
Malam itu disebuah club malam, wanita cantik dengan dandanan **** itu minum di meja bar sendirian, sesekali dia minta sang Bartender untuk mengisikan minuman kedalam gelasnya yang kosong.
“Tumben sekali kau minum sendirian!” kata Bartender itu, menuangkan sedikit minuman yang lumayan memabukkan ke gelas wanita itu.
“Pria itu mencampakkanku!”
Bartender itu tertawa mendengar jawaban wanita itu, sambil kembali menyimpan lagi botolnya.
“Kau sangat lucu, wanita secantik dirimu siapa pria yang berani mencampakkanmu? Hanya pria bodoh saja yang melakukannya!”
“Kau benar, dia sangat bodoh mencampakanku hanya demi wanita yang diberi label istri!” gerutunya, kembali minum lagi, sesekali dia terbatuk karena pekatnya minuman yang diminumnya.
Saat akan meraih gelasnya lagi tiba-tiba seseorang memegang tangannya, membuatnya menoleh pada yang memegang tangannya yang berdiri didekatnya.
“Apa yang kau lakukan disini? Kau meratapi Jeremy dengan bermabuk mabukan disini?” tanya pria yang baru datang itu.
“Bukan urusanmu!” jawab wanita cantik itu yang tiada lain Selena. Tangannya akan
kembali meraih gelas itu tapi Ryan sang pria itu mengambil gelasnya dan disimpan lebih jauh dari jangkauan tangan Selena, lalu dia duduk di kursi sebelah Selena.
Tangan Ryan menyibakkan rambutnya Selena yang segera menepisnya lalu menatap Ryan.
“Menurutmu kenapa Jeremy lebih peduli pada wanita itu? Cantik juga tidak!” ucap Selena.
Ryan menatap wanita yang malam itu terlihat tetap cantik hanya dia bisa melihat sorot matanya yang sayu tanda dia tidak bersemangat.
“Kenapa Jeremy bisa mencampakanku? Karena aku wanita bayarannya? Tapi aku mencintainya!” Selena meraih lagi gelas yang tadi Ryan singkirkan itu lalu meminumnya sampai habis.
Selena merubah posisi duduknya menghadap Bartender dan memanggilnya untuk mengisikan minumannya lagi.
“Kau akan mabuk jika minum terlalu banyak!” kata Bartender.
“Segelas lagi saja!” ucap Selena, akhirnya bartender itu mengisi gelasnya lagi sedikit.
“Kenapa kau mengisinya sedikit sekali?” bentak Selena.
Ryan memegang tangan Selena,“Kau akan mabuk, ayo aku antar pulang!”
“Urus saja dirimu, jangan ikut campur!” Selena kembali minum minumannya.
“Aku heran kenapa aku bisa kalah oleh wanita itu padahal aku sudah menemani Jeremy sekian lama.”
“Kau ingin tahu jawabannya?” tanya Ryan, membuat Selena menoleh dan menatapnya.
Ryan balas menatap wanita yang dicintainya itu, yang selalu menolaknya padahal dia ingin begitu memilikinya, hanya wanita milik Jeremy ini yang belum pernah dimilikinya.
“Apa?” tanya Selena.
“Karena wanita itu istrinya, dia lebih terhormat darimu, dia tidak melayani laki-laki lain!” jawab Ryan, dan kemudian sebuah tamparan mendarat di pipinya Ryan.
Wanita itu menampar pipi kirinya Ryan dengan keras, membuat Ryan terdiam.
“Apa maksudmu aku berhak dilecehkan, sedangkan wanita itu tidak?”
__ADS_1
Ada sakit hati merambat di hati Ryan mendapat tamparan dari Selena,ditatapnya wanita itu dengan tajam, dia bersumpah suatu saat wanita itu akan menjadi memilikinya apapun alasannya dan bisa saja suatu saat dia akan mencampakkannya karena selama ini sudah sering menghinanya dan menolaknya.
“Aku sudah menjawab apa yang kau tanyakan! Tentu saja wanita itu lebih berharga darimu!”kata Ryan membuat Selena semakin emosi saja.
“Pergi dari hadapanku! Pergi!” usirnya.
Ryan tidak bicara lagi, dia kesal begitu cintanya Selena pada Jeremy, akhirnya dia meninggalkan Selena
sendirian.
Selena tidak sendirian, beberapa menit kemudian datang seorang pria berkulit pucat menghampirinya yang usianya jauh lebih tua dari Jeremy, duduk di kursi bekas Ryan duduk tadi. Pria itu langsung memesan minum.
Selena menatap pria itu,” Apa kau Ken?”
Pria itu tidak menjawab, dia hanya bicara dengan Bartender itu memesan minuman yang disukainya, membuat Selena yakin pria itu adalah Ken yang sudah ditelponnya lewat anak buahnya tadi.
Dia tidak menyangka bisa dengan mudah bertemu dengan pria yang mempunyai pekerjaan yang sama dengan Jeremy bahkan mereka sering berebut konsumen meskipun mereka sudah mempunyai wilayah masing-masing.
“Ada apa kau menghubungiku? Apa kau tahu aku punya dendam pada Jeremy?”
Mendengarnya Selena yakin kalau pria ini yang dia maksud,” Meskipun aku tidak pernah bertemu langsung, tapi aku tahu kau punya dendam pada Jeremy makanya aku menghubungimu!”
Pria itu tertawa terbahak-bahak lalu dia minum dari gelas yang diberanda bartender itu.
“Sepertinya kau wanita yang suka menusuk dibelakanng.”
“Kau benar, depan belakang tidak masalah bagiku!”
“Ada kabar penting dan aku yakin kau pasti suka mendengarnya.”
“Katakan saja!!”
“Jeremy sudah menikah!”
“Apa?menikah?” Pria itu tampak mengerutkan keningnya sambil menikmati minumnya, sama sekali tidak menoleh pada Selana.
Wanita itu menatap pria itu dengan serius, dia tahu berurusan dengan pria seperti ini bukanlah main-main,“Dia membawa istrinya ke Hongkong!”
“Informasi penting apa itu? Tidak ada yang penting!”
Selena kembali menatap pria itu lekat-lekat.
“Aku butuh batuanmu, aku rasa ideku ini bisa membuatmu sedikit membalaskan dendammu pada Jeremy, kau sering berebut konsumen dengan Jeremy kan?”
Pria itu terdiam, Selena sepertinya tahu banyak soal bisnisnya Jeremy, tentu saja tahu banyak karena dia juga tahu Selena adalah wanitanya Jeremy.
“Ide apa?” pria itu sedari tadi sama sekali tidak menoleh pada Selena.
“Aku butuh bantuanmu untuk bermain-main dengan istrinya!”
Pria itu mengerutkan dahinya tapi tidak menoleh juga pasa Selena, hanya memutar-mutar gelas yang berisi minuman yang tinggal sedikit.
“Bermain-main? Kau kan bisa membayar orang untuk apa melibatkanku?” gumamnya.
__ADS_1
“Jeremy akan tahu kalau aku yang melakukannya jadi aku melibatkanmu!”
Tentu saja jawaban Selena itu membuat Ken tertawa lagi.
“Aku ingin kau membantuku membuat harga diri wanita itu rendah di mata Jeremy!”
Mendengar ucapannya Selena, Ken barulah menoleh menatap wanita cantik itu lalu tersenyum sinis.
“Ternyata wanita bisa lebih kejam!” ucap Ken.
“Jeremy mencampakanku karena wanita itu yang lebih berharga daripada aku!”
Ken menatap Selena dari atas sampai bawah.
“Kau ingin aku bermain-main dengan istrinya Jeremy?”
“Sebenarnya bukan kau, terserah kau mau menyuruh siapa, satu atau dua orang atau banyak, buat harga diri wanita itu jatuh dan aku ingin kau melakukannya di depan Jeremy. Kau pasti sangat puas kan dengan ideku?”
Ken tampak mengerutkan dahinya, matanya masih menatap tajam Selena.
“Apa imbalannya untukku?” tanya Ken.
Selena berfikir sejenak, dia langsung mengangkat satu kakinya yang menyingkapkan gaunnya semakin tinggi, gaun yang memang belahannya sangat tinggi sampai paha. Kaki jenjang itu kini menumpang dikakinya Ken, membuat pria itu tersenyum mesum.
“Kalau uang aku rasa kau sudah banyak memilikinya, tapi kau belum tahu kan kenapa Jeremy selalu memakai jasaku?” ucap Selena.
Ken melirik paha mulus wanita itu, sudah banyak paha yang dia lihat, hanya saja Selena berbeda, dia wanitanya Jeremy, ada kepuasan tersendiri mencoba mainannya Jeremy.
“Aku sebenarnya tidak peduli padamu, tapi aku tertarik karena aku ingin bermain-main dengan wanitanya Jeremy.”
“Jadi kau tertarik dengan ideku?” tanya Selena, tangannya menarik jasnya Ken perlahan.
Ken tidak menjawab, hanya mendapatkan ciuman dari Selena, dan tangannya langsung membuka ikat pinggang yang dipakainya.
Selena agak terkejut melihatnya, hatinya sedikit ketar-ketir melihat pria itu melepaskan ikat pinggangnya, tapi rasa sakit hatinya mengalahkan bayangan sakit fisik yang akan dideritanya saat melayani Ken, dia ingin melampiaskan dendamnya mengancurkan Evelyn dimata Jeremy.
Kalau Jeremy menganggapnya wanita rendah sehingga di campakkan maka istrinya juga akan dierendahkan didepan matanya, supaya istrinya juga tidak lebih baik darinya.
Rasa dendam sudah menyelimuti hatinya Selena, dia tidak peduli menahan sakit jika pria itu memukulinya saat melayaninya, dari cara pria itu melepaskan ikat pinggangnya, sudah dipastikan pria itu memiliki kebiasaan yang buruk.
Meskipun dia tidak pernah menerima pria yang seperti itu, rasa sakit ditubuhnya akan cepat hilang saat melihat istrinya Jeremy itu terpuruk, tidak ada lagi kelebihan yang dimilki wanita itu, apa bedanya dengan dirinya?
Tangan Ken menyentuh kakinya Selena yang ada diatas pahanya lalu mengusapnya perlahan masuk jauh ke dalam gaunnya. Selena mencondongkan tubuhnya dan kembali mencium pria itu.
Seperti yang dikatakan Jeremy memang malam ini terasa begitu dingin. Evelyn berbaring sendirian dikamarnya Jeremy yang luas itu, dengan kasur yang baru, sprei dan selimut yang baru juga bantal-bantal, pria itu benar-benar melakukannya!
Tangannya mengusap-usap tempat tidur itu, ada senyum dibibirnya, hatinya tidak bisa dipungkiri merasa sangat senang Jeremy mau mengabulkan permintaannya. Seharusnya Jeremy meninggalkan Selena selamanya, bukan hanya kali ini saja. Bisa saja Jeremy nanti menemui Selena lagi.
Evelyn memiringkan tubuhnya menempelkan pipinya ke bantal, kain kain itu begitu lembut dan harum, tempat tidurnya sangat nyamam. Dilihatnya jam di meja itu hari sudah larut tapi Jeremy entah pergi kemana, ah sudahlah dia tidak ingin menuggunya, yang penting malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak. Evelynpun mencoba untuk tidur.
******
Jangan lupa lika dan giftnya ya.
__ADS_1