Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-71 Jeremy Mengajak Rujuk


__ADS_3

Jeremy


mengikuti Evelyn dan Ayres ke ruang makan. Dia merasa senang melihat kaki kaki


mungil itu berjalan disamping ibunya. Dia semakin tidak mau dua sosok yang


berjalan didepannya itu menjauh darinya. Dia terus berpikir bagaimana caranya


supaya keduanya tidak pergi dari rumah ini.


Evelyn masuk


ke ruangan itu tapi kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap


Jeremy yang langsung berhenti menatapnya.


“Aku lupa,


tidak seharusnya aku kesini, mungkin saja ada wanita lain yang keberatan, aku


minta maaf, mungkin aku akan mengajak Ayres makan diluar saja. Aku harus


mengambil uangku dulu.” Evelyn bicara pelan supaya tidak terdengar Ayres, dia akan


pergi tapi tangannya dipegang Jeremy dengan kuat.


Pria itu memiringkan


kepalanya ke telinganya Evelyn. “Tidak ada wanita lain. Duduklah. Kita makan,


aku juga lapar,” bisik Jeremy, melirik wanita itu, tercium harum rambutnya,


membuat bayangannya ke hal-hal lainnya, ingin menciumnya lebih lama dan mencumbunya.


Evelyn melepaskan


tangannya lalu menoleh pada Ayres yang sudah duduk di salah satu kursi tapi


mejanya ketinggian, sampai dia harus meninggikan lehernya untuk melihat menu di


meja.


Jeremy yang


melihat ulahnya langsung tersenyum. Sebelum Evelyn mendekatinya, pria itu


langsung membuka jasnya dan dilempar ke salah satu kursi kosong, lalu mendekati


Ayres, mengangkat tubuhnya dan mendudukannya dipangkuannya.


Ayres


menoleh pada Jeremy. “Kata Ibu aku harus makan sendiri.”


Jeremy


langsung terpaku. “Tapi kau masih kecil.”


“Aku sudah


besar.”


“Ooh..terus


bagaimana caramu makan? Tubuhmu tidak sampai.” Jeremy menatap wajah mungil


didepannya itu. Sungguh tidak pernah bosan melihatnya. Apa benar dia anakku?


Aku punya anak? Rasanya seperti mimpi ada mahluk hidup yang lahir sebagai keturunannya.


“Aku harus


makan dimana?”


“Sudah


sementara ini kau duduk disini. Kau mau makan apa? Kesukaanmu apa?”


Jeremy membuka


piring didepannya, mengambil pisau dan garpu disimpan diatas piring.


Ayres


mendongak lagi.


“Ada apa


lagi? Kau mau makan apa?”


“Aku tidak


boleh pakai pisau..”


“Ooh.”


Jeremy menyimpan lagi pisaunya diganti dengan sendok.


“Apa ini


sudah benar?”


“Ya.” Ayres


mengangguk.


Tangannya


menunjuk menu yang dia suka, lalu mulai makan dengan tangannya Sendiri.


Jeremy malah


melihat tangan-tangan kecil itu dengan cekatannya makan meni dipiringnya, cara


makannyapun sangat rapih dan bersih, tidak berserakan.


“Cara


makannya sepertimu.” Tiba-tiba suara Evelyn mengejutkannya, dia terlalu focus


pada Ayres.


Jeremy


menatap wanita itu yang sedang mengisi piringnya dengan menu makanan


didepannya. Hatinya semakin tidak mau kehilangan keduanya. Beberapa waktu


berkumpul begini membuat rumahnya terasa hangat.


Evelyn


menyodorkan piring ke depan Jeremy. “Makanlah.”


Jeremy melihat


kearah piring itu, ternyata Evelyn mengambilkan makan untuknya dan menunya

__ADS_1


adalah menu kesukaannya.


“Kau masih


ingat makanan kesukaaanku.”


“Tentu saja karena


kau satu-satunya pria yang pernah jadi suamiku,” jawab Evelyn merendahkan


suaranya jangan sampai mengundang rasa ingin tahu Ayres. Tapi anak kecil itu


begitu lahap makannya sepertinya begitu lapar.


Evelyn


mengambil piring untuknya makan. Jeremypun menyantap makannya sambil memperhatikan


Ayres. Benar kata Evelyn makannya sangat bersih dan rapih, sepertinya yang tidak


suka kalau makan berantakan.


“Malam ini


kau tidur denganku, apa kau mau?” tanya Jeremy.


Evelyn


terkejut dan menoleh tapi ternyata Jeremy bertanya bukan padanya tapi pada Ayres,


pria itu menunduk melihat pada putranya itu, dia pikir Jeremy bertanya padanya.


Evelyn melanjutkan


makannya dan terkejut lagi mendengar suara Jeremy.


“Dengan


Ibumu juga.”


“Tidak. Aku tidur


bersama Ayres saja. Bukannya kau ada yang lainnya?” gumam Evelyn.


Jeremy mengerutkan


dahinya karena Evelyn seperti sedang menyindir soal wanita dan dalam beberapa


detik kemudian dia teringat sesuatu. Ada Selena di kamar tamu. Hampir saja dia lupa


mengurus wanita itu. Sepertinya Evelyn sudah tahu ada Selena di rumah ini


makanya menyindir terus.


“Sayang,


makan yang banyak biar cepat besar. Apa kau punya cita-cita?” Jeremy bertanya


pada Ayres sambil dia juga menyantap makannya dengan satu tangan saja.


“Aku kan


sudah bilang, aku ingin jadi polisi untuk menumpas kejahatan di muka bumi ini.”


“Oh, iya


lupa.”


Evelyn hanya


Jeremy


mendekatkan hidungnya pada kepalanya Ayres, mencium bau rambut itu sangat


harum. Ternyata dia merasa kalau dia menyayanginya. Ternyata punya anak itu


sangat membahagiakan meskipun Ayres tidak tahu kalau dia adalah ayah


kandungnya.


“Besok pagi


aku harus pulang.”


“Pulang? Tidak,


tidak, nanti saja. Ayres baru kesini, biarkan dia puas bermain di rumah ini.”


“Ayah..”


“Nanti aku


bicara pada Ayah, aku akan menelponnya mengabari kalau kalian ada di rumahku.


Bagaimana? Kau setuju?”


Evelyn menggeleng


tanpa bicara lalu makan lagi.


“Beberapa


hari saja.”


Wanita itu


masih tidak menjawab.


Jeremy


menghela nafas panjang, dia tidak rela kalau evelyn pergi bersama Ayres. Baru


juga dia merasakan kehangatan di rumah ini. Besok dia tidak akan bekerja, dia


ingin seharian bersama anak istrinya di rumah.


“Apa kau


tahu ada tempat bermain yang sangat luas di kota ini?”


“Aku tahu.”


“Hem, kau


pernah ke tempat itu?”


“He em.”


“Kau ingin


kesana lagi?”


“He em.”


“Baiklah,


kita kesana besok, bagaimana?”

__ADS_1


“Benarkah?”


Ayres berseru senang menatap Jeremy yang mengangguk sambil tersenyum, senang


sekali hatinya melihat wajah mungil itu. Kira-kira apa reaksi Ayres kalau tahu


jika dia adalah ayah kandungnya.


“Besok kita


kesana.”


“Hore, aku


senang!”


“Ayres!”


Terdengar suara Evelyn, membuat anak itu muram.


“Maaf Om,


aku tidak bisa.” Ayres kembali makan dengan lambat sambil menunduk, terlihat


sekali kalau kecewa.


Jeremy


menoleh pada Evelyn. “Tidak apa, aku tidak keberatan mengajaknya bermain, aku


akan libur beberapa hari menemani Ayres. Aku ingin mengajaknya keliling kota. Kalau


perlu keluar negeri juga tidak masalah.”


“Keluar negeri?


Tidak -tidak.” Evelyn menggeleng.


“Keluar


negeri?” terdengar suara Ayres. “Apa itu jauh?”


“Jauh,


Sayang. Tapi sebentar kalau dengan naik pesawat. Kau pernah ke luar negeri?”


“Tidak, Ibu tidak


pernah mengajakku keluar negeri.”


Jeremy


langsung saja bercerita negara-negara yang sering pernah dia kunjungi.


“Sepertinya


menyenangkan. Om sering main ya?”


“Ya, jalan-jalan.


Kapan-kapan kalau kau mau boleh ikut.”


Evelyn menghela


nafas, melihat Ayres yang mulai akrab dengan Jeremy menimbulkan rasa was-was


sendiri dalam hati Evelyn. Dia takut Jeremy mengatakan pada Ayres kalau dia


ayah kandungnya. Dia sudah terlanjut mengatakan ayahnya sudah meninggal. Dia


tidak mau Jeremy dekat dengan Ayres, dia tidak mau keburukan Jeremy akan diikuti


oleh putranya suatu saat nanti.


Sampai Ayres


tidur di kamar tidur anak itu, Jeremy sama sekali tidak mau jauh. Dia terus menemani


apapun yang anak itu lakukan sampai akhirnya tertidur di tempat tidur dengan


sprei gambar binatang Binatang.


Diambilnya


selimut lalu menyelimuti tubuh anak itu. Hatinya semakin tidak mau Ayres


meninggalkan rumahnya.


Diapun


menoleh pada Evelyn yang berdiri bersandar di dekat lemari mainan memperhatikannya


dari tadi. Mantan istrinya itu seperti pengawas yang ketakutan dia akan


menculik Ayres.


“Aku tidak


mau Ayres pergi dari rumah ini. Aku ingin dia bersamaku.” Jeremy langsung jujur


saja tentang perasaannya.


“Aku katakan


pada Ayres kalau Ayahnya sudah meninggal.”


“Aku tidak


apa kalau kau sudah terlanjur mengatakan itu, tapi aku mohon, biarkan Ayres


tinggal bersamaku.”


Evelyn


terdiam mendengar permintaan Jeremy. “Kau dan aku sudah bercerai, aku tidak


bisa lama-lama tinggal di rumahmu. Aku tidak bisa meninggalkan Ayres berdua


denganmu, aku tidak mengijinkannya.”


“Kalau


begitu kita rujuk. Menikah lagi denganku. Terserah kau mau seperti apa. Aku


akan menjalani pernikahan pada umumnya kalau kau mau. Aku tahu pernikahan kita


dulu sangat tidak baik. Aku minta maaf.”


Evelyn terdiam.


Rujuk? Rujuk dengan Jeremy?


Jeremy


menatap Evelyn yang juga menatapnya. Sementara waktu keduanya hanya diam.


***

__ADS_1


__ADS_2