
Malam semakin larut, tapi Jeremy tidak juga pulang. Akhirnya Evelyn pergi ke kamarnya yang kosong itu bukan kamarnya Jeremy, lalu tidur disana.
Sampai esok harinya, Evelyn bangun, terus pergi ke kamarnya Jeremy ternyata suaminya tidak pulang semalam, padahal hari sudah mulai siang, membuatnya lesu, kemana Jeremy? Tidur dimana dia? Seharusnya pria itu memberinya kabar, harus ingat kalau dia itu sudah menikah.
Evelynpun kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Lemari pakaiannya sudah terisi penuh pakaian-pakaiannya yang dibelinya kemarin.
Dia terpaksa menggunakan uangnya Jeremy itu karena dia tidak punya uang sepeserpun, dan dia berniat mencari pekerjaan hari ini, meskipun dia harus menggunakan identitasnya yang ada di emailnya, karena dia ikut Jeremy benar-benar tidak membawa apa-apa.
Beberapa map laparan kerja sudah disiapkan. Diapun sudah menandai beberapa perusahaan yang membuka lowangan kerja, letak kantornya tidak terlalu jauh dari kediamannya Jeremy.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan teras. Evelyn langsung pergi keteras. Dia terkejut, Jeremy pulang dengan pakaian yang acak-acakan dan sedikit sempoyongan.
Evely mau memegang tangannya tapi ditepiskan oleh Jeremy.
Pria itu masuk ke dalam rumah. Evelyn terus mengikutinya masuk ke dalam kamar.
Jeremy membuka kemejanya lalu dilempar keatas tempat tidur. Evelyn menoleh kearah kemeja itu dan dia terkejut melihat banyak noda lisptik. Diapun mendekati tempat tidur dan mengambil kemeja yang ada ditempat tidur itu.
“Ini apa?” tanyanya saat melihat noda lipstik itu. Bukan itu saja bahkan ada tanda tanda merah juga ditubuhnya Jeremy.
Evelyn menunjukkan kemeja itu pada Jeremy yang melihat kemejanya.
“Itu noda lipstick,” jawab Jeremy, sambil berjalan menuju tempat tidur.
“Gampang sekali kau menjawabnya,”kata Evelyn, merasakan amarah di dadanya.
“Memangnya aku harus menjawab apa? Itu noda lipstiknya Selena! Semalam aku tidur bersamanya!” jawab Jeremy tanpa ditutup-tutupi, sambil merebahkan tubuhnya yang tidak berpakaian itu ke tempat tidur.
Evelyn terkejut mendengarnya. Dadanya terasa sesak, semalaman dia menunggu Jeremy pulang, ternyata dia bermalam dengan Selena.
“Kau, bermalam dengan Selena, sedangkan istrimu disini menunggumu makan malam?” tanya Evelyn, dengan kesal, matanya sudah memerah berkaca-kaca.
“Aku tidak menyuruhmu menungguku pulang! Aku tidak suka diatur-atur! Aku bebas mau pulang jam berapa, tidur dengan siapa, kenapa kau jadi repot mengaturku?” bentak Jeremy dengan kesal.
Evelyn mendekati Jeremy.
“Tentu saja karena kau suamiku, aku berhak menegurmu kalau perbuatanmu salah!” kata Evelyn.
Jeremy bangun dari tidurnya, duduk di tempat tidur dan menatapnya.
“Ini nih yang tidak aku suka pake acara menikahimu segala! Ribet, tau gak?” teriaknya.
“Kau harus berubah, Jeremy! Kau sudah menikah sekarang! Pergaulanmu yang bebas harus kau hentikan!” kata Evelyn.
“Diam kau! Berisik! Pergi dari kamarku! Sumpek melihatmu disini! Pake cerewet cerewet segala!” usir Jeremy, sambil berbaring lagi.
Evelyn berjalan memutar supaya lebih dekat pada Jeremy.
“Pokoknya, aku tidak mau tahu, kau tidak boleh menemui Selena lagi atau wanita manapun! Titik!” teriak Evelyn.
Jeremy bangun lagi dan menatapnya.
“Berisik! Aku mau tidur!Jangan sok sok jadi istri segala!” bentaknya.
“Tapi kita sudah menikah, kau sudah menyentuhku! Aku istrimu dan kau suamiku, aku berhak atas dirimu!” balas Evelyn dengan keras.
“Yang kaya gitu pakek dibahas segala, ga mutu!” Teriak Jeremy.
Evelyn memberengut kesal, matanya sudah tergenang airmata.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa kau menangis? Kau tidak suka? Masa bdooh!” teriak Jeremy lagi.
Airmata itu menetes dipipinya Evelyn.
Derrrdd..
Ponsel Jeremy di saku kemeja yang ada ditempat tidur itu berbunyi. Jeremy mengambilnya dan melihat Ayahnya Video call.
“Iya Ayah, ada apa? Kenapa sekarang kau sereng menelponku?” teriak Jeremy.
“Mana Evelyn?” tanya Pak Kades.
“Dia..” Jeremy menghentikan bicaranya, karena saat dia melihat Evelyn, wanita itu sedang menangis, membuatnya greget.
“Tunggu sebentar, dia sedang dikamar mandi!” jawab Jeremy, lalu menyimpan ponselnya ditutupkan ke tempat tidur.
Tangannya langsung menarik tangan Evelyn dengan keras, sampai Evelyn terkejut dan duduk di tempat tidur.
Jeremy langsung mengambil kemejanya yang ada di tempat tidur itu, lalu mengusapkannya ke wajah Evelyn yang basah dengan air mata.
“Hapus airmatamu, hapus airmatamu, Ayahku menelpon!” katanya dengan marah tapi tertahan jangan sampai terdengar ayahnya, sambil terus mengusap usap kemejanya ke wajah Evelyn.
Bukannya berhenti menangis, tangis Evelyn semakin keras.
“Kau ini! Jangan menangia, berhenti!” bentak Jeremy semakin kesal.
Tangannya mengepal ditempel tempelkan ke kepalanya Evelyn, saking gregetnya.
“Huuuu huu..” Evelyn malah menangis semakin kencang.
Jeremypun kesal, telapak tangannya langsung menutup mulutnya Evelyn.
Evelyn menepiskan tangan Jeremy, lalu menangis lagi.
Jeremy benar-benar bingung, bagaimana cara menghentikan tangisnya?
“Jeremy! Ada apa itu? Kenapa seperti ada yang menangis?” terdengar teriakan Pak Kades di ponselnya.
“Jeremy! Kau apakan Evelyn? Heh? Uhu uhuk!” terdengar teriakan Pak Kades lagi, disertai batuknya.
Jeremy bingung mendengar ayahnya terbatuk-batuk, pasti ayahnya mengkhawatirkan Evelyn.
Tangan kanannya langsung meraih lehernya Evelyn, tangan kirinya mengambil ponsel, dan diapun mencium bibir Evelyn.
Pak Kades terkejut melihat di video kalau Jeremy sedang mencium Evelyn.
“Kau sedang apa?” tanya Pak Kades.
Evelyn terkejut bukan main, kenapa Jeremy malah menciumnya, tidak sebentar, tapi sangat lama.
“Ya sudah Ayah tidak mau menggangu kalian!” terdengar suara Pak Kades yang akhirnya menutup telponnya.
Jeremy melirik ponsel ditangannya yang sudah mati, lalu melirik pada Evelyn dan mata merekapun bertemu. Wanita itu tidak menangis lagi, hanya terlihat kaget dan menatapnya.
Jeremy buru-buru melepaskan ciumannya.
“Kau membuat masalah saja! Huh!” gerutunya.
Jeremy melempar ponselnya ke tempat tidur lagi dan kembali berbaring, melipat kedua tangannya dibawah kepalanya memejamkan matanya.
__ADS_1
Evelyn masih terkaget-kaget karena pria itu menciumnya, diapun menoleh pada Jeremy.
Pria itu benar-benar tidak punya perasaan, entah terbuat dari apa hatinya. Menyentuhnya seenaknya, apa dia tidak berfikir bagaimana perasaannya sebagai perempuan? Seenaknya juga pulang pagi setelah bermalam dengan Selena, sama sekali tidak merasa bersalah. Sangat keterlaluan.
Bibir Evelyn memberengut kesal. Diapun bangun dari duduknya, tiba-tiba Jeremy membuka matanya.
“Eh, kau sudah rapih mau kemana?” tanya Jeremy, dia baru sadar kalau saat dia datang, istrinya itu sudah membawa tas nya.
“Aku mau melamar pekerjaan,” jawab Evelyn.
Ditatapnya wanita itu.
“Aku baru menemukan wanita paling bodoh didunia,” kata Jeremy.
“Apa? Paling bodoh?” tanya Evelyn membelalakan matanya.
Jeremy tidak menjawab, dia membalikkan badannya memunggungi Evelyn.
“Kau bilang aku bodoh? Maksudmu apa?” tanya Evelyn dengan kesal.
Jeremy membalikkan tubuhnya lagi.
“Aku sudah memberimu uang banyak, kau cari kerjaan! Apalagi kalau bukan bodoh?” jawab Jeremy.
“Kau…” Evelyn kesal sekali dengan perkataannya Jeremy.
“Lebih baik kau ke salon, ikut senam biar tubuhmu bagus seperti Selena!” kata Jeremy.
Mendengarnya membuat Evelyn semakin kesal.
“Kau menyuruhku senam, membentuk tubuhku sepertu Selena? Kau mau menyuruhku jadi wanita penghibur juga seperti Selena?” bentak Evelyn.
Jeremy tidak menjawab, dia akan membalikkan tubuhnya lagi. Tiba-tiba...
Buk! Sebuah bantal mengenai wajahnya, lalu jatuh kepangkuannya.
“Kau ini apaan sih?” bentak Jeremy dengan keras.
“Seenaknya kau melemparku dengan bantal!” bentaknya lagi.
“Aku ini istrimu! Kau dengar tidak? Aku ini istrimu!” teriak Evelyn dengan kesal, dan dia mengambil bantal lagi yang kembali mengenai wajahnya Jeremy yang langsung menangkapnya berkali-kali, dia sampai bingung kenapa banyak bantal di tempat tidurnya.
Dua bantal sudah ditangkapnya. Dia akan membalasnya tapi dlihatnya wanita itu malah menangis lagi.
“Menangis, lagi, apa tidak ada kerjaan lain? Cengeng!” bentak Jeremy.
“Jangan samakan aku dengan wanita-wanita itu! Aku istrimu!” teriak Evelyn dengan kesal, kesal yang bertumpuk-tumpuk.
Jeremy menatapnya juga semakin kesal.
“Iya, iya, kau istriku! Pergi sana! Cengeng! Berisik! Aku mau tidur!” teriaknya dengan keras, lalu kembali berbaring.
“Ribet amat, mau istri ke mau bukan ke, tetap saja kau perempuan, sama saja!” gerutunya, sambil menelungkup.
Jeremy merasa pusing, ternyata punya istri sangat menjengkelkan!
Evelyn menghapus airmatanya, menatap sekali lagi pada pria itu, airmatanya kembali menitik, lalu keluar dari kamar itu.
Setelah membetulkan riasannya, diapun pergi dengan taxi, menuju alamat kantor yang membuka lowongan kerja itu.
__ADS_1
******