Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-64 Orang-orang Masalalu


__ADS_3

“Apa yang


kau lakukan?” bentak Evelyn mendorong tubuh itu menjauh.


Evelyn melap


bibirnya sambil memberengut. “Lain kali jangan kau ulangi.”


Setelah itu


diapun pergi. Jeremy hanya mematung, ternyata daya tarik mantan istrinya masih


sangat kuat padanya.


Diapun


keluar dari ruangan itu. Saat Evelyn masuk ke lift, dia terkejut saat pria itu


sudah berdiri disampingnya.


“Kau mau apa


lagi?” bentak Evelyn.


“Mau apa


lagi kalau bukan mengikuti workshop tadi.”


Evelyn tidak


bicara lagi, hanya berdiri diam membisu melihat pintu lift yang menutup.


***


Rumah Jeremy.


Sebuah mobil


berhenti di gerbang. Pak Satpam segera turun dari posnya, lalu menghampiri


mobil yang berkaca hitam itu.


“Selamat


siang!”


“Apa Pak


Jeremy ada?” tanya sosok pengemudi itu.


Pak Satpam


mencoba melihat orang yang didalam itu yang kepalanya ditutup kain.


“Ibu siapa?”


Kaca jendela


itu terbuka setengah, barulah Pak Satpam tahu siapa yang ada didalam mobil itu.


Seorang wanita yang membuka kaca mata hitamnya. Dengan sebuah kain menutupi


kepalanya diikatkan kedagunya.


“Aku Selena.”


“Oh Bu


Selena!”


“Pak Jeremy


ada?”


“Tidak ada


Nyonya, sedang ada acara diluar. Pulangnya mungkin besok.”


“Besok? Itu


terlalu lama. Coba kau telpon dia, katakan aku datang dari Hongkong, lelah. Mau


istirahat di rumah.”


“Baik. Bu!”


Pak Satpampun membukakan gerbangnya.


Mobil selena


masuk melewati gerbang menuju halaman rumahnya Jeremy.


Pak Satpam


langsung menghubungi ponselnya Jeremy. Sementara Jeremy sudah berkumpul lagi


dengan pengusaha yang lain tapi tidak bersama Pak Enzi, tapi matanya sedikit


sedikit melirik pada mantan istrinya, dia benar-benar merindukannya. Dia merasa


bingung harus bagaimana lagi membujuk Evelyn supaya kembali padanya padahal dia


sudah setia menunggunya.


“Halo!” sapa


Jeremy.


“Pak Jeremy?”


“Ya.


Sebentar aku keluar dulu.” Jeremypun langsung keluar dari ruangan itu.


Masih di


sofa yang tadi, Evelyn menghampiri Enzi dan memberikan proposal itu. Pria muda itu


langsung memeriksanya.


“Ternyata


benar, sangat murah. Biayanya bisa memangkas pengeluaran lumayan banyak, Bu

__ADS_1


Evie.”


“Benar


begitu, Pak?”


“Iya.”


“Bu Evelyn,


sepertinya kita perlu memfotocopy proposalnya, ini punya orang, fotocopy dua


buku, biar Bu Evie juga bisa baca,” kata Enzi sambil memberikan proposal itu.


“Tapi kata


Pak Jeremy ini khusus yang punya domisili Ibukota.”


“Wah begitu?


Kita tidak ada kantor khusus di ibukota. Tapi proyek kita jangka panjang,


sayang kalau tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan Pak Jeremy.” Enzi tampak


berpikir.


Evelyn hanya diam saja.


“Mungkin


kita harus mencari kontrakan kantor sementara, Bu Evie. Hanya untuk persyaratan


Domisili saja dulu.”


“Tapi Pak, bukan


saya kan yang ditempatkan di ibukota? Saya ada anak di rumah.”


Enzi menatap


Evelyn. “Itu bisa dibicarakan nanti, tapi saya memang butuh Bu Evie sebelum


semua berjalan lancar.”


Evelyn


mendadak lesu saja.


“Paling


nanti saya kasih Bu Evie rumah dinas, Ibu bisa bawa Ayres juga, dia belum


sekolah kan?”


Mendengar


perkataannya Enzi semakin membuat Evelyn serba salah. Enzi tidak tahu ini akal-akalan


Jeremy saja biar bisa bertemu dengannya lagi.


“Kalau


begitu saya fotocopy dulu Pak, mumpung masih siang.”


“Iya.”


Evelyn bangun dan keluar dari ruangan itu, tapi dia melambatkan langkahnya saat


melihat sosok Jeremy di depan pintu, sepertinya pria itu baru keluar untuk


menerima penelpon di ponselnya.


“Ada apa?”


tanya Jeremy.


Evelyn


berjalan kesamping, menghindari terlihat oleh Jeremy yang membelakanginya.


“Ini Pak, ada


Bu Selena dari Hongkong.”


“Selena? Selena


ada di rumah?”


Langkah kaki


Evelyn langsung saja berhenti. Wajahnya langsung saja merah padam. Baru saja


pria itu mengatakan hal-hal yang seakan sudah berubah ternyata semuanya palsu.


Evelyn langsung


membalikkan badannya menghadap Jeremy, dia ingin tahu apa lagi yang akan


dibicarakan pria itu tentang Selana.


Sakit hati


kembali menjalar di dadanya, ternyata Jeremy pembohong. Untung saja dia tidak langsung


percaya, ternyata pria itu membohonginya, dasar mafia!


“Kau sudah


bilang kalau aku pulang besok?” tanya Jeremy.


“Sudah, Pak!”


“Hem!”


Jeremy menghela nafas sebentar, dia juga kaget setelah 5 tahun tidak ada kabar


ternyata Selena datang lagi, menambah masalah saja, pikirnya.


“Baiklah,


nanti aku pulang sebentar.”


“Baik, Pak,

__ADS_1


nanti saya beritahu Bu Selena.”


Percakapanpun


selesai. Jeremy mengerutkan dahinya merasa heran apa tujuannya Selena kembali


kesini kalau memang 5 tahun terakhir ini dia ada di Hongkong. Apa karena


mendengar kalau dia sudah sembuh seperti sedia kala?


Jeremy


membalikkan badannya sambil memasukkan ponsel ke sakunya akan masuk lagi ke


dalam. Dan dia terkejut melihat Evelyn sedang menatapnya tajam.


“Kau mau kemana?”


tanya Jeremy berusaha bersikap tenang.


“Tidak perlu


bas abasi! Dasar pembohong! Untung aku tidak percaya ucapanmu! Tidak perlu sok


sok tidak bisa melupakanku! Aku bukan anak ingusan yang bisa kau permainkan!


Dan harus ingat kalau aku bukan istrimu lagi!” maki Evelyn.


“Kau


mendengar pembicaraanku tadi? Tentang Selena?”


“Nah ngaku


kan, sekarang! Dengar, jauh-jauh dariku!” Evelyn langsung saja beranjak pergi


menahan rasa kesalnya.


Jeremy terbengong


saja melihatnya, dia tidak menyangka kalau Evelyn mendengar perkataannya tadi


tentang Selena.


“Tambah runyam


saja. Lagipula buat apa Selena datang lagi?”


Evelyn


keluar dari Hotel itu menahan tangis yang ingin meledak.Bayangan bagaimana


kisah Jeremy dan Selena membuatnya merasa sakit hati lagi. Wanita penghibur Jeremy


itu ternyata masih ada dalam kehidupan Jeremy.  Sungguh Jeremy memang tidak layak untuk dipercaya.


Evelyn


meminta supir kepada panitia untuk mengantarnya memfotocopy berkas proposal


itu. Dia tidak bisa begitu saja menyuruh memfotocopy karena isi proposal itu


sangat rahasia, lagipula supir itu bukan supir dari kantornya. Hanya fasilitas


dari panitia yang menyelenggarakan acara ini.


Dengan hati


yang mendadak jadi gundah dan tidak nyaman, Evelyn melihat ke pertokoan yang


dilewatinya.


Hingga


sampailah disebuah toko foto copy, mobil itu berhenti.


Evelyn


segera turun, dan bergegas menuju toko itu. Setelah mengatakan apa yang


diperlukannya, diapun hanya tinggal menunggu.


Disebelah


toko foto copy itu ada sebuah kantor notaris. Dari pintu kantor itu keluar seorang


pria yang melihat jam tangannya seperti sedang menunggu seseorang.


Pandangan


pria itu melihat ke sekeliling termasuk kearah Evelyn. Asalnya pria itu hanya


mengalihkan pandangannya tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, diapun kembali menoleh


pada Evelyn yang berbicara dengan petugas toko.


Dilihatnya


wanita itu dari atas sampai bawah, senyum mengembang di bibirnya. Dia tidak


menyangka setelah sekian lama akan melihat wanita itu dengan penampilan yang


berbeda. Tubuhnya lebih berisi dan terlihat body goal, sepertinya benar-benar


menjaga tubuhnya karena yang dia tahu wanita itu sedang hamil. Sepertinya sudah


melahirkan.


Dengan


senyum masih mengembang dibibirnya, pria itu menghampiri Evelyn.


“Hai, apa


kabarmu? Istri Jeremy?” tanya pria itu, membuat Evelyn terkejut ada yang mengenalinya


istri Jeremy. Diapun menoleh pada pria itu dan semakin terkejut saat


melihatnya.


“Ryan?”


tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


***


__ADS_2