Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-65 Terpaksa Kembali


__ADS_3

Wajah Evelyn


langsung pucat, dia tidak menyangka hari ini begitu sial baginya, bertemu


dengan orang-orang yang pernah ada dalam masa lalunya.


“Kau masih


mengingatku rupanya.” Ryan mendekat dengan raut wajah mesumnya menatap Evelyn tidak


berkedip apalagi mantan istri Jeremy itu terlihat semakin cantik dan tubuhnya


semakin sexy.


“Kau semakin


cantik.”


“Pak, bisa


dipercepat?”


“Masih


mencetak, Bu.”


“Kenapa


buru-buru? Kau tidak ingin berbincang denganku?”


“Aku tidak


ada urusan denganmu, pergilah!” usir Evelyn.


Ryan


langsung tertawa. “Kau masih saja galak, padahal Jeremy sudah tidak punya


apa-apa. Ya..maksudku dia sudah tidak punya kuasa lagi. Kau tahu kan siapa yang


sudah menggulingkannya di dunia hitam?”


“Aku tidak


peduli. Asal kau tahu aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Jeremy. Aku


sudah bercerai, jadi tidak perlu membicarakan masalah Jeremy denganku.”


Ryan


terkejut mendengarnya. “Kau bercerai? Wah sungguh kabar yang diluar dugaan.


Bukannya Jeremy sudah sembuh sekarang? Tapi ya memang sekarang dia sudah jadi pengecut,


tidak bisa melakukan apa-apa bahkan tidak berani merebut posisinya lagi.”


Evelyn


terdiam, jadi memang Jeremy tidak ada bisnis illegal lagi, pria itu benar-benar


hanya mengurus bisnis otomotifnya saja.


“Ngomong-ngomong,


apa kau bekerja? Jeremy tidak memberimu nafkah? Bukannya kau punya anak?”


“Itu bukan


urusanmu.”


“Oke, kalau


begitu bagaimana kalau kita makan siang atau mungkin, kau butuh uang banyak,


aku bisa memberi apa yang kau inginkan, aku sudah kaya raya sekarang, jadi kau


tidak perlu bekerja lagi, bagaimana? Sebentar lagi anak buahku sampai.” Ryan menelan


ludahnya, matanya tidak berkedip menatap dadanya Evelyn.


Salah satu wanita


yang tidak pernah Jeremy berikan padanya adalah istrinya.


Selena, dia


sudah merasakannya, sedangkan Evelyn, sepertinya malah lebih menggairahkan dari


Selena.


“Sudah, Pak?”


Evelyn merasa tidak sabar.


“Sudah, Bu.”


Petugas toko itu mulai menghitung lalu memberikan berkasnya pada Evelyn yang


segera membayarnya.


Tanpa bicara


dengan Ryan, Evelyn langsung pergi menuju mobilnya.


Ryan


tersenyum senang, dia merasa tertantang setiap bertemu dengan wanita-wanita


yang menolaknya, apalagi wanita itu miliknya Jeremy.


Tidak jauh


dari tempat itu Jeremy memperhatikan Ryan yang juga masuk ke mobilnya.


Kepala


Jeremy langsung berpikir keras. Diambilnya ponselnya menelpon seseorang.


“Cheng!”


panggilnya.


“Jeremy?”


tanya suara di sebrang.


“Cheng, aku


butuh bantuanmu.”


“Bantuan


apa?”


“Aku butuh


orang untuk menjaga istriku duapuluh empat jam.”

__ADS_1


“Tumben


sekali kau butuh orang? Kau sendiri yang berjanji tidak akan berhubungan


denganku lagi.”


“Aku terpaksa


melakukannya, aku mengkhawatirkan keselamatan anak istriku.”


“Oke, tidak


masalah.”


“Sekarang istriku


sedang ada meeting di hotel nanti aku berikan alamatnya. Ingat, kawal dua puluh


empat jam, kau mengerti?”


“Beres Bos,


mantan Bos!”


“Berisik!”


“Welcome


Jeremy!” Cheng malah tertawa.


“Berisik!”


Jeremy mematikan ponselnya.


Di sudah


tidak pernah berurusan dengan orang-orang dimasa lalunya, tapi kalau melihat


kejadian seperti ini? Dia tidak bisa tinggal diam. Dia tidak akan memberi ampun


pada orang yang akan menyakiti anak istrinya. Berani menyentuhnya sehelai


rambutpun, nyawanya akan melayang ditangannya.


Setelah memberikan


alamat pada Cheng, Jeremy kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya, dia


tahu Ryan tidak akan berani menganggung Evelyn sekarang, pria itu akan melihat


apa aktivitasnya Evelyn.


Ryan memang


mengikuti Evelyn, melihat dimana Evelyn berada. “Dia sedang ada disini?”


Ryan


mengerutkan dahinya, gara-gara melihat Evelyn, rasa haus kekuasaannya semakin


muncul, rasa ingin memiliki apa yang Jeremy punya semakin besar. Sekarang


hasrat dan ambisinya berpindah pada Evelyn. Dia merasa penasaran kalau belum


memilikinya apalagi istrinya Jeremy itu juga sangat cantik dan pastinya tidak


semurahan Selena, batinnya. Hanya dia tidak menyangka kalau Evelyn dan Jeremy


bercerai. Apakah Selena kembali bersama Jeremy? Rasanya tidak mungkin. Wanita


itu menghilang sejak kejadian itu.


melaju meninggakan Hotel itu. Ryan mengeluarkan ponselnya sambil melihat


kejalanan. “Kau awasi istrinya Jeremy yang sedang ada di Hotel. Aku kirimkan


fotonya. Kau tunggu perintah selanjutnya.”


“Siap, Bos!”


jawab suara disebrang.


***


Selena turun


dari mobilnya, melihat sekeliling yang tampak berbeda. Ada yang sangat berbeda.


Di halaman rumah itu tamannya berubah menjadi sebuah taman bermain dengan rumah


rumahan untuk anak-anak, ayunan, perosotan,rumah balon, bahkan rumah bola.


Dia


mengerutkan dahinya. “Ap aini? Taman anak-anak? Apa Evelyn berhasil melahirkan?


Huh!”


Diapun melihat


lagi sekeliling yang sepi, tidak ada suara anak kecil sedikitpun. Saat meelihat


ada pekerja yang menyapu halaman, diapun memanggilnya sambil melambaikan


tangannya, membuat pria itu menghentikan pekerjaannya.


“Di rumah


ada siapa?” teriak Selena.


“Tidak ada siapa-siapa,


Nyonya!”


Selena


mengerutkan dahinya.


“Ini, taman


buat anak-anak kan?” teriak Selena lagi.


“Iya,


Nyonya!”


“Mana


anaknya?”


“Tidak ada,


Nyonya!”


“Apa? Sini


sini kau!” panggil Selena, membuat pria itu menghampirinya.

__ADS_1


“Aku


bertanya serius, ini taman anak-anak berarti buat anak-anakkan? Mana anaknya?”


Selena merasa kesal.


“Memang


tidak ada anaknya, Nyonya! Bu Evelyn dan anaknya tidak pernah datang kemari!”


“Tidak


pernah?”


“Iya,Nyonya!


Pak Jeremy hanya menyuruh membuat taman anak-anak saja.”


“Jadi di


rumah Jeremy sendiri?”


“Iya,


Nyonya!”


Selena


langsung tersenyum tapi kemudian berubah muram, dia tidak tahu apa pria itu


akan tertarik padanya lagi atau tidak. Tapi hanya sebentar saat mengingat


bagaimana Jeremy tergila-gila padanya dulu. Mungkin Jeremy berpisah dengan


Evelyn karena wanita itu melahirkan dan tidak menggairahkannya lagi, sudah


pasti itu alasannya.


“Jeremy


sayang, kau memang Jeremy yang hot seperti dulu, tidak berubah, kau membuatku


merasa sangat tidak sabar menunggumu pulang.”


Selena


membuka pintu rumah itu yang tidak dikunci. Benar saja begitu hening dan sepi


seperti biasanya. Gara-gara Evelyn saja rumah ini seperti neraka.


Dengan


langkah kakinya yang jenjang, wanita cantik itu terus berjalan masuk menuju


kamarnya Jeremy.


Saat membuka


kamar itu tidak ada yang berubah didalamnya. Diletakkannya tasnya lalu pergi ke


kamar mandi untuk membersihkan diri.


Jeremy tiba


dengan mobilnya didepan gerbang rumahnya, Pak Satpam membukakan pintu gerbang


itu.


“Kau yakin


Selena yang datang?” tanya Jeremy.


“Iya, Pak


Jeremy.”


“Kenapa kau


biarkan masuk?”


“Pak Jeremy


tidak memerintahkan untuk menolak Bu Selena.”


“Aku lupa.


Aku tidak berpikir dia akan berani datang lagi. Pokoknya mulai sekarang, kau tidak


boleh membukakan gerbang untuk Selena!”


“Baik, Pak!”


jawab Pak Satpam.


Jeremy menjalankan


lagi mobilnya masuk kehalaman rumahnya. Benar saja ada sebuah mobil terparkir


disana, sepertinya itu memang mobilnya Selena.


Diapun terdiam


beberapa saat dibelakang kemudi. Teringat bagaimana Evelyn marah karena dia membicarakan


Selena. Wanita itu datang hanya menambah masalah saja, batinnya.


Jeremy segera


turun lalu masuk kedalam rumah dan dilihatnya diruang tamu sepi, tidak ada Selena


yang menunggunya, diapun pergi ke ruangan tengah juga begitu, akhirnya dia pergi


ke kamarnya.


Saat


pintunya dibuka, dilihatnya seorang wanita yang tidur terlentang ditempat


tidurnya tanpa busana. Wajah Jeremy langsung merah padam. Langkahnya langsung


dipercepat menghampiri tempat tidurnya, ternyata benar, Selena sedang tidur ditempat


tidurnya.


“Sedang apa kau


disini? Keluar! Turun dari tempat tidurku!” usirnya. Dengan tanpa ragu lagi,


menarik kakinya Selena dengan keras sampai tubuh wanita itu jatuh terjerembab


ke lantai.


“Jeremy! Apa


yang kau lakukan? Sakit, tahu!” bentak Selena, langsung terbangun dan terkejut


mendapati tubuhnya yang ada di lantai, dan merasakan sakitnya benturan ke

__ADS_1


lantai tadi.


***


__ADS_2