Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-79 Ayah Masih Hidup


__ADS_3

Amarah


Jeremy semakin bertumpuk saja. Dia tidak takut mati, mau di siksa sekalipun,


yang dikhawatirkannya adalah anak istrinya. Dia sudah berjanji tidak akan


terjadi apa-apa pada mereka ternyata dia salah, ternyata malah Ryan yang mengganggunya.


“Kau harus


berterimakasih atas kematian Selena. Karena apa? Dia tidak akan mengganggumu


lagi meski aku tidak tahu apa kau masih menginginkan tubuhnya atau tidak. Yang pasti


ternyata aku tahu kau pria paling bodoh didunia.”


“Maksudmu apa?”


“Ternyata


tubuhnya tidak senikmat yang aku bayangkan. Sangat membosankan!” Ryan langsung


saja tertawa.


“Ternyata


seleramu sangat rendah, kau terlalu banyak menghamburkan uang hanya demi


membayar wanita itu.”


“Kau, jadi


kau benar-benar ingin menguasai apa yang aku miliki sampai kaupun mengganggu


Selena?”


“Aku hanya


penasaran saja karena kau begitu mengistimewakannya padahal ternyata rasanya


tidak seistimewa yang kubayangkan! Percuma juga kau bertahun-tahun ingin


menikmati tubuhnya. Aku menyesal membiarkan kau membodohiku!”


Jeremy langsung


tertawa mendengarnya. “Dasar kau memang pantas jadi kesetku, karena  hanya jadi tong sampah barang bekasku!”


Raut wajah


Ryan langsung masam mendengar hinaan itu. Diapun tertawa.


“Kau benar,


aku memang tong sampah. Dan tong sampah ini sudah penuh hanya tinggal tersisa


sedikit yang kosong untuk menikmati istrimu. Aku ingin merasakan bagaimana


kalau aku menyimpan benih dalam perutnya.”


“Brengsek


kau!” maki Jeremy, akan bergerak menyerang tapi dua orang yang berdiri dibelakangnya


langsung memegangnya.


Ryan


langsung tertawa. “Ternyata reaksimu sangat berbeda saat aku bercerita Selena dengan


istrimu. Semakin aku tertarik dan penasaran menampung barang bekasmu yang belum


kau berikan padaku!”


“Cih!


Keparat!” maki Jeremy.


Ryan semakin


senang saja tertawa, bersandar ke mejanya sambil menyalakan cerutunya lagi.


“Kau sudah


mengambil apa yang aku miliki. Bahkan kau mendapatkan bisnisku begitu mudah.


Aku tidak peduli soal itu, terserah mau kau apakan bisnisku. Hanya saja aku


minta kembalikan anak istriku! Jangan mencari-cari masalah denganku! Aku masih


punya pengaruh besar dalam bisnis ini atau kau akan hancur menjadi debu.”


“Masih punya


pengaruh? Apa tidak kau lihat orang yang ada di belakangmu itu orang-orangmu! Tapi


mereka lebih penurut padaku. Kau tahu apa yang diberikan pada anjing? Aku memberi


makan mereka. Dan anjing-anjingmu sudah menurut padaku!”


“Aku tidak


peduli apa yang kau katakan, mana anak istriku! Jangan membuatku marah!”


Ryan kembali


terkekeh. “Sudah sedari tadi kau marah kan? Tapi sayang kau bukan siapa-siapaku


lagi, buat apa aku menurut padamu?”


“Jadi


sebenarnya kau mau apa?” Jeremy teringat putranya yang mungkin saja belum


makan. Dia khawatir dengan keadaannnya.


Ryan menoleh


pada orang-orangnya yang langsung meninggalkan ruangan itu.


Hati Jeremy


sebenarnya merasa tidak tenang, dia sangat khawatir dengan orang-orang yang

__ADS_1


dicintainya itu. Dia sama sekali tidak menduga kalau Ryan akan bermain-main


dengannya seperti ini padahal dia sudah tidak mempermasalahkan bisnisnya. Dia


sudah mengikuti keinginannnya Evelyn untuk bisnis yang jujur dan tidak beresiko


kehilangan nyawa, tapi ternyata hal buruk tetap menimpa anak istrinya.


Tidak berapa


lama dua buah kerangkeng tertutup didorong kedalam ruangan itu.


Hati Jeremy


langsung saja cemas. Sekarang dua kerangkeng itu ada dikanan dan kirinya Ryan.


“Kau tahu


apa isinya?”


Jeremy tidak


menjawab, dia ingin melihat apa isi kotak tertutup itu. Ryan memerintahkan orang-orangnya


untuk membuka kerangkeng itu.


Hari Jeremy mendadak


sakit melihatnya. Satu kerangkeng ada putranya dan satu kerangkeng ada istrinya.


“Jeremy!” panggil


Evelyn, mendekati jeruji besi memegangnya dengan erat, lalu pandangannya beralih


pada sosok yang disebrangnya.


“Ibu!”


teriak Ayres.


Airmata langsung


menetes ke pipinya Evelyn. “Sayang, Ayres.”


“Ibuuuu!”


panggil Ayres, berlari ke jeruji besi memegang jeruji itu sambil menangis.


“Ibuuu!”


“Sayang, ini


Ibu, Nak! Tenanglah jangan menangis.” Evelyn melarang Ayres menangis tapi dia sendiri


tidak bisa menahan airmatanya. Hatinya begitu sedih melihat putranya didalam


kerangkeng yang sama dengannya.


“Ryan,


lepaskan putraku!” teriak Evelyn.


Ryan


“Sebenarnya apa


yang kau inginkan? Bukannya kau sudah mengambil semua bisnisnya Jeremy? Kau


punya dendam apa lagi?” bentak Evelyn.


Trang!


Evelyn


terkejut saat Ryan memukulkan senjata di tangan kirinya itu ke kerangkeng.


“Kau tahu


apa soal perasaanku? Heh?”


“Apa yang


aku katakan kenyataan. Bukannya kau selalu mendapat keuntungan selama ini daro


Jeremy? Bukan Cuma uang tapi kalian juga berbagi wanita!”


Ryan langsung


tertawa mendengarnya, berdiri di depan Evelyn, menatapnya dengan tajam.


“Kau sangat


pandai sekarang. Berbagi wanita, lebih tepatnya pemungut sampah!”


Evelyn tidak


menjawab, pandangannya beralih pada Ayres yang berdiri berurai airmata sambil


tangan kecilnya itu memegang jeruji besi.


“Ryan!”


panggil Jeremy, hatinya tidak tega melihat anak istrinya di kerangkeng itu.


Ryan berbalik


menatap Jeremy.


“Kau ada


dendam padaku, kau lampiaskan padaku. Bebaskan anak istriku.”


Dor! Pray!


“Ibuuuu!” Ayres


berteriak keras saat mendengr letusan yang mengarah padanya dan tembakan itu


mengenai gambar berbingkai di tembok yang ada di ruangan itu.


“Ryan, brengsek!”


maki Jeremy, dia akan bergerak tapi orang-orang Ryan bukan saja memegangnya

__ADS_1


sekarang tapi menempelkan senjata ke kepalanya.


“Ayres!”


teriak Evelyn, tubuhnya gemetar saking paniknya melihat Ryan menembakkan


senjata itu kearah putranya.


“Ibuuu..”


Ayres menangis.


“Ryan,


brengsek! Lepaskan anak istriku! Pengecut!”


“Sayang, Sayang,


tenanglah Sayang, ada Ibu!” Tangan Evelyn menjulur keluar dari kerangkengnya.


“Ibuuu! Aku


takut. Ibuuuu!” panggil Ayres.


Jeremy benar-benar


tidak tega melihat anak istrinya menjadi mainannya Ryan. Hatinya sangat hancur.


“Ryan,


lepaskan mereka!” pinta Jeremy.


“Hanya satu


yang bisa kau lakukan!”


“Apa?


Katakan! Aku akan melakukan apapun asal kau bebaskan anak istriku!”


“Mudah..sangat


mudah…”


Ryan


berjalan mendekati Ayres yang langsung mundur ketakutan sambil menangis.


“Ryan,


jangan macam-macam, Ryan!” teriak Evelyn.


Ryan berdiri


di depan Ayres sambil tersenyum. “Anak tampan, kau mirip Ayahmu!”


“Ayahku


sudah meninggal!” ucap Ayres terbata, membuar Ryan terbelalak.


“Meninggal?


Hahaha..”


“Ayahku


sudah meninggal!” ulang Ayres.


Ryan menoleh


pada Jeremy. “Nasibmu memang buruk, kau dianggap sudah mati, hahaha…”


Jeremy tidak


menjawab, dia menahan marah yang semakin bertumpuk. Dia memikirkan caranya


untuk bisa melepaskan anak istrinya. Dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri


asal anak istrinya selamat.


“Jeremy,


ayolah, Jeremy, ayolah! Kau bisa membebaskan anak istrimu!” batin Jeremy,


meskipun marah, dia mencoba untuk berpikir jernih dan bersikap tenang supaya


bisa membebaskan anak istrinya.


Ryan kembali


mendekati Ayres yang semakijn mundur ketakutan.


“Anak tampan.


Apa kau tidak tahu Ayahmu itu masih hidup.”


“Ayahku


sudah meninggal!”


“Tidak, Sayang.


Ayahmu masih hidup. Tuh. Dia AYahmu! Ayah kandungmu! Dia masih hidup!” tunjuk Ryan


kearah Jeremy.


Ayres terkejut


mendengarnya. Dia tahu kalau pria itu menyuruhnya memanggil Ayah tapi dia


sendiri tidak tahu Ayah itu apa.


“Kau


brengsek Ryan!” maki Jeremy. Sementara Evelyn sesenggukan tidak tahu harus


berkata apa.


Ryan tertawa


lalu menoleh pada Ayres yang mematung tidak mengerti.


***

__ADS_1


__ADS_2