
Amarah
Jeremy semakin bertumpuk saja. Dia tidak takut mati, mau di siksa sekalipun,
yang dikhawatirkannya adalah anak istrinya. Dia sudah berjanji tidak akan
terjadi apa-apa pada mereka ternyata dia salah, ternyata malah Ryan yang mengganggunya.
“Kau harus
berterimakasih atas kematian Selena. Karena apa? Dia tidak akan mengganggumu
lagi meski aku tidak tahu apa kau masih menginginkan tubuhnya atau tidak. Yang pasti
ternyata aku tahu kau pria paling bodoh didunia.”
“Maksudmu apa?”
“Ternyata
tubuhnya tidak senikmat yang aku bayangkan. Sangat membosankan!” Ryan langsung
saja tertawa.
“Ternyata
seleramu sangat rendah, kau terlalu banyak menghamburkan uang hanya demi
membayar wanita itu.”
“Kau, jadi
kau benar-benar ingin menguasai apa yang aku miliki sampai kaupun mengganggu
Selena?”
“Aku hanya
penasaran saja karena kau begitu mengistimewakannya padahal ternyata rasanya
tidak seistimewa yang kubayangkan! Percuma juga kau bertahun-tahun ingin
menikmati tubuhnya. Aku menyesal membiarkan kau membodohiku!”
Jeremy langsung
tertawa mendengarnya. “Dasar kau memang pantas jadi kesetku, karena hanya jadi tong sampah barang bekasku!”
Raut wajah
Ryan langsung masam mendengar hinaan itu. Diapun tertawa.
“Kau benar,
aku memang tong sampah. Dan tong sampah ini sudah penuh hanya tinggal tersisa
sedikit yang kosong untuk menikmati istrimu. Aku ingin merasakan bagaimana
kalau aku menyimpan benih dalam perutnya.”
“Brengsek
kau!” maki Jeremy, akan bergerak menyerang tapi dua orang yang berdiri dibelakangnya
langsung memegangnya.
Ryan
langsung tertawa. “Ternyata reaksimu sangat berbeda saat aku bercerita Selena dengan
istrimu. Semakin aku tertarik dan penasaran menampung barang bekasmu yang belum
kau berikan padaku!”
“Cih!
Keparat!” maki Jeremy.
Ryan semakin
senang saja tertawa, bersandar ke mejanya sambil menyalakan cerutunya lagi.
“Kau sudah
mengambil apa yang aku miliki. Bahkan kau mendapatkan bisnisku begitu mudah.
Aku tidak peduli soal itu, terserah mau kau apakan bisnisku. Hanya saja aku
minta kembalikan anak istriku! Jangan mencari-cari masalah denganku! Aku masih
punya pengaruh besar dalam bisnis ini atau kau akan hancur menjadi debu.”
“Masih punya
pengaruh? Apa tidak kau lihat orang yang ada di belakangmu itu orang-orangmu! Tapi
mereka lebih penurut padaku. Kau tahu apa yang diberikan pada anjing? Aku memberi
makan mereka. Dan anjing-anjingmu sudah menurut padaku!”
“Aku tidak
peduli apa yang kau katakan, mana anak istriku! Jangan membuatku marah!”
Ryan kembali
terkekeh. “Sudah sedari tadi kau marah kan? Tapi sayang kau bukan siapa-siapaku
lagi, buat apa aku menurut padamu?”
“Jadi
sebenarnya kau mau apa?” Jeremy teringat putranya yang mungkin saja belum
makan. Dia khawatir dengan keadaannnya.
Ryan menoleh
pada orang-orangnya yang langsung meninggalkan ruangan itu.
Hati Jeremy
sebenarnya merasa tidak tenang, dia sangat khawatir dengan orang-orang yang
__ADS_1
dicintainya itu. Dia sama sekali tidak menduga kalau Ryan akan bermain-main
dengannya seperti ini padahal dia sudah tidak mempermasalahkan bisnisnya. Dia
sudah mengikuti keinginannnya Evelyn untuk bisnis yang jujur dan tidak beresiko
kehilangan nyawa, tapi ternyata hal buruk tetap menimpa anak istrinya.
Tidak berapa
lama dua buah kerangkeng tertutup didorong kedalam ruangan itu.
Hati Jeremy
langsung saja cemas. Sekarang dua kerangkeng itu ada dikanan dan kirinya Ryan.
“Kau tahu
apa isinya?”
Jeremy tidak
menjawab, dia ingin melihat apa isi kotak tertutup itu. Ryan memerintahkan orang-orangnya
untuk membuka kerangkeng itu.
Hari Jeremy mendadak
sakit melihatnya. Satu kerangkeng ada putranya dan satu kerangkeng ada istrinya.
“Jeremy!” panggil
Evelyn, mendekati jeruji besi memegangnya dengan erat, lalu pandangannya beralih
pada sosok yang disebrangnya.
“Ibu!”
teriak Ayres.
Airmata langsung
menetes ke pipinya Evelyn. “Sayang, Ayres.”
“Ibuuuu!”
panggil Ayres, berlari ke jeruji besi memegang jeruji itu sambil menangis.
“Ibuuu!”
“Sayang, ini
Ibu, Nak! Tenanglah jangan menangis.” Evelyn melarang Ayres menangis tapi dia sendiri
tidak bisa menahan airmatanya. Hatinya begitu sedih melihat putranya didalam
kerangkeng yang sama dengannya.
“Ryan,
lepaskan putraku!” teriak Evelyn.
Ryan
“Sebenarnya apa
yang kau inginkan? Bukannya kau sudah mengambil semua bisnisnya Jeremy? Kau
punya dendam apa lagi?” bentak Evelyn.
Trang!
Evelyn
terkejut saat Ryan memukulkan senjata di tangan kirinya itu ke kerangkeng.
“Kau tahu
apa soal perasaanku? Heh?”
“Apa yang
aku katakan kenyataan. Bukannya kau selalu mendapat keuntungan selama ini daro
Jeremy? Bukan Cuma uang tapi kalian juga berbagi wanita!”
Ryan langsung
tertawa mendengarnya, berdiri di depan Evelyn, menatapnya dengan tajam.
“Kau sangat
pandai sekarang. Berbagi wanita, lebih tepatnya pemungut sampah!”
Evelyn tidak
menjawab, pandangannya beralih pada Ayres yang berdiri berurai airmata sambil
tangan kecilnya itu memegang jeruji besi.
“Ryan!”
panggil Jeremy, hatinya tidak tega melihat anak istrinya di kerangkeng itu.
Ryan berbalik
menatap Jeremy.
“Kau ada
dendam padaku, kau lampiaskan padaku. Bebaskan anak istriku.”
Dor! Pray!
“Ibuuuu!” Ayres
berteriak keras saat mendengr letusan yang mengarah padanya dan tembakan itu
mengenai gambar berbingkai di tembok yang ada di ruangan itu.
“Ryan, brengsek!”
maki Jeremy, dia akan bergerak tapi orang-orang Ryan bukan saja memegangnya
__ADS_1
sekarang tapi menempelkan senjata ke kepalanya.
“Ayres!”
teriak Evelyn, tubuhnya gemetar saking paniknya melihat Ryan menembakkan
senjata itu kearah putranya.
“Ibuuu..”
Ayres menangis.
“Ryan,
brengsek! Lepaskan anak istriku! Pengecut!”
“Sayang, Sayang,
tenanglah Sayang, ada Ibu!” Tangan Evelyn menjulur keluar dari kerangkengnya.
“Ibuuu! Aku
takut. Ibuuuu!” panggil Ayres.
Jeremy benar-benar
tidak tega melihat anak istrinya menjadi mainannya Ryan. Hatinya sangat hancur.
“Ryan,
lepaskan mereka!” pinta Jeremy.
“Hanya satu
yang bisa kau lakukan!”
“Apa?
Katakan! Aku akan melakukan apapun asal kau bebaskan anak istriku!”
“Mudah..sangat
mudah…”
Ryan
berjalan mendekati Ayres yang langsung mundur ketakutan sambil menangis.
“Ryan,
jangan macam-macam, Ryan!” teriak Evelyn.
Ryan berdiri
di depan Ayres sambil tersenyum. “Anak tampan, kau mirip Ayahmu!”
“Ayahku
sudah meninggal!” ucap Ayres terbata, membuar Ryan terbelalak.
“Meninggal?
Hahaha..”
“Ayahku
sudah meninggal!” ulang Ayres.
Ryan menoleh
pada Jeremy. “Nasibmu memang buruk, kau dianggap sudah mati, hahaha…”
Jeremy tidak
menjawab, dia menahan marah yang semakin bertumpuk. Dia memikirkan caranya
untuk bisa melepaskan anak istrinya. Dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri
asal anak istrinya selamat.
“Jeremy,
ayolah, Jeremy, ayolah! Kau bisa membebaskan anak istrimu!” batin Jeremy,
meskipun marah, dia mencoba untuk berpikir jernih dan bersikap tenang supaya
bisa membebaskan anak istrinya.
Ryan kembali
mendekati Ayres yang semakijn mundur ketakutan.
“Anak tampan.
Apa kau tidak tahu Ayahmu itu masih hidup.”
“Ayahku
sudah meninggal!”
“Tidak, Sayang.
Ayahmu masih hidup. Tuh. Dia AYahmu! Ayah kandungmu! Dia masih hidup!” tunjuk Ryan
kearah Jeremy.
Ayres terkejut
mendengarnya. Dia tahu kalau pria itu menyuruhnya memanggil Ayah tapi dia
sendiri tidak tahu Ayah itu apa.
“Kau
brengsek Ryan!” maki Jeremy. Sementara Evelyn sesenggukan tidak tahu harus
berkata apa.
Ryan tertawa
lalu menoleh pada Ayres yang mematung tidak mengerti.
***
__ADS_1