Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-34 Kamar Bayi Ala Jeremy


__ADS_3

Evelyn membuka matanya karena dia mendengar suara berisik yang membuatnya terbangun. Tangannya menggapai tempat sebelahnya ternyata kosong, diapun membuka matanya. Kemana Jeremy? Apa dia tidak pulang? Apa dia tidur dihotel bersama Selena?


Diapun bangun dan terduduk ditempat tidur itu, semakin jelas terdengar suara yang berisik berisik kaki dan suara pria dan wanita dalam bahasa yang tidak Evelyn mengerti sejenis bahasa Mandarin ada juga yang bicara bahasa Inggris. Tinggal dinegeri orang sungguh membuatnya bingung.


Terdengar suara pintu dibuka, ternyata Jeremy masuk ke kamarnya.


“Kau sudah bangun?” pria itu kembali menutup pintu kamar.


“Ada apa ramai sekali diluar?” Evelyn menatap Jeremy yang berjalan menghampirinya. Ternyata pria itu sudah mandi berpakaian dan rapih dengan kemeja putihnya, dia terlihat sangat segar. Apa dia tidak tidur?


Evelyn menoleh ke tempat tidur yang rapih disebelahnya itu.


“Kau tidak pulang?” Evelyn kembali menoleh pada Jeremy.


“Tentu saja pulang,” jawab Jeremy melangkah semakin dekat.


“Tempat tidurnya rapih,” gumam Evelyn dengan polos, membuat Jeremy menghentikan langkahnya tepat didepannya dan sedikit menundukan kepalanya menatap Evelyn.


“Aku tidur di ruang kerja!” ucapnya.


Barulah Evelyn mengerti kenapa tempat tidur disebelahnya rapih, diapun kembali menatap pria yang berdiri didepannya, terpaksa dia harus mengangkat wajahnya karena pria itu terlihat sangat tinggi kalau dilihatnya sambil duduk begini.


Tiba-tiba Evelyn merasakan sesuatu yang berbeda di perutnya, mulutnya terasa masam.


“Aku sedang menyuruh orang untuk membereskan kamar disebelah, mengganti catnya  supaya keren dan lebih macho juga membeli beberapa peralatan utuk bayi,” kata Jeremy.


Tapi Evelyn sama sekali tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Jeremy itu, dia hanya merasa mual yang amat sangat yang terus mendorong ingin keluar dari perutnya. Evelyn cepat menurunkan kedua kakinya ke lantai dan segera berdiri bermaksud akan ke kamar mandi tapi ternyata mual itu sudah tidak bisa ditahannya dan isi perutnya tersembur begitu saja dari mulutnya.


Terdengar jeritan kaget dari Jeremy yang langsung mundur, dia tidak menyangka Evelyn akan memuntahkan isi perutnya lagi didepannya sehingga sebagian muntahnya mengenai baju dan juga sepatunya.


“Kau ini kebiasaan! Kenapa kau muntah di bajuku terus?” maki Jeremy dengan kesal. Padahal tadi dia masuk ke kamar itu dengan suka cita kerena sedang mempersiapkan kamar untuk bayinya, sekarang malah mendapat muntah lagi dari istrinya.


Evelyn terbatuk-batuk dengan kaget melihat pria itu terkena muntahnya lagi. Diapun segera berlari kekamar mandi karene rasa ingin muntahnya belum habis.


Jeremy mengelengkan kepalanya dengan kesal, entah untuk ke berapa kalinya istrinya itu muntah mengenai bajunya terus, emangnya tidak bisa ditahan sampai toilet? Dia menggerutu dalam hati, lalu mengambil tisu dan melap cipratan muntah itu sambil berteriak memangil seseorang.


Tidak berapa lama seorang wanita masuk ke kamarnya.


“Bersihkan!” perintahnya dalam bhasa Inggris.


Wanita itu menoleh kearah muntah itu lalu mengangguk dan keluar kamar lagi untuk membawa peralatan pelnya.


Jeremy melangkah menuju kamar mandi bersamaan dengan Evelyn yang keluar dan langsung menatapnya, merekapun saling bertatapan.


“Kenapa kau selalu muntah di depanku? Kalau begini aku harus mandi lagi!” hardik Jeremy, kesalnya belum hilang.


“Maaf, setiap pagi aku masih mual!”

__ADS_1


“Tapi apa perlu muntahmu mengenai bajuku?” gerutu Jeremy.


“Maaf!” ucap Evelyn menunduk sedih. Melihat reaksi wanita itu dimarahinya seperti itu, membuatJeremy merasa bersalah,diapun tidak memperpanjang masalah, langsung masuk ke kamar mandi dan melepaskn pakaiannya.


Tiba-tiba ada yang nyerobot masuk dan berlari ke wastafel muntah-muntah, dlihatnya Evelyn kembali mengeluarkan muntahnya. Jeremy tidak bicara apa apa, dibiarkannya Evelyn seperti itu, dia hanya melepaskan seluruh pakaianya lagi tanpa kecuali dan langsung mandi berdiri dibawah shower itu.


Evelyn merasa mualnya sudah dikeluarkan semua, diapun kumur-kumur lalu membasuh mukanya sambil berkaca di cermin tapi kemudian dia berteriak kaget saat melihat pria itu terlihat dicermin telanjang bulat mandi menghadapnya.


“Apa yang kau lakukan?” teriak Evelyn sambil memalingkan mukanya tidak melihat cermin.


“Ada apa?” Jeremy keheranan sambil mematikan  kran.


“Kenapa kau sembarangan telanjang didepanku?”


Jeremy jadi kesal mendengarnya, diapun menyalakan kran lagi dan airpun membasuh tubuhnya.


“Aku fikir ada apa? Kau kaget melihatku telanjang?  Kenapa jadi masalah buatmu? Kau sudah sering melihatnya dan merasakannya! Jangan berlebihan!” gurutu Jeremy lalu membalikkan badannyaa sambil mengosok-gosok rambutnya.


Evelyn memberengut sebal mendapat jawaban Jeremy seperti itu, diapun segera keluar dari kamar mandi itu. Pria itu seenakanya saja tidak berpakaian didepannya, apa pria itu tidak tahu kalau dia merasa malu saja setiap melihatnya.


Keluar dari kamar mandi dilihatnya dua orang wanita sedang membersihkan bekas muntahnya tadi.


“Aku minta maaf merepotkan kalian, aku sangat mual!” ucap Evelyn dalam bahasa Inggris dengan dikira-kira benar tidak cara pengucapannya.


“Tidak apa-apa Nyonya!” kata salah satunya, Evleyn tersenyum senang berarti bahasa Inggrisnya  dimengerti oleh mereka.


Evelyn keluar kamar dan melihat orang-orang yang berlalu lalang menuju kamar yang bersebelahan dengan kamarnya Jeremy, diapun penasaran melihat kesana, melongokkan kepalanya kedalam kamar itu dan dia terkejut saat melihatnya.


“Siapa yang menyuruh kalian menggambar dinding seperti ini?” tanyanya pada pekerja yang sedang mengecat.


Tidak ada yang menjawab. Evelyn baru tersadar dia harus menggunakan bahasa Inggris.


“Apa Jeremy yang menyuruh kalian menggambar dinding seperti ini?” tanyanya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Memang waktu sekolah belajar bahasa Inggis tapi karena sudah lama tidak digunakan membuatnya tidak begitu lancar mengucapkannya.


“Ini perintah Pak Jeremy,” jawab salah satu tukang cat itu.


Evelyn kembali memberengut pasti ini kerjaannya pria itu, dia heran bagaimana cara berfikirnya pria itu?


Evelynpun kembali lagi ke kamarnya.


“Jeremy!” panggilnya, ternyata pria itu baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama handuknya dan rambutnya yang masih basah.


“Ada apa?” Jeremy menatap Evelyn sambil melap rambutnya dengan handuk kecil.


“Katamu kau menyiapkan kamar bayi, kenapa kamarnya begitu?” tanya Evelyn.


Jeremy masih melap rambutnya yang basah sambil melihat cermin,” begitu apanya?’

__ADS_1


“Itu kamar bayi kan yang lagi di cat!” Evelyn melangkah mendekati Jeremy yang sama sekali tidak menoleh membuat Evelyn merasa kesal lalu berjalan memutar akan kedepannya Jeremy.


Karena tidak tahu Evelyn akan berdiri didepannya, Jeremy menepiskam handuknya supaya tidak terlalu basah dann gerakannya langsung memukul wajahnya Evelyn sampai wanita itu berteriak kaget.


Evelyn menutup wajahnya yang terkena pukulan handuk itu, matanya terasa sangat perih, “Apa yang kau lakukan?” teriaknya.


Tentu saja Jeremy sangat terkejut, tidak menyangka Evelyn akan berdiri didepannya, kedua tangannya langsung memegang wajahnya Evelyn yang ditutup oleh kedua tangannya.


“Kenapa kau memukulku?” tanya Evelyn, menurunkan kedua tangan dari wajahnya.


Jeremy menunduk mendekatkan wajahnya melihat wajah dan satu matanya Evelyn memerah.


“Aku tidak sengaja! Kenapa kau malah berdiri di depanku?” Salah satu jarinya menyentuh mata kirinya Evelyn yang terkena pukulan handuknya.


 “Matanya agak merah sedikit tapi baik-baik saja!” ucap Jeremy, begitu serius memeriksa mata itu lalu meniupnya beberapa kali.


“Mataku tidak  berdebu!” ucap Evelyn membelalakkan matanya yang sedikit perih


Evelyn menatap wajah yang begitu dekat dengannya itu. Ini pertama kalinya berdekatan melihat wajahnya Jeremy dalam kondisi yang biasa saja. Kenapa dia mengatakan itu? Karena biasanya mereka sedekat ini saat mereka berhubungan intim saja, tidak ada sorot mata perhatian atau apa yang ada dimata pria itu, hanya ekpsresinya menikmati tubuhnya menyalurkan hasratnya saja.


Melihat pria ini dalam keadaan seperti ini semakin memberi nilai lebih dimata Evelyn, wajah tampan dengan tubuh tinggi tegap itu akan sempurna kalau perilakunya baik, tapi sayang Jeremy bukan pria yang sempurna.


Mata merekapun bertemu, Jeremy menatap  matanya bukan melihat lukanya, beberapa detik hanya menatapnya  bola mata itu tanpa bicara.


“Tidak ada yang luka, kaunya saja yang berlebihan!” gerutu Jeremy, lalu menurunkan tangannya dari  wajah Evelyn dan kembali mengosok rambutnya dengan handuk.


Evelynpun terdiam sesaat, kemudian menatap Jeremy lagi.


“Dinding itu, kenapa dinding itu dicat model begitu?”


“Model begitu bagaimana?” tanya Jeremy.


“Kau mencat dindingnya menjadi hitam dan putih, membuat papan catur! Masa kamar bayi gambarnya papan catur?”


“Memang  harus gambar apa? Boneka? Doraemon? Aku tidak mau anakku jadi anak yang cengeng! Aku ingin dia jadi pria yang kuat dan berkuasa, jadi dari kecil harus dibiasakan dengan identitas seperti itu! Aku tidak mau dindingnya gambar Doraemon!”


“Namanya juga anak anak ya  gambarnya begitu, kartun-kartun yang lucu tidak harus Doraemon saja banyak gambar lainnya, kau tidak gaul waktu kecil! Anak-anak tidak akan suka dengan papan catur! Kau ini aneh-aneh saja!” gerutu Evelyn lalu pergi menjauh dengan bibir memberengut kesal pada pria itu. Diapun duduk dipinggir tempat tidur.


“Lagipula anaknya belum tentu laki-laki!” kata Evelyn.


Jeremy menatap Evelyn di kaca cermin itu.


“Aku yakin dia laki-laki!”  ucap Jeremy sambil menyimpan handuk itu sembarang, lalu melangkah menuju pintu.


“Kau tidak akan mengganti catnya?” Evelyn menoleh kearah Jeremy pergi.


“Tidak!” jawab Jeremy sambil menutup pintu.

__ADS_1


Evelynpun diam, dia merasa khawatir bagaimana kalau saat USG ternyata bayinya perempuan?  Apa yang akan dilakukan Jeremy?


**********


__ADS_2