
Ryan kembali
mendekati Ayres. “Apa kau tahu anak kecil kenapa pria itu dikatakan meninggal?
Karena dia sangat buruk perilakunya. Dia pria brengsek! Sangat brengsek!”
“Ryan! Stop!
Jangan mengotori pikiran Ayres!” teriak Evelyn.
Ryan malah
tertawa, dan menatap Ayres yang menatapnya tidak mengerti.
“Pria itu Ayahmu,
Ayah brengsekmu!”
“Ryan!”
Evelyn kesal sekali pada Ryan yang membuat Ayres terkejum.
“Kau..Ayah?”
tanya Ayres menoleh pada Jeremy.
“Ayah tidak
meninggal?” tanya anak kecil itu lagi.
“Sayang,
nanti di rumah Ibu jelaskan!” Evelyn jadi bingung menjelaskannya.
“Ryan, stop
bermain-main!”
“Aku memang
suka permainan keluarga kecil ini.
“Ryan!
Bebaskan anak istriku! Kau hanya berurusan denganku!” teriak Jeremy.
Ayres
menatapnya dengan bingung. “Kenapa Ayah tidak ada bersamaku? Temanku Ayahnya
ada di rumah.”
Jeremy
menoleh pada putranya. “Sayang, Ayah sibuk bekerja. Sekarang kan kita sudah
bertemu jadi kita akan tinggal bersama, kau senang?”
Jeremy mencoba
menjelaskan sambil tersenyum, hatinya sebenarnya sangat hancur, harus bertemu
dengan putranya setelah bertahun tahun lamanya tidak bertemu.
“Sayang,
maafkan Ayah karena baru sekarang kita bertemu. Ayah janji mulai sekarang tidak
akan pernah jauh lagi darimu, juga ibumu.”
Ayres menatap
Jeremy dengan bingung, dia tidak mengerti kenapa dia harus jauh dengan ayahnya
sedangkan teman-temannya ayahnya ada semua, setiap hari mereka bertemu dengan
ayahnya. Tidak sepertinya yang wajah ayahnya saja tidak tahu.
“Pertemuan
yang sangat mengharukan!”
“Ryan!
Keluarkan Ayres, biar dia bersamaku. Kasihan dia lelah!” pinta Evelyn.
Ryan menoleh
pada Evelyn. “Kau sudah tidak sabar ingin bersama Ayres? Tapi sayangnya aku
tidak bisa mengabulkan itu!”
“Maksumu
apa?” Evelyn terkejut.
“Karena aku
akan memberikan pilihan pada Jeremy, siapa yang akan dia pilih untuk dibawa
pulang!”
“Apa?”
Evelyn dan Jeremy terkejut.
“Ryan! Aku
tidak peduli kau ada urusan apa dengan Jeremy, tapi jangan melibatkanku dengan
Ayres! Aku tidak peduli apapun urusan kalian!” teriak Evelyn dengan marah, tapi
matanya tergenang airmata,dia tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti
ini.
“Tidak, tidak,
itu terlalu mudah buat Jeremy. Aku tidak suka, kurang dramatis.”
“Brengsek
kau Ryan! Lepaskan anak istriku!” Jeremy berontak dan senjata langsung menempel
ke kepalanya.
Evelyn sudah
menangis saja sesenggukan, dia mengkhawatirkan keadaannya Ayres.
“Ibuu…Ibu…”
__ADS_1
teriak Ayres.
“Ayres
sayang, maafkan Ibu, Nak! Ibu sudah membuatmu menderita!” Evelyn terus terisak
sambil menatap putranya, dia begitu ingin memeluk putranya itu.
Jeremy
benar-benar sudah kehilangan kesabaran. “Cepat katakan apa maumu?”
“Aku hanya
minta salah satu orang yang kau sayangi itu kau pilih. Kau ingin membebaskan
Ayres atau Evelyn. Sudah cukup, itu saja.”
“Kau
brengsek!”
“Sudahlah
kau tinggal memeilih saja.”
“Aku tidak memilih
keduanya.”
“Apa setelah
ini kau tidak akan mengganggu lagi putraku?” tanya Evelyn tiba-tiba, membuat Ryan
dan Jeremy menoleh.
“Kau boleh
menahanku, tapi bebaskan Ayres. Dan berjanjilah kau tidak akan pernah
mengganggu putraku lagi!”
“Tidak,
Sayang! Tidak begitu! Aku tidak mengijinkan kau melakukannya! Aku akan cari
cara untuk melepaskan kalian berdua!”
Evelyn
menoleh pada Jeremy. “Bawa Ayres pulang!”
Jeremy
menggelengkan kepalanya berulang. “Jangan, tidak, tidak boleh begitu! Ini keputusana
yang salah! Kau tidak boleh ikut dengan laki-laki biadab ini!”
Ryan
langsung saja tertawa, lalu mendekati Evelyn menatapnya dari atas sampai bawah.
“Kau tahu,
ternyata kau lebih menggairahkan daripada Selena.”
“Tidak Ryan!
Aku menolak permintaanmu! Sayang, Evelyn, kau tidak boleh bersamanya.”
solusi yang lain?” Evelyn menatapnya dengan mata yang nanar.
“Aku belum
ada, tapi semua ini tidak ada kaitannya denganmu!”
“Cck ck ck!
Tidak , tidak Jeremy. Aku menyuruhu memilih! Siapa yang ingin kau bebaskan?
Ayres atau Evelyn, aku ingin tahu mana yang paling kau sayangi. Tapi aku bisa
menebak, Ayres yang ingin kau bebaskan. Benarkan?”
“Tidak, aku
ingin mereka berdua bebas!”
“Ibu..uuhuk,
Ibu…” Ayres kembali memanggil manggil Evelyn yang hanya bisa menatapnya.
“Ayres, Sayang.
Jangan menangis sayang. Jangan!”
“Ibu..”
“Jadi
bagaimana keputusannya?” tanya Ryan pada Jeremy.
Pria itu
masih diam, Evelyn yang kembali menoleh pada Jeremy.
“Tidak apa, biar
Ayres bebas, bawalah Ayres pulang!”
Ryan
langsung terbahak-bahak senang. “Aku sangat senang melihat drama ini. Ternyata
kau tahu apa yang aku inginkan! Aku akan membebaskan Ayres pulang bersama suamimu
eh mantan suamimu sebelum kita sedikit berpesta.”
“Berpesta?”
Evelyn terkejut bukan main.
Ryan
mendekati Evelyn. “Aku ingin kau tahu bagaimana rasanya berhubungan di tonton
banyak orang!”
“Apa? Kau gila!”
Wajah Evelyn langsung saja memucat.
__ADS_1
“Ryan,
jangan macam-macam!” bentak Jeremy.
“Cuma itu
caranya, kau bisa membawa pulang Ayres. Melihatku bersenang-senang dengan wanita
yang kau cintai. Aku tahu kalau kau melihatku dengan Selena tidak akan membuat
hatimu terluka, tapi kalau melihatku bersama wanita yang kau cintai, aku yakin
hatimu akan teriris-iris, aku sangat suka detik-detik itu.”
“Kau,
keterlaluan! Kau pikir aku tidak membunuhmu? Menghancurkanmu? Aku mengalah
karena permintaan istriku! Aku ingin
istriku bahagia bersamaku! Ternyata aku salah, aku sudah membiarkan anjing
piaraanku menggigitku!”
Ryan tertawa
sangat senang.
“Apa setelah
itu kau akan melepaskan Ayres, membiarkannya pergi dengan Jeremy?” tanya
Evelyn, menahan tangis yang sebenarnya ingin meledak begitu saja.
Ryan
langsung tertawa terbahak-bahak, hatinya sangat senang. Terutama melihat Jeremy
yang tidak bisa berkutik. Kalau soal fisik, dia tidak akan peduli tapi soal
hati, dia tahu hatinya Jeremy akan sakit sesakit-sakitnya dan itu yang dia mau,
menyakiti lewat orang-orang yang dicintainya.
“Sayang,
jangan melakukan itu! Bertahanlah, ada solusi yang lain!” Jeremy mencoba
mencegah, membuat Ryan tertawa.
“Solusi apa?
Bergerak sedikit saja kepalamu hancur dan tidak ada yang akan bisa menyelamatkan
anak istrimu.”
“Kau keparat
Ryan! Aku berjanji setelah ini kau akan aku kuliti!” teriak Jeremy, saking
marahnya.
Ryan tertawa
senang.
Evelyn
menoleh pada putranya yang semakin terlihat lelah.
“Ryan,
terserah kau mau melakukan apapun padaku, asalkan Ayres kau bebaskan, keluarkan
dia!”
“Tidak,
Sayang! Tidak begitu!” Jeremy sebenarnya tidak peduli dengan nyawanya, Cuma kalau
dia mati, siapa yang akan menyelamatkan anak istrinya?
“Oke, oke,
aku tidak akan ingkar janji, Ayres aku lepaskan!” Ryan menoleh pada
orang-orangnya yang langsung mengerti dan mengeluarkan Ayres dari kerangkeng
itu.
Ayres akan
berlari menghampiri Evelyn tapi orang-orangnya Ryan malah memegangnya saja,
lalu mundur menjauh.
“Ibuu..”
“Ibuu..”
Ayres terus menangis, membuat hati Evelyn hancur melihatnya.
“Bawa dia
keluar, biarkan pergi dengan Jeremy!”
“Tidak, Sayang.
Jeremy boleh membawa Ayres keluar setelah kau memuaskanku diatas meja ini,
seperti apa yang suamimu lakukan dulu bersama Selena. Apa kau tahu itu? Sungguh
pesta yang sangat hot!”
Evelyn terdiam,
dia tahu soal itu dan itu sangat menyakitkan. Mempunyai suami yang perilakunya
sangat buruk membuatnya terus disakiti.
“Ryan!”
Jeremy marah bukan main, hatinya semakin gelisah, membayangkan Ryan menyentuh
istrinya didepannya. Sungguh dia tidak terima semua itu.
Evelyn
menahan isak tangis yang ada didadanya.
“Tutup mata
__ADS_1
Ayres, jangan biarkan dia melihat ini!” Airmata langsung tumpah ke pipinya.
***