Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-57 Bayi Tak Berayah


__ADS_3

Disaat


Maskur sibuk menyiapkan mobil, Jeremy ikutan panik.


“Ayah, aku


ikut.”


“Kau


menyusul saja, yang penting Evelyn segera dibawa ke rumah sakit.”


“Apa tidak


ada yang bisa mengantarku sekarang, aku ingin melihat istriku melahirkan!”


“Nanti Maskur


akan kembali menjemputmu!” Pak Kades membantu Evelyn berjalan menuruni tangga


teras, menuju mobil yang sudah dinyalakan Maskur.


Jeremy


semakin gelisah, dia tidak bisa ikut berangkat bersama. Dia terus mengutuki dirinya


yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa melihat mobil itu membawa


istrinya pergi meninggalkan rumahnya.


Jeremy


menunduk kesal, kedua tangannya mengepal menahan amarahnya. Marah yang tidak jelas


diperuntukkan kepada siapa. Ternyata bersikap sabar menerima dengan iklas apa


yang dia dapatkan sangatlah susah dilakukan. Sungguh dia ingin berontak. Dia


bukan pria lemah yang hanya bisa diam meratapi dirinya, dia bukan seperti itu.


Satu jam


lamanya Jeremy hanya bisa diam menunggu Maskur menjemputnya, seharusnya ayahnya


membeli mobil lagi bukannya Cuma satu saja, bukannya uangnya banyak? Setelah


ini dia harus membeli mobil lagi, kenapa begitu repot, tetap dengan hanya satu


mobil saja.


Maskur turun


dari mobil itu langsung menghampiri Jeremy.


“Kenapa kau


lama sekali?”


“Ini sudah ngebut,


Pak!”


“Kalau kau


anak buahku sudah aku pecat!” Sikap arogannya Jeremy mulai keluar.


Maskur


memberengut, kondisi seperti itu masih bisa juga marah-marah, batinnya.


“Sudah


melahirkan, belum?”


“Tadi sih


belum, Pak.” Maskur membopong tubuhnya Jeremy yang berat, padahal pria itu


tidak berbadan gemuk, tapi ternyata membuatnya kewalahan membawanya seorang


diri.


Meski sulit,


akhirnya Maskur bisa membawa Jeremy ke dalam mobil.


“Apa kau


tidak bisa bergerak cepat? Aku ingin melihat istriku melahirkan!” Jeremy terus


saja mengomel saking tidak mau ketinggalan proses Evelyn melahirkan.


Maskur tidak


banyak bicara, segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Sesampainya


di rumah sakit, ternyata Evelyn belum juga melahirkan.


“Ayah, kau


sudah bicara dengan Dokternya? Kenapa tidak melahirkan juga?”


“Tenanglah, istrimu


sedang ditangani Dokter.”


Jeremy


akhirnya diam, dia hanya mendengar suara istrinya yang menjerit kesakitan.


Berkali kali dia memutar kursi rodanya. Dia marah dan kesal pada dirinya yang


belum benar-benar sembuh. Dia inginnya mengancam Dokter yang di dalam itu


supaya menghentikan rasa sakit istrinya.


“Aku ingin


masuk!”


“Jeremy,


sabarlah. Sebentar lagi juga istrimu melahirkan.”


Jeremy melihat


kakinya, dia benar-benar sangat marah tidak bisa apa-apa. Hatinya mulai


mendendam pada orang-orang yang membuatnya begini.


“Bagaimana


Evelyn? Apa dia sudah melahirkan?” Terdengar suara laki-laki diikuti langkah


kakinya yang cepat.


Jeremy menoleh


kearah suara, ada mertuanya datang, berlari menghampiri ayahnya.


“Belum,


masih ditangani Dokter,” jawab pak Kades.


Pak Arman


menoleh pada Jeremy, sangat jarang dia melihat menantunya itu, hanya kabarnya


saja dari Pak Kades. Raut wajah Pak Arman berubah dingin, tidak menyapa Jeremy,


hanya kembali menoleh pada Pak Kades.


“Apa sudah


lama di dalam?”


“Iya. Semoga


cepat melahirkan.”


Melihat

__ADS_1


sikap mertuanya, Jeremy hanya diam, dia tahu dia tidak bisa membahagiakan


Evelyn, tidak menjaga istrinya dengan baik.


Tiba-tiba


terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan bersalin. Jeremy memajukan kursi


rodanya mendekati pintu, dia sudah tidak sabar melihat bayinya. Begitu juga


dengan Pak Kades dan Pak Arman.


Pintu itupun


terbuka, mereka langsung melongok saja ingin melihat kedalam.


Wanita itu


menoleh pada Jeremy yang paling muda dari ketiga orang itu.


“Bapak


suaminya?”


“Ya.” Jeremy


mengangguk.


“Selamat bayinya


laki-laki.”


Sumringah terpancar


dari tiga pria itu.


“Cucuku


laki-laki,” ucap pak Arman.


“Iya,


senangnya.” Pak Kades dan Pak Arman saling berangkulan.


Pak Arman


tampak berkaca-kaca, karena teringat pada istrinya. Ini anak pertamanya Evelyn,


tentu saja gadis itu tidak tahu harus bagaimana saat melahirkan apalagi dia


tidak punya ibu juga ibu mertua, pasti sangt sulit melewatinya. Ditambah Jeremy


juga tidak menemaninya di dalam.


“Silahkan


kalau mau melihat kedalam, saya butuh nama untuk bayinya.”


“Nama?”


Jeremy terkejut.


“Iya. Nama,


Bapak sudah menyiapkannya?”


“Aku belum


menyiapkan nama,” Jeremy menoleh pada Pak Kades dan Pak Arman.


“Kau ini


bagaimana? Kenapa kau tidak menyiapkan nama?” bentak Pak Arman, kesal.


“Kau suami


yang tidak bertanggungjawab, istrimu melahirkan belum ada nama, gimana sih?”


Pak Arman terus saja mengomel.


“Aku lupa.”


“Ya sudah,


siapkan saja sekarang, bayinya mau di beri identitas. Bapak bisa berunding


“Aku sudah


boleh melihat bayinya?”


“Sudah, tapi


Bapak aja, yang lain tunggu diluar.”


Perawat itu


langsung masuk ke ruangan diikuti Jeremy.


“Keterlaluan,


istrinya hamil belum menyiapkan nama.” Pak Arman masih terus menggerutu.


“Maafkan Jeremy,


mungkin karena dia sakit jadi tidak terpikirkan masalah itu. Jeremy baru


membaik dan bisa bicara lagi.” Pak Kades mengusap bahu Pak Arman.


“Iya, iya,


maaf, aku terbawa emosi. Aku kecewa Jeremy tidak menjaga putriku dengan baik.


Aku tahu putriku menderita bersamanya, hanya putriku tidak suka mengadu, aku


bisa merasakannya.”


“Aku minta


maaf, sungguh aku minta maaf.” Pak Kades menatap temannya itu dengan sedih dan


rasa penyesalan yang mendalam. Sebagai teman seharusnya dia bisa menjaga Evelyn


dengan baik.


“Ya


sudahlah, mau bagaimana lagi.”


“Iya, sekarang


kita tunggu saja disana, nanti kita lihat cucu kita.”


Keduanyapun


pergi ke kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan itu. Mereka duduk menunggu


pihak rumah sakit memperbolehkan mereka melihat Evleyn dan bayinya.


Tubuh Jeremy


mendadak tegang, saat masuk keruangan itu yang dilihatnya istrinya yang wajahnya


pucat dengan keringat membasahi keningnya, sedang duduk sambil menggendong bayi


yang berselimut, tidak terlihat wajahnya. Wajah istrinya terlihat lelah tapi


senyumnya terus mengembang di bibirnya.


Satu tangannya


menyentuh wajah bayi itu, sepertinya Evelyn sedang bicara dengan bayinya.


“Sss sayang!”


panggil Jeremy, membuat Evelyn menoleh. Tidak seperti yang dibayangkan Jeremy,


istrinya akan menyambutnya senang, tapi yang didapatnya malah sebaliknya.


Evelyn


terdiam menatap pria itu. Tidak ada tatapan haru yang menunjukkan rasa


senangnya. Tapi wanita itu tidak bicara apa-apa, hanya kembali melihat bayinya

__ADS_1


dan mengusap tubuh bayi itu.


Entah kenapa


hati Jeremy terasa sakit melihat reaksi istrinya begitu.


“Ss sayang,


aku minta maaf tidak menemanimu melahirkan. Bayi kita sudah lahir? Dia..bayi


kita laki-laki? Kata perawat begitu…” Jeremy mendadak tergagap, dia bingung


harus bicara apa. Antara senang, sedih, haru, bingung, tidak percaya kalau dia


sudah menjadi ayah.


“Bu, Bayinya


perlu diberi nama.”


“Sa Sayang


aku belum menyiapkan nama,” ucap Jeremy.


“Silahkan


dirundingkan namanya, tapi jangan lama-lama, kita perlu identitasnya.”


“Ya.” Jeremy


menjalankan kursi rodanya mendekati Evelyn.


“Sayang, apa


aku boleh melihat bayinya. Aku akan memberinya nama, sebentar aku pikirkan.” Jeremy


mengerutkan dahinya memikirkan nama yang baik untuk putranya.


“Aku yang


akan memberinya nama, hanya aku,” ucap Evelyn membuat Jeremy terkejut.


“Kau ini


bicara apa? Aku ayahnya yang akan memberinya nama.” Wajah Jeremy mendadak masam,


menatap istrinya dengan tajam.


Evelyn balas


menatap suaminya itu. “Aku yang akan memberinya nama dan anak ini tidak


berayah.”


“Apa?” Jeremy


terkejut bukan main.


“Evelyn,


jangan sembarangan bicara!” Nada suara Jeremy mendadak meninggi.


Evelyn masih


menatap suaminya itu, dengan bibir yang gemetar diapun menguatkan hatinya. “Aku


memutuskan ikatanmu dengan bayiku. Kau tidak ada hubungan apa-apa dengan


bayiku. Kau bukan ayahnya.”


Bagai disambar


petir disiang bolong Jeremy mendengar itu semua, dengan sekuat tenaga dia memaksakan


diri untuk bangun.


“Evelyn!”


teriaknya. Karena kondisi setengah tubuhnya masih lemah, dipaksakan berdiri


membuat posisi tubuhnya tidak seimbang, akhirnya malah membuat kursi roda itu terjungkal.


“Evelyn! Kau


tidak bisa memperlakukan ku seperti ini! Aku ayahnya! Aku ayah bayimu!” teriak


Jeremy.


Brak! Tubuh Jeremy


terjatuh dengan kursi rodanya menimbulkan suara berisik dalam ruangan itu.


Dokter dan


perawat yang masih di dalam terkejut bukan main, dan segera membantu Jeremy.


Pak Kades


dan Pak Arman saling pandang, bersamaan mereka berlari ke depan pintu ruang


bersalin.


“Aku Ayah


bayimu!”


Terdengar


lagi suara Jeremy dari dalam. Pak Kades tidak bisa menahan lagi untuk bersabar


menunggu diluar, tangannya langsung mendorong pintu yang tidak terkunci itu. Mereka


semakin kaget saat Jeremy sedang dibantu duduk lagi di kursi roda.


“Jeremy!”


Pak Kades langsung menghampiri Jeremy, sedangkan Pak Arman menatap putrinya


yang menatap lurus kedepan sama sekali tidak menatapnya. Tidak pernah dia


melihat putrinya bersikap seperti itu.


“Ayah, katakan


pada Evelyn, bayi bayiku, anakku! Bayi itu anakku!”


Pak Kades


semakin tidak mengerti dengan ucapannya Jeremy, diapun menatap Evelyn.


“Evelyn,


Sayang. Ada ap aini? Kenapa Jeremy bicara begitu? Kau istrinya, itu artinya


bayimu bayinya Jeremy, cucuku,” ucap Pak Kades.


“Tidak Ayah.


Bayi ini bukan bayi Jeremy. Bayi ini tidak punya Ayah.”


“Evelyn! Kau


tidak bisa berbuat begini!” Jeremy berusaha untuk bangun lagi tapi Pak Kades


menahannya.


“Ada apa


ini, Sayang?” Pak Arman juga sama bingungnya.


“Bayiku


tidak punya Ayah. Ayahnya sudah mati.”


Jawaban


Evelyn semakin membuat semua orang shock.


“Sayang, apa


ini? Kau mau balas dendam padaku? Kau ingin memisahkanku dengan anakku?” tanya


Jeremy, menatap Evelyn dengan hati yang kecewa, ternyata begitu sakit mendapat

__ADS_1


penolakan dari orang yang dicintai.


***


__ADS_2