Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-51 Gejala Lain Jeremy


__ADS_3

Melihat kepergian istrinya, ruangan itu kembali sepi. Jeremy merasakan hampa yang amat


sangat. Disaat dia tuna daksa, terasa sekali dia membutuhkan istrinya.


Penyesalan semakin bertumpuk, kenapa dia menyadari kesalahannya disaat dia


tidak bisa apa-apa. Keinginan untuk memperbaikipun sudah tidak ada jalan.


Bagaimana


kalau dia selamanya seperti ini? Hanya satu keinginannya, dia ingin ada jalan


untuk menunjukkan permintaan maafnya pada Evelyn. Meskipun entah sampai kapan


Evelyn akan merawatnya, mungkin suatu saat akan bosan dan membuangnya, tapi dia


tahu Evelyn tidak akan melakukan hal itu.


Selena


mungkin mencintainya, tapi mengurusnya seperti apa yang Evelyn lakukan apa dia bisa?


Ternyata


ketajaman insting Jeremy teruji, bukan Ryan saja yang memantau rumahnya Jeremy


tapi juga Selena.


Saat mobil


Evelyn keluar dari rumah megah itu dia memantaunya dilokasi yang lebih jauh dari


Ryan.


Senyum


mengembang di bibirnya Selena melihat mobilnya Ryan itu. Menjadi kebanggaan


tersendiri juga bisa memanfaatkan laki-laki dengan mudah.


Tapi


meskipun Ryan mau melakukan apapun untuknya, Jeremy tidak bisa tersingkir


begitu saja didalam hatinya. Dia sudah terlalu biasa dengan keberadaan pria


itu. Jeremy memang punya keistimewaan sendiri baginya.


Jeremy


memang sudah tidak punya apa-apa, tapi melihat ada wanita lain yang bersama


pria itu tetap saja ada rasa cemburu di hatinya.


Dilihatnya mobil


Ryan mengikuti mobil yang keluar dari rumahnya Jeremy. Senyum sinis tersungging


di bibirnya, dia sudah menduga Ryan, pria bodoh yang dimanfaatkannya itu yang


mengikuti mobil dari rumahnya Jeremy, siapa lagi kalau bukan Evelyn


penumpangnya?


Setelah


mobilnya Ryan yang menguntit mobilnya Evelyn menjauh, barulah Selena


menjalankan mobilnya menuju gerbang rumahnya Jeremy.


“Aku mau


menjenguk Jeremy. Apa Dokter sudah datang?” tanya Selena pada Pak Satpam.


Pria


berseragam itu yang sudah terbiasa dengan kehadirannya Selena tidak berpikir


macam-macam, karena Evelynpun tidak berpesan untuk menolak kedatangannya


Selena.


Tentu saja


Evelyn tidak melakukannya karena berpikir tidak mungkin juga Selena menemui


Jeremy lagi karena tahu kondisinya yang tidak bisa apa-apa.


“Belum datang,


Bu!” jawab Pak Satpam.


Selena tidak


bicara lagi, kembali menjalankan mobilnya memasuki halaman rumahnya Jeremy.


Tidak ada


yang bisa dilakukan Jeremy selain menonton televisi yang dinyalakan perawatnya


atau melirik kearah jendela melihat keluar itupun tidak leluasa karena dia


harus memutar tubuhnya yang tidak bisa dilakukannya sendiri tanpa bantuan orang


lain.


Telinganya


yang terlatih tajam mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya, dia tahu


itu bukan Bibi atau Perawat, tapi langkah seorang wanita yang sudah dia duga,


Selena.


Begitu pintu


dibuka sudah jelas dugaannya terbukti, wanita cantik yang selalu menunjukkan


keseksian tubuhnya muncul dengan senyum sensualnya yang tidak bisa lepas dari


pembawaannya yang menarik dimata lelaki.


“Jeremy,


Sayang,” sapanya. Bibir merahnya semakin menggoda setiap dia bicara.


Jeremy


menatap tajam Selena tanpa bisa berkutik. Tapi raut wajahnya tampak tidak


berubah, karena dia sudah tahu Selena tidak akan mudah menjauh darinya.


Selena


melangkah masuk ke dalam kamar. Saat melewati pas bunga, dengan sengaja dia


menyenggolnya.


“Aduh!”

__ADS_1


jeritnya, membuat mata Jeremy bergerak melihat kearah Pas bunga yang tersenggol


Selana.


Wanita itu


mengusap usap lengannya sambil tersenyum penuh kelicikan lalu menoleh pada


Jeremy.


“Kau, bisa


mendengar!” ucapnya, kembali menatap Jeremy.


Kaki-kaki


mulus itu melangkah mendekati Jeremy.


”Dasar Ryan


bodoh.Aku pikir kau benar-benar tidak bisa apa-apa, ternyata kau bisa


mendengar. Apa Evelyn juga tahu? Tapi aku yakin istrimu itu sama bodohnya


dengan temanmu itu, Evelyn tidak tahu kau bisa mendengar dan berinteraksi. Benar


kan?”


Selena menghentikan


langkahnya, berdiri tepat dihadapannya Jeremy.


“Ternyata


kita memang memiliki chemistry yang kuat tapi sayang kau sudah merusaknya.”  Wanita cantik itu duduk disamping kakinya


Jeremy.


“Bagaimana


kabarmu?” Selena menatap Jeremy.


“Kau senang


dengan keadaanmu sekarang? Kau sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan kau


menjadi pria yang menyusahkan istrimu.” Nada bicara Selena terdengar sinis.


Jeremy tetap


membisu, tapi terlihat kalau pria itu tetap bersikap tenang.


“Aku tidak


menyangka, demi menyelamatkan Evelyn kau mengorbankan nyawamu sendiri. Bahkan


lebih dari itu. Mati lebih baik daripada menjadi pria tidak berguna seperti


ini.”


Tatapan


mereka saling bertemu. Selena kembali tersenyum.


“Kenapa? Kenapa


kau tidak bisa mencintaiku? Padahal aku sudah memberikan segalanya padamu. Hanya


aku satu-satunya wanita yang tahu dan mengerti apa kebutuhanmu. Tapi kenapa kau


mengecewakanku, Jeremy. Kenapa?” Selena malah berkeluh kesah.


Tentu saja


menjenguknya saja.


“Sebenarnya


aku masih marah padamu, aku kecewa, kau mencampakkanku. Aku tidak bisa terima


itu. Tapi ternyata aku merindukanmu Jeremy, aku membencimu tapi aku


merindukanmu. Kau milikku Jeremy, seharusnya kau tetap jadi milikku.”


Tangan


Selena mengulur memegang kakinya Jeremy lalu diusapnya perlahan.


“Sekarang


kau tidak bisa apa-apa. Aku tidak akan merasakan kegagahanmu lagi, aku sangat


prihatin melihatnya. Aku masih berharap kau kembali seperti dulu, gagah dan


mempesona, aku sangat bahagia saat itu, sebelum akhirnya ada wanita lain dalam


hidupmu.”


Tangan


Selena berhenti di ujung pahanya Jeremy, lalu dengan nakalnya melanjutkan ke


bagian yang sudah biasa dia lihat.


“Ngomong-ngomong


apa kau masih normal?” tanyanya, tersenyum menggoda menatap Jeremy, dengan


tangannya yang kembali mengusap semakin naik.


“Atau kau


memang sudah tidak bisa apa-apa sama sekali?” Selena masih tidak mau pergi dari


area itu, dia seakan sengaja mempermainkan Jeremy.


Pria itu


diam, dia merasakan apa yang Selena lakukan, tapi ada yang berbeda yang dia


rasa, semua itu tidak membuatnya ingin melakukan hal lainnya. Dia sama sekali


tidak tergoda seperti dulu, hasratnya tiba-tiba saja hilang.


Apa kelumpuhan


dirinya mengenai area itu? Apa dia sudah benar-benar tidak berguna sebagai laki-laki.


Apa itu artinya dia tidak akan punya anak lagi?


Tiba-tiba ada


rasa panik dihatinya Jeremy, apa dia sekarang mengalami impotensi? Sepertinya ini


adalah hukuman baginya yang sudah menyakiti istrinya.


Jeremy hanya


bisa mengerjapkan matanya, lidahnya kelu tidak bisa membawanya untuk berucap. Menyadari

__ADS_1


kemungkinan dia menderita impotensi.


Selena


cemberut dan menyipitkan matanya. “Apa aku tidak salah tebak? Sepertinya kau


mengalami hal yang lebih buruk, Jeremy.”


Pria itu


hanya menatap Selana, kalau seandainya benar dia mengalami impotensi tapi itu


bukanlah hal penting baginya. Seandainya dia diberi kesempatan berumur panjang


dan sembuh, dia hanya ingin melindungi istri dan anaknya, dia ingin mencintai


mereka, dia ingin menebus kesalahannya karena sudah berbuat buruk pada anak


istrinya.


“Sepertinya


kau akan sangat tidak berguna sebagai laki-laki.” Selena menatap Jeremy dengan


bingung, apakah hal ini menyenangkan baginya?


“Kau sangat membosankan


Jeremy, kau seperti mayat hidup tapi anehnya aku malah datang padamu. Aku sudah


terbiasa kau yang menyentuhku, aku tidak tertarik pria lain. Walaubagaimanapun


kau tetap lebih baik dari pria lain. Kau tetap lebih menarik dan mengasyikkan.


Tapi sekarang sepertinya kau benar-benar tidak bisa apa-apa.”


Selena mengusap


usap bagian kaki sampai perut Jeremy tanpa terlewat. Tentu saja dia sudah


terbiasa dengan tubuh pria itu. Dia mengenal betul setiap inci tubuh pria itu.


Jeremy hanya


memperhatikan apa yang Selena lakukan. Dia dan Selena memang setipe, tapi dia


merasa dunianya selama ini menjadi membosankan. Dulu tidak ada yang dia


pikirkan, tidak ada beban apapun karena dia tidak terikat dengan Selena tapi


sekarang, ada istrinya yang sedang hamil yang harus dijaganya meskipun dia


tunadaksa.


“Aku merasa


bingung dengan semua ini, tapi jujur aku masih merindukanmu. Aku tidak berniat


menghianatimu. Kau tahu temanmu itu? Dia masih mengejarku tapi aku memberikan


persyaratan untuk melenyapkan istri dan anakmu. Rasanya aku tetap tidak rela


melihatmu dengan wanita lain. Aku tidak suka ada wanita lain disisimu.”


Jeremy


terkejut mendengar pengakuannya Selena. Kekhawatirannya terbukti, jiwa anak


istrinya terancam. Bola matanya langsung melebar membuat Selena tertawa.


Apa yang


harus dilakukannya untuk melindungi mereka? Pasti ada jalan, pasti ada jalan,


dia tidak mau kehilangan wanita yang dicintainya.


“Kenapa? Kau


ketakutan? Tapi sayang kau tidak bisa berbuat apa-apa. Bicara saja kau tidak


bisa. Kau juga tidak bisa memerintah pada siapapun, tadi aku melihat mobilnya


Ryan sedang mengikuti mobil Evelyn. Siap-siap saja kau kehilangan mereka.”


 Tatapan Jeremy berubah semakin tajam, harusnya


dia mematahkan lehernya Selena saat itu juga.


Melihat raut


wajah Jeremy yang memerah membuat Selena merasa senang, dia senang sudah


membuat Jeremy kesal.


Selena


beringsut mendekati Jeremy, berhadapan dengan pria itu.


“Kau pasti


marah padaku. Maaf, aku tidak ingin kau bahagia dengan wanita lain. Kau hanya


boleh bahagia denganku. Kau harus merasakan sakit hatiku, Jeremy. Kau harus


tahu aku melakukan itu semua karena aku kecewa padamu, sangat kecewa. Tapi


sepertinya hatimu sudah berpaling pada Evelyn, kau menyakitiku..” keluh Selena,


menatap sedih.


Jemari


lentiknya yang bercat kuku merah itu mengusap pipinya Jeremy yang kelimis.


“Kau sangat


terawat. Wanita kampung itu merawatmu dengan baik. Aku tidak suka.”


Apapun yang


dikatakan Selena, mau marah, mau ,mengumpat, yang ada dalam pikirannya Jeremy


adalah Evelyn sekarang. Ryan sedang mengikuti istrinya dan pasti akan


mencelakainya, apa yang bisa dia lakukan?


Jeremy berpikir keras untuk melakukan sesuatu.


“Ayolah


Jeremy, lakukan sesuatu, kau pasti ada ide! Kau pasti bisa melindungi Evelyn.”


Batin Jeremy, dia akan merasa sangat bersalah kalau terjadi hal buruk pada


istrinya.


Sementara


itu Ryan terus mengikuti mobilnya Evelyn, dia berniat membuat mobil itu

__ADS_1


kecelakaan, terperosok ke jurang. Dia akan menyiap mobil itu.


***


__ADS_2