
Evelyn merasa terkejut dia berada disebuah kamar dan dia mengenali kamar siapa ini?
Kamarnya Jeremy dan dia berada diatas tempat tidur yang biasa digunakannya.
Evelyn segera
turun dan mencoba keluar kamar tapi ternyata dikunci dari dalam.
Digedor-gedornya pintu itu.
“Jeremy!
Jeremy! Buka! Jeremy!” teriaknya.
Tapi
usahanya sia-sia. Evelyn berlari ke pintu yang menuju balkon ternyata dikunci
juga dan tidak ada kunci yang menggantung disana.
Diapun
kembali ke pintu lalu menggedor-gedornya. “Hei siapapun yang ada diluar buka
pintunya! Dimana Jeremy?”
Tetap tidak
ada yang menyahut. Evelyn merasa putus asa, akhirnya hanya bisa duduk di kursi yang
ada di ruangan itu.
Sudah
bertahun tahun dia tidak melihat kamar ini, tidak ada yang berubah, sama
seperti saat dia membawa Jeremy pulang kampung.
Evelyn pergi
ke meja rias, memeriksa peralatan kosmetik yang ada disana. Ternyata itu
barang-barangnya semua. Dibukanya lacinya, ada beberapa perhiasan yang tidak
dia bawa, semuanya utuh seperti yang dia tinggalkan dulu.
“Apa Jeremy
benar-benar tidak punya pacar? Atau memang dia jajan diluar? Rasanya tidak
mungkin pria itu tidak berhubungan dengan wanita manapun, tidak mungkin!” gumam
Evelyn.
Diapun
bangun lalu pergi ke ruangan penyimpanan pakaian. Dilihatnya semua tidak ada
yang berubah. Bahkan saat membuka lemari pakaiannya, baju-bajunya masih
tergantung disana. Sepatu-sepatu sandalpun masih ada disana.
Yang memang
Evelyn tidak membawa banyak barang saat pulang kampung dulu.
Wanita
cantik itupun keluar dari ruangan itu. Matanya terhenti pada koper yang ada di
pojok ruangan itu. Segera dihampirinya, ternyata memang miliknya. Bahkan tasnya
juga ada. Diambilnya tasnya lalu mengeluarkan ponselnya. Dicarinya nomor Jeremy
tidak ada, karena memang tidak menyimpan nomor pria itu.
Dibukanya
menu pesan, ternyata ada pesan dari Enzi, lalu dibukanya. Ternyata dia
mengirimkan pesan pada Enzi kalau dia pulang duluan karena anaknya sakit. Dan Enzi
merasa kaget, seharusnya Evelyn tidak pulang malam.
“Jeremy yang
melakukannya? Pria itu, masih saja suka memaksa, tidak berubah,” gerutu Evelyn.
Dia teringat
terakhir dia sadar sedan gada di kamar di hotel itu dan tiba-tiba ada yang
menyekapnya dari belakang lalu tidak sadarkan diri. Ternyata dia terbangun di
kamarnya Jeremy.
“Kenapa dia itu
bikin ulah terus? Katanya berubah, berubah apanya?”
Karena
merasa gerah dan tubuhnya lengket, Evelyn pergi ke kamar mandi, mandi disana
dan berganti pakaian yang ada dilemari penyimpanan itu, ternyata ukurannya
sedikit kecil karena tubuhnya sekarang sedikit lebih gemuk.
Evelyn
kembali ke pintu dan menggedor pintunya berkali-kali.
“Hei, buka
pintu! Mana Jeremy? Aku lapar!” teriaknya.
“Akan
dibawakan sebentar, Bu!” ada jawaban dari luar tapi bukan suara Jeremy.
“Kau tahu dimana
__ADS_1
Jeremy?” tanyanya, tapi tidak ada yang menjawab. Sepertinya memang Jeremy
melarang siapapun untuk bicara. Evelynpun kembali duduk sambil membuka lagi
ponselnya, dia bingung kalau disekap begini, artinya dia tidak bisa pulang ke
rumah.
Tiba-tiba
ponselnya berdering. Diapun mengerutkan dahinya karena itu nomor dari ayahnya.
“Halo, Yah!”
“Sayang, kapan
kau pulang?”
“Belum tahu
Yah, mungkin agak telat, memangnya ada apa?”
“Jeremy,
Jeremy membawa Ayres!” suara Pak Arman terdengar panik.
Tentu saja
tidak beda jauh dengan Evelyn. “Jeremy membawa Ayres?”
“Benar, Sayang.
Ayah sudah mencegahnya tapi dia tidak menggubris permintaan ayah.”
Tubuh Evelyn terasa lemas, dia merasa khawatir
dengan keselamatannya Ayres.
“Ayah tahu
Jeremy akan membawanya kemana?”
“Tidak, Ayah
tidak tahu. Katanya akan mengajak Ayres bertemu denganmu. Kalau kau pulang
sekarang, mungkin kalian akan selisih jalan.”
Evelyn akan
bicara dia ada di rumah Jeremy, takutnya Ayahnya cemas.
“Ayah tenang
saja, nanti aku bicara dengan Jeremy. Ayah jangan khawatir. Jeremy tidak
mungkin menyakiti anaknya sendiri.”
“Ayah
khawatir Sayang, pria itu akan menyakiti Ayres. Kalau kau sudah bertemu Ayres
“Ya, Ayah.”
Percakapanpun
terputus. Evelyn kembali merenung. Entah apa yang ada di benaknya Jeremy,
kenapa pria itu menculiknya dan menyanderanya disini, sekarang dia malah membawa
Ayres, sebenarnya apa yang diinginkannya?
Menunggu
berjam-jam di kamarnya Jeremy membuat Evelyn kesal, dia akan merasa tidak
tenang kalau belum melihat Ayres, tapi sayang dia tidak punya telponnya Jeremy
yang baru.
Sejak
memutuskan bercerai dengan Jeremy, tidak ada satu datapun yang dia tinggalkan
untuk menghubungi Jeremy, dia benar-benar ingin putus dengan pria itu.
Tapi
sekarang, kenapa harus bertemu lagi dengan Jeremy? Sedangkan dia mendengar
sendiri kalau Jeremy sedang janjian bertemu dengan Selena.
Evelyn
mengerutkan dahinya, katanya Selena ada di rumahnya Jeremy. Diapun seegra pergi
ke ;pintu.
“Hei, kalian
ada diluar kan?” Evelyn menggedor-gedor pintu kamar itu dan sudah dipastikan
tidak ada yang menjawabnya.
Evelyn
benar-benar keki dibuatnya. Dia ingin tahu apakah Selena ada dirumah ini? Kalau
ada Selena kenapa Jeremy menculiknya segala? Buat apa? Kenapa pria itu malah ingin
menyakitinya lagi? Belum dengan menculik Ayres segala. Dia akan melihat
kelakuan ayahnya yang bejat. Evelyn menghela nafas panjang memikirkan itu
semua. Ini yang dia tdiak mau kalau berhubungan dengan kehidupannya Jeremy.
Janji sekedar
janji memang mudah diucapkan, tapi tidak mudah untuk ditepati. Seperti yang
Jeremy lakukan sekarang. Pria itu sok tidak ada wanita lain dalam hidupnya, eh
__ADS_1
janjian dengan Selena, memuakkan!
Tiba-tiba
pintu terbuka, Evelyn langsung pergi kearah pintu. Ternyata Bibi membawakan
makanan buatnya, dengan dua orang pria tinggi besar dibelakangnya.
“Simpan saja
disana.” Kata Evelyn pada Bibi dan dua pelayan lainnya.
Dia merasa
heran karena yang dibawakan banyak sekali makanan, termasuk buah-buahan.
“Kenapa makanannya
begitu banyak?” tanya Evelyn.
“Pak Jeremy
tidak tahu Bu Evelyn mau makan apa, jadi menyuruh menyiapkan banyak makanan.”
Evelynpun diam.
“Terus kata
Pak Jeremy, Bibi harus menanyakan makanan yang disukai Den Ayres.”
“Makanan untuk
Ayres?”
“Dia makannya
asal jangan yang pedas saja.” Ada rasa tenang dihatinya Evelyn, itu artinya
Jeremy memang akan membawa Ayres ke rumah ini.
“Jeremy belum
datang?”
“Belum, Bu.”
“Oh ya Bi.
Apa kemarin ada wanita cantik datang kesini?” Evelyn menatap Bibi dengan hati
yang deg degan.
“Iya, ada,
Bu.”
“Selena,
wanita itu Selena?” tanya Evelyn.
“Iya Bu.”
Hati Evelyn
langsung kecewa. “Terus apa Selena ada di rumah ini?”
“Iya, Bu.”
“Iya? Maksudnya
apa Jeremy, membiarkan Selena tinggal di rumah ini dan dia juga membawaku
kesini?” tanya Evelyn.
“Bibi tidak
tahu Bu. Bu Selena ada di kamar tamu, sama tidak bisa keluar. Bahkan lebih
mengenaskan.”
“Mengenaskan?
Maksud Bibi apa?”
“Kemarin waktu
dipindahkan ke kamar tamu, tubuhnya digulung sprei.”
Wajah Evelyn
langsung saja memerah. “Digulung sprei maksudnya apa?”
“Tidak tahu Bu."
Evelyn
semakin bingung saja medengarnya. “Aku terpaksa harus menunggu Jeremy.”
“Kalau
begitu Bibi permisi ya Bu. Pak Jeremy melarang sering bertemu Ibu. Hanya
mengantarkan makanan saja.”
“Terus Selena
bagaimana? Bibi sudah memberinya makan? Bagaimana dia?”
“Sudah tidak di gulung sprei lagi. Tapi tidak boisa kabur karena di jaga ketat.
Evelyn benar-benar
tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Jeremy, maksudnya apa? Kenapa dia membawa
Ayres ke rumah saat ada Selena? Pria itu benar-benar tidak tahu etika,
memperlihatkan wanita lain ayahnya pada anaknya sendiri? Benar-benar
keterlaluan Jeremy.
***
__ADS_1