Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-83 Tidak Pernah Bercerai


__ADS_3

Di sepanjang


jalan Ayres yang duduk bersama Evelyn, tidak bisa diam, tangannya menyentuh-nyentuh


gambar di tubuh ayahnya. Dia masih bingung dengan gambar yang menurutnya


seperti ular tapi bukan, seperti buaya juga bukan.


Sesekali Jeremy


mengusap rambut Ayres yang berdiri terus mengganggu dirinya.


“Sayang,


duduklah, jangan mengganggu Ayahmu!” Evelyn mendudukkan Ayres kepangkuannya.


Anak itu


mulai menguap. Diusap-usapnya punggungnya, sambil dipeluk menghadap perutnya,


hingga anak itu terlelap.


Tangan


Jeremy memegang kakinya Ayres yang hanya pakai kaos kaki, karena Evelyn membuka


sepatunya.


Tapi dari


kaki Ayres, tangan pria itu berpindah ke pahanya Evelyn, yang hanya menggunakan


kemeja yang dipakainya.


Kaki itu


langsung menjauh, tidak mau dipegang Jeremy. Tangan pria itu jadi berpindah menggaruk


rambutnya.


Tidak ada yang


mereka bicarakan hingga tiba ke rumah hari sudah sangat larut dan lelah.


Evelyn pergi


ke kamarnya Ayres. Menidurkannya, kemudian Evelyn pergi ke kamar mandi dan kembali


dengan seember air hangat dan handuk.


“Buat apa itu?”


tanya Jeremy, menatap wanita itu yang hanya menggunakan kemejanya membuat


tubuhnya berbayang, untung saja menggunakan pakaian dalam, coba kalau tidak,


seperti itu saja membuat wanita itu terlihat cantik dan ****.


Evelyn duduk


dipinggir tempat tidur.


“Apa ada


yang bisa aku lakukan?” tanya Jeremy.


“Tidak ada,


aku hanya ingin mengganti pakaiannya saja, kasihan pasti gatal-gatal.”


“Pakaian seperti


apa yang harus dipakainya?”


“Baju tidur.”


“Sebentar


aku ambilkan!”


Tanpa


disuruh lagi Jeremy pergi keruang penyimpanan pakaian, mengambil satu stel baju


tidur.


“Apa ini?”


tanyanya sambil mengacungkan satu stel baju tidur Ayres, lalu menghampiri


Evelyn saat wanita itu mengangguk.


Dilihatnya


Ayres sudah tidak berpakaian dan sedang dilap tubuhnya perlahan oleh mantan


istrinya eh istrinya.


“Kaos dalamnya


belum dan ****** *****.”


“Ya!” Jeremy


pergi lagi mengambilkan pakaian dalam untuk Ayres.


“Ini?” Pria


itu kembali lagi.


“Simpan saja!”


Jeremy


menyimpan pakaian dalam Ayres di atas baju tidurnya.


“Apa lagi?”


“Minyak penghangat


badan dan bedak.”


Jeremy mencari


apa yang disebutkan Evelyn, dibawakan padanya minyak penghangat badan dan


bedak. Lalu dilihatnya wanita itu memakaikan apa yang dibawanya tadi.


Putranya


sekarang sudah terlihat sangat tampan, tidur dengan pulasnya. Evelyn langsung


menyelimutinya.


“Sayang, aku


mandi dulu,” ucap Jeremy sambil keluar dari kamar itu.


Evelyn tidak


menjawab hanya menyelimuti Ayres saja. Setelah merasa putranya tidur nyenyak,


Evelyn menyimpan bantal-bantal dipinggir Kasur itu biar Ayres tidak jatuh,


meskipun kalau jatuh dilantainya sudah diberi karpet tebal jadi tidak akan


sakit.


Evelyn


membuka pintu kamarnya Jeremy, akan mengambil pakaiannya. Dilihatnya pria itu sudah


mandi dan menggunakan kimono, sedang duduk bersandar di  tempat tidur sambil mengetikkan sesuatu di


ponselnya.


“Kau akan


mandi?” Jeremy menatapnya.


“Aku akan mengambil


pakaian saja, aku mandi di kamarnya Ayres.”


Jeremy


terkejut mendengarnya.”Kenapa tidak disini saja? Peralatan mandi ada disini. Kau


mau pakai sabun bayi?”


Evelyn terdiam,


baru ingat dia harus membawa peralatan mandi, terasa ribet.


Akhirnya


Evelyn mandi di kamar mandi itu dan keluar sudah menggunakan handuk kimono selutut


, sambil menggosok rambutnya dengan handuk persegi.


“Kemari sebentar!”


panggil Jeremy.


“Ada apa?”


“Kesini


saja.”


Evelyn


mendekati Jeremy, tapi  dia terkejut saat


tangannya ditarik pria itu membuatnya jatuh ke atas tubuhnya Jeremy dan handuk


dikepalanya terlepas.


“Jeremy! Kau


ini apa-apaan? Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!” teriak Evelyn,rambutnya


yang belum kering dan acak-acakan, tergerai menutupi wajahnya.


Kedua tangan


Jeremy merapihkan rambut basah itu, diapun tersenyum melihat wajah cemberut itu


yang rambutnya acak-acakan habis keramas. Diambilnya handuk yang jatuh ke tempat

__ADS_1


tidur itu lalu mengeringkan rambutnya Evelyn dengan handuk itu.


Sikap Jeremy


membuat Evelyn diam. Kedua tangannya menahan ke bantal yang dipakai sandaran


Jeremy.


“Bia raku saja!”


Evelyn akan bangun tapi Jeremy malah memeluknya punggungnya.


Yang membuat


Evelyn gugup, dia merasakan sesuatu yang mengeras karena berada diatas tubuhnya


Jeremy. Wajahnya memerah dan panik menyadari pria itu sedang meninggi


hasratnya.


Evelyn akan


bangun ditahan lagi oleh pelukannya Jeremy.


“Kau ini mau


apa?” Debar jantung Evelyn semakin kencang. Kerasnya tubuh pria itu yang sedari


tadi jadi bahan mainan putranya karena memiliki gambar yang aneh, semakin


membuat Evelyn gugup.


Bertahun-tahun


dia membatasi dirinya untuk tidak tergoda oleh pria manapun demi membesarkan


Ayres.


“Memangnya


kau mau kemana?” Jeremy masih memeluknya dan menatap wajah cantik tanpa make up


itu.


Evelyn


semakin gugup saat menyadari bagian bawa kimononya tersingkap, membuat kulit pahanya


bersentuhan dengan kaki kokoh Jeremy.


“Aku mau


tidur dengan Ayres.” Evelyn mencoba bangun sebelum pria itu melakukan sesuatu


padanya. Tapi Jeremy mana mau mengalah kalau menginginkan sesuatu.


“Jangan


mengganggu dia. Kau tidur disini saja. Nanti kalau kau sudah terlelap, aku akan


melihat Ayres.”


“Maksudmu


apa? Kita bukan suami istri lagi. Aku akan ke kamarnya Ayres. Aku akan tidur


disana.”


Evelyn akan


bangun tapi lagi-lagi Jeremy menahannya.


“Kau ini


kenapa? Sadar tidak apa yang aku katakan tadi?”


“Ya, aku


tahu.”


“Jadi, lepaskan


aku.” Satu tangan Evelyn menari tangannya Jeremy dari punggungnya, tapi pria


itu tidak bergeming malah tersenyum. Sungguh dia begitu merindukan saat-saat


seperti ini dengan istrinya.


“Kenapa?”


“Karena aku


bukan istrimu lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kita.”


Jeremy menatap


wajah cantik itu yang terlihat segar sekarang, dia merasa bagian tubuhnya sudah


tidak bisa dikendalikan.


“Apa kalau


kau masih istriku, kau akan tidur bersamaku?” tanya Jeremy tanpa ragu, tanpa


malu, tanpa di tutup-tutupi, blak-blakan dengan keinginannya.


“Apa


“Aku ingin


bercinta denganmu.”


Evelyn tersenyum


jengah dan memalingkan mukanya lalu menatap lagi Jeremy.


“Kenapa?”


tanya Jeremy.


Bibir Evelyn


langsung saja cemberut. “Tentu saja aku tidak akan membiarkan kau menyentuhku


seperti dulu.”


“Tidak akan


seperti dulu, karena aku mencintaimu sekarang.”


Evelyn


tersenyum jengah lagi sambil menggelengkan kepalanya.


“Tentu saja,


tapi sayang aku bukan istrimu lagi.”


Tangan Heremy,


membuka laci sandaran tempat tidur itu, mengambil sebuah amplop coklat.


“Apa itu?”


Evelyn keheranan.


“Menurutmu


apa?”


Jeremy


memberikan amplop itu pada Evelyn yang langsung menjauh dari tubuhnya Jeremy,


lalu duduk dan membuka isi amplop itu dengan penasaran. Jeremy hanya memperhatikan


saja.


Wajah Evelyn


seketika berubah memucat saat melihat isi amplop itu.


“Apa ini?”


selembar kerta ada di tangannya.


“Baca saja.”


Evelyn mulai


membaca tulisan di kertas itu dan matanya terbelalak kaget saat melihat


ternyata isinya surat gugatan cerainya dan ternyata Jeremy tidak


menandatanganinya.


“Ini.. apa


maksudnya ini? Kau tidak menandatangi surat cerai kita? Tapi kata Ayah, kau


sudah menandanganinya dan suratnya ada di Ayah.”


Evelyn tampak


bingung, menatap Jeremy sambil memperlihatkan surat itu.


“Aku tidak


pernah menandatanganinya, aku tidak bisa menceraikanmu.”


Evelyn


terbengong saja mendengarnya.


“Kita berpisah


5 tahun, dan kau sebenarnya tidak menceraikanku?”


“Tidak, kau


masih istriku, aku tidak pernah menceraikanmu. Aku minta Ayah berbohong, karena


aku masih berharap kau mau tinggal bersamaku lagi.”


Evelyn masih


tidak percaya dengan kenyataan didepannya itu, surat cerai yang tidak


ditandatangani Jeremy.

__ADS_1


“Pantas Ayah


selalu mengelak kalau aku meminta surat ini. Ayah hanya bilang sudah ada di


Ayah. Akan memberikannya kalau aku akan menikah dengan pria lain.” Evelyn menunduk


melihat surat cerainya itu.


Jeremy merubah


posisi duduknya menjadi tegak dan berhadapan dengan Evelyn.


Tangannya


mengulur mengangkat wajahnya Evelyn supaya mau menatapnya.


“Kau masih istriku,


dulu juga sekarang.”


Raut wajah


Evelyn memerah. Matanya tergenang airmata, diapun kembali menunduk dan menangis.


Dia tidak tahu apakah harus senang atau sedih ternyata dia masih istrinya


Jeremy. Berat sekali menjalani pernikahan dengan pria itu.


Tapi hati


kecilnya tidak memungkiri kalau dia mencintainya. Mencintai ayahnya Ayres.


Melihat


istrinya menangis, membuat perasaan Jeremy campur aduk, ditariknya tubuh Evelyn


kepelukannya, memeluknya dengan erat.


“Aku minta


maaf selalu membuatmu menangis, aku minta maaf.” Diusapnya rambut itu lalu di


ciumnya.


“Berjanjilah


jangan pergi lagi dariku. Kita berkumpul lagi bersama Ayres. Mau, ya, Sayang?”


pinta Jeremy.


Evelyn tidak


menjawab, hanya menempelkan dagunya di bahu Jeremy. Kedua tangan Jeremy mengusap


kepalanya, turun ke punggungnya, kemudian ke bahunya, perlahan menurunkan lengan


kimononya.


“Aku tidak


rela Ryan menyentuhmu. Aku tidak rela,” ucapnya, sambil mengusap kulit bahunya


Evelyn.


“Kau sangat


berani, Sayang. Sangat berani.”


Evelyn tidak


menjawab, hanya merasakan sentuhan tangannya Jeremy berpindah ke kedua


lengannya.


“Aku sudah


membunuh orang.”


“Tidak, kau


tidak membunuh orang.”


Evelyn


langsung bergerak mundur, menatap Jeremy.


“Tidak


membunuh bagaimana? Aku sudah menembak Ryan. Aku sudah menembaknya.”


“Senjatamu


tidak ada pelurunya, Sayang. Peluruku yang menghancurkan kepalanya Ryan.”


Evelyn


terbengong saja.  “Apa benar begitu? Tapi


sepertinya aku menembaknya.”


“Memang


menembaknya tapi tidak ada pelurunya. Pelurunya ada di meja, aku sampai cemas.


Makanya Ryan nekat mendekatimu karena tahu senjata itu tidak ada pelurunya.”


Evelyn


terkejut bukan main, lalu dia tersenyum. “Apa itu artinya aku tidak mengotori


tanganku?” Evelyn melihat telapak tangannya.


“Tidak, Sayang.”


“Aku senang


Ayres tidak punya ibu pembunuh.” Senyum mengembang di bibirnya Evelyn.


Kedua tangan


Jeremy mengusap rambutnya Evelyn, dia merasa senang istrinya kembali tersenyum.


“Ayres tidak


punya ibu pembunuh, tapi Ayres punya ayah mantan mafia.”


Evelyn


kembali menatap Jeremy. Dengan ragu tangannya terulur membuat Jeremy melihat


pergerakan tangan itu yang berhenti di pipinya. Menyentuh wajah itu perlahan.


“Tapi Ayres


mempunyai Ayah yang hebat.”


Jeremy


tersenyum mendengar pujian dari Evelyn. Dan dia tertegun saat istrinya mendekat


lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Mendapat


ciuman seperti itu membuat Jeremy memejamkan matanya, ciuman yang terasa begitu


indah baginya, ciuman yang rasa sayangnya begitu sampai kehatinya, dia merasa


sangat bahagia.


Tapi sepertinya


Evelyn melakukan kesalahan yang fatal. Tanpa dia menciumnyapun hasrat Jeremy


sudah meninggi ditambah dia menciumnya, tentu saja dia tidak mau melepaskan


kesempatan itu.


Setelah mencium


bibirnya Jeremy, Evelyn merasakan bibirnya sudah tidak bisa ditarik lagi, karena


sudah terpenjara bibirnya Jeremy.


Dan hampir


saja dia jantungan saat tiba-tiba Jeremy membanting tubuhnya terlentang ke


tempat tidur.


“Je..”


Pria itu sama


sekali tidak memberi kesempatan Evelyn untuk protes apalagi melarikan diri. Tubuh


kekarnya mengunci tubuhnya dan memberinya ciuman bertubi-tubi.


Evelyn


membalas ciuman itu dengan lembut, membuat Jeremy merasa bahagia. Baru sekarang


dia merasa istrinya begitu tulus meresponnya. Diusapnya wajah cantik itu.


“Aku mencintaimu.”


Evelyn


menghela nafas pendek balas menatap pria itu dengan haru. “Aku juga


mencintaimu.”


Jeremy


kembali menunduk menciumnya lagi, dengan tangan yang cekatan menarik tali


kimono istrinya sampai terlepas, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Kedua


tangan Evelyn menyusup ke sela kimononya Jeremy, mengusap punggungnya pria itu,


merasakan tubuh kekarnya sexy.


Dalam


sekejap Jeremy melepaskan kimononya membiarkan istrinya memiliki dirinya seutuhnya.


Evelyn semakin merapatkan tubuhnya, ingin berlindung dibalik tubuh kokoh itu yang


sudah pasti akan membuatnya kelelahan harus melayani pria yang sudah lima tahun

__ADS_1


tidak menyentuhnya.


***


__ADS_2