Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-27 Jeremy Memaksa Evelyn Pulang


__ADS_3

Para karyawan yang terduduk menunduk di mejanya masing masing, langsung mencari celah mengintip apa yang terjadi diruangan itu. Mereka melihat sosok pria muda tampan itu memasuki ruangan, banyak pertanyaan dibenak mereka, siapa pria itu? Kenapa datang ke kantor ini dengan orang-orang yang menyeramkan yang bersenjata?


Evelyn merasakan tubuhnya yang gemetaran, dia merasa takut pada Jeremy, apakah dia akan ikut jika Jeremy mengajaknya pulang? Tidak, dia tidak mau ikut dengan Jeremy, dia memillih untuk bercerai, Jeremy tidak perlu tahu kalau dia sedang mengandung anaknya.


Jeremy berdiri menatap ruangan itu yang sepi, melihat orang-orang ketakutan di balik meja kerja mereka. Lalu pandangannya beralih pada sosok wanita  satu-satunya yang berdiri di ruangan itu. Wajahnya langsung memerah karena marah.


Evelyn tidak berani melihat Jeremy, jantungnya berdebar semakin kencang karena takut tidak tahu apa yang akan dilakukan Jeremy untuk menyakitinya.


Jeremy menghampiri Evelyn, langkah demi langkah kakinya Jeremy seakan menjadi detik-detik yang menakutkan bagi Evelyn, dia tidak berani menatap pria itu. Telapak tangannya terasa berkeringat dingin.


Jeremy menghentikan kakinya di depan Evelyn. Istrinya itu hanya menunduk saja. Tidak ada kata yang diucapkan Jeremy hanya beberapa detik kemudian tangan pria itu melayang menampar pipinya Evelyn dengan keras, sampai Evelyn menjerit dan terjatuh terduduk di kursinya.


Suara tamparan itu begitu keras, membuat semua orang hampir berteriak tapi mereka menutup mulutnya karena takut menjadi pusat perhatian.


Desi terkejut bukan main melihatnya. Dia langsung gemetaran, dia mengerti sekarang kenapa Evelyn mengatakan suaminya tidak mencintainya. Hatinya ikut sedih dengan kenyaataan di depannya.


Airmata menetes dipipinya Evelyn, dia menahan tangis yang rasanya ingin meledak saat itu juga. Sakit di hatinya semakin menjadi-jadi, diapun bertekad tidak akan pernah mau kembali pada Jeremy. Pria itu berani memukulnya di muka umum, bagaimana kalau sampai rumah? Mungkin pria itu akan menghajarnya sampai mati.


“Bangun! Kita pulang!” kata Jeremy dengan ketus.


Evelyn masih diam menunduk.


“Ayo mpulang!” teriak Jeremy, karena perintahnya tidak didengar Evelyn.


“Tidak, aku tidak akan pernah pulang!” ujar Evelyn.


“Apa? Berani kau bicara begitu padaku?” bentak Jeremy, menahan amarah yang menjadi jadi.


Airmata semakin deras membasahi pipinya Evelyn, masih terbayang dimatanya wajah Selena yang muncul saat Jeremy video call dengannya. Sakit hatinya, suaminya pergi ke Hongkong berbulan-bulan ternyata dengan Selena.


“Ayo pulang!” ajak Jeremy lagi.


Evelyn memberanikan diri menatap Jeremy.


“Aku tidak ingin tinggal bersamamu lagi. Aku ingin kita bercerai!” ucap Evelyn, merahasiakan kalau dia sedang hamil.


Jeremy tersenyum sinis.


“Aku tidak butuh persetujuanmu! Ayo ikut!” ucap Jeremy, tangannya langsung akan meraih tangannya Evelyn, tapi wanita itu mengangkat tangannya menghindar dari tangannya Jeremy.

__ADS_1


Desi masih mengintip di celah sekat mejanya, dia merasa kasihan pada Evelyn yang dikasari oleh suaminya yang tampan itu. Buat apa suami yang tampan dan kaya kalau kasar begitu, lebih baik suami yang jelek dan miskin, ah tidak, tidak mau seperti itu, lebih baik suami tampan dan kaya juga penyayang, batin Desi.


Melihat reaksi Evelyn yang tidak menurut padanya, Jeremy semakin kesal saja, dia tidak suka harus mengalah-ngalah dan berdamai apalagi dengan wanita. Tidak ada nilai lebih dari seorang wanita hanya untuk menjadi pemuas nafsunya saja.


Tangan Jeremy langsung mencengkram tangannya Evelyn menariknya dengan keras supaya beranjak dari tempat itu.


“Aku tidak mau pulang!” teriak Evelyn, mencoba melepaskan pegangannya Jeremy. Karena tarikan Jeremy yang kuat, mau tidak mau kaki Evelyn terserat oleh Jeremy.


Jeremy tidak bisa apa-apa, dia terus saja menarik paksa tangannya Evelyn supaya keluar dari ruangan itu.


“Lepaskan! Aku tidak mau ikut denganmu!” teriak Evelyn, yang terpaksa kakinya melangkah mengikuti langkah Jeremy sambil tangannya terus berusaha melepaskan diri.


Desi bangun dari persembunyiannya, dia merasa kasihan melihat Evelyn diseret-seret begitu.


“Hei! Lepaskan Evelyn!” serunya, sambil berlari menyusul.


Pria bertubuh kekar yang sudah beranjak dari tempatnya membalikkan badannya menatap Desi yang langsung menghentikan langkahnya.


“Lepaskn aku!” teriak Evelyn, tapi Jeremy sama sekali tidak mau melepaskan tangannya.


Karena Jeremy tidak mau melepaskan tangannya, Evelyn terpaksa menggigit tangan Jeremy yang sedang memegang tangannya dengan kuat. Tentu saja Jeremy terkejut merasakan sakit gigitan di tangannya dan langsung melepaskan tangannya.


“Jangan menyakitinya! Dia sedang hamil!”


Tangan Jeremy terhenti diatas angin mendengar suara teriakan itu. Dia menoleh pada yang berteriak itu, ternyata itu suara Desi.


Melihat Jeremy menoleh padanya membuat Desi terkejut dan ketakutan.


“Apa katamu?” tanya Jeremy, masih belum menurunkan tangannya yang akan memukul Evelyn.


Desi merasa takut ditatap Jeremy seperti itu apalagi pria tinggi besar berbaju hitam berjalan mendekatinya, membuatnya semakin gemetaran. Dia spontan berteriak karena takut Jeremy akan menyiksa Evelyn.


“Evelyn sedang hamil, kau tidak boleh menyakitinya!” ucap Desi.


Mendengar penjelasan Desi membuat Jeremy terdiam, dia sangat terkejut, ternyata Evelyn sedang hamil, apakah dia kabur dari rumah karena dia ingin menyembunyikan kehamilannya?


Jeremy menurunkan tangannya dan menoleh pada Evelyn yang terus menangis berurai airmata. Tidak, dia tidak mau Jeremy tahu soal itu. Tapi dia mengerti, Desi mencoba untuk melindunginya.


Jeremy menatap wanita itu yang terus berurai airmata, dia masih shock mendengar kalau Evelyn sedang hamil. Kalau tidak wanita yang disana itu mengatakan kalau Evelyn sedang hamil, mungkin dia sudah memukulnya tadi.

__ADS_1


Jeremy terdiam dan menghela nafas sebentar, dia masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya pada Evelyn yang ternyata sedang hamil. Dia tidak perlu bertanya siapa ayahnya, sudah jelas kalau wanita itu mengandung anaknya bukan anak pria lain.


Dilihatnya lagi wanita itu menangis sesenggukan, rambutnya acak-acakan, sebagian yang tergerai ke wajahnya basah terkena airmata.


Mengingat wanita itu sedang hamil Jeremy merasa tidak nyaman sudah menyakitinya. Tapi dia juga bingung harus bagaimana. Dia kesal dan marah pada Evelyn karena pergi dari rumah.


Jeremy melihat pada jas yang dipakainya, diambilnya ujung jasnya tapi saat ditarik keatas tersangkut kancing. Diapun membuka kancing jasnya, lalu melepasnya dan  disodorkan ke wajahnya Evelyn di tekan-tekannya ke wajahnya, menghapus airmatanya Evelyn.


Tapi kemudian dia diam lagi saat Evelyn menjauhkan wajahnya dari jasnya itu, dia tersadar kalau jasnya berbahan tebal pasti sakit di usapkan ke wajah Evelyn.


Dilemparkannya Jas itu sembarang, yang segera diambil oleh salah seorang pria tinggi besar itu.


Jeremy kembali melihat kemejanya dan menarik ujungnya terlepas dari celananya.


Tentu saja aksinya membuat orang-orang yang mengintip disela sekat meja itu keheranan apa yang akan dilakukan pria tampan itu yang kasae pada Evelyn, termasuk Desi. Dia was-was Jeremy akan menyakiti Evelyn lagi.


Jeremy menarik ujung kemejanya dan menyangkut juga dikancingnya, diapun melepaskan dasi yang dipakainya dan dilemparnya juga, lalu dengan tanpa ragu dia melepaskan kancing-kancing kemejanya, tentu saja itu membut para karyawati menahan nafasnya.


 Apalagi saat pria itu benar-benar melepaskan kemejanya dan memperlihatkan tubuh atletisnya, dada bidang dan perut rata yang dihiasi dengan tato membuat dia terlihat sangat macho, membuat mereka menelan ludah, begitu juga dengan Desi yang dengan jelas melihat pria itu bertelanjang dada.


Jeremy mengambil ujung kemejanya. Tangan kirinya menarik rambutnya Evelyn yang sebagian menutupi wajahnya, lalu meghapus airmatanya Evekyn dengan ujung kemejanya yang lebih tipis di tekan-tekan ke wajahnya Evelyn.


Evelyn mencoba menghindari tangannya Jeremy itu tapi pria itu terus saja menghampus airmata Evelyn dengan kemejanya, bukan mengusap tapi menekan-nekannya agar air mata itu menempel ke kemejanya.


“Ayo pulang! Aku tidak akan membiarkanmu pergi apalagi kau sedang hamil,” ucap Jeremy dengan pelan, tidak membentak-bentak seperti tadi.


Tangannya langsung meraih tangan Evelyn mengajaknya keluar dari ruangan itu.


Meskipun enggan, akhirnya Evelyn mengikuti langkaj Jeremy mau tidak mau untuk keluar dari ruangan itu.


Ryan dan orang-orang Jeremypun keluar tapi dengan senjata yang masih ditodongkan pada orang-orang di ruangan itu.


“Awas kalau ada yang berani lapor polisi! Akan aku kejar kalian dan keluarga kalian sampai mampus!” ancam salah seorang pria itu, membuat semua orang ketakutan.


Tidak berapa lama suasanapun hening, setelah orang-orang itu keluar.


Tidak ada yang bisa Evelyn lakukan selain mengikuti kakiny Jeremy, dia juga takut Jeremy melukainya.


******

__ADS_1


__ADS_2