
Evelyn
berbaring disamping Ayres, mengusap-usap punggungnya. Anak laki-laki itu
menyusup ke tubuh ibunya, masih terisak-isak, terkejut dengan suara senjata
tadi.
Dia masih
merasa kaget dengan kejadian tadi. Dia tidak menyangka Jeremy akan sekasar itu,
apa dia berani membunuh orang di depannya? Ternyata sisi brutal pria itu tidak
bisa hilang meski mengaku tidak kembali ke dunianya juga.
Evelyn mencium
keningnya Ayres, satu tangannya terlentang diatas kepala putranya.
Beberapa detik
kemudian dia terkejut saat merasakan ada yang berbaring dibelakangnya dan
memeluknya, satu tangannya ikut terlentang disamping tangannya dan menggenggem
tangannya dengan erat.
“Jeremy!” Evelyn
merubah posisi tubuhnya akan berbalik tapi malah punggungnya menempel kedadanya
Jeremy.
Satu tangan pria itu memeluk perutnya erat.
Dirasakannya juga hidung mancung pria itu mencium belakang kepalanya.
“Jeremy, apa
yang kau lakukan?” bisik Evelyn, jangan sampai Ayres terbangun lagi baru juga
anak itu kembali tidur.
“Hanya
memelukmu, aku merindukanmu. Sudah bertahun tahun aku tidak memelukmu.”
Evelyn merasakan
bibir pria itu mencium rambutnya dan pelukan diperutnya itu sangat erat, begitu
juga genggaman tangannya.
“Jeremy,
jangan begini.” Tangan Evelyn mencoba melepaskan pelukan tangannya Jeremy.
“Aku tahu kau
juga merindukanku.”
“Tidak, kita
sudah bercerai.”
“Memangnya
kalau sudah bercerai tidak boleh merasa rindu?” bisik pria itu, bibirnya malah
menempel ditelinganya Evelyn.
Wanita itu
mendadak serba salah dengan sikapnya Jeremy. Lama semakin lama pelukan itu
semakin kuat, dan tidak bisa dipungkiri dia juga merasa sangat rindu pelukannya.
Setiap melihat wajah Ayres dia merasa ada Jeremy bersamanya.
“Nanti Ayres
bangun, kasihan dia baru tidur. Menjauh dariku!”
“Kau bicara
terus yang akan membuatnya bangun, bukan pelukan atau ciumanku,”
Evelyn
semakin serba salah kalau begini, sifat pemaksa pria itu tidak pernah hilang.
“Jeremy..”
“Kau tahu,
tidak melihatmu bertahun tahun, kau terlihat semakin cantik. Maaf aku melanggar
janjiku, tapi pesonamu membuatku jatuh cinta lagi.”
“Jangan
bicara yang aneh-aneh, sejak kapan kau jadi perayu begitu.”
“Sejak
bertemu denganmu. Aku tahu kau akan kembali padaku.”
“Tidak, tidak,
aku tidak akan kembali padamu!” Evelyn memaksa memutar tubuhnya menghadap
Jeremy. Membuat pria itu tersenyum, menyukai Evelyn jadi menghadap kearahnya.
“Kau harus
terima kenyataan kita tidak akan mungkin bersama lagi.”
Jeremy tidak
menjawab, hanya menatap wajah cantik di depannya.
“Aku tidak
mau menerima kenyataan seperti itu sekarang. Kenyataannya kau ada di depanku
__ADS_1
sekarang,” ucapnya kemudian.
“Itu karena
kau memaksa tidur disini. Cepatlah pergi! Aku bukan istrimu lagi!” Evelyn
mencoba bangun, mengangkat tubuhnya tapi tangannya tidak dilepaskan Jeremy, pria
itu malah memegangnya erat. Bukan itu saja, tangan satunyapun memeluk
punggungnya Evelyn dengan erat, membuat tubuh itu malah menempel ketubuhnya.
Jeremy merasakan
rambut lembut itu menyapu wajahnya. Wajah istrinya itu terlihat semakin cantik,
pantas saja kalau Ryan penasaran.
“Jeremy,
kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi!”
Evelyn
berusaha bangun lagi tapi tidak berhasil, pelukan dan pegangan Jeremy semakin
kuat, membuatnya putus asa.
“Jeremy,
kau..” Evelyn tidak bisa berkutik, akhirnya menjatuhkan tubuh dan kepalanya ke
tubuh pria itu.
Jeremy malah
tersenyum, dia memang senangnya membuat wanita itu tidak berkutik.
Evelyn sesekali
bergerak ingin lepas, tapi semua itu hanya jadi mimpi yang tidak akan terwujud.
Dirasakannya dadanya menyatu dengan dada Jeremy, terasa sekali debar jantung pria
itu.
“Tidak
bisakah kau nikmati saja pelukanku?” Mata Jeremy melirik ke wajah didekat dagunya
itu. Inginnya dia lebih dari ini, meskipun hasrat itu semakin menggebu-gebu, takutnya
Evelyn malah jadi tidak percaya padanya. Dan berpikir kalau dia hanya ingin
tubuhnya saja.
“Sudah aku
katakan kita sudah bercerai, aku bukan istrimu lagi.”
“Hanya
memeluk kan tidak apa.”
“Hanya
mata lentiknya yang mengerjap saat cemberut.
“Kau ingin
lebih dari itu?”
“Bukan,
bukan itu maksudku!” seru Evelyn mengangkat wajahnya, dan merekapun bertatapan.
“Kau dan aku
tidak boleh bersama.”
“Kata siapa?
Kau? Aku tidak berpikir begitu. Makanya aku menunggumu selama lima tahun ini karena
aku yakin kita akan kembali bersama.” Pria itu begitu pedenya.
Evelyn tidak
menjawab lagi, malah menghela nafas karena tidak tahu harus bicara apa? Debat
dengan Jeremy kalah terus.
Gerakan
helaan nafas itu membuat pergerakan dadanya Evelyn begitu terasa didadanya
Jeremy. Diapun semakin memperkuat benteng pertahanannya untuk tidak lebih dari
memeluknya saja.
Dengan
terpaksa menundukkan kepalanya lagi dibahunya Jeremy. Mau tidak mau dia harus
merasakan hangatnya pelukan itu. Pelukan yang sebenarnya juga sangat dirindukannya
tapi dihindarinya. Dia takut Ayres akan semakin terancam jika bersama dengan
Jeremy. Sekarang saja bertemu dengan Ryan malah membuat Jeremy bertindak menculiknya
dan putranya demi melindungi mereka.
Melihat Evelyn
yang akhirnya mengalah hanya diam saja dipelukannya, membuat Jeremy mengusap
punggungnya perlahan. Dia bukannya tidak mengerti, dia mengerti apa yang ada
dipikirannya Evelyn tapi wanita itu bersikukuh menjauh darinya adalah yang
terbaik.
“Sebenarnya
apa yang ingin kau perlihatkan tadi? Kau mau menunjukkan sok jagomu begitu?”
__ADS_1
“Maksudmu
sok jago apa?”
“Kau tadi hampir
menembak Selena! Kau berjanji tidak akan menjadi mafia lagi!”
“Itu harus
aku lakukan atau dia akan terus menggangguku! Aku sudah katakan kalau kau
ratuku satu-satunya di dunia ini, tapi dia tidak mengerti, terpaksa aku berbuat
kasar padanya biar kapok. Aku yakin setelah ini dia tidak akan menggangguku lagi.”
“Ternyata
itu yang kau lakukan jika bosan pada wanita. Kau akan melakukan itu jika bosan
padaku juga kan?” tebak Evelyn.
“Mana bisa
aku bosan padamu?”
“Pasti bosan
lah, apalagi aku sudah punya Ayres, aku gemuk dan aku..”
Jeremy
langsung memotong. “Kalau aku bosan padamu, maka aku akan ingat-ingat semua
kebaikanmu, pasti bosanku akan hilang. Itu yang aku lakukan saat aku harus hidup
sendiri selama lima tahun ini demi menunggumu pulang.”
Evelyn tidak
bicara lagi, sebenarnya lima tahun inipun dia tersiksa, tapi dia memilih
menyibukkan dirinya, karena sebenarnya setiap melihat Ayres dia sangat
merindukannya ayah kandungnya Ayres.
Terasa
sebuah kecupan dikeningnya, tapi dia hanya diam. Jeremy mengecupnya tadi.
Memang tidak ada yang bisa dia lakukan hanya menerima perlakuannya karena
tangan dan tubuhnya sudah terkunci oleh tangan pria itu.
“Aku tidak
bisa lembek atau kasihan pada Selena, karena itu akan menyakitimu nanti. Selena
bukan wanita biasa yang mudah diusir begitu saja, makanya aku sedikit keras
padanya, untuk menunjukkan kalau aku benar-benar tidak menginginkannya lagi.”
Jeremy kembali menjelaskan.
Tarikan
nafas Evelyn yang semakin tenang membuatnya juga semakin tenang dan menikmati memeluk
wanita yang dicintainya, yang sudah memberinya seorang anak laki-laki yang sangat
tampan.
“Sayang!” panggil
Jeremy, menoleh pada Ayres yang tertidur dengan nyenyak.
“Apa?” tanya
Evelyn, yang juga melihat Ayres yang berbaring disampingnya.
“Kalau anak
laki-laki mirip denganku, berarti nanti anak perempuan, mirip dengamu. Kita
harus punya anak perempuan!”
“Apa?”
Evelyn kembali mengakat tubuhnya dan menatap Jeremy.
“Anak apa? Kita
tidak bisa rujuk!”
“Bisa, asal
kau tinggal mengiyakan.”
Evelyn
kembali menjatuhkan tubuhnya keatas tubuhnya Evelyn. Malas berdebat dengan
Jeremy, belum kedua tangan pria itu sama sekali tidak ingin melepasnya.
“Tiba-tiba
aku juga menghayalkan pernikahan yang indah dengan wanita yang aku cintai. Dulu
aku tidak pernah berpikir seromantis itu, aku hanya berpikir kaya raya dalam
sekejap dan mencari kesenangan sendiri.”
Evelyn tidak
menjawab.
“Kau mau kan
jadi pengantinku? Sebagai bukti kalau kau ratuku satu-satunya, selamanya akan
menjadi ratuku.”
Evelyn masih
tidak menjawab, hanya memejamkan matanya saja, dia bingung harus menajwab apa.
__ADS_1
***