Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-68 Sebenarnya Apa Yang Diinginkan Jeremy


__ADS_3

Evelyn merasa terkejut dia berada disebuah kamar dan dia mengenali kamar siapa ini?


Kamarnya Jeremy dan dia berada diatas tempat tidur yang biasa digunakannya.


Evelyn segera


turun dan mencoba keluar kamar tapi ternyata dikunci dari dalam.


Digedor-gedornya pintu itu.


“Jeremy!


Jeremy! Buka! Jeremy!” teriaknya.


Tapi


usahanya sia-sia. Evelyn berlari ke pintu yang menuju balkon ternyata dikunci


juga dan tidak ada kunci yang menggantung disana.


Diapun


kembali ke pintu lalu menggedor-gedornya. “Hei siapapun yang ada diluar buka


pintunya! Dimana Jeremy?”


Tetap tidak


ada yang menyahut. Evelyn merasa putus asa, akhirnya hanya bisa duduk di kursi yang


ada di ruangan itu.


Sudah


bertahun tahun dia tidak melihat kamar ini, tidak ada yang berubah, sama


seperti saat dia membawa Jeremy pulang kampung.


Evelyn pergi


ke meja rias, memeriksa peralatan kosmetik yang ada disana. Ternyata itu


barang-barangnya semua. Dibukanya lacinya, ada beberapa perhiasan yang tidak


dia bawa, semuanya utuh seperti yang dia tinggalkan dulu.


“Apa Jeremy


benar-benar tidak punya pacar? Atau memang dia jajan diluar? Rasanya tidak


mungkin pria itu tidak berhubungan dengan wanita manapun, tidak mungkin!” gumam


Evelyn.


Diapun


bangun lalu pergi ke ruangan penyimpanan pakaian. Dilihatnya semua tidak ada


yang berubah. Bahkan saat membuka lemari pakaiannya, baju-bajunya masih


tergantung disana. Sepatu-sepatu sandalpun masih ada disana.


Yang memang


Evelyn tidak membawa banyak barang saat pulang kampung dulu.


Wanita


cantik itupun keluar dari ruangan itu. Matanya terhenti pada koper yang ada di


pojok ruangan itu. Segera dihampirinya, ternyata memang miliknya. Bahkan tasnya


juga ada. Diambilnya tasnya lalu mengeluarkan ponselnya. Dicarinya nomor Jeremy


tidak ada, karena memang tidak menyimpan nomor pria itu.


Dibukanya


menu pesan, ternyata ada pesan dari Enzi, lalu dibukanya. Ternyata dia


mengirimkan pesan pada Enzi kalau dia pulang duluan karena anaknya sakit. Dan Enzi


merasa kaget, seharusnya Evelyn tidak pulang malam.


“Jeremy yang


melakukannya? Pria itu, masih saja suka memaksa, tidak berubah,” gerutu Evelyn.


Dia teringat


terakhir dia sadar sedan gada di kamar di hotel itu dan tiba-tiba ada yang


menyekapnya dari belakang lalu tidak sadarkan diri. Ternyata dia terbangun di


kamarnya Jeremy.


“Kenapa dia itu


bikin ulah terus? Katanya berubah, berubah apanya?”


Karena


merasa gerah dan tubuhnya lengket, Evelyn pergi ke kamar mandi, mandi disana


dan berganti pakaian yang ada dilemari penyimpanan itu, ternyata ukurannya


sedikit kecil karena tubuhnya sekarang sedikit lebih gemuk.


Evelyn


kembali ke pintu dan menggedor pintunya berkali-kali.


“Hei, buka


pintu! Mana Jeremy? Aku lapar!” teriaknya.


“Akan


dibawakan sebentar, Bu!” ada jawaban dari luar tapi bukan suara Jeremy.


“Kau tahu dimana

__ADS_1


Jeremy?” tanyanya, tapi tidak ada yang menjawab. Sepertinya memang Jeremy


melarang siapapun untuk bicara. Evelynpun kembali duduk sambil membuka lagi


ponselnya, dia bingung kalau disekap begini, artinya dia tidak bisa pulang ke


rumah.


Tiba-tiba


ponselnya berdering. Diapun mengerutkan dahinya karena itu nomor dari ayahnya.


“Halo, Yah!”


“Sayang, kapan


kau pulang?”


“Belum tahu


Yah, mungkin agak telat, memangnya ada apa?”


“Jeremy,


Jeremy membawa Ayres!” suara Pak Arman terdengar panik.


Tentu saja


tidak beda jauh dengan Evelyn. “Jeremy membawa Ayres?”


“Benar, Sayang.


Ayah sudah mencegahnya tapi dia tidak menggubris permintaan ayah.”


Tubuh Evelyn terasa lemas, dia merasa khawatir


dengan keselamatannya Ayres.


“Ayah tahu


Jeremy akan membawanya kemana?”


“Tidak, Ayah


tidak tahu. Katanya akan mengajak Ayres bertemu denganmu. Kalau kau pulang


sekarang, mungkin kalian akan selisih jalan.”


Evelyn akan


bicara dia ada di rumah Jeremy, takutnya Ayahnya cemas.


“Ayah tenang


saja, nanti aku bicara dengan Jeremy. Ayah jangan khawatir. Jeremy tidak


mungkin menyakiti anaknya sendiri.”


“Ayah


khawatir Sayang, pria itu akan menyakiti Ayres. Kalau kau sudah bertemu Ayres


“Ya, Ayah.”


Percakapanpun


terputus. Evelyn kembali merenung. Entah apa yang ada di benaknya Jeremy,


kenapa pria itu menculiknya dan menyanderanya disini, sekarang dia malah membawa


Ayres, sebenarnya apa yang diinginkannya?


Menunggu


berjam-jam di kamarnya Jeremy membuat Evelyn kesal, dia akan merasa tidak


tenang kalau belum melihat Ayres, tapi sayang dia tidak punya telponnya Jeremy


yang baru.


Sejak


memutuskan bercerai dengan Jeremy, tidak ada satu datapun yang dia tinggalkan


untuk menghubungi Jeremy, dia benar-benar ingin putus dengan pria itu.


Tapi


sekarang, kenapa harus bertemu lagi dengan Jeremy? Sedangkan dia mendengar


sendiri kalau Jeremy sedang janjian bertemu dengan Selena.


Evelyn


mengerutkan dahinya, katanya Selena ada di rumahnya Jeremy. Diapun seegra pergi


ke ;pintu.


“Hei, kalian


ada diluar kan?” Evelyn menggedor-gedor pintu kamar itu dan sudah dipastikan


tidak ada yang menjawabnya.


Evelyn


benar-benar keki dibuatnya. Dia ingin tahu apakah Selena ada dirumah ini? Kalau


ada Selena kenapa Jeremy menculiknya segala? Buat apa? Kenapa pria itu malah ingin


menyakitinya lagi? Belum dengan menculik Ayres segala. Dia akan melihat


kelakuan ayahnya yang bejat. Evelyn menghela nafas panjang memikirkan itu


semua. Ini yang dia tdiak mau kalau berhubungan dengan kehidupannya Jeremy.


Janji sekedar


janji memang mudah diucapkan, tapi tidak mudah untuk ditepati. Seperti yang


Jeremy lakukan sekarang. Pria itu sok tidak ada wanita lain dalam hidupnya, eh

__ADS_1


janjian dengan Selena, memuakkan!


Tiba-tiba


pintu terbuka, Evelyn langsung pergi kearah pintu. Ternyata Bibi membawakan


makanan buatnya, dengan dua orang pria tinggi besar dibelakangnya.


“Simpan saja


disana.” Kata Evelyn pada Bibi dan dua pelayan lainnya.


Dia merasa


heran karena yang dibawakan banyak sekali makanan, termasuk buah-buahan.


“Kenapa makanannya


begitu banyak?” tanya Evelyn.


“Pak Jeremy


tidak tahu Bu Evelyn mau makan apa, jadi menyuruh menyiapkan banyak makanan.”


Evelynpun diam.


“Terus kata


Pak Jeremy, Bibi harus menanyakan makanan yang disukai Den Ayres.”


“Makanan untuk


Ayres?”


“Dia makannya


asal jangan yang pedas saja.” Ada rasa tenang dihatinya Evelyn, itu artinya


Jeremy memang akan membawa Ayres ke rumah ini.


“Jeremy belum


datang?”


“Belum, Bu.”


“Oh ya Bi.


Apa kemarin ada wanita cantik datang kesini?” Evelyn menatap Bibi dengan hati


yang deg degan.


“Iya, ada,


Bu.”


“Selena,


wanita itu Selena?” tanya Evelyn.


“Iya Bu.”


Hati Evelyn


langsung kecewa. “Terus apa Selena ada di rumah ini?”


“Iya, Bu.”


“Iya? Maksudnya


apa Jeremy, membiarkan Selena tinggal di rumah ini dan dia juga membawaku


kesini?” tanya Evelyn.


“Bibi tidak


tahu Bu. Bu Selena ada di kamar tamu, sama tidak bisa keluar. Bahkan lebih


mengenaskan.”


“Mengenaskan?


Maksud Bibi apa?”


“Kemarin waktu


dipindahkan ke kamar tamu, tubuhnya digulung sprei.”


Wajah Evelyn


langsung saja memerah. “Digulung sprei maksudnya apa?”


“Tidak tahu Bu."


Evelyn


semakin bingung saja medengarnya. “Aku terpaksa harus menunggu Jeremy.”


“Kalau


begitu Bibi permisi ya Bu. Pak Jeremy melarang sering bertemu Ibu. Hanya


mengantarkan makanan saja.”


“Terus Selena


bagaimana? Bibi sudah memberinya makan? Bagaimana dia?”


“Sudah tidak di gulung sprei lagi. Tapi tidak boisa kabur karena di jaga ketat.


Evelyn benar-benar


tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Jeremy, maksudnya apa? Kenapa dia membawa


Ayres ke rumah saat ada Selena? Pria itu benar-benar tidak tahu etika,


memperlihatkan wanita lain ayahnya pada anaknya sendiri? Benar-benar


keterlaluan Jeremy.


***

__ADS_1


__ADS_2