
Di sepanjang
jalan Ayres yang duduk bersama Evelyn, tidak bisa diam, tangannya menyentuh-nyentuh
gambar di tubuh ayahnya. Dia masih bingung dengan gambar yang menurutnya
seperti ular tapi bukan, seperti buaya juga bukan.
Sesekali Jeremy
mengusap rambut Ayres yang berdiri terus mengganggu dirinya.
“Sayang,
duduklah, jangan mengganggu Ayahmu!” Evelyn mendudukkan Ayres kepangkuannya.
Anak itu
mulai menguap. Diusap-usapnya punggungnya, sambil dipeluk menghadap perutnya,
hingga anak itu terlelap.
Tangan
Jeremy memegang kakinya Ayres yang hanya pakai kaos kaki, karena Evelyn membuka
sepatunya.
Tapi dari
kaki Ayres, tangan pria itu berpindah ke pahanya Evelyn, yang hanya menggunakan
kemeja yang dipakainya.
Kaki itu
langsung menjauh, tidak mau dipegang Jeremy. Tangan pria itu jadi berpindah menggaruk
rambutnya.
Tidak ada yang
mereka bicarakan hingga tiba ke rumah hari sudah sangat larut dan lelah.
Evelyn pergi
ke kamarnya Ayres. Menidurkannya, kemudian Evelyn pergi ke kamar mandi dan kembali
dengan seember air hangat dan handuk.
“Buat apa itu?”
tanya Jeremy, menatap wanita itu yang hanya menggunakan kemejanya membuat
tubuhnya berbayang, untung saja menggunakan pakaian dalam, coba kalau tidak,
seperti itu saja membuat wanita itu terlihat cantik dan ****.
Evelyn duduk
dipinggir tempat tidur.
“Apa ada
yang bisa aku lakukan?” tanya Jeremy.
“Tidak ada,
aku hanya ingin mengganti pakaiannya saja, kasihan pasti gatal-gatal.”
“Pakaian seperti
apa yang harus dipakainya?”
“Baju tidur.”
“Sebentar
aku ambilkan!”
Tanpa
disuruh lagi Jeremy pergi keruang penyimpanan pakaian, mengambil satu stel baju
tidur.
“Apa ini?”
tanyanya sambil mengacungkan satu stel baju tidur Ayres, lalu menghampiri
Evelyn saat wanita itu mengangguk.
Dilihatnya
Ayres sudah tidak berpakaian dan sedang dilap tubuhnya perlahan oleh mantan
istrinya eh istrinya.
“Kaos dalamnya
belum dan ****** *****.”
“Ya!” Jeremy
pergi lagi mengambilkan pakaian dalam untuk Ayres.
“Ini?” Pria
itu kembali lagi.
“Simpan saja!”
Jeremy
menyimpan pakaian dalam Ayres di atas baju tidurnya.
“Apa lagi?”
“Minyak penghangat
badan dan bedak.”
Jeremy mencari
apa yang disebutkan Evelyn, dibawakan padanya minyak penghangat badan dan
bedak. Lalu dilihatnya wanita itu memakaikan apa yang dibawanya tadi.
Putranya
sekarang sudah terlihat sangat tampan, tidur dengan pulasnya. Evelyn langsung
menyelimutinya.
“Sayang, aku
mandi dulu,” ucap Jeremy sambil keluar dari kamar itu.
Evelyn tidak
menjawab hanya menyelimuti Ayres saja. Setelah merasa putranya tidur nyenyak,
Evelyn menyimpan bantal-bantal dipinggir Kasur itu biar Ayres tidak jatuh,
meskipun kalau jatuh dilantainya sudah diberi karpet tebal jadi tidak akan
sakit.
Evelyn
membuka pintu kamarnya Jeremy, akan mengambil pakaiannya. Dilihatnya pria itu sudah
mandi dan menggunakan kimono, sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil mengetikkan sesuatu di
ponselnya.
“Kau akan
mandi?” Jeremy menatapnya.
“Aku akan mengambil
pakaian saja, aku mandi di kamarnya Ayres.”
Jeremy
terkejut mendengarnya.”Kenapa tidak disini saja? Peralatan mandi ada disini. Kau
mau pakai sabun bayi?”
Evelyn terdiam,
baru ingat dia harus membawa peralatan mandi, terasa ribet.
Akhirnya
Evelyn mandi di kamar mandi itu dan keluar sudah menggunakan handuk kimono selutut
, sambil menggosok rambutnya dengan handuk persegi.
“Kemari sebentar!”
panggil Jeremy.
“Ada apa?”
“Kesini
saja.”
Evelyn
mendekati Jeremy, tapi dia terkejut saat
tangannya ditarik pria itu membuatnya jatuh ke atas tubuhnya Jeremy dan handuk
dikepalanya terlepas.
“Jeremy! Kau
ini apa-apaan? Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!” teriak Evelyn,rambutnya
yang belum kering dan acak-acakan, tergerai menutupi wajahnya.
Kedua tangan
Jeremy merapihkan rambut basah itu, diapun tersenyum melihat wajah cemberut itu
yang rambutnya acak-acakan habis keramas. Diambilnya handuk yang jatuh ke tempat
__ADS_1
tidur itu lalu mengeringkan rambutnya Evelyn dengan handuk itu.
Sikap Jeremy
membuat Evelyn diam. Kedua tangannya menahan ke bantal yang dipakai sandaran
Jeremy.
“Bia raku saja!”
Evelyn akan bangun tapi Jeremy malah memeluknya punggungnya.
Yang membuat
Evelyn gugup, dia merasakan sesuatu yang mengeras karena berada diatas tubuhnya
Jeremy. Wajahnya memerah dan panik menyadari pria itu sedang meninggi
hasratnya.
Evelyn akan
bangun ditahan lagi oleh pelukannya Jeremy.
“Kau ini mau
apa?” Debar jantung Evelyn semakin kencang. Kerasnya tubuh pria itu yang sedari
tadi jadi bahan mainan putranya karena memiliki gambar yang aneh, semakin
membuat Evelyn gugup.
Bertahun-tahun
dia membatasi dirinya untuk tidak tergoda oleh pria manapun demi membesarkan
Ayres.
“Memangnya
kau mau kemana?” Jeremy masih memeluknya dan menatap wajah cantik tanpa make up
itu.
Evelyn
semakin gugup saat menyadari bagian bawa kimononya tersingkap, membuat kulit pahanya
bersentuhan dengan kaki kokoh Jeremy.
“Aku mau
tidur dengan Ayres.” Evelyn mencoba bangun sebelum pria itu melakukan sesuatu
padanya. Tapi Jeremy mana mau mengalah kalau menginginkan sesuatu.
“Jangan
mengganggu dia. Kau tidur disini saja. Nanti kalau kau sudah terlelap, aku akan
melihat Ayres.”
“Maksudmu
apa? Kita bukan suami istri lagi. Aku akan ke kamarnya Ayres. Aku akan tidur
disana.”
Evelyn akan
bangun tapi lagi-lagi Jeremy menahannya.
“Kau ini
kenapa? Sadar tidak apa yang aku katakan tadi?”
“Ya, aku
tahu.”
“Jadi, lepaskan
aku.” Satu tangan Evelyn menari tangannya Jeremy dari punggungnya, tapi pria
itu tidak bergeming malah tersenyum. Sungguh dia begitu merindukan saat-saat
seperti ini dengan istrinya.
“Kenapa?”
“Karena aku
bukan istrimu lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kita.”
Jeremy menatap
wajah cantik itu yang terlihat segar sekarang, dia merasa bagian tubuhnya sudah
tidak bisa dikendalikan.
“Apa kalau
kau masih istriku, kau akan tidur bersamaku?” tanya Jeremy tanpa ragu, tanpa
malu, tanpa di tutup-tutupi, blak-blakan dengan keinginannya.
“Apa
“Aku ingin
bercinta denganmu.”
Evelyn tersenyum
jengah dan memalingkan mukanya lalu menatap lagi Jeremy.
“Kenapa?”
tanya Jeremy.
Bibir Evelyn
langsung saja cemberut. “Tentu saja aku tidak akan membiarkan kau menyentuhku
seperti dulu.”
“Tidak akan
seperti dulu, karena aku mencintaimu sekarang.”
Evelyn
tersenyum jengah lagi sambil menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja,
tapi sayang aku bukan istrimu lagi.”
Tangan Heremy,
membuka laci sandaran tempat tidur itu, mengambil sebuah amplop coklat.
“Apa itu?”
Evelyn keheranan.
“Menurutmu
apa?”
Jeremy
memberikan amplop itu pada Evelyn yang langsung menjauh dari tubuhnya Jeremy,
lalu duduk dan membuka isi amplop itu dengan penasaran. Jeremy hanya memperhatikan
saja.
Wajah Evelyn
seketika berubah memucat saat melihat isi amplop itu.
“Apa ini?”
selembar kerta ada di tangannya.
“Baca saja.”
Evelyn mulai
membaca tulisan di kertas itu dan matanya terbelalak kaget saat melihat
ternyata isinya surat gugatan cerainya dan ternyata Jeremy tidak
menandatanganinya.
“Ini.. apa
maksudnya ini? Kau tidak menandatangi surat cerai kita? Tapi kata Ayah, kau
sudah menandanganinya dan suratnya ada di Ayah.”
Evelyn tampak
bingung, menatap Jeremy sambil memperlihatkan surat itu.
“Aku tidak
pernah menandatanganinya, aku tidak bisa menceraikanmu.”
Evelyn
terbengong saja mendengarnya.
“Kita berpisah
5 tahun, dan kau sebenarnya tidak menceraikanku?”
“Tidak, kau
masih istriku, aku tidak pernah menceraikanmu. Aku minta Ayah berbohong, karena
aku masih berharap kau mau tinggal bersamaku lagi.”
Evelyn masih
tidak percaya dengan kenyataan didepannya itu, surat cerai yang tidak
ditandatangani Jeremy.
__ADS_1
“Pantas Ayah
selalu mengelak kalau aku meminta surat ini. Ayah hanya bilang sudah ada di
Ayah. Akan memberikannya kalau aku akan menikah dengan pria lain.” Evelyn menunduk
melihat surat cerainya itu.
Jeremy merubah
posisi duduknya menjadi tegak dan berhadapan dengan Evelyn.
Tangannya
mengulur mengangkat wajahnya Evelyn supaya mau menatapnya.
“Kau masih istriku,
dulu juga sekarang.”
Raut wajah
Evelyn memerah. Matanya tergenang airmata, diapun kembali menunduk dan menangis.
Dia tidak tahu apakah harus senang atau sedih ternyata dia masih istrinya
Jeremy. Berat sekali menjalani pernikahan dengan pria itu.
Tapi hati
kecilnya tidak memungkiri kalau dia mencintainya. Mencintai ayahnya Ayres.
Melihat
istrinya menangis, membuat perasaan Jeremy campur aduk, ditariknya tubuh Evelyn
kepelukannya, memeluknya dengan erat.
“Aku minta
maaf selalu membuatmu menangis, aku minta maaf.” Diusapnya rambut itu lalu di
ciumnya.
“Berjanjilah
jangan pergi lagi dariku. Kita berkumpul lagi bersama Ayres. Mau, ya, Sayang?”
pinta Jeremy.
Evelyn tidak
menjawab, hanya menempelkan dagunya di bahu Jeremy. Kedua tangan Jeremy mengusap
kepalanya, turun ke punggungnya, kemudian ke bahunya, perlahan menurunkan lengan
kimononya.
“Aku tidak
rela Ryan menyentuhmu. Aku tidak rela,” ucapnya, sambil mengusap kulit bahunya
Evelyn.
“Kau sangat
berani, Sayang. Sangat berani.”
Evelyn tidak
menjawab, hanya merasakan sentuhan tangannya Jeremy berpindah ke kedua
lengannya.
“Aku sudah
membunuh orang.”
“Tidak, kau
tidak membunuh orang.”
Evelyn
langsung bergerak mundur, menatap Jeremy.
“Tidak
membunuh bagaimana? Aku sudah menembak Ryan. Aku sudah menembaknya.”
“Senjatamu
tidak ada pelurunya, Sayang. Peluruku yang menghancurkan kepalanya Ryan.”
Evelyn
terbengong saja. “Apa benar begitu? Tapi
sepertinya aku menembaknya.”
“Memang
menembaknya tapi tidak ada pelurunya. Pelurunya ada di meja, aku sampai cemas.
Makanya Ryan nekat mendekatimu karena tahu senjata itu tidak ada pelurunya.”
Evelyn
terkejut bukan main, lalu dia tersenyum. “Apa itu artinya aku tidak mengotori
tanganku?” Evelyn melihat telapak tangannya.
“Tidak, Sayang.”
“Aku senang
Ayres tidak punya ibu pembunuh.” Senyum mengembang di bibirnya Evelyn.
Kedua tangan
Jeremy mengusap rambutnya Evelyn, dia merasa senang istrinya kembali tersenyum.
“Ayres tidak
punya ibu pembunuh, tapi Ayres punya ayah mantan mafia.”
Evelyn
kembali menatap Jeremy. Dengan ragu tangannya terulur membuat Jeremy melihat
pergerakan tangan itu yang berhenti di pipinya. Menyentuh wajah itu perlahan.
“Tapi Ayres
mempunyai Ayah yang hebat.”
Jeremy
tersenyum mendengar pujian dari Evelyn. Dan dia tertegun saat istrinya mendekat
lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Mendapat
ciuman seperti itu membuat Jeremy memejamkan matanya, ciuman yang terasa begitu
indah baginya, ciuman yang rasa sayangnya begitu sampai kehatinya, dia merasa
sangat bahagia.
Tapi sepertinya
Evelyn melakukan kesalahan yang fatal. Tanpa dia menciumnyapun hasrat Jeremy
sudah meninggi ditambah dia menciumnya, tentu saja dia tidak mau melepaskan
kesempatan itu.
Setelah mencium
bibirnya Jeremy, Evelyn merasakan bibirnya sudah tidak bisa ditarik lagi, karena
sudah terpenjara bibirnya Jeremy.
Dan hampir
saja dia jantungan saat tiba-tiba Jeremy membanting tubuhnya terlentang ke
tempat tidur.
“Je..”
Pria itu sama
sekali tidak memberi kesempatan Evelyn untuk protes apalagi melarikan diri. Tubuh
kekarnya mengunci tubuhnya dan memberinya ciuman bertubi-tubi.
Evelyn
membalas ciuman itu dengan lembut, membuat Jeremy merasa bahagia. Baru sekarang
dia merasa istrinya begitu tulus meresponnya. Diusapnya wajah cantik itu.
“Aku mencintaimu.”
Evelyn
menghela nafas pendek balas menatap pria itu dengan haru. “Aku juga
mencintaimu.”
Jeremy
kembali menunduk menciumnya lagi, dengan tangan yang cekatan menarik tali
kimono istrinya sampai terlepas, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Kedua
tangan Evelyn menyusup ke sela kimononya Jeremy, mengusap punggungnya pria itu,
merasakan tubuh kekarnya sexy.
Dalam
sekejap Jeremy melepaskan kimononya membiarkan istrinya memiliki dirinya seutuhnya.
Evelyn semakin merapatkan tubuhnya, ingin berlindung dibalik tubuh kokoh itu yang
sudah pasti akan membuatnya kelelahan harus melayani pria yang sudah lima tahun
__ADS_1
tidak menyentuhnya.
***