Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-24 Pergi


__ADS_3

Evelyn terkejut saat melihat ponselnya berdering, tapi saat dilihatnya nomor tidak dikenal, dia berfikir dua kali.


Jeremy merasa kesal karena panggilannya tidak diangkat, diapun berpindah video call. Evelyn melihat nomor itu melakukan video call, membuatnya akhirnya menerima video call itu dan dia terkejut saat yang muncul dilayar wajahnya suaminya yang sudah dua bulan tidak ada menghubunginya.


Jeremy melihat wajah istrinya itu yang terlihat pucat.


“Kau sedang apa? Kenapa aku menelpon lama sekali diangkatnya?” tanya Jeremy dengan kesal.


“Aku baru pulang, aku merasa lelah saja,” jawab Evelyn, dengan banyak fikiran di kepalanya apakah harus memberitahu soal kehamilannya atau jangan.


Jeremypun diam, dia tidak tahu harus bicara apa. Dilihatnya wanita itu juga hanya diam saja.


“Apa kau sakit?” tanyanya.


“Tidak, aku baik-baik saja, hanya..” jawab Evelyn, dia merasa bingung, walaubagaimanapun Jeremy ayah dari bayi yang dikandungnya, seharusnya memang Jeremy tahu soal itu karena kehamilannya tidak akan bisa ditutup-tutupi lagi, kalau bulan depan dia pulang juga perutnya kelihatan membesar.


“Hanya apa?” tanya Jeremy.


“Ada yang ingin aku sampaikan,” jawab Evelyn.


“Soal apa?” tanya Jeremy.


“Sebenarnya aku tadi sudah..” jawab Evelyn, tapi ucapannya terhenti saat dia melihat seseorang yang berada di belakang Jeremy. Keluar dari kamar mandi  dengan rambut yang ditutup handuk.


Serasa disambar gledek saat melihat sosok itu, matanya langsung memerah dan berkaca-kaca, sakit hati sudah tidak bisa ditutupi lagi, wanita yang bersama Jeremy itu ternyata Selena.


Bukannya waktu itu Jeremy merasa kesal dan mengajaknya pulang gara-gara Selena menyatakan cinta padanya? Kenapa ternyata dia membawa Selena ke Hongkong?


Hati Evelyn hancur seketika, dia yang akan memberitahukan kabar kehamilannya mendadak enggan untuk bicara. Bibirnya mengatup kuat, serasa tangisannya ingin meledak saat itu juga.


“Kau mau bicara apa?” tanya Jeremy.


Evelyn hanya diam tidak menjawab.


“Kau sedang bicara dengan siapa?” tanya Selena pada Jeremy yang berbaring menelungkup melakukan video call dengan Evelyn.


Selena mencondongkan tubuhnya ikut melihat kearah video dan dia terkejut saat melihat wajah Evelyn di video itu. Awalnya dia merasa kesal ternyata Jeremy menghubungi Evelyn tapi kemudian dia merasa senang setidaknya Evelyn tahu kalau dia ada menemani Jeremy selama di Hongkong.


“Kenapa kau diam saja?” tanya Jeremy, yang tidak memperdulikan ada Selena di dekatnya.


“Tidak apa-apa, aku mau ke kamar mandi, aku capek, aku baru pulang kerja,” jawab Evelyn dan langsung menutup ponselnya.


Airmatanya tumpah tak tertahankan, inginnya dia marah, memaki, mencaci apa akan ada hasilnya? Tidak, Jeremy mana mau mendengar ucapannya, keluhannya, dia selalu semaunya, tidak menghargai perasaannya karena pria itu tidak mencintainya.


Evelyn menghapus airmatanya. Dia ingin menghakhiri semuanya, dia harus pergi. Dia tidak mau Jeremy tahu tentang kehamilannya, dia akan pergi jauh dari pria itu. Pergi untuk selama-lamanya.


Diapun segera bangun dan mengepak barang-barangnya, sambil menghubungi nomornya Desi.


“Desi kau tahu dimana aku bisa mendapatkan rumah petak atau kos-kosan? Tidak perlu besar, asal cukup buatku saja, kalau bisa malam ini,” kata Evelyn.

__ADS_1


“Kenapa kau tiba-tiba mencari kos-kosan? Kau bertengkar dengan suamimu? Apa suamimu tidak senang kau hamil?” tanya Desi.


Belum juga Evelyn menjawab, Desi sudah  bicara lagi.


“Maaf kalau aku banyak tanya, kalau kau mau malam ini kau tidur bersamaku saja, kebetulan dirumah sepi, orangtuaku sedang keluar kota,” kata Desi.


“Aku takut merepotkanmu,” ucap Evelyn.


“Tidak apa-apa, kau datang saja ke rumahku, sekalian aku carikan kos-kosannya,” kata Desi.


“Baiklah, aku minta alamat rumahmu,” ucap Evelyn.


Evelyn menutup telponnya dan bergegas memasukkan barang-barangnya ke koper. Sempat terfikir apa dia pulang saja ke rumah tapi dia takut Jeremy berulah menyakiti ayahnya juga Pak Kades mertuanya.


Tidaklah, dia tidak mau ayah dan mertuanya tahu soal ini. Yang penting dia harus pergi jauh dari Jeremy. Sepertinya itu lebih baik, dia ingin hidup tenang dan bahagia dengan bayi yang dikandungnya. Soal Jeremy dengan Selena, dia masa bodoh, dia terlalu capek memikirkannya, dia hanya tidak mau tersakiti dengan bayinya.


Sementara itu Jeremy keheranan kenapa Evelyn mematikan ponselnya, diapun segera duduk meskipun Selena sudah berpindah berada diatas pungunggnya.


“Dia itu kenapa? Seenaknya saja menutup telpon tanpa bicara apa-apa,” keluh Jeremy, sambil menatap ponselnya yang mati.


Selena memberengut melihat Jeremy memikirkan Evelyn yang menutup telponnya.


“Sudah biarkan saja!” kata Selena, sambil menarik piyamanya Jeremy lepas dari bahunya, lalu mulai mencium lehernya.


Jeremy hanya diam saja sambil menyalakan lagi ponselnya. Selena melihat Jeremy yang akan menelpon lagi langsung beraksi, dia tidak mau Jeremy kefikiran Evelyn, dia tidak mau Jeremy berpaling darinya hanya demi Evelyn, dia harus mencegahnya.


Selenapun menyusupkan kedua tangannya ke tubuhnya Jeremy. Membuat pria itu menoleh pada Selena yang langung menciumnya, membuat Jeremy lupa akan menelpon Evelyn lagi.


“Suamimu belum siap menerima kehamilanmu? Dia belum siap punya anak?” tanya Desi, saat tangis Evelyn mulai reda.


“Aku belum bilang soal itu,” jawab Evelyn.


“Terus apa masalahnya?” tanya Desi.


“Dia masih bersama wanita itu. Ternyata dia pergi ke Hongkong dengan wanita itu,” jawab Evelyn dan kembali terisak.


Desipun terdiam sesaat.


“Suamimu selingkuh?” tanya Desi.


Evelyn menatap Desi.


“Aku tidak mau dia tahu aku hamil dan menemukan keberadaanku, tapi aku juga tidak bisa pulang, menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Evelyn.


“Kau tidak mau suamimu tahu kau hamil kenapa? Dia pasti senang dengan kehamilanmu!” kata Desi.


“Suamiku tidak mencintaiku, aku takut dia mengambil bayiku saat dia mencampakkanku,” kata Evelyn, membuat Desi terkejut.


“Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi sebagai temanmu, aku hanya mencoba membantumu saja, kira-kira apa yng bisa aku lakukan untuk meringankan bebanmu,” kata Desi lagi.

__ADS_1


“Dari kantor juga pasti akan memecatku kan kalau ketahuan aku hamil?” tanya Evelyn.


“Iya, perutmu tidak bisa disembunyikan pasti lama-lama memmbesar,” kata Desi.


Evelynpun diam, dia harus memikirkan penghasilan untuk dirinya dan bayinya. Dia menagambil uang yang Jeremy beri dan mungkin dia bisa mendapatkannya untuk modal usaha atau apa, yang pasti dia harus pergi dari Jeremy. Dia tidak mau Jeremy tahu kalau dia hamil.


Jermy merasa ada yang aneh dalam hatinya, meliaht Evelyn yang pucat dan hanya menutup telponnya saja, dia tahu pasti Evelyn melihat Selena, tapi kenapa Evelyn tidak marah-marah atau memakinya malah menatapnya, dan mematikan ponselnya.


“Kau ini kenapa?” tanya Selena, karena Jeremy tampak tidak bernafsu padanya.


Pria itu malah turun dari tempat tidur lalu mengambil botol minumnya dituangkan ke gelas dan di teguknya sampai habis.


Diambilnya ponselnya dan medial nomornya Evelyn tapi tidak aktif, diapun mengerutkan dahinya, dia semakin heran saja, apa Evelyn melakukukan sesuatu? Tapi apa? Kembali lagi di telponnya masih juga seperti itu.


Selena menutup tubuhnya dengan selimut, wajahnya memberengut kesal melihat sikap Jeremy itu.


Pria itu berkali-kali menelpon Evelyn yang tidak bisa dihubungi, diapun menelpon Bibi, itupun dia menanyakannya dulu ke pos satpam gerbang rumahnya.


“Bibi, panggilkan istriku, aku mau bicara!” kata Jeremy say menelpon Bibi.


“Ibu tidak ada dirumah, Pak,”  jawab Bibi.


“Tidak ada dirumah bagaimanaa?” tanya Jeremy.


“Ibu baru saja keluar sepertinya akan bepergian jauh soalnya membawa koper,” jawab Bibi.


Raut wajah Jeremy langsung memerah.


“Apa masukmu keluar? Membawa koper?” bentaknya.


“Iya Pak, Ibu pergi bawa koper tidak bilang apa-apa,” jawab Bibi.


Jeremy merasa kesal mendengarnya dan dia menendang meja sampai menggeser menabrak kursi.


“Dia itu apa-apaan? Dia mau pergi kemana?  Bikin masalah saja!” gerutunya dengan kesal.


“Aku sudah curiga dengan diamnya dia!” gerutu Jeremy.


“Kau ini ada apa marah-marah?” tanya Selena , membuat Jerey menatap wanita itu.


“Ini semua pasti kerena kau!” bentak Jeremy pada Selena yang langsung kaget karena dibentak Jeremy.


“Buat apa kau  nimbrung muncul saat aku video call dengan  Evelyn heh?” makinya dengan marah, membuat Selena semakin terkejut saja.


“Memangnya apa salahku?” tanya Selena.


“Sepertinya Evelyn pergi dari rumah,” kata Jeremy.


“Bukankah itu bagus? Kau tidak terganggu olehnya kan?” ucap Selena.

__ADS_1


“Diam kau! Kalau Ayahku marah bagaimana? Kau mau tanggung jawab?” maki Jeremy, membuat Selena diam. Hatinya kembali kesal, kenapa Jeremy malah jadi perhatian pada wanita itu?


*****


__ADS_2