Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-73 Masih Menginginkanmu


__ADS_3

Evelyn


berbaring disamping Ayres, mengusap-usap punggungnya. Anak laki-laki itu


menyusup ke tubuh ibunya, masih terisak-isak, terkejut dengan suara senjata


tadi.


Dia masih


merasa kaget dengan kejadian tadi. Dia tidak menyangka Jeremy akan sekasar itu,


apa dia berani membunuh orang di depannya? Ternyata sisi brutal pria itu tidak


bisa hilang meski mengaku tidak kembali ke dunianya juga.


Evelyn mencium


keningnya Ayres, satu tangannya terlentang diatas kepala putranya.


Beberapa detik


kemudian dia terkejut saat merasakan ada yang berbaring dibelakangnya dan


memeluknya, satu tangannya ikut terlentang disamping tangannya dan menggenggem


tangannya dengan erat.


“Jeremy!” Evelyn


merubah posisi tubuhnya akan berbalik tapi malah punggungnya menempel kedadanya


Jeremy.


 Satu tangan pria itu memeluk perutnya erat.


Dirasakannya juga hidung mancung pria itu mencium belakang kepalanya.


“Jeremy, apa


yang kau lakukan?” bisik Evelyn, jangan sampai Ayres terbangun lagi baru juga


anak itu kembali tidur.


“Hanya


memelukmu, aku merindukanmu. Sudah bertahun tahun aku tidak memelukmu.”


Evelyn merasakan


bibir pria itu mencium rambutnya dan pelukan diperutnya itu sangat erat, begitu


juga genggaman tangannya.


“Jeremy,


jangan begini.” Tangan Evelyn mencoba melepaskan pelukan tangannya Jeremy.


“Aku tahu kau


juga merindukanku.”


“Tidak, kita


sudah bercerai.”


“Memangnya


kalau sudah bercerai tidak boleh merasa rindu?” bisik pria itu, bibirnya malah


menempel ditelinganya Evelyn.


Wanita itu


mendadak serba salah dengan sikapnya Jeremy. Lama semakin lama pelukan itu


semakin kuat, dan tidak bisa dipungkiri dia juga merasa sangat rindu pelukannya.


Setiap melihat wajah Ayres dia merasa ada Jeremy bersamanya.


“Nanti Ayres


bangun, kasihan dia baru tidur. Menjauh dariku!”


“Kau bicara


terus yang akan membuatnya bangun, bukan pelukan atau ciumanku,”


Evelyn


semakin serba salah kalau begini, sifat pemaksa pria itu tidak pernah hilang.


“Jeremy..”


“Kau tahu,


tidak melihatmu bertahun tahun, kau terlihat semakin cantik. Maaf aku melanggar


janjiku, tapi pesonamu membuatku jatuh cinta lagi.”


“Jangan


bicara yang aneh-aneh, sejak kapan kau jadi perayu begitu.”


“Sejak


bertemu denganmu. Aku tahu kau akan kembali padaku.”


“Tidak, tidak,


aku tidak akan kembali padamu!” Evelyn memaksa memutar tubuhnya menghadap


Jeremy. Membuat pria itu tersenyum, menyukai Evelyn jadi menghadap kearahnya.


“Kau harus


terima kenyataan kita tidak akan mungkin bersama lagi.”


Jeremy tidak


menjawab, hanya menatap wajah cantik di depannya.


“Aku tidak


mau menerima kenyataan seperti itu sekarang. Kenyataannya kau ada di depanku

__ADS_1


sekarang,” ucapnya kemudian.


“Itu karena


kau memaksa tidur disini. Cepatlah pergi! Aku bukan istrimu lagi!” Evelyn


mencoba bangun, mengangkat tubuhnya tapi tangannya tidak dilepaskan Jeremy, pria


itu malah memegangnya erat. Bukan itu saja, tangan satunyapun memeluk


punggungnya Evelyn dengan erat, membuat tubuh itu malah menempel ketubuhnya.


Jeremy merasakan


rambut lembut itu menyapu wajahnya. Wajah istrinya itu terlihat semakin cantik,


pantas saja kalau Ryan penasaran.


“Jeremy,


kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi!”


Evelyn


berusaha bangun lagi tapi tidak berhasil, pelukan dan pegangan Jeremy semakin


kuat, membuatnya putus asa.


“Jeremy,


kau..” Evelyn tidak bisa berkutik, akhirnya menjatuhkan tubuh dan kepalanya ke


tubuh pria itu.


Jeremy malah


tersenyum, dia memang senangnya membuat wanita itu tidak berkutik.


Evelyn sesekali


bergerak ingin lepas, tapi semua itu hanya jadi mimpi yang tidak akan terwujud.


Dirasakannya dadanya menyatu dengan dada Jeremy, terasa sekali debar jantung pria


itu.


“Tidak


bisakah kau nikmati saja pelukanku?”  Mata Jeremy melirik ke wajah didekat dagunya


itu. Inginnya dia lebih dari ini, meskipun hasrat itu semakin menggebu-gebu, takutnya


Evelyn malah jadi tidak percaya padanya. Dan berpikir kalau dia hanya ingin


tubuhnya saja.


“Sudah aku


katakan kita sudah bercerai, aku bukan istrimu lagi.”


“Hanya


memeluk kan tidak apa.”


“Hanya


mata lentiknya yang mengerjap saat cemberut.


“Kau ingin


lebih dari itu?”


“Bukan,


bukan itu maksudku!” seru Evelyn mengangkat wajahnya, dan merekapun bertatapan.


“Kau dan aku


tidak boleh bersama.”


“Kata siapa?


Kau? Aku tidak berpikir begitu. Makanya aku menunggumu selama lima tahun ini karena


aku yakin kita akan kembali bersama.” Pria itu begitu pedenya.


Evelyn tidak


menjawab lagi, malah menghela nafas karena tidak tahu harus bicara apa? Debat


dengan Jeremy kalah terus.


Gerakan


helaan nafas itu membuat pergerakan dadanya Evelyn begitu terasa didadanya


Jeremy. Diapun semakin memperkuat benteng pertahanannya untuk tidak lebih dari


memeluknya saja.


Dengan


terpaksa menundukkan kepalanya lagi dibahunya Jeremy. Mau tidak mau dia harus


merasakan hangatnya pelukan itu. Pelukan yang sebenarnya juga sangat dirindukannya


tapi dihindarinya. Dia takut Ayres akan semakin terancam jika bersama dengan


Jeremy. Sekarang saja bertemu dengan Ryan malah membuat Jeremy bertindak menculiknya


dan putranya demi melindungi mereka.


Melihat Evelyn


yang akhirnya mengalah hanya diam saja dipelukannya, membuat Jeremy mengusap


punggungnya perlahan. Dia bukannya tidak mengerti, dia mengerti apa yang ada


dipikirannya Evelyn tapi wanita itu bersikukuh menjauh darinya adalah yang


terbaik.


“Sebenarnya


apa yang ingin kau perlihatkan tadi? Kau mau menunjukkan sok jagomu begitu?”

__ADS_1


“Maksudmu


sok jago apa?”


“Kau tadi hampir


menembak Selena! Kau berjanji tidak akan menjadi mafia lagi!”


“Itu harus


aku lakukan atau dia akan terus menggangguku! Aku sudah katakan kalau kau


ratuku satu-satunya di dunia ini, tapi dia tidak mengerti, terpaksa aku berbuat


kasar padanya biar kapok. Aku yakin setelah ini dia tidak akan menggangguku lagi.”


“Ternyata


itu yang kau lakukan jika bosan pada wanita. Kau akan melakukan itu jika bosan


padaku juga kan?” tebak Evelyn.


“Mana bisa


aku bosan padamu?”


“Pasti bosan


lah, apalagi aku sudah punya Ayres, aku gemuk dan aku..”


Jeremy


langsung memotong. “Kalau aku bosan padamu, maka aku akan ingat-ingat semua


kebaikanmu, pasti bosanku akan hilang. Itu yang aku lakukan saat aku harus hidup


sendiri selama lima tahun ini demi menunggumu pulang.”


Evelyn tidak


bicara lagi, sebenarnya lima tahun inipun dia tersiksa, tapi dia memilih


menyibukkan dirinya, karena sebenarnya setiap melihat Ayres dia sangat


merindukannya ayah kandungnya Ayres.


Terasa


sebuah kecupan dikeningnya, tapi dia hanya diam. Jeremy mengecupnya tadi.


Memang tidak ada yang bisa dia lakukan hanya menerima perlakuannya karena


tangan dan tubuhnya sudah terkunci oleh tangan pria itu.


“Aku tidak


bisa lembek atau kasihan pada Selena, karena itu akan menyakitimu nanti. Selena


bukan wanita biasa yang mudah diusir begitu saja, makanya aku sedikit keras


padanya, untuk menunjukkan kalau aku benar-benar tidak menginginkannya lagi.”


Jeremy kembali menjelaskan.


Tarikan


nafas Evelyn yang semakin tenang membuatnya juga semakin tenang dan menikmati memeluk


wanita yang dicintainya, yang sudah memberinya seorang anak laki-laki yang sangat


tampan.


“Sayang!” panggil


Jeremy, menoleh pada Ayres yang tertidur dengan nyenyak.


“Apa?” tanya


Evelyn, yang juga melihat Ayres yang berbaring disampingnya.


“Kalau anak


laki-laki mirip denganku, berarti nanti anak perempuan, mirip dengamu. Kita


harus punya anak perempuan!”


“Apa?”


Evelyn kembali mengakat tubuhnya dan menatap Jeremy.


“Anak apa? Kita


tidak bisa rujuk!”


“Bisa, asal


kau tinggal mengiyakan.”


Evelyn


kembali menjatuhkan tubuhnya keatas tubuhnya Evelyn. Malas berdebat dengan


Jeremy, belum kedua tangan pria itu sama sekali tidak ingin melepasnya.


“Tiba-tiba


aku juga menghayalkan pernikahan yang indah dengan wanita yang aku cintai. Dulu


aku tidak pernah berpikir seromantis itu, aku hanya berpikir kaya raya dalam


sekejap dan mencari kesenangan sendiri.”


Evelyn tidak


menjawab.


“Kau mau kan


jadi pengantinku? Sebagai bukti kalau kau ratuku satu-satunya, selamanya akan


menjadi ratuku.”


Evelyn masih


tidak menjawab, hanya memejamkan matanya saja, dia bingung harus menajwab apa.

__ADS_1


***


__ADS_2