Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-45 Jeremy Dibawa Pulang


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian…


Sejak kedatangannya ke perusahaannya Jeremy, Evelyn tiap hari pergi ke kantor itu, meskipun banyak kesulitan tapi Pak Candra mau membantunya. Ryan juga sudah mulai jarang berkunjung dengan alasan kesibukannya.


Pulang dari bekerja, Evelyn langsung menuju rumah sakit dan menemui Dokter diruang rawatnya Jeremy setelah Dokter itu memeriksa kondisi Jeremy.


“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Evelyn pada Dokter yang didadanya tertulis nama Hasan.


Dokter menoleh pada Evelyn lalu pada Jeremy. “Secara fisik, luka-lukanya sudah membaik, tapi kalau untuk sadar, kita masih harus menunggu!”


"Jadi Jeremy bisa sembuh total, Dok?"


"Untuk awal mungkin akan ada kecacatan seperti kelumpuhan atau tidak bisa bicara, tapi akan sembuh setelah terapi hanya memang membutuhkan waktu dan kesabaran," jelas Dokter Hasan.


Evelynpun terdiam, dia tidak memperdulikan soal itu yang dia fikirkan sekarang yang penting Jeremy bisa sadar, walaubagaimanapun dia tidak mau kehilangan suaminya. Dengan Jeremy bisa hidup lagi saja sudah sebuah keajaiban baginya mengingat pria itu hampri mati di depannya.


“Dokter, apa Jeremy bisa dirawat di rumah saja? Sekarang saya bekerja juga jadi kurang memperhatikannya


dan terlalu lelah kalau menginap disini,” pinta Evelyn, menatap Dokter Hasan.


“Tapi saya minta perawat yang bagus untuk merawatnya selama di rumah!” lanjutnya.


“Baiklah, akan saya periksa lagi beberapa hasil cek medisnya, kalau memungkinkan dirawat di rumah, kita bisa pindahkan pasiennya nanti saya tugaskan perawat terbaik!” kata Dokter Hasan.


Evelyn tersenyum senang, dia hanya mengagguk dan berterimakasih saat Dokternya keluar ruangan dengan asistennya.


Wania hamil itu menoleh pada Jeremy yang masih berbaring tanpa bergerak sedikitpun. Dari wajahnya sudah mulai muncul bulu bulu dirahangnya, Evelyn belum sempat membersihkannya karena harus menunggu luka luka diwajahnya Jeremy sembuh. Beberapa bengkak sudah mengembpis dan luka-luka berdarahnya sudah mengering.


Dengan langkah perlahan Evelyn mendekati Jeremy lalu duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur pasien itu. Ditatapnya wajah yang tertidur itu. Bayangan kejadian di Hongkong kembali melintas dibenaknya. Membayangkan bagaimana Jeremy dipukuli tanpa perlawanan, melihat bagaimana pria itu hampir mati, menyisakan trauma yang berat


Tangan Evelyn mengulur mengusap pipi yang memiliki brewok sekarang, disentuhnya pipi itu dengan ragu, pipi kelimis itu terasa sedikit kasar sekarang.

__ADS_1


“Apa kau tidak mau bangun? Sudah satu bulan kau tidur seperti ini. Perutku tambah besar, apa kau tidak ingin menyentuh perutku? Bicara dengan anakmu?” gumamnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Setelah Dokter memeriksamu lagi, aku akan membawamu pulang, supaya aku bisa merawatmu. Pekerjaanmu sangat menyita waktu, tapi aku bersyukur setidaknya bukan pekerjaan illegal yang harus aku kerjakan selama kau koma!”


Tangan Evelyn kembali berpindah ke tangannya Jeremy dan diusapnya perlahan.


Ada sepasang mata yang mengintip dijendela, sepasang mata cantik yang pastinya dimiliki mata cantik, Selena. Wanita itu melihat kedalam memperhatikan Evelyn yang sedang berbicara dengan Jeremy yang sedang koma, entah apa yang dibicarakannya, dia tidak bisa mendengar ucapannya Evelyn.


Dilihatnya tubuh yang terbujur kaku tidak berdaya itu. Dia tidak menyangka kalau Jeremy akan menjadi separah ini, semua karena dia merasa sakit hati karena Jeremy mengabaikannya. Bahkan sekarang malah Evelyn yang mengurus perusahaannya Jeremy padahal selama ini dialah yang menemani Jeremy meraih kesuksesannya, tapi tetap saja semuanya tidak ada artinya, dia tidak pernah special dalam kehidupan Jeremy kecuali menemaninya ditempat tidur. Pria itu tidak pernah mencintainya.


Selena melihat lagi kearah Evelyn, tubuh wanita itu terlihat lebih gemuk. Mungkin kalau Jeremy tidak koma, pria itu akan terus mencarinya, pria itu memandang wanita hanya dari segi penampilan saja.


Dilihatnya Evelyn bangun dari duduknya, Selenapun segera pergi bergegas meninggalkan tempat itu. Dia tidak mau bertemu apalagi bicara dengan Evelyn, dia hanya ingin melihat Jeremy saja.


“Aku harus pulang, aku merasa sangat lelah! Besok aku kesini lagi menanyakan keputusan Dokter untuk membawamu pulang.”


Evelyn kembali menatap wajah suaminya itu. Meskipun Jeremy memperlakukannya tidak baik, tapi baik buruknya suaminya tetap suaminya, hanya saja hatinya Jeremy belum tersentuh cinta, pria itu sangat kasar dan tidak punya hati. Jeremy lupa caranya mencintai padahal dia dibesarkan oleh orantuanya penuh cinta meskipun hanya sampai usia remaja, kehidupan dijalanan membuat karakternya sangat keras.


Setelah puas menatapnya, Evelyn keluar dari ruangan itu, bersamaan dengan datangnya perawat yang menjaga Jeremy selama di rumah sakit.


***


Pria itu ditempatkan terpisah dengan kamarnya Jeremy, supaya perawat leluasa merawatnya dengan segala alat medis yang dibutuhkan.


Hari demi haripun terus berlalu, pagi ini Evelyn baru bangun tidur, dengan masih mengantuk pergi kekamar rawatnya Jeremy yang bersebrangan dengan kamar utama.


Dilhatnya pria itu masih saja seperti biasa, tidur tanpa bergeming. Dua perawat sedang memeriksa keadaannya pagi ini.


“Apakah tidak ada tanda-tanda dia akan bangun?” tanya Evelyn menatap pria itu dengan tidak bersemangat.


“Kalau untuk koma terkadang dibantu oleh tingkat keinginan pasien itu sendiri untuk sadar,” jawab perawat.

__ADS_1


Evelyn kembali menatap pria itu. “Begitukah? Apa artinya Jeremy tidak punya keinginan untuk hidup lagi makanya komanya sangat lama?”


“Tidak seperti itu juga Bu, Pak Jeremy mengalami luka yang sangat serius! Jadi masa penyembuhannya sangat lama!”


“Ya kau benar, dia terluka sangat parah.”


Evelyn mendekati tempat tidur itu lalu duduk disamping tempat tidur dekat tangannya Jeremy. Diraihnya jemari pria itu dan diusapnya.


“Apa kau tidak ingin sembuh, Jeremy? Sudah cukup lama kau koma, apa kau tidak mau melihat anakmu lahir? Sebenarnya aku sangat sedih dimasa kehamilanku, tidak ada suami yang memperhatikanku!” guman Evelyn lalu menarik tangan Jeremy dimasukkan kedalam bajunya untuk disentuhkan pada permukaan kulit perutnya. Tangan Jeremy terasa begitu dingin.


“Usia kehamilanku sudah bertambah 1 bulan, perutku sudah semakin membulat, artinya bayi kita juga semakin tumbuh besar,” ucap Evelyn, mengusapkan tangan Jeremy ke perutnya, merasakan dinginnya tangan itu.


Bukan saja Evelyn yang merasakan dinginnya tangan itu, dialam bawah sadarnya Jeremy merasakan sesuatu yang hangat ditangannya. Sesuatu yang terasa lembut dan hangatnya menjalar menyentuh indra perasanya. Cukup lama kehangatan itu semakin terasa naik ke lengannya, ke bahunya, ke dadanya dan tiba-tiba rasa hangat itu menghilang.


“Ooeoek!” Evelyn menjauhkan tangan Jeremy dari perutnya, dia merasa sangat mual. Buru-buru dia beranjak dan bergegas menuju kamar mandi.


“Ibu baik-baik saja?” tanya perawat yang masih ada di ruangan itu.


“Aku hanya mual, kenapa mualku tidak hilang-hilang? Aku merasa tersiksa kalau sudah begini!” jawab Evelyn yang kemudian terdengar muntah lagi.


“Obatnya sudah diminum belum Bu? Saya ambilkan sarapan ya,”


“Terimakasih, biar aku ambil sendiri!” ucap Evelyn. Terdengar suara kran didalam kamar mandi itu dinyalakan kembali.


Tidak berapa lama Evelyn keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang pucat, dia langsung menoleh pada Jeremy yang sedang dibetulkan selimutnya oleh Perawat.


“Sebenarnya aku takut kalau aku melahirkan suamiku tidak ada!” keluhnya.


“Ibu bersabar saja, kalau dari fisik kan kata Dokter juga sudah membaik, hanya mungkin kalau sadarpun tubuhnya akan tidak normal, misalnya ada kelumpuhan atau tidak bisa bicara.”


“Apapun keadaannya, aku ingin dia hidup lagi. Aku ingin Jeremy bisa melihat bayinya!”

__ADS_1


Perawat menoleh pada Evelyn, mengangguk sambil tersenyum.


****


__ADS_2