Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-56 Menjelang Melahirkan


__ADS_3

Selena


terisak setelah Ryan pergi, ini pertama kalinya dia merasa begitu dihinakan,


dilecehkan. Semua itu malah membuatnya merindukan sosok Jeremy.


“Kenapa kau


tidak mencintaiku, Jeremy? Apa kurangnya aku? Kau memujaku tapi kau tidak mencintaiku.”


Selena


berusaha bangun sambil merasakan tubuh dan wajahnya yang sakit akibat air panas


di bathub.


Diapun pergi


menuju wastafel melihat wajahnya yang merah, kulitnya sedikit melepuh dan


terasa perih.


“Ryan


brengsek! Lihat saja nanti, kau akan aku balas!” runtuknya. Dilihatnya kembali


wajahnya, entah akan meninggalkan bekas di wajahnya atau tidak nanti. Semoga


saja tidak akan membutuhkan banyak uang untuk mengembalikan kecantikan wajah


dan tubuhnya. Hidup menjadi wanita jelek pasti akan sangat menjengkelkan. Ryan


benar-benar sengaja membuat harga dirinya jatuh.


***


Jeremy duduk


di kursi roda di teras rumahnya Pak Kades, Ayahnya. Rumah yang sempat


ditinggalinya dari lahir sampai menginjak remaja.


Burung-burung


dalam kurung yang bergantung disepanjang pinggiran teras, berbunyi sangat ramai.


Suasananya begitu hangat dengan sinar matahari pagi yang menyinari.


Pagi itu


terasa begitu sejuk dan indah, pemandangan sekitar rumahnya Pak Kades terlihat


begitu asri. Halaman yang luas itu terdapat jalan setapak bebatuan dan


bunga-bunga di pot yang tersiram segar.


Bukan itu


yang menarik bagi Jeremy, pemandangan yang paling indah baginya adalah sosok


wanita cantik dengan perut besarnya yang berjalan perlahan menyusuri jalan


setapak lalu berbalik arah, kemudian berjalan lagi sekian meter dan kembali


berbalik arah.


Jermari


tangannya memencet tombol kursi rodanya untuk maju lebih ke pinggir teras yang


posisinya lebih tinggi dari halaman rumah. Senyum mengembang di bibirnya.


Ternyata nyawa-nyawa tambahannya tidak pernah meninggalkan raganya. Berbulan-bulan


tinggal bersama keluarganya memberikan obat tersendiri untuk kesembuhannya


terutama jiwanya.


Ada yang


terasa berbeda, suasana hangat ditengah orang-orang yang mencintainya membuat


kesehatannya membaik lebih cepat. Meskipun belum sembuh benar, setidaknya dia


bisa menggerakkan sedikit anggota tubuhnya. Pendengarannya semakin membaik dan


alat pengecapnya semakin pulih.


Evelyn


melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, hari kemarin adalah hari


perkiraan lahir dari Dokter tapi dia belum melahirkan,  menurut Dokter bisa melahirkan sebelum atau


sesudah hari perkiraan lahir.


Langkahnya


terhenti saat melihat sosok di kursi roda itu memandangnya dengan senyum di


bibirnya. Jeremy terlihat semakin bugar dan dia semakin tampan. Pria itu diurus


sangat baik.


Perlahan


Jeremy mengangkat tangannya melambaikan tangannya. Evelyn hanya diam saja dan


malah kembali melangkahkan kakinya selangkah selangkah.


Jeremy


kembali menurunkan tangannya melihat sikap dingin istrinya. Wanita itu tidak


banyak bicara.


“Sa..yang!”


panggilnya. Dia merasa bersyukur alat pengecapnya lebih cepat pulih, membuatnya


bisa kembali bicara meskipun terkadang harus jeda beberapa saat.


Evelyn mendengar


pria itu memanggilnya memilih berjalan lagi melanjutkan kegiatannya sendiri.


Melihat pria itu apalagi dengan perut besarnya takut membuat hatinya berubah. Siapa

__ADS_1


yang tidak ingin berkumpul dalam satu keluarga kecil yang harmonis? Memberikan


orangtua yang lengkap untuk buah hatinya. Semua itu terdengar manis tapi tidak


semudah itu menjalankannya seandainya Jeremy bukanlah seorang mafia. Mungkin


kebersamaannya sekarang akan menjadi kebahagiaannya.


Jeremy menarik


nafas panjang, dia tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya, tapi dia tidak


akan menyerah, dia tidak akan melepaskan wanita yang dicintainya.


“Saayang!


Jangan terlalu lelah!” serunya lagi, berusaha berteriak tapi belum sepenuhnya bisa.


Evelyn masih


tidak menyahut, hanya berjalan saja sambil memegang perut besarnya.


Terdengar


langkah kaki mendekati Jeremy. “Istrimu sedang berusaha melancarkan proses


persalinan nanti.”


“Tapi dia


terlalu lelah, sedari tadi dia tidak selesai berjalan,” keluh Jeremy, masih


memandang istrinya.


“Nak! Jangan


terlalu lelah, istirahatlah! Kau sudah sarapan belum?” seru Pak Kades, sambil


mendekati kurung burung yang berjajar itu.


“Ya, Ayah,


sebentar lagi!” jawab Evelyn.


“Dia tidak


mau bicara denganku, aku sangat frustasi,” keluh Jeremy, membuat pak Kades


tertawa.


“Kau merasa


menyesal sekarang sudah menyia-nyiakannya?”


“Aku takut


dia meninggalkanku sebelum aku sembuh benar. Aku harus bisa mempertahankannya


dan bayiku. Aku tidak mau kehilangan anak istriku.”


“Bagus kalau


kau merasa begitu.”


“Sungguh


Evelyn bicara. Tapi justru disaat aku sudah mulai bisa bicara dia malah tidak


pernah mau banyak bicara.”


Pak Kades


menatap putranya itu lalu tersenyum. “Berusahalah yang keras, kau akan semakin


menyesal jika kehilangannya. Dia istri terbaik buatmu. Istri yang berbakti dan


tulus mencintaimu, kau tidak akan mendapatkan wanita seperti itu lagi dalam


hidupmu.”


“Tentu saja,


aku tidak akan menyerah meluluhkan hatinya. Aku harus bisa meyakinkannya kalau


aku bisa melindunginya. Aku ingin berkumpul dengannya juga bayiku nanti.”


Evelyn mengusap keringat di keningnya, dia merasa sangat haus, diapun berbelok


menuju teras, membuat Jeremy kembali memandangnya.


“Kau terlalu


lelah, Sayang. Aku menghitung waktu yang kau gunakan untuk berjalan,” ucap Jeremy.


“Aku hanya


ingin persalinanku lancar, ini pertama bagiku jadi aku benar-benar harus siap,”


jawab Evelyn tanpa menghampiri Jeremy, malah melewatinya.


Dengan cepat


Jeremy menggerakkan kursi rodanya menyusul Evelyn, mendekati meja yang ada di


teras itu.


“Apa kau


haus, Sayang? Aku ambilkan minum.” Tangan pria itu terulur mengambil gelas yang


ada dimeja.


“Tidak usah,


nanti gelasnya pecah, tanganmu belum benar-benar kuat.” Evelyn bergerak cepat


menjauhkan gelas yang akan diambil Jeremy.


Pria itu


mendongak menatap wajah cantik yang mengkilat karena keringat itu.


“Aku hanya


khawatir kau terlalu lelah.”


“Aku bisa

__ADS_1


sendiri.” Evelyn duduk di kursi, mengambil gelas itu lalu diisi air dalam teko


dan diminumnya.


“Seharusnya


kapan kau melahirkan? Kata Ayah sudah lewat waktunya. Apa itu tidak berbahaya?”


“Tidak,


semua baik-baik saja.” Evelyn kembali minum tanpa menoleh pada Jeremy.


Pria itu


memperhatikan istrinya itu, hatinya ingin menciumnya dan memeluk perut besarnya


tapi itu tidak bisa dilakukannya, dia hanya bisa melakukannya saat istrinya


berbaring tidur disampingnya, itupun tidak banyak gerak yang bisa dia lakukan


karena tubuhnya masih kaku.


Meskipun


mereka tinggal satu atap dan tidur satu tempat tidur, sikap Evelyn padanya


sangat berubah, wanita itu sangat dingin, bahkan tidak mau menatapnya. Evelyn


bertindak hanya seperti perawat saja, menginstruksikan ini dan itu pada perawatnya.


Meski


seperti itu, Jeremy mencoba untuk menerima apapun perlakuan Evelyn padanya.


Kesalahannya begitu bertumpuk dan tidak termaafkan tapi Evelyn masih mau


mengurus dirinya.


Tiba-tiba


dilihatnya istrinya meringis.


“Duh!”


Evelyn merasakan ada sesuatu yang sakit disekitar pinggang dan punggungnya,


entahkah dia tidak begitu mengerti sakitnya bagian mana, hanya terasa begitu


sakit.


Tangannya


memegang pinggangnya, meringis tapi kemudian biasa lagi. Diambilnya gelas di


depannya yang sudah kosong, diisinya air lagi dan kembali di minumnya.


“Duh!”keluhnya


lagi.


“Sayang, ada


apa? Kau kenapa?” tanya Jeremy, melihat perilaku Evelyn yang tidak luput dari


pandangannya.


Tangannya


terulur menyentuh tangannya Evelyn yang memegang pinggangnya. Wajah istrinya


memucat.


Evelyn


menoleh pada mertuanya yang sedang memeriksa burung-burung yang berkicau itu.


“Yah,


sepertinya aku akan melahirkan!” ucapnya lirih, karena menahan sakit yang mulai


menjalar.


Jeremy dan


pak Kades terkejut mendengarnya.


Jeremy


menjalankan kursi rodanya lebih dekat pada Evelyn.


“Sayang, kau


akan melahirkan?” tangannya memegang tangannya Evelyn yang memegang


pinggangnya.


Evelyn


kembali meringis, menoleh pada suaminya yang sedang menatapnya dengan khawatir.


Menatap pria yang sudah memberinya buah hati tapi juga yang menghancurkan


hidupnya.


Diapun


menoleh pada pak Kades yang menghampirinya.


“Kau akan


melahirkan?”


“Sepertinya


begitu.”


“Maskur!


Maskur! Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit!” teriak Pak Kades.


Jeremy


menatap istrinya, dia ikut merasa panik melihat istrinya mulai mengeluh kesakitan,


dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya disaat dia sendiripun belum bisa


apa-apa.

__ADS_1


***


__ADS_2