
Jeremy
mengikuti Evelyn dan Ayres ke ruang makan. Dia merasa senang melihat kaki kaki
mungil itu berjalan disamping ibunya. Dia semakin tidak mau dua sosok yang
berjalan didepannya itu menjauh darinya. Dia terus berpikir bagaimana caranya
supaya keduanya tidak pergi dari rumah ini.
Evelyn masuk
ke ruangan itu tapi kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap
Jeremy yang langsung berhenti menatapnya.
“Aku lupa,
tidak seharusnya aku kesini, mungkin saja ada wanita lain yang keberatan, aku
minta maaf, mungkin aku akan mengajak Ayres makan diluar saja. Aku harus
mengambil uangku dulu.” Evelyn bicara pelan supaya tidak terdengar Ayres, dia akan
pergi tapi tangannya dipegang Jeremy dengan kuat.
Pria itu memiringkan
kepalanya ke telinganya Evelyn. “Tidak ada wanita lain. Duduklah. Kita makan,
aku juga lapar,” bisik Jeremy, melirik wanita itu, tercium harum rambutnya,
membuat bayangannya ke hal-hal lainnya, ingin menciumnya lebih lama dan mencumbunya.
Evelyn melepaskan
tangannya lalu menoleh pada Ayres yang sudah duduk di salah satu kursi tapi
mejanya ketinggian, sampai dia harus meninggikan lehernya untuk melihat menu di
meja.
Jeremy yang
melihat ulahnya langsung tersenyum. Sebelum Evelyn mendekatinya, pria itu
langsung membuka jasnya dan dilempar ke salah satu kursi kosong, lalu mendekati
Ayres, mengangkat tubuhnya dan mendudukannya dipangkuannya.
Ayres
menoleh pada Jeremy. “Kata Ibu aku harus makan sendiri.”
Jeremy
langsung terpaku. “Tapi kau masih kecil.”
“Aku sudah
besar.”
“Ooh..terus
bagaimana caramu makan? Tubuhmu tidak sampai.” Jeremy menatap wajah mungil
didepannya itu. Sungguh tidak pernah bosan melihatnya. Apa benar dia anakku?
Aku punya anak? Rasanya seperti mimpi ada mahluk hidup yang lahir sebagai keturunannya.
“Aku harus
makan dimana?”
“Sudah
sementara ini kau duduk disini. Kau mau makan apa? Kesukaanmu apa?”
Jeremy membuka
piring didepannya, mengambil pisau dan garpu disimpan diatas piring.
Ayres
mendongak lagi.
“Ada apa
lagi? Kau mau makan apa?”
“Aku tidak
boleh pakai pisau..”
“Ooh.”
Jeremy menyimpan lagi pisaunya diganti dengan sendok.
“Apa ini
sudah benar?”
“Ya.” Ayres
mengangguk.
Tangannya
menunjuk menu yang dia suka, lalu mulai makan dengan tangannya Sendiri.
Jeremy malah
melihat tangan-tangan kecil itu dengan cekatannya makan meni dipiringnya, cara
makannyapun sangat rapih dan bersih, tidak berserakan.
“Cara
makannya sepertimu.” Tiba-tiba suara Evelyn mengejutkannya, dia terlalu focus
pada Ayres.
Jeremy
menatap wanita itu yang sedang mengisi piringnya dengan menu makanan
didepannya. Hatinya semakin tidak mau kehilangan keduanya. Beberapa waktu
berkumpul begini membuat rumahnya terasa hangat.
Evelyn
menyodorkan piring ke depan Jeremy. “Makanlah.”
Jeremy melihat
kearah piring itu, ternyata Evelyn mengambilkan makan untuknya dan menunya
__ADS_1
adalah menu kesukaannya.
“Kau masih
ingat makanan kesukaaanku.”
“Tentu saja karena
kau satu-satunya pria yang pernah jadi suamiku,” jawab Evelyn merendahkan
suaranya jangan sampai mengundang rasa ingin tahu Ayres. Tapi anak kecil itu
begitu lahap makannya sepertinya begitu lapar.
Evelyn
mengambil piring untuknya makan. Jeremypun menyantap makannya sambil memperhatikan
Ayres. Benar kata Evelyn makannya sangat bersih dan rapih, sepertinya yang tidak
suka kalau makan berantakan.
“Malam ini
kau tidur denganku, apa kau mau?” tanya Jeremy.
Evelyn
terkejut dan menoleh tapi ternyata Jeremy bertanya bukan padanya tapi pada Ayres,
pria itu menunduk melihat pada putranya itu, dia pikir Jeremy bertanya padanya.
Evelyn melanjutkan
makannya dan terkejut lagi mendengar suara Jeremy.
“Dengan
Ibumu juga.”
“Tidak. Aku tidur
bersama Ayres saja. Bukannya kau ada yang lainnya?” gumam Evelyn.
Jeremy mengerutkan
dahinya karena Evelyn seperti sedang menyindir soal wanita dan dalam beberapa
detik kemudian dia teringat sesuatu. Ada Selena di kamar tamu. Hampir saja dia lupa
mengurus wanita itu. Sepertinya Evelyn sudah tahu ada Selena di rumah ini
makanya menyindir terus.
“Sayang,
makan yang banyak biar cepat besar. Apa kau punya cita-cita?” Jeremy bertanya
pada Ayres sambil dia juga menyantap makannya dengan satu tangan saja.
“Aku kan
sudah bilang, aku ingin jadi polisi untuk menumpas kejahatan di muka bumi ini.”
“Oh, iya
lupa.”
Evelyn hanya
Jeremy
mendekatkan hidungnya pada kepalanya Ayres, mencium bau rambut itu sangat
harum. Ternyata dia merasa kalau dia menyayanginya. Ternyata punya anak itu
sangat membahagiakan meskipun Ayres tidak tahu kalau dia adalah ayah
kandungnya.
“Besok pagi
aku harus pulang.”
“Pulang? Tidak,
tidak, nanti saja. Ayres baru kesini, biarkan dia puas bermain di rumah ini.”
“Ayah..”
“Nanti aku
bicara pada Ayah, aku akan menelponnya mengabari kalau kalian ada di rumahku.
Bagaimana? Kau setuju?”
Evelyn menggeleng
tanpa bicara lalu makan lagi.
“Beberapa
hari saja.”
Wanita itu
masih tidak menjawab.
Jeremy
menghela nafas panjang, dia tidak rela kalau evelyn pergi bersama Ayres. Baru
juga dia merasakan kehangatan di rumah ini. Besok dia tidak akan bekerja, dia
ingin seharian bersama anak istrinya di rumah.
“Apa kau
tahu ada tempat bermain yang sangat luas di kota ini?”
“Aku tahu.”
“Hem, kau
pernah ke tempat itu?”
“He em.”
“Kau ingin
kesana lagi?”
“He em.”
“Baiklah,
kita kesana besok, bagaimana?”
__ADS_1
“Benarkah?”
Ayres berseru senang menatap Jeremy yang mengangguk sambil tersenyum, senang
sekali hatinya melihat wajah mungil itu. Kira-kira apa reaksi Ayres kalau tahu
jika dia adalah ayah kandungnya.
“Besok kita
kesana.”
“Hore, aku
senang!”
“Ayres!”
Terdengar suara Evelyn, membuat anak itu muram.
“Maaf Om,
aku tidak bisa.” Ayres kembali makan dengan lambat sambil menunduk, terlihat
sekali kalau kecewa.
Jeremy
menoleh pada Evelyn. “Tidak apa, aku tidak keberatan mengajaknya bermain, aku
akan libur beberapa hari menemani Ayres. Aku ingin mengajaknya keliling kota. Kalau
perlu keluar negeri juga tidak masalah.”
“Keluar negeri?
Tidak -tidak.” Evelyn menggeleng.
“Keluar
negeri?” terdengar suara Ayres. “Apa itu jauh?”
“Jauh,
Sayang. Tapi sebentar kalau dengan naik pesawat. Kau pernah ke luar negeri?”
“Tidak, Ibu tidak
pernah mengajakku keluar negeri.”
Jeremy
langsung saja bercerita negara-negara yang sering pernah dia kunjungi.
“Sepertinya
menyenangkan. Om sering main ya?”
“Ya, jalan-jalan.
Kapan-kapan kalau kau mau boleh ikut.”
Evelyn menghela
nafas, melihat Ayres yang mulai akrab dengan Jeremy menimbulkan rasa was-was
sendiri dalam hati Evelyn. Dia takut Jeremy mengatakan pada Ayres kalau dia
ayah kandungnya. Dia sudah terlanjut mengatakan ayahnya sudah meninggal. Dia
tidak mau Jeremy dekat dengan Ayres, dia tidak mau keburukan Jeremy akan diikuti
oleh putranya suatu saat nanti.
Sampai Ayres
tidur di kamar tidur anak itu, Jeremy sama sekali tidak mau jauh. Dia terus menemani
apapun yang anak itu lakukan sampai akhirnya tertidur di tempat tidur dengan
sprei gambar binatang Binatang.
Diambilnya
selimut lalu menyelimuti tubuh anak itu. Hatinya semakin tidak mau Ayres
meninggalkan rumahnya.
Diapun
menoleh pada Evelyn yang berdiri bersandar di dekat lemari mainan memperhatikannya
dari tadi. Mantan istrinya itu seperti pengawas yang ketakutan dia akan
menculik Ayres.
“Aku tidak
mau Ayres pergi dari rumah ini. Aku ingin dia bersamaku.” Jeremy langsung jujur
saja tentang perasaannya.
“Aku katakan
pada Ayres kalau Ayahnya sudah meninggal.”
“Aku tidak
apa kalau kau sudah terlanjur mengatakan itu, tapi aku mohon, biarkan Ayres
tinggal bersamaku.”
Evelyn
terdiam mendengar permintaan Jeremy. “Kau dan aku sudah bercerai, aku tidak
bisa lama-lama tinggal di rumahmu. Aku tidak bisa meninggalkan Ayres berdua
denganmu, aku tidak mengijinkannya.”
“Kalau
begitu kita rujuk. Menikah lagi denganku. Terserah kau mau seperti apa. Aku
akan menjalani pernikahan pada umumnya kalau kau mau. Aku tahu pernikahan kita
dulu sangat tidak baik. Aku minta maaf.”
Evelyn terdiam.
Rujuk? Rujuk dengan Jeremy?
Jeremy
menatap Evelyn yang juga menatapnya. Sementara waktu keduanya hanya diam.
***
__ADS_1