Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-69 Rasanya Menjadi Ayah


__ADS_3

Perjalanan


ke kota membutuhkan waktu berjam-jam. Karena lelah sudah bermain bola dengan Kakeknya,


Ayrespun mengantuk. Kepalanya manggut-manggut kedepan. Hampir saja terjatuh kalau


tidak Jeremy yang menangkapnya, membuatnya tidak sengaja memeluknya.


Ini pertama


kalinya dia memegang putranya setelah saat baru lahir dulu.


Tangannya


kaku memegang bahu kecil itu.


“Hei, kau


tidur? Ayres?” digoyang-goyangkannya tubuh anak itu tapi tidak ada jawaban.


Disandarkannya tubuh kecil itu tapi malah akan jatuh lagi.  Membuatnya bingung, kira-kira dia harus


melakukan apa dengan bocah itu?


Ayres akan


jatuh lagi dengan kepala semakin menunduk kearahnya. Jeremy merasa bingung, apa


anak itu harus tidur dipangkuannya? Akhirnya kepalanya Ayres dibaringkan


kepangkuannya.


Merasakan


ada mahluk kecil dipangkuannya rasanya seperti mimpi. Ditatapnya wajah Ayres


yang tidur dengan nyenyaknya. Tangan Jeremy memegang kakinya Ayres yang tidak


memakai sandal, kakinya kotor tanah bekas main bola tanpa alas kaki.


Kaki-kaki


kecil itu begitu halus, lalu diusapnya ke betisnya. Benar-benar seperti mimpi,


apa benar mahluk kecil ini adalah putranya? Darah dagingnya? Tidak pernah


terbayangkan ternyata mempunyai seorang anak seperti sebuah keajaiban.


Wajah


polosnya sama sekali tidak membuatnya merasa bosan. Anak itu begitu tampan.


Disentuhnya pipinya yang lembut. Diapun mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya


apa benar dia punya anak? Sungguh aneh, rasa yang aneh.


Tiba-tiba


Ayres bergerak meringkuk, sepertinya dia kedinginan. Jeremy melihat sekeliling


tidak ada yang bisa digunakannya untuk dijadikan selimut.


Diapun membuka


jasnya lalu diselimutkan pada tubuh Ayres. Senyum tersungging dibibirnya saat


melihat gerak bibir mungilnya Ayres yang kemerahan.


“Kau sangat


lucu,” gumamnya.


Sepanjang


jalan tangan Jeremy memeluk Ayres supaya tidak terjatuh.


“Di mini


market depan, kau belikan makanan apa saja buat anak-anak. Aku tidak mengerti.


Minta pertugas mini market saja yang pilihkan!” perintah Jeremy pada bodyguardnya


yang ada didepannya.


“Baik, Pak!”


Mobilpun


berhenti di depan mini market. Pria yang duduk di depan itu segera turun dan pergi


ke tempat belanja itu. Jeremy hanya duduk bersandar sambil menjaga tubuhnya


Ayres.


Dilihatnya


diluar itu ada sebuah mobil yang parkir, kemudian turun seorang wanita disusul seorang


anak laki-laki dan anak perempuan yang berlarian ke minimarket.


“Sayang,


jangan lari!” teriak wanita itu mungkin ibunya. Dari pintu depan mobil itu


keluar seorang pria yang langsung memegang tangan anak perempuan yang berlari


menghampirinya, merekapun masuk kedalam mini market.


Jeremy


mengerjapkan matanya, lalu menggaruk pelipisnya, menoleh apda Ayres yang tidur


itu. Kenapa sepertinya menyenangkan membawa anak kecil berbelanja seperti keluarga


tadi?


Apalagi


melihat betapa bahagianya anak-anak itu mengambil macam-macam makanan kesukaan


mereka yang di masukkan kedalam keranjang belanja. Makanan yang tinggi


diambilkan oleh pria itu yang mungkin ayah dari anak-anak itu. Diperhatikannya


wanita yang bersama mereka itu, baru tersadar kalau wanita itu ternyata sedang


hamil.


Sesekali

__ADS_1


pria itu bertanya dan memilihkan barang yang wanita itu inginkan. Jeremy pun


terdiam. Apa ini yang sebenarnya yang diinginkan Evelyn? Seperti keluarga itu


yang terlihat bahagia dengan dua anaknya dan satu di dalam perutnya? Mereka


bahagia tanpa harus merasa was was akan ada yang mengancam keselamatan mereka? Ini


yang tidak bisa dia berikan pada anak istrinya?


Sungguh


berbeda dengannya, bahkan Ryan sudah mulai akan mengganggu istrinya. Pria brengsek


orang kepercayaannya yang menusuknya dari belakang.


Dia harus


bergerak cepat menculik Evelyn atau pria itu yang akan melakukannya. Dia tidak


akan membiarkan siapapun mengganggu anak istrinya.


Jeremy


menelpon seseorang. “Belikan aku baju anak laki-laki usia 5 tahun, yang lengkap.


Sepatu dan sandal juga. Peralatan mandi, terus apa lagi? Pokoknya keperluan


anak usia 5 tahun. Mainan? Ya dengan mainan, untuk anak 5 tahun. Sepeda? Momobilan?


Terserah pokoknya semua harus sudah tersedia di rumah beberapa jam lagi.”


Setelah itu


telponpun ditutup. Bodyguardnya sudah tiba dengan petugas mini market itu yang


membawakan troly belanjaan.


“Bos, mau


disimpan di bagasi?”


“Disini saja!


Awas jangan berisik!”


“Siap, Bos!”


Berbagai


macam makanan di masukkan kedalam mobil yang sekarang menjadi penuh.


“Apa ini?”


tanyanya.


“Maaf Pak,


Bapak ini tidak tahu apa yang harus dibeli jadi saya pilihkan beberapa macam


untuk dipilih nanti.” Petugas mini market yang menjawab.


“Ya sudah!”


Setelah


semua belanjaan masuk mobil, perjalananpun dilanjutkan. Jeremy melihat


minuman apa.


Saat anak


itu bangun dan menguap, Jeremy hanya menatapnya saja, mata Ayres membuatnya


merasa sangat nyaman, mata itu mirip dengan mata istrinya, sangat teduh.


“Kau sudah


bangun? Tidurmu nyenyak sekali.”


Ayres


mengucek-ngucek matanya lalu duduk, dilihatnya banyak makanan didepannya.


“Apa kau


lapar?”


Ayres diam


saja.


“Kau lapar?”


Ayres masih


diam.


“Kenapa? Ini


semua buatmu, om tidak tahu makanan kesukaanmu jadi Om membeli banyak pilihan.”


“Aku lapar


tapi tidak mau makan.”


“Kenapa?” Jeremy


terkejut, menatap putranya itu keheranan.


“Ibu


melarang makan makanan dari orang asing. Lebih baik lapar daripada kau


memakannya dan sakit perut, begitu kata ibu.”


Jeremy


terdiam, sebegitu over protectifnya Evelyn pada Ayres?


“Kenapa Ibumu


bicara begitu?”


“Kata Ibu, Ibu


tidak mau aku sakit.”


“Tapi

__ADS_1


makanan ini tidak berbahaya. Kau makan roti saja!” Jeremy mengambilkan satu


roti dan diberikan pada Ayres tapia nak itu menggeleng.


“Aku makan


kalau sudah ketemu Ibu.”


Tidak ada


yang bisa Jeremy ucapkan, sudah jelas terlihat kalau Evelyn takut terjadi


apa-apa pada putranya. Wanita itu selalu ketakutan ada yang menyakiti putranya.


“Kau benar


tidak mau makan? Tapi kau lapar. Perjalanan kita masih jauh.”


Ayres


menggeleng meskipun Jeremy terus membujuk.


“Kalau Om


makan dulu, terus kau makan, mau? Biar kau lihat Om tidak sakit perut?”


Ayres


terdiam. Jeremy membuka roti itu lalu memakannya dan diperlihatkan pada Ayres


kalau dia tidak sakit perut.


Diambilnya


botol minum mineral lalu diminumnya.


“Kau lihat


kan, tidak sakit perut.”


Ayres diam,


sungguh dia sangat lapar, tapi dia teringat kata ibunya untuk tidak menerima


makanan dari orang yang tidak dikenal.


Jeremy


mengambil satu roti lagi yang masih baru lalu diberikan pada Ayres. Anak itu


menggeleng lagi, membuatnya putus asa.


“Nanti kau


kelaparan, Nak! Nanti kau sakit kalau tidak makan,” ucap Jeremy, entah kenapa


sedih rasanya melihat putranya tidak mempercayainya. Dan malah memilih menahan


laparnya.


“Aku ingin


bertemu Ibu.”


“Ya, Sayang.


Kau akan bertemu Ibu.” Jeremy mengangguk, lalu menoleh pada supirnya.


“Apa bisa


kau percepat? Biar cepat sampai.”


“Baik, Bos!”


Akhirnya


Jeremy hanya duduk bersandar, benar apa kata evelyn, dia akan menyakiti anak


istrinya. Tapi dia sudah berubah sekarang, dia mencintai Evelyn juga Ayres.


Beberapa jam


kemudian sampailah mereka ke rumahnya Jeremy. Pria itu sudah sangat tidak sabar


karena merasa khawatir Ayres tidak makan sedikitpun meskipun lapar. Rasanya dia


tidak akan memaafkan dirinya kalau sampai Ayres sakit.


“Om, ini rumah


siapa?” tanya Ayres saat mobil Jeremy itu masuk ke halaman rumah mewah itu.


“Ini rumah


kita.” Pria itu menjawab dengan hati yang haru, impiannya bisa berkumpul


kembali dengan keluarganya entah bisa diwujudkan atau tidak, meskipun dia sudah


membawa Evelyn dan Ayres ke rumahnya.


“Rumah kita?


Rumah Om? Waah ada taman bermain! Apa itu tempat mainan anak Om?” seru Ayres,


melongokkan kepalanya ke jendela.


“Ya, itu taman


bermain anak Om. Dia sepertimu.”


“Sepertiku”


“Ya, usianya


lima tahun, laki-laki.”


“Apa aku


bisa berteman dengannya? Aku mau main disana.” Ayres menoleh sekilas pada


Jeremy lalu melongok ke jendela lagi.


“Ya, kau


bisa bermain disana.” Jeremy mengangguk, tapi dengan hati yang gundah, rasanya


tidak nyaman bicara dengan anaknnya sendiri tanpa anak itu tahu kalau dia ayah


kandungnya.

__ADS_1


***


__ADS_2