
Wajah Evelyn
langsung pucat, dia tidak menyangka hari ini begitu sial baginya, bertemu
dengan orang-orang yang pernah ada dalam masa lalunya.
“Kau masih
mengingatku rupanya.” Ryan mendekat dengan raut wajah mesumnya menatap Evelyn tidak
berkedip apalagi mantan istri Jeremy itu terlihat semakin cantik dan tubuhnya
semakin sexy.
“Kau semakin
cantik.”
“Pak, bisa
dipercepat?”
“Masih
mencetak, Bu.”
“Kenapa
buru-buru? Kau tidak ingin berbincang denganku?”
“Aku tidak
ada urusan denganmu, pergilah!” usir Evelyn.
Ryan
langsung tertawa. “Kau masih saja galak, padahal Jeremy sudah tidak punya
apa-apa. Ya..maksudku dia sudah tidak punya kuasa lagi. Kau tahu kan siapa yang
sudah menggulingkannya di dunia hitam?”
“Aku tidak
peduli. Asal kau tahu aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Jeremy. Aku
sudah bercerai, jadi tidak perlu membicarakan masalah Jeremy denganku.”
Ryan
terkejut mendengarnya. “Kau bercerai? Wah sungguh kabar yang diluar dugaan.
Bukannya Jeremy sudah sembuh sekarang? Tapi ya memang sekarang dia sudah jadi pengecut,
tidak bisa melakukan apa-apa bahkan tidak berani merebut posisinya lagi.”
Evelyn
terdiam, jadi memang Jeremy tidak ada bisnis illegal lagi, pria itu benar-benar
hanya mengurus bisnis otomotifnya saja.
“Ngomong-ngomong,
apa kau bekerja? Jeremy tidak memberimu nafkah? Bukannya kau punya anak?”
“Itu bukan
urusanmu.”
“Oke, kalau
begitu bagaimana kalau kita makan siang atau mungkin, kau butuh uang banyak,
aku bisa memberi apa yang kau inginkan, aku sudah kaya raya sekarang, jadi kau
tidak perlu bekerja lagi, bagaimana? Sebentar lagi anak buahku sampai.” Ryan menelan
ludahnya, matanya tidak berkedip menatap dadanya Evelyn.
Salah satu wanita
yang tidak pernah Jeremy berikan padanya adalah istrinya.
Selena, dia
sudah merasakannya, sedangkan Evelyn, sepertinya malah lebih menggairahkan dari
Selena.
“Sudah, Pak?”
Evelyn merasa tidak sabar.
“Sudah, Bu.”
Petugas toko itu mulai menghitung lalu memberikan berkasnya pada Evelyn yang
segera membayarnya.
Tanpa bicara
dengan Ryan, Evelyn langsung pergi menuju mobilnya.
Ryan
tersenyum senang, dia merasa tertantang setiap bertemu dengan wanita-wanita
yang menolaknya, apalagi wanita itu miliknya Jeremy.
Tidak jauh
dari tempat itu Jeremy memperhatikan Ryan yang juga masuk ke mobilnya.
Kepala
Jeremy langsung berpikir keras. Diambilnya ponselnya menelpon seseorang.
“Cheng!”
panggilnya.
“Jeremy?”
tanya suara di sebrang.
“Cheng, aku
butuh bantuanmu.”
“Bantuan
apa?”
“Aku butuh
orang untuk menjaga istriku duapuluh empat jam.”
__ADS_1
“Tumben
sekali kau butuh orang? Kau sendiri yang berjanji tidak akan berhubungan
denganku lagi.”
“Aku terpaksa
melakukannya, aku mengkhawatirkan keselamatan anak istriku.”
“Oke, tidak
masalah.”
“Sekarang istriku
sedang ada meeting di hotel nanti aku berikan alamatnya. Ingat, kawal dua puluh
empat jam, kau mengerti?”
“Beres Bos,
mantan Bos!”
“Berisik!”
“Welcome
Jeremy!” Cheng malah tertawa.
“Berisik!”
Jeremy mematikan ponselnya.
Di sudah
tidak pernah berurusan dengan orang-orang dimasa lalunya, tapi kalau melihat
kejadian seperti ini? Dia tidak bisa tinggal diam. Dia tidak akan memberi ampun
pada orang yang akan menyakiti anak istrinya. Berani menyentuhnya sehelai
rambutpun, nyawanya akan melayang ditangannya.
Setelah memberikan
alamat pada Cheng, Jeremy kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya, dia
tahu Ryan tidak akan berani menganggung Evelyn sekarang, pria itu akan melihat
apa aktivitasnya Evelyn.
Ryan memang
mengikuti Evelyn, melihat dimana Evelyn berada. “Dia sedang ada disini?”
Ryan
mengerutkan dahinya, gara-gara melihat Evelyn, rasa haus kekuasaannya semakin
muncul, rasa ingin memiliki apa yang Jeremy punya semakin besar. Sekarang
hasrat dan ambisinya berpindah pada Evelyn. Dia merasa penasaran kalau belum
memilikinya apalagi istrinya Jeremy itu juga sangat cantik dan pastinya tidak
semurahan Selena, batinnya. Hanya dia tidak menyangka kalau Evelyn dan Jeremy
bercerai. Apakah Selena kembali bersama Jeremy? Rasanya tidak mungkin. Wanita
itu menghilang sejak kejadian itu.
melaju meninggakan Hotel itu. Ryan mengeluarkan ponselnya sambil melihat
kejalanan. “Kau awasi istrinya Jeremy yang sedang ada di Hotel. Aku kirimkan
fotonya. Kau tunggu perintah selanjutnya.”
“Siap, Bos!”
jawab suara disebrang.
***
Selena turun
dari mobilnya, melihat sekeliling yang tampak berbeda. Ada yang sangat berbeda.
Di halaman rumah itu tamannya berubah menjadi sebuah taman bermain dengan rumah
rumahan untuk anak-anak, ayunan, perosotan,rumah balon, bahkan rumah bola.
Dia
mengerutkan dahinya. “Ap aini? Taman anak-anak? Apa Evelyn berhasil melahirkan?
Huh!”
Diapun melihat
lagi sekeliling yang sepi, tidak ada suara anak kecil sedikitpun. Saat meelihat
ada pekerja yang menyapu halaman, diapun memanggilnya sambil melambaikan
tangannya, membuat pria itu menghentikan pekerjaannya.
“Di rumah
ada siapa?” teriak Selena.
“Tidak ada siapa-siapa,
Nyonya!”
Selena
mengerutkan dahinya.
“Ini, taman
buat anak-anak kan?” teriak Selena lagi.
“Iya,
Nyonya!”
“Mana
anaknya?”
“Tidak ada,
Nyonya!”
“Apa? Sini
sini kau!” panggil Selena, membuat pria itu menghampirinya.
__ADS_1
“Aku
bertanya serius, ini taman anak-anak berarti buat anak-anakkan? Mana anaknya?”
Selena merasa kesal.
“Memang
tidak ada anaknya, Nyonya! Bu Evelyn dan anaknya tidak pernah datang kemari!”
“Tidak
pernah?”
“Iya,Nyonya!
Pak Jeremy hanya menyuruh membuat taman anak-anak saja.”
“Jadi di
rumah Jeremy sendiri?”
“Iya,
Nyonya!”
Selena
langsung tersenyum tapi kemudian berubah muram, dia tidak tahu apa pria itu
akan tertarik padanya lagi atau tidak. Tapi hanya sebentar saat mengingat
bagaimana Jeremy tergila-gila padanya dulu. Mungkin Jeremy berpisah dengan
Evelyn karena wanita itu melahirkan dan tidak menggairahkannya lagi, sudah
pasti itu alasannya.
“Jeremy
sayang, kau memang Jeremy yang hot seperti dulu, tidak berubah, kau membuatku
merasa sangat tidak sabar menunggumu pulang.”
Selena
membuka pintu rumah itu yang tidak dikunci. Benar saja begitu hening dan sepi
seperti biasanya. Gara-gara Evelyn saja rumah ini seperti neraka.
Dengan
langkah kakinya yang jenjang, wanita cantik itu terus berjalan masuk menuju
kamarnya Jeremy.
Saat membuka
kamar itu tidak ada yang berubah didalamnya. Diletakkannya tasnya lalu pergi ke
kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jeremy tiba
dengan mobilnya didepan gerbang rumahnya, Pak Satpam membukakan pintu gerbang
itu.
“Kau yakin
Selena yang datang?” tanya Jeremy.
“Iya, Pak
Jeremy.”
“Kenapa kau
biarkan masuk?”
“Pak Jeremy
tidak memerintahkan untuk menolak Bu Selena.”
“Aku lupa.
Aku tidak berpikir dia akan berani datang lagi. Pokoknya mulai sekarang, kau tidak
boleh membukakan gerbang untuk Selena!”
“Baik, Pak!”
jawab Pak Satpam.
Jeremy menjalankan
lagi mobilnya masuk kehalaman rumahnya. Benar saja ada sebuah mobil terparkir
disana, sepertinya itu memang mobilnya Selena.
Diapun terdiam
beberapa saat dibelakang kemudi. Teringat bagaimana Evelyn marah karena dia membicarakan
Selena. Wanita itu datang hanya menambah masalah saja, batinnya.
Jeremy segera
turun lalu masuk kedalam rumah dan dilihatnya diruang tamu sepi, tidak ada Selena
yang menunggunya, diapun pergi ke ruangan tengah juga begitu, akhirnya dia pergi
ke kamarnya.
Saat
pintunya dibuka, dilihatnya seorang wanita yang tidur terlentang ditempat
tidurnya tanpa busana. Wajah Jeremy langsung merah padam. Langkahnya langsung
dipercepat menghampiri tempat tidurnya, ternyata benar, Selena sedang tidur ditempat
tidurnya.
“Sedang apa kau
disini? Keluar! Turun dari tempat tidurku!” usirnya. Dengan tanpa ragu lagi,
menarik kakinya Selena dengan keras sampai tubuh wanita itu jatuh terjerembab
ke lantai.
“Jeremy! Apa
yang kau lakukan? Sakit, tahu!” bentak Selena, langsung terbangun dan terkejut
mendapati tubuhnya yang ada di lantai, dan merasakan sakitnya benturan ke
__ADS_1
lantai tadi.
***