
Didalam ruangan itu mendadak hening dan suasana semakin mencekam. Orang-orangnya Jeremy dan Ken sudah pasang badan untuk menerima perintah pertempuran jika ketua mereka memberikan perintah untuk berperang.
Sorot mata tajam dan sinis dari orang-orang yang bersenjata itu menandakan keseriusan mereka untuk bertempur. Orang-orang yang tidak berkepentingan terutama wanita-wanita sudah mulai menyingkir, keluar dari arena itu atau mereka akan menjadi sasaran peluru nyasar.
Para petugas keamananpun angkat tangan kalau sudah berurusan dengan bentroknya geng-geng mafia itu.
“Kau tidak akan memperlihatkan kartumu?” tanya Liu, menatap Jeremy.
Jeremy masih diam, Evelyn semakin gelisah, apakah Jeremy benar-benar kalah?
Ken tersenyum sinis lagi. Jeremy hanya menatapnya, dia benar-benar kalah kali ini! Padahal tadi dia sudah yakin menang. Kalau dia kalah, apa dia akan benar-benar memberikan istrinya pada Ken?
“Jeremy! Perlihatkan kartumu!” kata Liu.
Semua orang menatap Jeremy dengan tegang. Pria itu masih diam, sedangkan Ken sudah terlihat sangat senang dengan kemenangan yang akan diraihnya.
“Kau curang!” Jeremy menatap Ken dengan tajam.
Orang-orang Jeremy langsung ada yang bergerak mendengar kata ketuanya curang dan Krek! Senjata yang dipegang orang-orangnya Ken terdengar dikekang, membuat orang-orangnya Jeremypun memasang senjata mereka kearah lawan. Suasana semakin panas saja. Kini ruangan itu hanya tinggal beberapa puluh orang yang siap dengan peperangan.
Liu menatap Jeremy yang tidak melepaskan tatapan tajamnya pada Ken,”Perlihatkan kartumu! Akhiri permainan dan tunjukkan siapa yang menang dan kalah!”
Jeremy menghela nafas sebentar, ini tidak mudah baginya, dia juga tidak menyangka akan kalah. Sudah jelas jelas dia hampir menang tadi. Dengan berat, dia menyimpan kartunya diatas meja dengan kesal. Semua mata memandang kearah meja lalu terdengar suara tawa Ken.
Evelyn menoleh kearah meja menatap kartunya Jeremy, dia tidak mengerti arti gambar dikartu itu.
Ken menoleh pada Evelyn sambil tersenyum,”Kau jadi milikku, sayang!” ucapnya dalam bahasa Inggris.
“Apa?” Evelyn menatap Ken, terkejut.
Pria itu langsung menyeringai membuat Evelyn merasa ngeri, apalagi dengan tatapan mesumnya yang menatap dadanya, Evelyn langsung membetulkan letak gaun di dadanya dengan ditarik keatas supaya dadanya tidak terlalu terekspos tapi karena memang gaunnya berleher rendah, dia hanya bisa menariknya naik sedikit.
Ken semakin suka saja dengan sikap paniknya Evelyn. Wanita itu terlihat semakin menarik dimatanya.
“Jeremy kalah! Kau milikku sekarang!” ucapnya.
“Aku tidak mau!” Teriak Evelyn, membuat Ken kembali tertawa, dia merasa senang melihat reaksi Evelyn seperti itu.
Wajah cantik itu terlihat semakin pucat. Penolakannya semakin membuat Ken penasaran, bukannya seharusnya wanita itu senang bisa menjadi barang berharga dimatanya dengan hampir mengorbankan lokasi pasarnya hanya demi seorang istrinya Jeremy?
“Kau sangat menarik, pantas saja Jeremy menikahimu!” ucap Ken, semakin terlihat menyebalkan dimatanya Evelyn.
Evelyn menatap Jeremy yang hanya diam dengan kekalahannya, sama sekali tidak mau menoleh padanya. Tangannya mengguncang-guncang lengannya Jeremy.
__ADS_1
“Jeremy, ini hanya main-main kan? Kau tidak benar-benar memberikanku pada pria itu kan?”
Jeremy terdiam tidak bicara, sama sekali tidak mau menoleh pada Evelyn.
“Jeremy! Aku tidak mau!” teriak Evelyn, airmata sudah tidak terbendung lagi menetes dipipinya. Tangannya kembali mengguncang-guncang tangannya Jeremy.
Melihat Jeremy yang tidak menjawab terus, Evelyn sudah tahu jawabannya apa. Dilepaskannya tangan suaminya itu perlahan. Airmata terus menetes dipipinya, sakit rasanya diperlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri.
Ryan tidak berkata apa-apa melihat kejadian itu, ternyata Jeremy benar-benar pria yang tidak berperasaan, istrinya yang dititipkan ayahnyapun rela diberikan pada Ken karena kalah judi.
Ken melirik seseorang yang berdiri didekat Evelyn. Pria itu langsung melaksanakan perintahnya, mengulurkan tangannya memegang tangan Evelyn. Tentu saja Evelyn menolaknya, ditepisnya tangan pria itu dengan keras.
“Aku tidak mau!” bentak Evelyn, menatap pria itu.
Pria itu tidak menyerah, kembali memegang tangan Eveyn lagi dengan kuat dan langsung menariknya sampai Evelyn terbangun dari duduknya.
“Lepaskan! Aku tidak mau!” Evelyn terus menolak, mencoba melepaskan diri, tapi tenaga pria itu sangat kuat membuatnya terseret dari kursinya.
“Lepaskan! Jeremy! Aku tidak mau ikut pria itu!” Evelyn menoleh pada Jeremy yang hanya diam saja.
Ken mencondongkan tubuhnya ke depan Jeremy.
“Aku menang! Sepertinya ini hari keberuntunganku bisa bersenang-senang dengan istrimu! Aku ingin merasakan tubuhnya seperti yang kau rasakan, mungkin setelah itu kita bisa berbagi cerita apa rasa kita sama setelah menikmati tubuhnya?”
Ucapan Ken benar-benar menyulut emosinya Jeremy. Seharusnya dia tidak perlu marah karena dia juga sudah biasa melupakan wanita yang bersamanya, tapi kenapa sekarang perasaannya lain? Kenapa dia merasa sangat terhina dengan ucapan itu?
Ken semakin senang saja melihat Jeremy mati kutu, dia tahu Jeremy tidak mungkin ingkar janji atau orang-orangnya akan menghabisinya sekarang juga. Bukan itu saja mungkin persaingan selanjutnya di dunia bisnispun akan semakin rumit.
“Jeremy! Kau tega melakukan ini padaku?” tanya Evelyn, menoleh pada Jeremy. Yang menjawab Ken, seolah dia mengerti bahasa yang diucapkan Evelyn meskipun tidak menggunakan bahasa Inggris.
“Dalam peraturan kami, pria dilarang keras ingkar janji!” ucap Ken dalam bahasa Inggris.
Evelyn menoleh pada Ken,” Aku tidak peduli dengan janji kalian! Lepaskan aku!”
“Kau semakin cantik kalau marah-marah terus!” ucap Ken, lalu melirik pada pria yang sedang memegang tangan Evelyn. Pria itu kembali menarik tangan Evelyn akan membawanya ke suatu tempat.
Tentu saja Evelyn kembali menolak, dia tidak mau ikut bersama Ken, dan dia berfikir untuk kabur dari tempat itu meskipun peluru akan menembus badannya, dia tidak peduli daripada menjadi bulan-bulanannya Ken.
Kaki Evelyn langsung menendang bagian bawah tubuh pria itu yang sensitive dengan lututnya sekerasnya.
Dugh!
“Aw!” Jerit pria itu, membelalakkan matanya saking nyeri yang dirasanya di bagian itu. Akhirnya dia melepaskan pegangannya beralih memegang bagian bawah tubuhya yang ditendang Evelyn.
__ADS_1
“Dasar wanita…” maki pria itu meringis kesakitan.
Setelah lepas dari pria itu, Evelyn mengangkat gaunnya mencoba kabur, tapi baru juga beberapa langkah, tangannya sudah ditangkap oleh pria yang lain.
“Lepaskan!” teriaknya lagi, lalu menggigit tangan pria itu. Tapi kali ini gigitannya tidak berhasil membuat pria itu sakit, pria itu malah menyeringai merasa menang.
Melihat gigitannya tidak berhasil, Evelyn kembali menggigit tangan itu lebih keras dan barulah tendengar teriakan kesakitan dari pria itu yang langsung melepaskan pegangan tangannya.
Melihat reaksi Evelyn yang mencoba kabur, beberapa orang pria langsung menangkapnya, kedua tangannya dipegang oleh pria-pria yang berbeda.
“Lepaskan!” Teriak Evelyn, mencoba lepas lagi tapi tidak berhasil sekarang karena dua orang yang memegangnya dan langkahnya dihalangi oleh beberapa orang pria lagi.
Ken kembali tertawa melihat Evelyn berusaha kabur, diapun kembali menoleh pada Jeremy.
“Tingkah istrimu membuat aku merasa tidak sabar untuk menikmatinya!” Ken bangun dari duduknya, berjalan menghampiri Evelyn.
Evelyn bergerak-gerak ingin lepas dari tangan-tangan pria itu, gerakannya membuat dandanannya semakin berantakan, bagian dadanya yang indah semakin terlihat **** karena keringat mulai muncul membasahi tubuhnya.
Ken menghampiri istri Jeremy itu, menatapnya dengan tatapan pria yang mulai bangkit hasratnya.
“Cantik, kau seperti kuda liar!” Tangannya mau menyentuh wajahnya Evelyn tapi wanita itu memalingkan mukanya mencoba menghindar.
“Jangan menyentuhku!” maki Evelyn.
Ken tersenyum lalu tangannya mulai menyentuh wajahnya Evelyn lagi.
“Aku bilang jangan menyentuhku!” bentak Evelyn semakin kencang.
“Kau mau berteriak-teriak juga percuma, kau sudah jadi milikku sekarang! Kau fikir Jeremy akan membebaskanmu? Tidak! Kami semua disini taat peraturan! Tidak boleh menjilat ludah sendiri! Apa kau mengerti?” kata Ken, tangannya kini menyibakkan rambutnya Evelyn yang menutupi wajah dan dadanya.
Hati Evelyn semakin sakit saja diperlakukan seperti itu oleh pria hidung belang, dia bisa melihat bagaimana sikapnya ken, pasti pria itu akan menyakitinya, sungguh membuatnya takut dan terpuruk.
Kemudian ditatapnya Jeremy dengan sudut matanya, pria itu sama sekali tidak bergerak dari kursinya yang memunggunginya. Apa pria itu benar-benar tidak peduli padanya? Hatinya semakin putus asa bisa lepas dari Ken, sudah jelas-jelas Jeremy sangat tidak punya hati. Semakin sakit saja rasanya tidak dicintai oleh suaminya sendiri.
Ken menoleh pada pria-pria yang memegang tangan Evelyn itu,” Bawa dia!” perintahnya.
Kedua pria itu akan pergi tapi terhenti saat mendengar suara orang yang bicara.
“Tunggu! Beri aku waktu untuk bicara dengan istriku!”
Semua mata menoleh kearah suara, ternyata Jeremy yang bicara.
Evelyn menatap punggung pria itu, dia tidak tahu Jeremy mau bicara apa dengannya?
__ADS_1
******
Readers, jangan lupa like dan giftnya ya..