
Baru juga turun, Ayres langsung saja berlari ke taman bermain, anak itu lupa kalau dia lapar dan belum makan.
Jeremy mematung memperhatikan anak kecil itu. Melihat senyum kebahagiaannya membuatnya merasa senang.
Dulu dia akan merasa senang saat mendapatkan uang dengan mudah, minum minuman keras, berjudi, main perempuan, apalagi dengan Selena, wanita penghibur yang sangat pintar memuaskannya.
Tapi ternyata tanpa melakukan itu semua hatinya merasa bahagia, hanya dengan melihat kaki-kaki kecil itu menaiki macam-macam permainan ditaman itu yang memang sengaja untuk bermain Ayres jika datang ke rumahnya.
Jeremy menghampiri anak itu. “Kau suka?”
“Iya, Om. Aku suka. Kata Ibu sebentar lagi aku sekolah aku bisa bermain di sekolah.”
“Kau belum sekolah?”
Ayres tidak menjawab, dia malah loncat-loncat di rumah balon.
“Bagaimana kalau kau tinggal disini? Kau pasti senang, kan?”
Ayres menghentikan loncatannya, keringat sudah membasahi kaosnya.
“Kau mau kan tinggal disini?”
“Mau pipis.”
“Apa?” Jeremy terkejut.
“Mau pipis!” Ayres memegang celananya.
“Ayo sini!” Tangan Jeremy langsung mengulur menurunkan Ayres.
“Mau pipis!”
Jeremy malah panik, soalnya ke kamar mandi sangat jauh. Diapun langsung memegang keduanya lengannya Ayres lalu berlari masuk ke rumahnya.
Sebelum
sampai ke pintu kamarnya, Jeremy langsung berteriak.
“Buka
pintunya, buka pintunya!” teriaknya.
Bodyguardnya
langsung membukakakn pintu. Evelyn yang mendengar ada yang membuka pintu
langsung menoleh tapi dia terkejut saat melihat ada yang sosok yang berlari
masuk dengan membawa anak kecil diangkat dikedua ketiaknya.
Dengan cepat
sosok itu lari ke kamar mandi lalu menendang pintunya hingga terbuka lebar.
Jeremy
segera menurunkan Ayres didepan toilet. Anak kecil itu langsung buang air.
Evelyn
mendengar bunyi air dari dalam toilet. Dia masih shock dengan sosok aneh yang
lewat tadi dan sekarang ada di kamar mandi.
Jeremy
menunggu Ayres buang air sendiri. Diapun tersenyum. “Ternyata kau memang anak
laki-laki!”
Evelynpun
tersadar kalau yang baru saja berlari adalah Jeremy dengan..Ayres! Jeremy membawa
Ayres!
Evelyn
langsung berlari menuju kamar mandi yang pintunya terbuka karena ditendang
Jeremy tadi.
Dilihatnya
anak kecil itu selesai buang air dan menoleh padanya. Senyum langsung
mengembang di bibir anak kecil itu, matanya berbinar senang.
“Ibu! Aku
pipis!” ucap Ayres.
Evelyn
tersenyum lega melihat putranya yang menatapnya sambil tersenyum, tapi kemudian
memberengut dan menoleh pada Jeremy.
“Apa yang
kau lakukan pada Ayres?” bentaknya.
Jeremy terkejut
dibentak begitu. “Aku hanya membawanya ke toilet, jangan sampai mengompol!”
“Bukan itu!
Lihat dia kotor sekali!” gerutu Evelyn lalu menghampiri putranya.
“Tadi dia
hanya bermain ditaman di depan itu.”
“Taman? Taman
apa?”
“Dihalaman
depan aku membuat taman bermain untuk anak-anak.”
Evelyn
menatap Jeremy sebentar, terkejut mendengarnya. Dia ada di rumahnya Jeremy,
terbangun sudah ada di kamarnya jadi tidak sempat melihat kalau di halaman ada taman
__ADS_1
bermain untuk anak-anak.
“Sayang, kau
harus mandi, kau sangat kotor!” Evelyn langsung membuka pakaiannya Ayres.
Jeremy hanya
mematung saja memperhatikan mantan istrinya itu membuka pakaian anaknya. Tubuh
Ayres terlihat berisi, ada tanda-tanda akan menjadi pria uang tinggi dan gagah
kalau dewasa.
“Sayang,
kenapa kau kotor sekali?” Evelyn menyalakan air kran hangat kuku buat memandikan
Ayres meskipun hari sudah malam.
“Aku hanya
bermain di taman dan main bola sama Kakek.”
“Iya. Kalau
kau kotor kau tidak akan bisa tidur.”
Evelyn langsung
memandikan anak itu, menyabuni tubuhnya dan memberi shamphoo. Ayres diam saja
tubuhnya di gosok gosok ibunya lalu dikeramasi. Anak itu mengerti memejamkan matanya
saat shower mengguyur rrambutnya.
Melihat
Evelyn yang memandikan Ayres, membuat Jeremy merasa senang melihatnya. Melihat
dua orang yang dia cintai ada di dekatnya sungguh membahagiakannya.
Sampai akhirnya
Ayres selesai mandi, barulah Evelyn sadar kalau pria itu masih ada di kamar mandi.
“Apa yang kau
lakukan disini?” tanyanya.
“Aku hanya
melihat kau memandikan Ayres,” jawabnya.
“Ternyata Om
ini tidaka bohong! Aku diajak bertemu Ibu!”
Evelyn berjongkok
didepan Ayres. “Lain kali jangan mau diajak orang asing, ya sayang?”
“Tapi aku
bukan orang asing!” Jeremy protes.
“Kau orang
Jeremypun
diam. Evelyn segera membawa Ayres yang berbalut handuk keluar dari kamar mandi
itu.
“Sayang, kau
harus pakai baju apa? Tidak ada baju kecil,” gumam Evelyn.
“Ada di
kamarnya, disebrang!” Jeremy yang menjawab, ternyata pria itu mengikuti langkahnya
Evelyn.
“Di kamar
dimana?”
“Di kamarnya
Ayres.”
Jawaban Jeremy
membuat Evelyn menatapnya bingung.
“Aku tadi
sudah menyuruh orang untuk membawakan baju baju anak laki-laki 5 tahun.”
“Aku punya
kamar?” tanya Ayres.
“Sini, ikut!”
Jeremy mengulurkan tangannya pada Ayres yang lansgung menerima uluran tangannya
lalu keluar dari kamar itu. Evelyn buru-buru mengikutinya.
Di sebuah
ruangan yang ada disebrang kamarnya Jeremy itu ada sebuah ruangan lain yang
Evelyn ingat itu adalah kamar tamu. Tapi saat Jeremy membuka pintunya, diapun
terbelalak. Kamar tamu itu sudah berubah menjadi kamar anak-anak dengan dinding
bergambar berbagai macam Binatang.
Tapi di
ruangan itu ada keranjang bayi berkelambu dengan gantungan warna warni
diatasnya.
Disana juga
__ADS_1
ada satu tempat tidur dengan spre motif anak laki-laki.
“Apa ini kamarku?”
tanya Ayres, merasa senang, dan langsung berlari ke lemari mainan dan mengeluarkan
mainannya.
“Ap aini?”
tanya Evelyn.
“Aku
membuatnya saat Ayres lahir, jadi masih ada ranjang bayinya. Tapi sekarang
sepertinya ranjang bayi ini tidak berguna lagi karena Ayres sudah besar.”
Evelyn tidak
menyangka kalau ternyata Jeremy membuat kamar ini dari Ayres bayi.
“Kau tahu kan
aku memilih berpisah denganmu?”
“Aku tahu.
Hanya saja aku berharap suatu saat kau dan Ayres akan datang ke rumah ini jadi
aku membuatkan kamarnya.” Jeremy menatap Evelyn, berharap wanita itu mengerti
kalau dia memang masih mengharapkannya.
Evelyn menoleh
pada Ayres. “Sayang, ayo dibaju dulu, nanti kau masuk angin!”
Evelyn melihat
ada satu pintu diruangan itu, diapun pergi kesana lalu membukanya dan sesuai
dugaannya kalau isinya pakaian anak-anak yang sangat lengkap.
Saat Evelyn
berada diruangan pakaian. Jeremy menghampiri Ayres yang sedang memegang mainan
tembakan di tangannya lalu membolak-balikkan mainan itu.
“Kenapa?”
tanya Jeremy.
“Aku tidak
punya mainan tembakan!”
“Kenapa?
Mainan itu banyak di toko.” Jeremy duduk di kursi dekat lemari mainan itu.
“Tidak boleh
sama Ibu.”
Jeremy langsung
terdiam, ternyata Evelyn benar-benar over protectif, hanya mainan saja tidak
boleh.
Ayres menyalakan
mainannya itu dan terdengar suara tembakan yang memberondong dan mainan itu
menyala.
“Sangat
bagus! Aku bisa main perang-perangan! Tapi aku tidak punya teman yang akan aku
tembak.”
“Kau bisa menemanimu.”
“Benarkah?
Om mau main perang-perangan?” seru Ayres.
Evelyn yang
mendengar suara mainan tembakan itu bergegas keluar ruangan dengan membawa pakaiannya
Ayres.
“Tidak,
Sayang! Kau tidak mainan tembakan itu. Kau simpan lagi!” serunya lalu buru-buru
mengambil mainan ditangan Ayres dan disimpan di rak mainan.
Ayres langsung
cemberut, wajahnya memerah.
“Kau ini
kenapa? Ayres sedang memainkannya!” tegur Jeremy.
“Ayres boleh
mainan apa saja kecuali itu.” Evelyn langsung memakaikan bajunya Ayres.
“Memangnya
kenapa? Itu hanya sebuah mainan!”
Evelyn tidak
menjawab, hanya menyelesaikan memakaikan bajunya Ayres lalu menyisir rambutnya.
“Kau pasti
belum makan kan? Ayo kita makan.” Evelyn lansgung memegang tangannya Ayres
keluar dari kamar itu. Jeremy segera mengikutinya, sebenarnya dia tidak setuju
__ADS_1
kalau Evelyn terlalu over protective pada Ayres.
***