasi perusahaan itu tidak pernah bertemu dengan pemiliknya, karena


sibuk mengurus usaha lain di Hongkong.”


“Wah, bikin


penasaran.”


“Cuma


selentingan yang aku dengar, dia seorang gembong mafia di Hongkong, entah itu


kabar benar atau tidak. Namanya juga gossip.”


Evelyn


terkejut mendengarnya, tapi dia tidak menebak-nebak apakah itu Jeremy atau


bukan. Jeremy tidak mungkin mau hadir di acara-acara seperti ini. Bisa jadi dia


sudah kembali ke Hongkong.


Terdengar


derap langkah ramai memasuki ruangan itu.


“Pak Candra


kau datang dengan siapa?” tanya seorang pria .


“Ini, Pak


Jeremy, dari Hongkong, CEO juga pemilik saham satu-satunya  di perusahaan tempat saya bekerja.” Pak


Candra memperkenalkan Jeremy pada pria itu.


“Senang bicara


dengan anda, Pak Jeremy. Saya hanya mendengar namanya saja.”


Dalam


sekejap banyak orang yang berkumpul mengerubungi Jeremy.


Pria itu


yang tidak banyak bergaul dengan orang-orang ramah seperti itu, hanya menerima uluran


tangan mereka saja. Mata dan telinganya tetap tajam, insting mafia tetap


dipakai, dia sudah terbiasa mencurigai siapapun yang ada didepannya.

__ADS_1


Pak Tito


celingukan melihat orang-orang bekumpul itu menghalangi sosok yang baru datang.


“Ya ampun,


dia keren sekali..”gumam suara wanita membuat Evelyn menoleh.


“Bu Nunik?”


“Kau sudah


bertemu belum dengan pengusaha dari Hongkong itu?”


“Belum,


memangnya kenapa?”


“Dia ganteng


abis. Haduuh ingin sekali rasanya aku menjadi sekretarisnya. Sungguh beruntung


Bu Laras.”


Evelyn


terdiam, kenapa hatinya mendadak tidak tenang? Ada yang menyebut nyebut mafia


Hongkong rasanya hatinya menjadi gelisah. Tidak mungkin Jeremy kan? Memangnya


mafia dari Hongkong Jeremy saja?


Buk! Bu


Nunik menyenggol bahunya Evelyn. “Jangan melamun, tidak boleh membayangkan kau


menjadi sekretaris pengusaha dari Hongkong itu, bosmu sudah sangat tampan.”


“Tidak, aku


tidak memikirkan hal itu.”


“Pak Candra!”


seru Pak Tito, melambaikan tangannya.


“Pak Enzi,


ayo aku perkenalkan dengan Pak Candra!” ajak Pak Tito yang langsung diikuti


oleh Enzi. Evelyn langsung saja mengikutinya.


“Pak Candra,


aku perkenalkan pengusaha muda berbakat, Pak Enzi.” Pak Tito langsung memperkenalkan


Enzi yang langsung bersalaman dengan Pak candra.


Pria paruh


baya itu tersenyum ramah tapi tiba-tiba dia terkejut melihat sosok yang bersama


Enzi.


“Bu Evelyn?”


Evelyn yang


tidak menyangka kalau Pak Candra itu adalah karyawan di perusahaannya Jeremy,


terpaku juga melihatnya.


“Pak Candra?”


tanya Evelyn, tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


“Bu Evelyn


bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu.” Pak Candra langsung bersalaman dengan


Evelyn.


“Kalian


saling kenal?” tanya Pak Tito keheranan begitu juga Enzi.


“Bu Evelyn ini


kan..”


“Saya


sekretarisnya Pak Enzi,” Evelyn langsung memotong.


Pak Candra


terdiam mendengarnya, dia menebak kalau Evelyn tidak mau orang tahu statusnya.


“Saya Enzi,


Pak!” Enzi bersalaman dengan Pak Candra.


Bu Laras


yang sedang memperkenalkan Jeremy pada orang-orang yang dia kenal, menoleh


kearah Pak Candra dan dia terkejut melihat Evelyn sedang berbincang dengan Pak


Candra.


“Pak Jeremy!


Pak!” panggil Bu Laras.


Jeremy tidak


menjawab.


Bu Laras mencolek


tangannya Jeremy, sambil bejinjit berbisik. “Ada Bu Evelyn!”


“Dimana?”


tanya Jeremy, dengan jantung yang berdebar kencang.

__ADS_1


“Disana,


dengan Pak Candra!” bisik Bu Laras lagi.


Jeremy


menoleh kearah yang ditunjuk Bu Laras, dan dia terpaku melihatnya, ada bahagia


di hatinya saat melihat mantan istrinya itu. Kerinduan yang disimpannya


bertahun-tahun seakan sudah tidak tertampung lagi. Matanya tidak berkedip


melihat sosok mantan istrinya itu, bahkan hanya bersalaman sebentar saat ada


yang menyapanya.


Merasa ada


yang memperhatikannya, membuat Evelyn menoleh pada Jeremy.


Tubuhnya


terasa tiba-tiba kaku. Sekian lama tidak melihatnya, sekarang bertemu diacara


yang diluar dugaan akan hadir.


Pria itu


tetap terlihat tampan, dan terlihat semakin gagah dan matang. Pria itu berubah


menjadi seorang eksekutif. Berjuta rasa bergejolak didadanya.


Evelyn cepat


mengalihkan pandangannya, dia tidak kuasa menerima tatapan yang begitu tajam


menghujam jantungnya.


“Maaf, aku


ke toilet sebentar.” Evelyn segera pergi tanpa menunggu jawaban dari yang lain.


Jeremy hanya


melihat kepergiannya, dia kembali berbincang dengan eksekutif yang lainnya,


tapi hatinya tidak tenang ingin bicara dengan Evelyn.


Melihat


Evelyn yang tidak kembali-kembali ke ruangan itu membuatnya merasa tidak tenang.


“Aku pergi


dulu!” Jeremy langsung saja pergi, Bu Laras hanya bisa menatap kepergiannya


lalu menoleh pada Pak Candra yang saling pandang.


Sementara


itu Evelyn hanya bersandar di lorong toilet wanita, menahan isak tangisnya yang


ingin meledak saat itu juga. Rasa sakit yang dulu tiba-tiba muncul lagi. Dia


tidak menyangka kalau akan bertemu Jeremy disini. Dia pikir Jeremy akan kembali


ke Hongkong, mungkin memang kebetulan saja sedang ada disini.


Evelyn menghela


nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. Dia dan Jeremy sudah tidak ada


hubungan lagi. Dia bukan siapa-siapa Jeremy sekarang dan tidak perlu memikirkan


pria itu lagi, bisa jadi sudah banyak wanita yang menemani Jeremy selama lima


tahun ini.


Setelah


menghembuskan nafas yang panjang, Evelyn keluar dari lorong toilet wanita itu


dan melewati pintu setengah badan, kemudian langsung berbelok tapi dia langsung


terkejut saat melihat sosok pria yang ada di benaknya itu sudah berdiri


menatapnya.


Merekapun


saling pandang tanpa ada yang bicara, diabaikannya orang-orang yang lalu lalang


bahkan tidak sadar kalau mereka sudah menghalangi jalan.


Evelyn langsung


berjalan cepat melewati Jeremy tanpa menyapa.


“Apa kabarmu?”


tanya Jeremy.


Evelyn tidak


menjawab, dia akan beranjak tapi Jeremy bicara lagi.


“Bagaimana


kabar Ayres?” tanyanya.


“Aku tidak


mengenalmu, aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan.” Evelyn langsung saja pergi


terburu-buru, menahan hati yang sebenarnya sangat sedih.


Jeremy terdiam


melihat sikap mantan istrinya itu, rasanya seperti mimpi bisa melihat wajah


mantan istrinya lagi, meskipun sikap Evelyn masih menghindar darinya.


Jeremy mencoba


menenangkan hatinya dan menerima keadaan ini, dia berusaha untuk bersabar.

__ADS_1


Diapun berbalik meninggalkan tempat itu kembali menuju ruangan workshop.


***


__ADS_2