
Melihat kepergian istrinya, ruangan itu kembali sepi. Jeremy merasakan hampa yang amat
sangat. Disaat dia tuna daksa, terasa sekali dia membutuhkan istrinya.
Penyesalan semakin bertumpuk, kenapa dia menyadari kesalahannya disaat dia
tidak bisa apa-apa. Keinginan untuk memperbaikipun sudah tidak ada jalan.
Bagaimana
kalau dia selamanya seperti ini? Hanya satu keinginannya, dia ingin ada jalan
untuk menunjukkan permintaan maafnya pada Evelyn. Meskipun entah sampai kapan
Evelyn akan merawatnya, mungkin suatu saat akan bosan dan membuangnya, tapi dia
tahu Evelyn tidak akan melakukan hal itu.
Selena
mungkin mencintainya, tapi mengurusnya seperti apa yang Evelyn lakukan apa dia bisa?
Ternyata
ketajaman insting Jeremy teruji, bukan Ryan saja yang memantau rumahnya Jeremy
tapi juga Selena.
Saat mobil
Evelyn keluar dari rumah megah itu dia memantaunya dilokasi yang lebih jauh dari
Ryan.
Senyum
mengembang di bibirnya Selena melihat mobilnya Ryan itu. Menjadi kebanggaan
tersendiri juga bisa memanfaatkan laki-laki dengan mudah.
Tapi
meskipun Ryan mau melakukan apapun untuknya, Jeremy tidak bisa tersingkir
begitu saja didalam hatinya. Dia sudah terlalu biasa dengan keberadaan pria
itu. Jeremy memang punya keistimewaan sendiri baginya.
Jeremy
memang sudah tidak punya apa-apa, tapi melihat ada wanita lain yang bersama
pria itu tetap saja ada rasa cemburu di hatinya.
Dilihatnya mobil
Ryan mengikuti mobil yang keluar dari rumahnya Jeremy. Senyum sinis tersungging
di bibirnya, dia sudah menduga Ryan, pria bodoh yang dimanfaatkannya itu yang
mengikuti mobil dari rumahnya Jeremy, siapa lagi kalau bukan Evelyn
penumpangnya?
Setelah
mobilnya Ryan yang menguntit mobilnya Evelyn menjauh, barulah Selena
menjalankan mobilnya menuju gerbang rumahnya Jeremy.
“Aku mau
menjenguk Jeremy. Apa Dokter sudah datang?” tanya Selena pada Pak Satpam.
Pria
berseragam itu yang sudah terbiasa dengan kehadirannya Selena tidak berpikir
macam-macam, karena Evelynpun tidak berpesan untuk menolak kedatangannya
Selena.
Tentu saja
Evelyn tidak melakukannya karena berpikir tidak mungkin juga Selena menemui
Jeremy lagi karena tahu kondisinya yang tidak bisa apa-apa.
“Belum datang,
Bu!” jawab Pak Satpam.
Selena tidak
bicara lagi, kembali menjalankan mobilnya memasuki halaman rumahnya Jeremy.
Tidak ada
yang bisa dilakukan Jeremy selain menonton televisi yang dinyalakan perawatnya
atau melirik kearah jendela melihat keluar itupun tidak leluasa karena dia
harus memutar tubuhnya yang tidak bisa dilakukannya sendiri tanpa bantuan orang
lain.
Telinganya
yang terlatih tajam mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya, dia tahu
itu bukan Bibi atau Perawat, tapi langkah seorang wanita yang sudah dia duga,
Selena.
Begitu pintu
dibuka sudah jelas dugaannya terbukti, wanita cantik yang selalu menunjukkan
keseksian tubuhnya muncul dengan senyum sensualnya yang tidak bisa lepas dari
pembawaannya yang menarik dimata lelaki.
“Jeremy,
Sayang,” sapanya. Bibir merahnya semakin menggoda setiap dia bicara.
Jeremy
menatap tajam Selena tanpa bisa berkutik. Tapi raut wajahnya tampak tidak
berubah, karena dia sudah tahu Selena tidak akan mudah menjauh darinya.
Selena
melangkah masuk ke dalam kamar. Saat melewati pas bunga, dengan sengaja dia
menyenggolnya.
“Aduh!”
__ADS_1
jeritnya, membuat mata Jeremy bergerak melihat kearah Pas bunga yang tersenggol
Selana.
Wanita itu
mengusap usap lengannya sambil tersenyum penuh kelicikan lalu menoleh pada
Jeremy.
“Kau, bisa
mendengar!” ucapnya, kembali menatap Jeremy.
Kaki-kaki
mulus itu melangkah mendekati Jeremy.
”Dasar Ryan
bodoh.Aku pikir kau benar-benar tidak bisa apa-apa, ternyata kau bisa
mendengar. Apa Evelyn juga tahu? Tapi aku yakin istrimu itu sama bodohnya
dengan temanmu itu, Evelyn tidak tahu kau bisa mendengar dan berinteraksi. Benar
kan?”
Selena menghentikan
langkahnya, berdiri tepat dihadapannya Jeremy.
“Ternyata
kita memang memiliki chemistry yang kuat tapi sayang kau sudah merusaknya.” Wanita cantik itu duduk disamping kakinya
Jeremy.
“Bagaimana
kabarmu?” Selena menatap Jeremy.
“Kau senang
dengan keadaanmu sekarang? Kau sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan kau
menjadi pria yang menyusahkan istrimu.” Nada bicara Selena terdengar sinis.
Jeremy tetap
membisu, tapi terlihat kalau pria itu tetap bersikap tenang.
“Aku tidak
menyangka, demi menyelamatkan Evelyn kau mengorbankan nyawamu sendiri. Bahkan
lebih dari itu. Mati lebih baik daripada menjadi pria tidak berguna seperti
ini.”
Tatapan
mereka saling bertemu. Selena kembali tersenyum.
“Kenapa? Kenapa
kau tidak bisa mencintaiku? Padahal aku sudah memberikan segalanya padamu. Hanya
aku satu-satunya wanita yang tahu dan mengerti apa kebutuhanmu. Tapi kenapa kau
mengecewakanku, Jeremy. Kenapa?” Selena malah berkeluh kesah.
Tentu saja
menjenguknya saja.
“Sebenarnya
aku masih marah padamu, aku kecewa, kau mencampakkanku. Aku tidak bisa terima
itu. Tapi ternyata aku merindukanmu Jeremy, aku membencimu tapi aku
merindukanmu. Kau milikku Jeremy, seharusnya kau tetap jadi milikku.”
Tangan
Selena mengulur memegang kakinya Jeremy lalu diusapnya perlahan.
“Sekarang
kau tidak bisa apa-apa. Aku tidak akan merasakan kegagahanmu lagi, aku sangat
prihatin melihatnya. Aku masih berharap kau kembali seperti dulu, gagah dan
mempesona, aku sangat bahagia saat itu, sebelum akhirnya ada wanita lain dalam
hidupmu.”
Tangan
Selena berhenti di ujung pahanya Jeremy, lalu dengan nakalnya melanjutkan ke
bagian yang sudah biasa dia lihat.
“Ngomong-ngomong
apa kau masih normal?” tanyanya, tersenyum menggoda menatap Jeremy, dengan
tangannya yang kembali mengusap semakin naik.
“Atau kau
memang sudah tidak bisa apa-apa sama sekali?” Selena masih tidak mau pergi dari
area itu, dia seakan sengaja mempermainkan Jeremy.
Pria itu
diam, dia merasakan apa yang Selena lakukan, tapi ada yang berbeda yang dia
rasa, semua itu tidak membuatnya ingin melakukan hal lainnya. Dia sama sekali
tidak tergoda seperti dulu, hasratnya tiba-tiba saja hilang.
Apa kelumpuhan
dirinya mengenai area itu? Apa dia sudah benar-benar tidak berguna sebagai laki-laki.
Apa itu artinya dia tidak akan punya anak lagi?
Tiba-tiba ada
rasa panik dihatinya Jeremy, apa dia sekarang mengalami impotensi? Sepertinya ini
adalah hukuman baginya yang sudah menyakiti istrinya.
Jeremy hanya
bisa mengerjapkan matanya, lidahnya kelu tidak bisa membawanya untuk berucap. Menyadari
__ADS_1
kemungkinan dia menderita impotensi.
Selena
cemberut dan menyipitkan matanya. “Apa aku tidak salah tebak? Sepertinya kau
mengalami hal yang lebih buruk, Jeremy.”
Pria itu
hanya menatap Selana, kalau seandainya benar dia mengalami impotensi tapi itu
bukanlah hal penting baginya. Seandainya dia diberi kesempatan berumur panjang
dan sembuh, dia hanya ingin melindungi istri dan anaknya, dia ingin mencintai
mereka, dia ingin menebus kesalahannya karena sudah berbuat buruk pada anak
istrinya.
“Sepertinya
kau akan sangat tidak berguna sebagai laki-laki.” Selena menatap Jeremy dengan
bingung, apakah hal ini menyenangkan baginya?
“Kau sangat membosankan
Jeremy, kau seperti mayat hidup tapi anehnya aku malah datang padamu. Aku sudah
terbiasa kau yang menyentuhku, aku tidak tertarik pria lain. Walaubagaimanapun
kau tetap lebih baik dari pria lain. Kau tetap lebih menarik dan mengasyikkan.
Tapi sekarang sepertinya kau benar-benar tidak bisa apa-apa.”
Selena mengusap
usap bagian kaki sampai perut Jeremy tanpa terlewat. Tentu saja dia sudah
terbiasa dengan tubuh pria itu. Dia mengenal betul setiap inci tubuh pria itu.
Jeremy hanya
memperhatikan apa yang Selena lakukan. Dia dan Selena memang setipe, tapi dia
merasa dunianya selama ini menjadi membosankan. Dulu tidak ada yang dia
pikirkan, tidak ada beban apapun karena dia tidak terikat dengan Selena tapi
sekarang, ada istrinya yang sedang hamil yang harus dijaganya meskipun dia
tunadaksa.
“Aku merasa
bingung dengan semua ini, tapi jujur aku masih merindukanmu. Aku tidak berniat
menghianatimu. Kau tahu temanmu itu? Dia masih mengejarku tapi aku memberikan
persyaratan untuk melenyapkan istri dan anakmu. Rasanya aku tetap tidak rela
melihatmu dengan wanita lain. Aku tidak suka ada wanita lain disisimu.”
Jeremy
terkejut mendengar pengakuannya Selena. Kekhawatirannya terbukti, jiwa anak
istrinya terancam. Bola matanya langsung melebar membuat Selena tertawa.
Apa yang
harus dilakukannya untuk melindungi mereka? Pasti ada jalan, pasti ada jalan,
dia tidak mau kehilangan wanita yang dicintainya.
“Kenapa? Kau
ketakutan? Tapi sayang kau tidak bisa berbuat apa-apa. Bicara saja kau tidak
bisa. Kau juga tidak bisa memerintah pada siapapun, tadi aku melihat mobilnya
Ryan sedang mengikuti mobil Evelyn. Siap-siap saja kau kehilangan mereka.”
Tatapan Jeremy berubah semakin tajam, harusnya
dia mematahkan lehernya Selena saat itu juga.
Melihat raut
wajah Jeremy yang memerah membuat Selena merasa senang, dia senang sudah
membuat Jeremy kesal.
Selena
beringsut mendekati Jeremy, berhadapan dengan pria itu.
“Kau pasti
marah padaku. Maaf, aku tidak ingin kau bahagia dengan wanita lain. Kau hanya
boleh bahagia denganku. Kau harus merasakan sakit hatiku, Jeremy. Kau harus
tahu aku melakukan itu semua karena aku kecewa padamu, sangat kecewa. Tapi
sepertinya hatimu sudah berpaling pada Evelyn, kau menyakitiku..” keluh Selena,
menatap sedih.
Jemari
lentiknya yang bercat kuku merah itu mengusap pipinya Jeremy yang kelimis.
“Kau sangat
terawat. Wanita kampung itu merawatmu dengan baik. Aku tidak suka.”
Apapun yang
dikatakan Selena, mau marah, mau ,mengumpat, yang ada dalam pikirannya Jeremy
adalah Evelyn sekarang. Ryan sedang mengikuti istrinya dan pasti akan
mencelakainya, apa yang bisa dia lakukan?
Jeremy berpikir keras untuk melakukan sesuatu.
“Ayolah
Jeremy, lakukan sesuatu, kau pasti ada ide! Kau pasti bisa melindungi Evelyn.”
Batin Jeremy, dia akan merasa sangat bersalah kalau terjadi hal buruk pada
istrinya.
Sementara
itu Ryan terus mengikuti mobilnya Evelyn, dia berniat membuat mobil itu
__ADS_1
kecelakaan, terperosok ke jurang. Dia akan menyiap mobil itu.
***