Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-37 Istri Sebagai Taruhan


__ADS_3

Melihat semua menjadi hening dan hanya menatap Jeremy, membuat Evelyn merasa curiga, diapun menoleh pada Jeremy yang hanya saling menatap Ken.  Evelynpun menoleh pada Ken, pria itu seperti yang tahu apa arti tatapannya Evelyn.


Ken menatap Evelyn sambil tersenyum, senyum manis tapi perkataannya pahit.


“Aku bertaruh satu lokasi pasarku dan aku tahu Jeremy tidak akan mempertaruhkan lokasi pasarnya jadi aku minta dia mempertaruhkanmu jadi milikku!” kata Ken dalam bahasa Inggris.


Evelyn sampai shock mendengarnya,” Kau gila!” makinya.


Ken malah tertawa,”Harusnya kau bangga, hargamu sangat mahal!”


Evelyn langsung menoleh pada Jeremy dengan tatapan kecewa, pria itu masih menatap tajam Ken.


“Kau tidak akan menyetujuinya kan?”


Jeremy diam saja, masih menatap tajam Ken.


“Jeremy! Kau tidak akan menjadikan aku taruhan kan?” Evelyn menggoyang-goyangkan tangan Jeremy, tapi pria itu sama sekali tidak menoleh padanya.


“Bagaimana? Aku tahu kau mengincar lokasiku itu,apa kau akan terima? Harga istrimu sangat mahal, kau bertarung denganku saja belum tentu kau mendapatkan tempat itu!” Ken tersenyum sinis penuh percaya diri.


Evelyn menatap Jeremy yang belum menjawab tantangannya Ken, matanya sudah mulai berkaca-kaca saja, dibawa Jeremy dalam posisi seperti ini. Dan jawaban Jeremy sungguh membuatnya semakin kecewa.


“Aku terima tantanganmu!” jawab Jeremy yang langsung  membuat Evelyn semakin shock dan melepaskan tangannya Jeremy.


Hancur sudah hatinya mendengar jawaban dari suaminya itu. Butiran bening sudah mengumpul dimatanya, dia tidak menyangka Jeremy setega itu mempertaruhkannya dalam perjudian.


Setetes dua tetes butir airmata jatuh ke pipinya. Evelyn bangun akan meninggalkan tempat itu tapi orang-orang Jeremy berdiri menghalangi jalannya. Evelyn menoleh pada suaminya itu, dia tidak mengerti apa salahnya pada Jeremy, kenapa pria itu begitu tega padanya?


Sudah pria itu memaksa menikah dengannya, malam pertamapun dilakukannya di dalam mobil, berselingkuh dengan Selena dan wanita lainnya. Kenapa pria itu memperlakukannya seperti sampah? Dan sekarang, sekarang pria itu mempertaruhkan dirinya diperjudian ini, sungguh keterlaluan, dia rela memberikan istrinya pada orang lain.


Jeremy tidak bicara sepatah katapun, dia masih menatap Ken, seakan tidak peduli dengan protesnya Evelyn.


Ken tersenyum sinis,dia merasa permainan ini begitu seru.


“Jadi kau setuju dengan persyaratanku?” tanya Ken, membetulkan posisi duduknya dengan menegakkan tubuhnya, wajahnya kembali serius dan terlihat sangat garang.


“Aku setuju!” jawab  Jeremy.


Liu menoleh pada Ken,” kau sudah yakin akan memberikan loskai pasarmu pada Jeremy jika kau kalah?”


“Yakin!” jawab Ken.


Liu kembali menoleh pada Jeremy,” Kau sudah yakin kalau  kau akan menjadikan istrimu pada Ken jika kau kalah?”

__ADS_1


Ditanya seperti itu lagi Jeremy tidak langsung menjawab, dia masih diam sambil menatap tajam Ken. Evelyn kembali menatapnya dengan airmata yang menitik dipipinya. Ken merasa senang dengan pemandangan di depannya, dia juga tidak menyangka Jeremy akan berani mempertaruhkan istrinya untuk judi.


“Aku setuju!” jawab Jeremy.


Airtama Evelyn sudah tidak bisa dibendung lagi, dia hanya menunduk sedih, sesekali menghapus airmatanya, hatinya begitu sakit diperlakukan seperti ini oleh Jeremy. Pria itu menyuruhnya berpakaian seperti ini ternyata ingin mempertaruhkan dirinya dalam perjudian, benar-benar tidak punya hati, apa dia lupa kalau istrinya sedang


hamil?


“Baiklah kalau begitu, kita mulai!” kata Liu mulai menoleh pada bandar yang akan mengatur permainan dan pembagian kartu-kartu itu.


Evelyn sebenarnya ingin pergi dari sana, tapi bagaimana caranya? Orang-orangnya Jeremy menghalangi jalannya. Dihapusnya airmatanya lalu menoleh pada Jeremy yang mulai bermain kartunya.


Jeremy tampak serius bermain kartu dengan Ken, dalam benaknya dia memikirkan akan mandapatkan pasar yang diinginkannya, pasar itu lumayan banyak pengguna barang-barang yang dijualnya, dan itu akan membuat wilayahnya semakin luas.


Beberapa menit telah berlalu keduanya tampak begitu serius. Orang-orang semakin banyak berkerumun karena taruhan yang dipertaruhkan di meja judi ini termasuk bukan main-main.


Ken berani mempertaruhkan lokasi pasar hanya demi mendapatkan istrinya Jeremy, sungguh sangat diluar logika. Ada aroma dendam disana, jelas terlihat Ken ingin menjatuhkan harga dirinya Jeremy dan sepertinya Jeremy hanya peduli dengan kerajaan bisnisnya.


Evelyn hanya menunduk lesu dengan sedih, dia merasa takut apa yang akan terjadi pada dirinya, sungguh mimpi buruk dia mengenal Jeremy. Salah apa dia pada pria itu sehingga tega terus-terusan menyakitinya? Dia juga merasa takut, takut Jeremy kalah dan dia jadi milik Ken, apa yang akan dilakukan Ken padanya?


Ken sesekali melirik pada Evelyn, dia menyukai wanita itu yang terlihat sangat lugu, menangisi perilaku suaminya yang mempertaruhkannya di meja judi.


Setengah permainansudah lewata, tampak Ken mulai  tersudut. Wajahnya mulai memerah dia tidak mau kalah atau dia akan kehilangan pasarnya. Dia harus mendapatkan istrinya Jeremy dan itu kan semakin memporak porandakan harga dirinya Jeremy.


Ken yang tadi berubah warna wajahnya yang memerah karena marah dan kesal, kini berubah jadi pucat, dia tidak mau kalah di meja judi ini.


“Sepertinya kau memang tidak pernah bisa mengalahkanku! Selamat tinggal kotamu!” ucap Jeremy tersenyum senang.


Ken menggeretukkan giginya,” Kau jangan senang dulu, kita belum benar-benar selesai bermain!” Ken terkekeh melihat sikapnya Jeremy yang tersudut.


Dalam hati Ken semakin was-was dia akan kalah dan itu artinya sesuai dengan rencana, dia harus berbuat curang dan curang ini jangan sampai terlihat oleh Jeremy atau orang-orangnya.


Evelyn yang melihat wajahnya  Jeremy yag senang dan Ken yang memucat, bisa menilai kalau Jeremylah yang akan menang. Hatinya merasa lega kalau Jeremy menng itu artinya dia tidak jadi miliknya lawan mainnya Jeremy itu. Evelyn menghela nafasnya dengan lega, tapi meskipun begitu, dia tidak akan memaafkan Jeremy kali ini.


Tapi kelegaan Evelyn tidak bertahan lama, beberapa menit kemudian kondisi berubah. Jeremy kebingunga kenapa sekarang dia malah yang kewalahan, apa ada yang salah? Dia mulai terlihat panic dan Ken yang tersenyum sinis.


“Beberapa langkah lagi kau kalah!” kata Ken.


“Aku heran apa kau pasti berbuat curang!” tuduh Jeremy.


“Itu bukan gayaku! Kau tahu kecurangan itu tidak menunjukkan seorang laki laki!” Ken tertawa terbahak-bahak.


Jeremy tidak menjawab, dia bingung dengan langkah kartunya, apapun yang di pilih kartunya dilempar keatas meja, dia akan tetap kalah. Dia merasa bingung apa memang Ken telah curang? Tapi sepertinya tidak ada yang mencurgakan disekitarnya.

__ADS_1


“Bersiap-siap saja kau kehilangan istrimu! Ingat! Kau kalah istrimu jadi milikku!” ucap Ken, matanya melirik pada Evelyn yang sangat gugup, menatapnya menebak nebak apa yang Jeremy bicarakan dengan pria di depannya.


“Kau ingin tahu apa yang akan aku katakan?” tanya Ken dalam bahasa Inggris.


Evelyn tidak menjawab, wajahnya semakin pucat saja, Ken semakin bisa melihat betapa lugunya istrinya Jeremy.


“Sebentar lagi suamimu kalah, dan kau akan jadi mainanku!” kata Ken.


Mendengar perkataan kalah, orang-orangnya Jeremy serentak bergerak akan meraih senjata mereka masng-masing, gerakannya langsung diikuti orang-orangnya Ken, yang  ternyata lebih dahulu menodongkan senjata mereka ke orang-orangnya Jeremy.


“Kami pria yang gentlemen, akan mengakhiri perjudian dengan damai, bukankah begitu Jeremy?” tanya Ken, seperti bijak tapi dibalik itu dia dan orang-orangnya sudah siap berperang.


Jeremy tidak menjawab, dia merasa bingung dengan kartunya, bagaimana mungkin sekarang dia  yang kalah?


“Kalian akan melanjutkan atau hanya ingin bercakap-cakap?” tanya Liu  yang merasa kesal karena mereka berdua seperti tidak mau melanjutkan judinya.


“Jeremy!” panggil Liu.


Jeremy tidak mau kalah tapi apa yang harus dilakukannya sekarang? Jika dia kalah dia harus memberikan Evelyn, kalau itu terjadi ayahnya bisa jantungan kalau tahu soal ini.


“Ayo Jeremy!” kata Liu, semakin kesal saja karena Jeremy malah diam saja.


“Kau sudah pasti kalah. Ingat akhiri permainan dengan damai!” Ken langsung terkekeh, dia senang lawannya begitu kebingungan.


Jeremy benar-benar pusing dengan kartunya, dia harus memperlihatkan kartunya atau tidak, tapi kalau tidak itu artinya dia curang.


Ryan yang berdiri dekat Jeremy pun berbisik ke telinganya Jeremy.


“Kita tidak bisa melawan mereka sekarang, kau harus terima kalau kau kalah!” ujar Ryan, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Jeremy.


Jeremy masih diam, dia pantang  kalah! Meskipun dia kalah kali ini tapi dia pantang kalah!


********


Notes:


Untuk readers yang sudah dukung aku di sebelah terimakasih banyak atas dukungannya, karyaku dapat reward best performance, itu sangat berarti bagi penulis remahan seperti aku.


Untuk readers disini, ikutin GAnya, jangan lupa like dan gift juga ya.


Mudah mudahan April novelnya sudah selesai, aku ingin ikutan lomba supaya ada kesempatan di beranda.


Ini novelnya ya."ISTRI JELEK sang CEO"

__ADS_1



__ADS_2