
Perjalanan
ke kota membutuhkan waktu berjam-jam. Karena lelah sudah bermain bola dengan Kakeknya,
Ayrespun mengantuk. Kepalanya manggut-manggut kedepan. Hampir saja terjatuh kalau
tidak Jeremy yang menangkapnya, membuatnya tidak sengaja memeluknya.
Ini pertama
kalinya dia memegang putranya setelah saat baru lahir dulu.
Tangannya
kaku memegang bahu kecil itu.
“Hei, kau
tidur? Ayres?” digoyang-goyangkannya tubuh anak itu tapi tidak ada jawaban.
Disandarkannya tubuh kecil itu tapi malah akan jatuh lagi. Membuatnya bingung, kira-kira dia harus
melakukan apa dengan bocah itu?
Ayres akan
jatuh lagi dengan kepala semakin menunduk kearahnya. Jeremy merasa bingung, apa
anak itu harus tidur dipangkuannya? Akhirnya kepalanya Ayres dibaringkan
kepangkuannya.
Merasakan
ada mahluk kecil dipangkuannya rasanya seperti mimpi. Ditatapnya wajah Ayres
yang tidur dengan nyenyaknya. Tangan Jeremy memegang kakinya Ayres yang tidak
memakai sandal, kakinya kotor tanah bekas main bola tanpa alas kaki.
Kaki-kaki
kecil itu begitu halus, lalu diusapnya ke betisnya. Benar-benar seperti mimpi,
apa benar mahluk kecil ini adalah putranya? Darah dagingnya? Tidak pernah
terbayangkan ternyata mempunyai seorang anak seperti sebuah keajaiban.
Wajah
polosnya sama sekali tidak membuatnya merasa bosan. Anak itu begitu tampan.
Disentuhnya pipinya yang lembut. Diapun mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya
apa benar dia punya anak? Sungguh aneh, rasa yang aneh.
Tiba-tiba
Ayres bergerak meringkuk, sepertinya dia kedinginan. Jeremy melihat sekeliling
tidak ada yang bisa digunakannya untuk dijadikan selimut.
Diapun membuka
jasnya lalu diselimutkan pada tubuh Ayres. Senyum tersungging dibibirnya saat
melihat gerak bibir mungilnya Ayres yang kemerahan.
“Kau sangat
lucu,” gumamnya.
Sepanjang
jalan tangan Jeremy memeluk Ayres supaya tidak terjatuh.
“Di mini
market depan, kau belikan makanan apa saja buat anak-anak. Aku tidak mengerti.
Minta pertugas mini market saja yang pilihkan!” perintah Jeremy pada bodyguardnya
yang ada didepannya.
“Baik, Pak!”
Mobilpun
berhenti di depan mini market. Pria yang duduk di depan itu segera turun dan pergi
ke tempat belanja itu. Jeremy hanya duduk bersandar sambil menjaga tubuhnya
Ayres.
Dilihatnya
diluar itu ada sebuah mobil yang parkir, kemudian turun seorang wanita disusul seorang
anak laki-laki dan anak perempuan yang berlarian ke minimarket.
“Sayang,
jangan lari!” teriak wanita itu mungkin ibunya. Dari pintu depan mobil itu
keluar seorang pria yang langsung memegang tangan anak perempuan yang berlari
menghampirinya, merekapun masuk kedalam mini market.
Jeremy
mengerjapkan matanya, lalu menggaruk pelipisnya, menoleh apda Ayres yang tidur
itu. Kenapa sepertinya menyenangkan membawa anak kecil berbelanja seperti keluarga
tadi?
Apalagi
melihat betapa bahagianya anak-anak itu mengambil macam-macam makanan kesukaan
mereka yang di masukkan kedalam keranjang belanja. Makanan yang tinggi
diambilkan oleh pria itu yang mungkin ayah dari anak-anak itu. Diperhatikannya
wanita yang bersama mereka itu, baru tersadar kalau wanita itu ternyata sedang
hamil.
Sesekali
__ADS_1
pria itu bertanya dan memilihkan barang yang wanita itu inginkan. Jeremy pun
terdiam. Apa ini yang sebenarnya yang diinginkan Evelyn? Seperti keluarga itu
yang terlihat bahagia dengan dua anaknya dan satu di dalam perutnya? Mereka
bahagia tanpa harus merasa was was akan ada yang mengancam keselamatan mereka? Ini
yang tidak bisa dia berikan pada anak istrinya?
Sungguh
berbeda dengannya, bahkan Ryan sudah mulai akan mengganggu istrinya. Pria brengsek
orang kepercayaannya yang menusuknya dari belakang.
Dia harus
bergerak cepat menculik Evelyn atau pria itu yang akan melakukannya. Dia tidak
akan membiarkan siapapun mengganggu anak istrinya.
Jeremy
menelpon seseorang. “Belikan aku baju anak laki-laki usia 5 tahun, yang lengkap.
Sepatu dan sandal juga. Peralatan mandi, terus apa lagi? Pokoknya keperluan
anak usia 5 tahun. Mainan? Ya dengan mainan, untuk anak 5 tahun. Sepeda? Momobilan?
Terserah pokoknya semua harus sudah tersedia di rumah beberapa jam lagi.”
Setelah itu
telponpun ditutup. Bodyguardnya sudah tiba dengan petugas mini market itu yang
membawakan troly belanjaan.
“Bos, mau
disimpan di bagasi?”
“Disini saja!
Awas jangan berisik!”
“Siap, Bos!”
Berbagai
macam makanan di masukkan kedalam mobil yang sekarang menjadi penuh.
“Apa ini?”
tanyanya.
“Maaf Pak,
Bapak ini tidak tahu apa yang harus dibeli jadi saya pilihkan beberapa macam
untuk dipilih nanti.” Petugas mini market yang menjawab.
“Ya sudah!”
Setelah
semua belanjaan masuk mobil, perjalananpun dilanjutkan. Jeremy melihat
minuman apa.
Saat anak
itu bangun dan menguap, Jeremy hanya menatapnya saja, mata Ayres membuatnya
merasa sangat nyaman, mata itu mirip dengan mata istrinya, sangat teduh.
“Kau sudah
bangun? Tidurmu nyenyak sekali.”
Ayres
mengucek-ngucek matanya lalu duduk, dilihatnya banyak makanan didepannya.
“Apa kau
lapar?”
Ayres diam
saja.
“Kau lapar?”
Ayres masih
diam.
“Kenapa? Ini
semua buatmu, om tidak tahu makanan kesukaanmu jadi Om membeli banyak pilihan.”
“Aku lapar
tapi tidak mau makan.”
“Kenapa?” Jeremy
terkejut, menatap putranya itu keheranan.
“Ibu
melarang makan makanan dari orang asing. Lebih baik lapar daripada kau
memakannya dan sakit perut, begitu kata ibu.”
Jeremy
terdiam, sebegitu over protectifnya Evelyn pada Ayres?
“Kenapa Ibumu
bicara begitu?”
“Kata Ibu, Ibu
tidak mau aku sakit.”
“Tapi
__ADS_1
makanan ini tidak berbahaya. Kau makan roti saja!” Jeremy mengambilkan satu
roti dan diberikan pada Ayres tapia nak itu menggeleng.
“Aku makan
kalau sudah ketemu Ibu.”
Tidak ada
yang bisa Jeremy ucapkan, sudah jelas terlihat kalau Evelyn takut terjadi
apa-apa pada putranya. Wanita itu selalu ketakutan ada yang menyakiti putranya.
“Kau benar
tidak mau makan? Tapi kau lapar. Perjalanan kita masih jauh.”
Ayres
menggeleng meskipun Jeremy terus membujuk.
“Kalau Om
makan dulu, terus kau makan, mau? Biar kau lihat Om tidak sakit perut?”
Ayres
terdiam. Jeremy membuka roti itu lalu memakannya dan diperlihatkan pada Ayres
kalau dia tidak sakit perut.
Diambilnya
botol minum mineral lalu diminumnya.
“Kau lihat
kan, tidak sakit perut.”
Ayres diam,
sungguh dia sangat lapar, tapi dia teringat kata ibunya untuk tidak menerima
makanan dari orang yang tidak dikenal.
Jeremy
mengambil satu roti lagi yang masih baru lalu diberikan pada Ayres. Anak itu
menggeleng lagi, membuatnya putus asa.
“Nanti kau
kelaparan, Nak! Nanti kau sakit kalau tidak makan,” ucap Jeremy, entah kenapa
sedih rasanya melihat putranya tidak mempercayainya. Dan malah memilih menahan
laparnya.
“Aku ingin
bertemu Ibu.”
“Ya, Sayang.
Kau akan bertemu Ibu.” Jeremy mengangguk, lalu menoleh pada supirnya.
“Apa bisa
kau percepat? Biar cepat sampai.”
“Baik, Bos!”
Akhirnya
Jeremy hanya duduk bersandar, benar apa kata evelyn, dia akan menyakiti anak
istrinya. Tapi dia sudah berubah sekarang, dia mencintai Evelyn juga Ayres.
Beberapa jam
kemudian sampailah mereka ke rumahnya Jeremy. Pria itu sudah sangat tidak sabar
karena merasa khawatir Ayres tidak makan sedikitpun meskipun lapar. Rasanya dia
tidak akan memaafkan dirinya kalau sampai Ayres sakit.
“Om, ini rumah
siapa?” tanya Ayres saat mobil Jeremy itu masuk ke halaman rumah mewah itu.
“Ini rumah
kita.” Pria itu menjawab dengan hati yang haru, impiannya bisa berkumpul
kembali dengan keluarganya entah bisa diwujudkan atau tidak, meskipun dia sudah
membawa Evelyn dan Ayres ke rumahnya.
“Rumah kita?
Rumah Om? Waah ada taman bermain! Apa itu tempat mainan anak Om?” seru Ayres,
melongokkan kepalanya ke jendela.
“Ya, itu taman
bermain anak Om. Dia sepertimu.”
“Sepertiku”
“Ya, usianya
lima tahun, laki-laki.”
“Apa aku
bisa berteman dengannya? Aku mau main disana.” Ayres menoleh sekilas pada
Jeremy lalu melongok ke jendela lagi.
“Ya, kau
bisa bermain disana.” Jeremy mengangguk, tapi dengan hati yang gundah, rasanya
tidak nyaman bicara dengan anaknnya sendiri tanpa anak itu tahu kalau dia ayah
kandungnya.
__ADS_1
***