
Disaat
Maskur sibuk menyiapkan mobil, Jeremy ikutan panik.
“Ayah, aku
ikut.”
“Kau
menyusul saja, yang penting Evelyn segera dibawa ke rumah sakit.”
“Apa tidak
ada yang bisa mengantarku sekarang, aku ingin melihat istriku melahirkan!”
“Nanti Maskur
akan kembali menjemputmu!” Pak Kades membantu Evelyn berjalan menuruni tangga
teras, menuju mobil yang sudah dinyalakan Maskur.
Jeremy
semakin gelisah, dia tidak bisa ikut berangkat bersama. Dia terus mengutuki dirinya
yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa melihat mobil itu membawa
istrinya pergi meninggalkan rumahnya.
Jeremy
menunduk kesal, kedua tangannya mengepal menahan amarahnya. Marah yang tidak jelas
diperuntukkan kepada siapa. Ternyata bersikap sabar menerima dengan iklas apa
yang dia dapatkan sangatlah susah dilakukan. Sungguh dia ingin berontak. Dia
bukan pria lemah yang hanya bisa diam meratapi dirinya, dia bukan seperti itu.
Satu jam
lamanya Jeremy hanya bisa diam menunggu Maskur menjemputnya, seharusnya ayahnya
membeli mobil lagi bukannya Cuma satu saja, bukannya uangnya banyak? Setelah
ini dia harus membeli mobil lagi, kenapa begitu repot, tetap dengan hanya satu
mobil saja.
Maskur turun
dari mobil itu langsung menghampiri Jeremy.
“Kenapa kau
lama sekali?”
“Ini sudah ngebut,
Pak!”
“Kalau kau
anak buahku sudah aku pecat!” Sikap arogannya Jeremy mulai keluar.
Maskur
memberengut, kondisi seperti itu masih bisa juga marah-marah, batinnya.
“Sudah
melahirkan, belum?”
“Tadi sih
belum, Pak.” Maskur membopong tubuhnya Jeremy yang berat, padahal pria itu
tidak berbadan gemuk, tapi ternyata membuatnya kewalahan membawanya seorang
diri.
Meski sulit,
akhirnya Maskur bisa membawa Jeremy ke dalam mobil.
“Apa kau
tidak bisa bergerak cepat? Aku ingin melihat istriku melahirkan!” Jeremy terus
saja mengomel saking tidak mau ketinggalan proses Evelyn melahirkan.
Maskur tidak
banyak bicara, segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.
Sesampainya
di rumah sakit, ternyata Evelyn belum juga melahirkan.
“Ayah, kau
sudah bicara dengan Dokternya? Kenapa tidak melahirkan juga?”
“Tenanglah, istrimu
sedang ditangani Dokter.”
Jeremy
akhirnya diam, dia hanya mendengar suara istrinya yang menjerit kesakitan.
Berkali kali dia memutar kursi rodanya. Dia marah dan kesal pada dirinya yang
belum benar-benar sembuh. Dia inginnya mengancam Dokter yang di dalam itu
supaya menghentikan rasa sakit istrinya.
“Aku ingin
masuk!”
“Jeremy,
sabarlah. Sebentar lagi juga istrimu melahirkan.”
Jeremy melihat
kakinya, dia benar-benar sangat marah tidak bisa apa-apa. Hatinya mulai
mendendam pada orang-orang yang membuatnya begini.
“Bagaimana
Evelyn? Apa dia sudah melahirkan?” Terdengar suara laki-laki diikuti langkah
kakinya yang cepat.
Jeremy menoleh
kearah suara, ada mertuanya datang, berlari menghampiri ayahnya.
“Belum,
masih ditangani Dokter,” jawab pak Kades.
Pak Arman
menoleh pada Jeremy, sangat jarang dia melihat menantunya itu, hanya kabarnya
saja dari Pak Kades. Raut wajah Pak Arman berubah dingin, tidak menyapa Jeremy,
hanya kembali menoleh pada Pak Kades.
“Apa sudah
lama di dalam?”
“Iya. Semoga
cepat melahirkan.”
Melihat
__ADS_1
sikap mertuanya, Jeremy hanya diam, dia tahu dia tidak bisa membahagiakan
Evelyn, tidak menjaga istrinya dengan baik.
Tiba-tiba
terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan bersalin. Jeremy memajukan kursi
rodanya mendekati pintu, dia sudah tidak sabar melihat bayinya. Begitu juga
dengan Pak Kades dan Pak Arman.
Pintu itupun
terbuka, mereka langsung melongok saja ingin melihat kedalam.
Wanita itu
menoleh pada Jeremy yang paling muda dari ketiga orang itu.
“Bapak
suaminya?”
“Ya.” Jeremy
mengangguk.
“Selamat bayinya
laki-laki.”
Sumringah terpancar
dari tiga pria itu.
“Cucuku
laki-laki,” ucap pak Arman.
“Iya,
senangnya.” Pak Kades dan Pak Arman saling berangkulan.
Pak Arman
tampak berkaca-kaca, karena teringat pada istrinya. Ini anak pertamanya Evelyn,
tentu saja gadis itu tidak tahu harus bagaimana saat melahirkan apalagi dia
tidak punya ibu juga ibu mertua, pasti sangt sulit melewatinya. Ditambah Jeremy
juga tidak menemaninya di dalam.
“Silahkan
kalau mau melihat kedalam, saya butuh nama untuk bayinya.”
“Nama?”
Jeremy terkejut.
“Iya. Nama,
Bapak sudah menyiapkannya?”
“Aku belum
menyiapkan nama,” Jeremy menoleh pada Pak Kades dan Pak Arman.
“Kau ini
bagaimana? Kenapa kau tidak menyiapkan nama?” bentak Pak Arman, kesal.
“Kau suami
yang tidak bertanggungjawab, istrimu melahirkan belum ada nama, gimana sih?”
Pak Arman terus saja mengomel.
“Aku lupa.”
“Ya sudah,
siapkan saja sekarang, bayinya mau di beri identitas. Bapak bisa berunding
“Aku sudah
boleh melihat bayinya?”
“Sudah, tapi
Bapak aja, yang lain tunggu diluar.”
Perawat itu
langsung masuk ke ruangan diikuti Jeremy.
“Keterlaluan,
istrinya hamil belum menyiapkan nama.” Pak Arman masih terus menggerutu.
“Maafkan Jeremy,
mungkin karena dia sakit jadi tidak terpikirkan masalah itu. Jeremy baru
membaik dan bisa bicara lagi.” Pak Kades mengusap bahu Pak Arman.
“Iya, iya,
maaf, aku terbawa emosi. Aku kecewa Jeremy tidak menjaga putriku dengan baik.
Aku tahu putriku menderita bersamanya, hanya putriku tidak suka mengadu, aku
bisa merasakannya.”
“Aku minta
maaf, sungguh aku minta maaf.” Pak Kades menatap temannya itu dengan sedih dan
rasa penyesalan yang mendalam. Sebagai teman seharusnya dia bisa menjaga Evelyn
dengan baik.
“Ya
sudahlah, mau bagaimana lagi.”
“Iya, sekarang
kita tunggu saja disana, nanti kita lihat cucu kita.”
Keduanyapun
pergi ke kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan itu. Mereka duduk menunggu
pihak rumah sakit memperbolehkan mereka melihat Evleyn dan bayinya.
Tubuh Jeremy
mendadak tegang, saat masuk keruangan itu yang dilihatnya istrinya yang wajahnya
pucat dengan keringat membasahi keningnya, sedang duduk sambil menggendong bayi
yang berselimut, tidak terlihat wajahnya. Wajah istrinya terlihat lelah tapi
senyumnya terus mengembang di bibirnya.
Satu tangannya
menyentuh wajah bayi itu, sepertinya Evelyn sedang bicara dengan bayinya.
“Sss sayang!”
panggil Jeremy, membuat Evelyn menoleh. Tidak seperti yang dibayangkan Jeremy,
istrinya akan menyambutnya senang, tapi yang didapatnya malah sebaliknya.
Evelyn
terdiam menatap pria itu. Tidak ada tatapan haru yang menunjukkan rasa
senangnya. Tapi wanita itu tidak bicara apa-apa, hanya kembali melihat bayinya
__ADS_1
dan mengusap tubuh bayi itu.
Entah kenapa
hati Jeremy terasa sakit melihat reaksi istrinya begitu.
“Ss sayang,
aku minta maaf tidak menemanimu melahirkan. Bayi kita sudah lahir? Dia..bayi
kita laki-laki? Kata perawat begitu…” Jeremy mendadak tergagap, dia bingung
harus bicara apa. Antara senang, sedih, haru, bingung, tidak percaya kalau dia
sudah menjadi ayah.
“Bu, Bayinya
perlu diberi nama.”
“Sa Sayang
aku belum menyiapkan nama,” ucap Jeremy.
“Silahkan
dirundingkan namanya, tapi jangan lama-lama, kita perlu identitasnya.”
“Ya.” Jeremy
menjalankan kursi rodanya mendekati Evelyn.
“Sayang, apa
aku boleh melihat bayinya. Aku akan memberinya nama, sebentar aku pikirkan.” Jeremy
mengerutkan dahinya memikirkan nama yang baik untuk putranya.
“Aku yang
akan memberinya nama, hanya aku,” ucap Evelyn membuat Jeremy terkejut.
“Kau ini
bicara apa? Aku ayahnya yang akan memberinya nama.” Wajah Jeremy mendadak masam,
menatap istrinya dengan tajam.
Evelyn balas
menatap suaminya itu. “Aku yang akan memberinya nama dan anak ini tidak
berayah.”
“Apa?” Jeremy
terkejut bukan main.
“Evelyn,
jangan sembarangan bicara!” Nada suara Jeremy mendadak meninggi.
Evelyn masih
menatap suaminya itu, dengan bibir yang gemetar diapun menguatkan hatinya. “Aku
memutuskan ikatanmu dengan bayiku. Kau tidak ada hubungan apa-apa dengan
bayiku. Kau bukan ayahnya.”
Bagai disambar
petir disiang bolong Jeremy mendengar itu semua, dengan sekuat tenaga dia memaksakan
diri untuk bangun.
“Evelyn!”
teriaknya. Karena kondisi setengah tubuhnya masih lemah, dipaksakan berdiri
membuat posisi tubuhnya tidak seimbang, akhirnya malah membuat kursi roda itu terjungkal.
“Evelyn! Kau
tidak bisa memperlakukan ku seperti ini! Aku ayahnya! Aku ayah bayimu!” teriak
Jeremy.
Brak! Tubuh Jeremy
terjatuh dengan kursi rodanya menimbulkan suara berisik dalam ruangan itu.
Dokter dan
perawat yang masih di dalam terkejut bukan main, dan segera membantu Jeremy.
Pak Kades
dan Pak Arman saling pandang, bersamaan mereka berlari ke depan pintu ruang
bersalin.
“Aku Ayah
bayimu!”
Terdengar
lagi suara Jeremy dari dalam. Pak Kades tidak bisa menahan lagi untuk bersabar
menunggu diluar, tangannya langsung mendorong pintu yang tidak terkunci itu. Mereka
semakin kaget saat Jeremy sedang dibantu duduk lagi di kursi roda.
“Jeremy!”
Pak Kades langsung menghampiri Jeremy, sedangkan Pak Arman menatap putrinya
yang menatap lurus kedepan sama sekali tidak menatapnya. Tidak pernah dia
melihat putrinya bersikap seperti itu.
“Ayah, katakan
pada Evelyn, bayi bayiku, anakku! Bayi itu anakku!”
Pak Kades
semakin tidak mengerti dengan ucapannya Jeremy, diapun menatap Evelyn.
“Evelyn,
Sayang. Ada ap aini? Kenapa Jeremy bicara begitu? Kau istrinya, itu artinya
bayimu bayinya Jeremy, cucuku,” ucap Pak Kades.
“Tidak Ayah.
Bayi ini bukan bayi Jeremy. Bayi ini tidak punya Ayah.”
“Evelyn! Kau
tidak bisa berbuat begini!” Jeremy berusaha untuk bangun lagi tapi Pak Kades
menahannya.
“Ada apa
ini, Sayang?” Pak Arman juga sama bingungnya.
“Bayiku
tidak punya Ayah. Ayahnya sudah mati.”
Jawaban
Evelyn semakin membuat semua orang shock.
“Sayang, apa
ini? Kau mau balas dendam padaku? Kau ingin memisahkanku dengan anakku?” tanya
Jeremy, menatap Evelyn dengan hati yang kecewa, ternyata begitu sakit mendapat
__ADS_1
penolakan dari orang yang dicintai.
***