Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-70 Bahagianya Ada Anak dan Istri


__ADS_3

Baru juga turun, Ayres langsung saja berlari ke taman bermain, anak itu lupa kalau dia lapar dan belum makan.


Jeremy mematung memperhatikan anak kecil itu. Melihat senyum kebahagiaannya membuatnya merasa senang.


Dulu dia akan merasa senang saat mendapatkan uang dengan mudah, minum minuman keras, berjudi, main perempuan, apalagi dengan Selena, wanita penghibur yang sangat pintar memuaskannya.


Tapi ternyata tanpa melakukan itu semua hatinya merasa bahagia, hanya dengan melihat kaki-kaki kecil itu menaiki macam-macam permainan ditaman itu yang memang sengaja untuk bermain Ayres jika datang ke rumahnya.


Jeremy menghampiri anak itu. “Kau suka?”


“Iya, Om. Aku suka. Kata Ibu sebentar lagi aku sekolah aku bisa bermain di sekolah.”


“Kau belum sekolah?”


Ayres tidak menjawab, dia malah loncat-loncat di rumah balon.


“Bagaimana kalau kau tinggal disini? Kau pasti senang, kan?”


Ayres menghentikan loncatannya, keringat sudah membasahi kaosnya.


“Kau mau kan tinggal disini?”


“Mau pipis.”


“Apa?” Jeremy terkejut.


“Mau pipis!” Ayres memegang celananya.


“Ayo sini!” Tangan Jeremy langsung mengulur menurunkan Ayres.


“Mau pipis!”


Jeremy malah panik, soalnya ke kamar mandi sangat jauh. Diapun langsung memegang keduanya lengannya Ayres lalu berlari masuk ke rumahnya.


Sebelum


sampai ke pintu kamarnya, Jeremy langsung berteriak.


“Buka


pintunya, buka pintunya!” teriaknya.


Bodyguardnya


langsung membukakakn pintu. Evelyn yang mendengar ada yang membuka pintu


langsung menoleh tapi dia terkejut saat melihat ada yang sosok yang berlari


masuk dengan membawa anak kecil diangkat dikedua ketiaknya.


Dengan cepat


sosok itu lari ke kamar mandi lalu menendang pintunya hingga terbuka lebar.


Jeremy


segera menurunkan Ayres didepan toilet. Anak kecil itu langsung buang air.


Evelyn


mendengar bunyi air dari dalam toilet. Dia masih shock dengan sosok aneh yang


lewat tadi dan sekarang ada di kamar mandi.


Jeremy


menunggu Ayres buang air sendiri. Diapun tersenyum. “Ternyata kau memang anak


laki-laki!”


Evelynpun


tersadar kalau yang baru saja berlari adalah Jeremy dengan..Ayres! Jeremy membawa


Ayres!


Evelyn


langsung berlari menuju kamar mandi yang pintunya terbuka karena ditendang


Jeremy tadi.


Dilihatnya


anak kecil itu selesai buang air dan menoleh padanya. Senyum langsung


mengembang di bibir anak kecil itu, matanya berbinar senang.


“Ibu! Aku


pipis!” ucap Ayres.


Evelyn


tersenyum lega melihat putranya yang menatapnya sambil tersenyum, tapi kemudian


memberengut dan menoleh pada Jeremy.


“Apa yang


kau lakukan pada Ayres?” bentaknya.


Jeremy terkejut


dibentak begitu. “Aku hanya membawanya ke toilet, jangan sampai mengompol!”


“Bukan itu!


Lihat dia kotor sekali!” gerutu Evelyn lalu menghampiri putranya.


“Tadi dia


hanya bermain ditaman di depan itu.”


“Taman? Taman


apa?”


“Dihalaman


depan aku membuat taman bermain untuk anak-anak.”


Evelyn


menatap Jeremy sebentar, terkejut mendengarnya. Dia ada di rumahnya Jeremy,


terbangun sudah ada di kamarnya jadi tidak sempat melihat kalau di halaman ada taman

__ADS_1


bermain untuk anak-anak.


“Sayang, kau


harus mandi, kau sangat kotor!” Evelyn langsung membuka pakaiannya Ayres.


Jeremy hanya


mematung saja memperhatikan mantan istrinya itu membuka pakaian anaknya. Tubuh


Ayres terlihat berisi, ada tanda-tanda akan menjadi pria uang tinggi dan gagah


kalau dewasa.


“Sayang,


kenapa kau kotor sekali?” Evelyn menyalakan air kran hangat kuku buat memandikan


Ayres meskipun hari sudah malam.


“Aku hanya


bermain di taman dan main bola sama Kakek.”


“Iya. Kalau


kau kotor kau tidak akan bisa tidur.”


Evelyn langsung


memandikan anak itu, menyabuni tubuhnya dan memberi shamphoo. Ayres diam saja


tubuhnya di gosok gosok ibunya lalu dikeramasi. Anak itu mengerti memejamkan matanya


saat shower mengguyur rrambutnya.


Melihat


Evelyn yang memandikan Ayres, membuat Jeremy merasa senang melihatnya. Melihat


dua orang yang dia cintai ada di dekatnya sungguh membahagiakannya.


Sampai akhirnya


Ayres selesai mandi, barulah Evelyn sadar kalau pria itu masih ada di kamar mandi.


“Apa yang kau


lakukan disini?” tanyanya.


“Aku hanya


melihat kau memandikan Ayres,” jawabnya.


“Ternyata Om


ini tidaka bohong! Aku diajak bertemu Ibu!”


Evelyn berjongkok


didepan Ayres. “Lain kali jangan mau diajak orang asing, ya sayang?”


“Tapi aku


bukan orang asing!” Jeremy protes.


“Kau orang


Jeremypun


diam. Evelyn segera membawa Ayres yang berbalut handuk keluar dari kamar mandi


itu.


“Sayang, kau


harus pakai baju apa? Tidak ada baju kecil,” gumam Evelyn.


“Ada di


kamarnya, disebrang!” Jeremy yang menjawab, ternyata pria itu mengikuti langkahnya


Evelyn.


“Di kamar


dimana?”


“Di kamarnya


Ayres.”


Jawaban Jeremy


membuat Evelyn menatapnya bingung.


“Aku tadi


sudah menyuruh orang untuk membawakan baju baju anak laki-laki 5 tahun.”


“Aku punya


kamar?” tanya Ayres.


“Sini, ikut!”


Jeremy mengulurkan tangannya pada Ayres yang lansgung menerima uluran tangannya


lalu keluar dari kamar itu. Evelyn buru-buru mengikutinya.


Di sebuah


ruangan yang ada disebrang kamarnya Jeremy itu ada sebuah ruangan lain yang


Evelyn ingat itu adalah kamar tamu. Tapi saat Jeremy membuka pintunya, diapun


terbelalak. Kamar tamu itu sudah berubah menjadi kamar anak-anak dengan dinding


bergambar berbagai macam Binatang.


Tapi di


ruangan itu ada keranjang bayi berkelambu dengan gantungan warna warni


diatasnya.


Disana juga

__ADS_1


ada satu tempat tidur dengan spre motif anak laki-laki.


“Apa ini kamarku?”


tanya Ayres, merasa senang, dan langsung berlari ke lemari mainan dan mengeluarkan


mainannya.


“Ap aini?”


tanya Evelyn.


“Aku


membuatnya saat Ayres lahir, jadi masih ada ranjang bayinya. Tapi sekarang


sepertinya ranjang bayi ini tidak berguna lagi karena Ayres sudah besar.”


Evelyn tidak


menyangka kalau ternyata Jeremy membuat kamar ini dari Ayres bayi.


“Kau tahu kan


aku memilih berpisah denganmu?”


“Aku tahu.


Hanya saja aku berharap suatu saat kau dan Ayres akan datang ke rumah ini jadi


aku membuatkan kamarnya.” Jeremy menatap Evelyn, berharap wanita itu mengerti


kalau dia memang masih mengharapkannya.


Evelyn menoleh


pada Ayres. “Sayang, ayo dibaju dulu, nanti kau masuk angin!”


Evelyn melihat


ada satu pintu diruangan itu, diapun pergi kesana lalu membukanya dan sesuai


dugaannya kalau isinya pakaian anak-anak yang sangat lengkap.


Saat Evelyn


berada diruangan pakaian. Jeremy menghampiri Ayres yang sedang memegang mainan


tembakan di tangannya lalu membolak-balikkan mainan itu.


“Kenapa?”


tanya Jeremy.


“Aku tidak


punya mainan tembakan!”


“Kenapa?


Mainan itu banyak di toko.” Jeremy duduk di kursi dekat lemari mainan itu.


“Tidak boleh


sama Ibu.”


Jeremy langsung


terdiam, ternyata Evelyn benar-benar over protectif, hanya mainan saja tidak


boleh.


Ayres menyalakan


mainannya itu dan terdengar suara tembakan yang memberondong dan mainan itu


menyala.


“Sangat


bagus! Aku bisa main perang-perangan! Tapi aku tidak punya teman yang akan aku


tembak.”


“Kau bisa menemanimu.”


“Benarkah?


Om mau main perang-perangan?” seru Ayres.


Evelyn yang


mendengar suara mainan tembakan itu bergegas keluar ruangan dengan membawa pakaiannya


Ayres.


“Tidak,


Sayang! Kau tidak mainan tembakan itu. Kau simpan lagi!” serunya lalu buru-buru


mengambil mainan ditangan Ayres dan disimpan di rak mainan.


Ayres langsung


cemberut, wajahnya memerah.


“Kau ini


kenapa? Ayres sedang memainkannya!” tegur Jeremy.


“Ayres boleh


mainan apa saja kecuali itu.” Evelyn langsung memakaikan bajunya Ayres.


“Memangnya


kenapa? Itu hanya sebuah mainan!”


Evelyn tidak


menjawab, hanya menyelesaikan memakaikan bajunya Ayres lalu menyisir rambutnya.


“Kau pasti


belum makan kan? Ayo kita makan.” Evelyn lansgung memegang tangannya Ayres


keluar dari kamar itu. Jeremy segera mengikutinya, sebenarnya dia tidak setuju

__ADS_1


kalau Evelyn terlalu over protective pada Ayres.


***


__ADS_2