
“Apa yang
kau lakukan?” bentak Evelyn mendorong tubuh itu menjauh.
Evelyn melap
bibirnya sambil memberengut. “Lain kali jangan kau ulangi.”
Setelah itu
diapun pergi. Jeremy hanya mematung, ternyata daya tarik mantan istrinya masih
sangat kuat padanya.
Diapun
keluar dari ruangan itu. Saat Evelyn masuk ke lift, dia terkejut saat pria itu
sudah berdiri disampingnya.
“Kau mau apa
lagi?” bentak Evelyn.
“Mau apa
lagi kalau bukan mengikuti workshop tadi.”
Evelyn tidak
bicara lagi, hanya berdiri diam membisu melihat pintu lift yang menutup.
***
Rumah Jeremy.
Sebuah mobil
berhenti di gerbang. Pak Satpam segera turun dari posnya, lalu menghampiri
mobil yang berkaca hitam itu.
“Selamat
siang!”
“Apa Pak
Jeremy ada?” tanya sosok pengemudi itu.
Pak Satpam
mencoba melihat orang yang didalam itu yang kepalanya ditutup kain.
“Ibu siapa?”
Kaca jendela
itu terbuka setengah, barulah Pak Satpam tahu siapa yang ada didalam mobil itu.
Seorang wanita yang membuka kaca mata hitamnya. Dengan sebuah kain menutupi
kepalanya diikatkan kedagunya.
“Aku Selena.”
“Oh Bu
Selena!”
“Pak Jeremy
ada?”
“Tidak ada
Nyonya, sedang ada acara diluar. Pulangnya mungkin besok.”
“Besok? Itu
terlalu lama. Coba kau telpon dia, katakan aku datang dari Hongkong, lelah. Mau
istirahat di rumah.”
“Baik. Bu!”
Pak Satpampun membukakan gerbangnya.
Mobil selena
masuk melewati gerbang menuju halaman rumahnya Jeremy.
Pak Satpam
langsung menghubungi ponselnya Jeremy. Sementara Jeremy sudah berkumpul lagi
dengan pengusaha yang lain tapi tidak bersama Pak Enzi, tapi matanya sedikit
sedikit melirik pada mantan istrinya, dia benar-benar merindukannya. Dia merasa
bingung harus bagaimana lagi membujuk Evelyn supaya kembali padanya padahal dia
sudah setia menunggunya.
“Halo!” sapa
Jeremy.
“Pak Jeremy?”
“Ya.
Sebentar aku keluar dulu.” Jeremypun langsung keluar dari ruangan itu.
Masih di
sofa yang tadi, Evelyn menghampiri Enzi dan memberikan proposal itu. Pria muda itu
langsung memeriksanya.
“Ternyata
benar, sangat murah. Biayanya bisa memangkas pengeluaran lumayan banyak, Bu
__ADS_1
Evie.”
“Benar
begitu, Pak?”
“Iya.”
“Bu Evelyn,
sepertinya kita perlu memfotocopy proposalnya, ini punya orang, fotocopy dua
buku, biar Bu Evie juga bisa baca,” kata Enzi sambil memberikan proposal itu.
“Tapi kata
Pak Jeremy ini khusus yang punya domisili Ibukota.”
“Wah begitu?
Kita tidak ada kantor khusus di ibukota. Tapi proyek kita jangka panjang,
sayang kalau tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan Pak Jeremy.” Enzi tampak
berpikir.
Evelyn hanya diam saja.
“Mungkin
kita harus mencari kontrakan kantor sementara, Bu Evie. Hanya untuk persyaratan
Domisili saja dulu.”
“Tapi Pak, bukan
saya kan yang ditempatkan di ibukota? Saya ada anak di rumah.”
Enzi menatap
Evelyn. “Itu bisa dibicarakan nanti, tapi saya memang butuh Bu Evie sebelum
semua berjalan lancar.”
Evelyn
mendadak lesu saja.
“Paling
nanti saya kasih Bu Evie rumah dinas, Ibu bisa bawa Ayres juga, dia belum
sekolah kan?”
Mendengar
perkataannya Enzi semakin membuat Evelyn serba salah. Enzi tidak tahu ini akal-akalan
Jeremy saja biar bisa bertemu dengannya lagi.
“Kalau
begitu saya fotocopy dulu Pak, mumpung masih siang.”
“Iya.”
Evelyn bangun dan keluar dari ruangan itu, tapi dia melambatkan langkahnya saat
melihat sosok Jeremy di depan pintu, sepertinya pria itu baru keluar untuk
menerima penelpon di ponselnya.
“Ada apa?”
tanya Jeremy.
Evelyn
berjalan kesamping, menghindari terlihat oleh Jeremy yang membelakanginya.
“Ini Pak, ada
Bu Selena dari Hongkong.”
“Selena? Selena
ada di rumah?”
Langkah kaki
Evelyn langsung saja berhenti. Wajahnya langsung saja merah padam. Baru saja
pria itu mengatakan hal-hal yang seakan sudah berubah ternyata semuanya palsu.
Evelyn langsung
membalikkan badannya menghadap Jeremy, dia ingin tahu apa lagi yang akan
dibicarakan pria itu tentang Selana.
Sakit hati
kembali menjalar di dadanya, ternyata Jeremy pembohong. Untung saja dia tidak langsung
percaya, ternyata pria itu membohonginya, dasar mafia!
“Kau sudah
bilang kalau aku pulang besok?” tanya Jeremy.
“Sudah, Pak!”
“Hem!”
Jeremy menghela nafas sebentar, dia juga kaget setelah 5 tahun tidak ada kabar
ternyata Selena datang lagi, menambah masalah saja, pikirnya.
“Baiklah,
nanti aku pulang sebentar.”
“Baik, Pak,
__ADS_1
nanti saya beritahu Bu Selena.”
Percakapanpun
selesai. Jeremy mengerutkan dahinya merasa heran apa tujuannya Selena kembali
kesini kalau memang 5 tahun terakhir ini dia ada di Hongkong. Apa karena
mendengar kalau dia sudah sembuh seperti sedia kala?
Jeremy
membalikkan badannya sambil memasukkan ponsel ke sakunya akan masuk lagi ke
dalam. Dan dia terkejut melihat Evelyn sedang menatapnya tajam.
“Kau mau kemana?”
tanya Jeremy berusaha bersikap tenang.
“Tidak perlu
bas abasi! Dasar pembohong! Untung aku tidak percaya ucapanmu! Tidak perlu sok
sok tidak bisa melupakanku! Aku bukan anak ingusan yang bisa kau permainkan!
Dan harus ingat kalau aku bukan istrimu lagi!” maki Evelyn.
“Kau
mendengar pembicaraanku tadi? Tentang Selena?”
“Nah ngaku
kan, sekarang! Dengar, jauh-jauh dariku!” Evelyn langsung saja beranjak pergi
menahan rasa kesalnya.
Jeremy terbengong
saja melihatnya, dia tidak menyangka kalau Evelyn mendengar perkataannya tadi
tentang Selena.
“Tambah runyam
saja. Lagipula buat apa Selena datang lagi?”
Evelyn
keluar dari Hotel itu menahan tangis yang ingin meledak.Bayangan bagaimana
kisah Jeremy dan Selena membuatnya merasa sakit hati lagi. Wanita penghibur Jeremy
itu ternyata masih ada dalam kehidupan Jeremy. Sungguh Jeremy memang tidak layak untuk dipercaya.
Evelyn
meminta supir kepada panitia untuk mengantarnya memfotocopy berkas proposal
itu. Dia tidak bisa begitu saja menyuruh memfotocopy karena isi proposal itu
sangat rahasia, lagipula supir itu bukan supir dari kantornya. Hanya fasilitas
dari panitia yang menyelenggarakan acara ini.
Dengan hati
yang mendadak jadi gundah dan tidak nyaman, Evelyn melihat ke pertokoan yang
dilewatinya.
Hingga
sampailah disebuah toko foto copy, mobil itu berhenti.
Evelyn
segera turun, dan bergegas menuju toko itu. Setelah mengatakan apa yang
diperlukannya, diapun hanya tinggal menunggu.
Disebelah
toko foto copy itu ada sebuah kantor notaris. Dari pintu kantor itu keluar seorang
pria yang melihat jam tangannya seperti sedang menunggu seseorang.
Pandangan
pria itu melihat ke sekeliling termasuk kearah Evelyn. Asalnya pria itu hanya
mengalihkan pandangannya tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, diapun kembali menoleh
pada Evelyn yang berbicara dengan petugas toko.
Dilihatnya
wanita itu dari atas sampai bawah, senyum mengembang di bibirnya. Dia tidak
menyangka setelah sekian lama akan melihat wanita itu dengan penampilan yang
berbeda. Tubuhnya lebih berisi dan terlihat body goal, sepertinya benar-benar
menjaga tubuhnya karena yang dia tahu wanita itu sedang hamil. Sepertinya sudah
melahirkan.
Dengan
senyum masih mengembang dibibirnya, pria itu menghampiri Evelyn.
“Hai, apa
kabarmu? Istri Jeremy?” tanya pria itu, membuat Evelyn terkejut ada yang mengenalinya
istri Jeremy. Diapun menoleh pada pria itu dan semakin terkejut saat
melihatnya.
“Ryan?”
tanyanya tidak percaya.
__ADS_1
***