
Selena
terisak setelah Ryan pergi, ini pertama kalinya dia merasa begitu dihinakan,
dilecehkan. Semua itu malah membuatnya merindukan sosok Jeremy.
“Kenapa kau
tidak mencintaiku, Jeremy? Apa kurangnya aku? Kau memujaku tapi kau tidak mencintaiku.”
Selena
berusaha bangun sambil merasakan tubuh dan wajahnya yang sakit akibat air panas
di bathub.
Diapun pergi
menuju wastafel melihat wajahnya yang merah, kulitnya sedikit melepuh dan
terasa perih.
“Ryan
brengsek! Lihat saja nanti, kau akan aku balas!” runtuknya. Dilihatnya kembali
wajahnya, entah akan meninggalkan bekas di wajahnya atau tidak nanti. Semoga
saja tidak akan membutuhkan banyak uang untuk mengembalikan kecantikan wajah
dan tubuhnya. Hidup menjadi wanita jelek pasti akan sangat menjengkelkan. Ryan
benar-benar sengaja membuat harga dirinya jatuh.
***
Jeremy duduk
di kursi roda di teras rumahnya Pak Kades, Ayahnya. Rumah yang sempat
ditinggalinya dari lahir sampai menginjak remaja.
Burung-burung
dalam kurung yang bergantung disepanjang pinggiran teras, berbunyi sangat ramai.
Suasananya begitu hangat dengan sinar matahari pagi yang menyinari.
Pagi itu
terasa begitu sejuk dan indah, pemandangan sekitar rumahnya Pak Kades terlihat
begitu asri. Halaman yang luas itu terdapat jalan setapak bebatuan dan
bunga-bunga di pot yang tersiram segar.
Bukan itu
yang menarik bagi Jeremy, pemandangan yang paling indah baginya adalah sosok
wanita cantik dengan perut besarnya yang berjalan perlahan menyusuri jalan
setapak lalu berbalik arah, kemudian berjalan lagi sekian meter dan kembali
berbalik arah.
Jermari
tangannya memencet tombol kursi rodanya untuk maju lebih ke pinggir teras yang
posisinya lebih tinggi dari halaman rumah. Senyum mengembang di bibirnya.
Ternyata nyawa-nyawa tambahannya tidak pernah meninggalkan raganya. Berbulan-bulan
tinggal bersama keluarganya memberikan obat tersendiri untuk kesembuhannya
terutama jiwanya.
Ada yang
terasa berbeda, suasana hangat ditengah orang-orang yang mencintainya membuat
kesehatannya membaik lebih cepat. Meskipun belum sembuh benar, setidaknya dia
bisa menggerakkan sedikit anggota tubuhnya. Pendengarannya semakin membaik dan
alat pengecapnya semakin pulih.
Evelyn
melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, hari kemarin adalah hari
perkiraan lahir dari Dokter tapi dia belum melahirkan, menurut Dokter bisa melahirkan sebelum atau
sesudah hari perkiraan lahir.
Langkahnya
terhenti saat melihat sosok di kursi roda itu memandangnya dengan senyum di
bibirnya. Jeremy terlihat semakin bugar dan dia semakin tampan. Pria itu diurus
sangat baik.
Perlahan
Jeremy mengangkat tangannya melambaikan tangannya. Evelyn hanya diam saja dan
malah kembali melangkahkan kakinya selangkah selangkah.
Jeremy
kembali menurunkan tangannya melihat sikap dingin istrinya. Wanita itu tidak
banyak bicara.
“Sa..yang!”
panggilnya. Dia merasa bersyukur alat pengecapnya lebih cepat pulih, membuatnya
bisa kembali bicara meskipun terkadang harus jeda beberapa saat.
Evelyn mendengar
pria itu memanggilnya memilih berjalan lagi melanjutkan kegiatannya sendiri.
Melihat pria itu apalagi dengan perut besarnya takut membuat hatinya berubah. Siapa
__ADS_1
yang tidak ingin berkumpul dalam satu keluarga kecil yang harmonis? Memberikan
orangtua yang lengkap untuk buah hatinya. Semua itu terdengar manis tapi tidak
semudah itu menjalankannya seandainya Jeremy bukanlah seorang mafia. Mungkin
kebersamaannya sekarang akan menjadi kebahagiaannya.
Jeremy menarik
nafas panjang, dia tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya, tapi dia tidak
akan menyerah, dia tidak akan melepaskan wanita yang dicintainya.
“Saayang!
Jangan terlalu lelah!” serunya lagi, berusaha berteriak tapi belum sepenuhnya bisa.
Evelyn masih
tidak menyahut, hanya berjalan saja sambil memegang perut besarnya.
Terdengar
langkah kaki mendekati Jeremy. “Istrimu sedang berusaha melancarkan proses
persalinan nanti.”
“Tapi dia
terlalu lelah, sedari tadi dia tidak selesai berjalan,” keluh Jeremy, masih
memandang istrinya.
“Nak! Jangan
terlalu lelah, istirahatlah! Kau sudah sarapan belum?” seru Pak Kades, sambil
mendekati kurung burung yang berjajar itu.
“Ya, Ayah,
sebentar lagi!” jawab Evelyn.
“Dia tidak
mau bicara denganku, aku sangat frustasi,” keluh Jeremy, membuat pak Kades
tertawa.
“Kau merasa
menyesal sekarang sudah menyia-nyiakannya?”
“Aku takut
dia meninggalkanku sebelum aku sembuh benar. Aku harus bisa mempertahankannya
dan bayiku. Aku tidak mau kehilangan anak istriku.”
“Bagus kalau
kau merasa begitu.”
“Sungguh
Evelyn bicara. Tapi justru disaat aku sudah mulai bisa bicara dia malah tidak
pernah mau banyak bicara.”
Pak Kades
menatap putranya itu lalu tersenyum. “Berusahalah yang keras, kau akan semakin
menyesal jika kehilangannya. Dia istri terbaik buatmu. Istri yang berbakti dan
tulus mencintaimu, kau tidak akan mendapatkan wanita seperti itu lagi dalam
hidupmu.”
“Tentu saja,
aku tidak akan menyerah meluluhkan hatinya. Aku harus bisa meyakinkannya kalau
aku bisa melindunginya. Aku ingin berkumpul dengannya juga bayiku nanti.”
Evelyn mengusap keringat di keningnya, dia merasa sangat haus, diapun berbelok
menuju teras, membuat Jeremy kembali memandangnya.
“Kau terlalu
lelah, Sayang. Aku menghitung waktu yang kau gunakan untuk berjalan,” ucap Jeremy.
“Aku hanya
ingin persalinanku lancar, ini pertama bagiku jadi aku benar-benar harus siap,”
jawab Evelyn tanpa menghampiri Jeremy, malah melewatinya.
Dengan cepat
Jeremy menggerakkan kursi rodanya menyusul Evelyn, mendekati meja yang ada di
teras itu.
“Apa kau
haus, Sayang? Aku ambilkan minum.” Tangan pria itu terulur mengambil gelas yang
ada dimeja.
“Tidak usah,
nanti gelasnya pecah, tanganmu belum benar-benar kuat.” Evelyn bergerak cepat
menjauhkan gelas yang akan diambil Jeremy.
Pria itu
mendongak menatap wajah cantik yang mengkilat karena keringat itu.
“Aku hanya
khawatir kau terlalu lelah.”
“Aku bisa
__ADS_1
sendiri.” Evelyn duduk di kursi, mengambil gelas itu lalu diisi air dalam teko
dan diminumnya.
“Seharusnya
kapan kau melahirkan? Kata Ayah sudah lewat waktunya. Apa itu tidak berbahaya?”
“Tidak,
semua baik-baik saja.” Evelyn kembali minum tanpa menoleh pada Jeremy.
Pria itu
memperhatikan istrinya itu, hatinya ingin menciumnya dan memeluk perut besarnya
tapi itu tidak bisa dilakukannya, dia hanya bisa melakukannya saat istrinya
berbaring tidur disampingnya, itupun tidak banyak gerak yang bisa dia lakukan
karena tubuhnya masih kaku.
Meskipun
mereka tinggal satu atap dan tidur satu tempat tidur, sikap Evelyn padanya
sangat berubah, wanita itu sangat dingin, bahkan tidak mau menatapnya. Evelyn
bertindak hanya seperti perawat saja, menginstruksikan ini dan itu pada perawatnya.
Meski
seperti itu, Jeremy mencoba untuk menerima apapun perlakuan Evelyn padanya.
Kesalahannya begitu bertumpuk dan tidak termaafkan tapi Evelyn masih mau
mengurus dirinya.
Tiba-tiba
dilihatnya istrinya meringis.
“Duh!”
Evelyn merasakan ada sesuatu yang sakit disekitar pinggang dan punggungnya,
entahkah dia tidak begitu mengerti sakitnya bagian mana, hanya terasa begitu
sakit.
Tangannya
memegang pinggangnya, meringis tapi kemudian biasa lagi. Diambilnya gelas di
depannya yang sudah kosong, diisinya air lagi dan kembali di minumnya.
“Duh!”keluhnya
lagi.
“Sayang, ada
apa? Kau kenapa?” tanya Jeremy, melihat perilaku Evelyn yang tidak luput dari
pandangannya.
Tangannya
terulur menyentuh tangannya Evelyn yang memegang pinggangnya. Wajah istrinya
memucat.
Evelyn
menoleh pada mertuanya yang sedang memeriksa burung-burung yang berkicau itu.
“Yah,
sepertinya aku akan melahirkan!” ucapnya lirih, karena menahan sakit yang mulai
menjalar.
Jeremy dan
pak Kades terkejut mendengarnya.
Jeremy
menjalankan kursi rodanya lebih dekat pada Evelyn.
“Sayang, kau
akan melahirkan?” tangannya memegang tangannya Evelyn yang memegang
pinggangnya.
Evelyn
kembali meringis, menoleh pada suaminya yang sedang menatapnya dengan khawatir.
Menatap pria yang sudah memberinya buah hati tapi juga yang menghancurkan
hidupnya.
Diapun
menoleh pada pak Kades yang menghampirinya.
“Kau akan
melahirkan?”
“Sepertinya
begitu.”
“Maskur!
Maskur! Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit!” teriak Pak Kades.
Jeremy
menatap istrinya, dia ikut merasa panik melihat istrinya mulai mengeluh kesakitan,
dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya disaat dia sendiripun belum bisa
apa-apa.
__ADS_1
***