Terpaksa Dinikahi Mafia

Terpaksa Dinikahi Mafia
CH-26 Mencari Evelyn


__ADS_3

Sekitar jam 9 pagi, Ryan dan orang-orang suruhannya Jeremy termasuk anak-anak geng lainnya, sudah berpencar menyisir perusahaan-perusahaan yang ada di berkas lamarannya Evelyn. Tidak tanggung-tanggung mereka juga sudah siap dengan senjata mereka yang lengkap, meski sementara hanya tertutup dibalik pakaian mereka.


Tentu saja kehadiran mereka  membuat suasana kacau. Dari tampang dan pakaiannya saja sudah terlihat mereka penguasa jalanan. Satpam langsung saja di giring masuk pos dibawah todongan senjata.  Sementara yang lainnya memasuki gedung bertanya ke bagian recepstionis.


Jeremy sedang berada di kantornya disebuah gedung bertingkat, di salah satu perusahaan otomotifnya. Stelan jas bermerk yang menempel ditubuhnya dengan wajahnya yang kelimis, membuatnya terlihat sangat berkharisma. Siapa yang menyangka dibalik penamfilannya yang sangat terlihat sebagai seorang executive muda yang berhsail, dia juga memiliki pekerjaan bisnis di dunia hitam.


Terdengar ponselnya berbunyi.


“Halo! Bagaimana?” tanya Jeremy, menatap keluar Jendela.


“Tidak ada disini!” jawab Ryan.


“Cari lagi!” perintah Jeremy, sambil menutup ponselnya. Wajahnya terlihat sangat kesal. Ingin sekali dia lempar ponselnya kalau tidak mengingat dia menunggu kabar soal Evelyn.


Beberapa kali Selena menelpon diabaikannya. Dia tidak sedang ingin membahas soal hasratnya, dia ingin menemukan Evelyn secepatnya.


Hingga sampaillah Ryan di sebuah perusahaan dimana tempat Evelyn bekerja.


Satpam di depan gedung langsung pasang badan melihat gerak gerik mereka yang mencurigakan.


“Ada yang bisa dibantu?” tanya Pak Satpam, menyambut dipintu masuk gedung ditempet pemeriksaan tamu-tamu yang datang ke gedung itu. Tampak pintu lewat yang sudah terpasang alat detector disana dilewati beberapa orang yang  berdatangan. Mereka tampak melirik pada orang-orang yang berpenampilan seperti preman-preman itu.


“Aku mencari karyawan yang bernama Evelyn,” jawab Ryan.


“Bekerja di bagian apa?”tanya Pak Satpam, masih berusaha ramah.


“Aku tidak tahu! Cari saja!” jawab Ryan, sambil melangkah mau masuk ke pintu gedung.


Satpam langsung menghampirinya.


“Maaf Pak, kita periksa dulu! Silahkan lewat sini! Nanti Bapak bisa mengisi daftar tamu di receptionis,” kata Pak Satpam, masih berusaha ramah.


Ryan sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan Satpam itu, dia langsung saja masuk ke pintu gedung itu.


“Pak Anda tidak boleh masuk!” cegah Pak Satpam, segera mengikuti Jeremy.


Pria yang bersama Ryan langsung saja menarik mundur tubuhnya Pak Satpam.


“Jangan membuat keributan disini!” teriak Satpam, dia akan marah tapi senjata sudah mendong dikepalanya, membuatnya tidak bisa berkutik.


Terdengar orang-orang yang berteriak melihat kejadian itu. Orang-orangnya Jeremy langsung mengeluarkan senjata menodongkan pada orang-orang yang terlihat akan melakukan pergerakan mengambil ponsel, sudah dipastikan akan lapor polisi.


Ryan mendekati  receptionis wanita itu terlihat kaget dan ketakutan melihat orang orang yang datang itu membawa senjata.

__ADS_1


“Cari karyawan bernama Evelyn! Aku tidak tahu dia bekerja di bagian apa!” kata Ryan, sambil menyimpan berkas diatas meja receptionis dan menunjuk pada tulisan yang ada disampulnya.


Wanita itu menoleh pada berkas itu lalu mengambilnya dengan tangan yang gemetaran.


“Sebentar Pak. akan saya cari,” jawab wanita itu. Jarinya langsung mencari nomor telpon nama perusahaan yang disebutkan Ryan.


“Apa ada karyawan yang bernama Evelyn?” tanya wanita itu.


“Evelyn? Ada!” jawab Satpam yang ada dilantai 12 itu.


“Ada tamu dibawah,“ jawab receptionis itu lalu menatap Ryan.


“Maaf, Bapak namanya siapa?” tanya wanita itu.


“Ada di lantai berapa?” tanya Ryan.


“Nanti saya harus..” belum selesai wanita itu menjawab, Ryan sudah membentaknya.


“Katakan saja dilantai berapa?” bentaknya.


“Di lantai 12 Pak,” jawab Receptionis itu dengan cepat, dia terlihat semakin pucat saja saking takutnya, apalagi melihat Pak Satpam yang berdiri di sudut dengan dijaga pria bertubuh besar itu yang tidak menodongkan senjata lagi.


Ryan melirik pada anak buahnya, lalu mereka naik ke lantai 12. Sebelumnya Ryan mengelurkan ponselnya untuk menelpon Jeremy.


“Kau temui dia! Jangan berbuat macam-macam! Aku akan kesana!” ujar Jeremy, kembali menutup ponselnya.


Evelyn sangat terkejut saat mendengar suara jeritan di ruangan itu, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya didepan sebuah komputer.


“Ada apa sih?” tanyanya sambil berdiri dan menoleh pada Desi yang meja kerjanya tidak jauh darinya.


Terdengar lagi jeritan lalu langsung hening, saat pria-pria yang bertubuh kekar itu menodongkan senjatanya.


Evelyn menoleh kearah pintu masuk menuju ruangannya.


Dia melihat


banyak pria berbaju hitam yang beberap orang menodongkan senjatanya ke sekitar


ruangan, membuat semua karyawan ketakutan karennya.


Awalnya Evelyn juga terkejut dan takut, tapi terdiam saat matanya tertuju pada sosok yang di kenalnya, Ryan, yang waktu itu bertamu menemui Jeremy.


Evelyn mendadak pucat saja melihatnya, apakah Ryan disuruh Jeremy untuk mencarinya?

__ADS_1


“Ssst! Evelyn! Evelyn!” teriak Desi, yang tidak seperti teriakan tapi bisikan.


Dia langsung diam dan kembali duduk saat senjata itu menunjuk kearahnya. Desi merasa heran kenapa Evelyn hanya berdiri diam saja tidak bersembunyi.


Ryan menata wanita yang sedang dicarinya itu.


“Kau! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Evelyn.


Desi terkejut mendengar suara Evelyn bicara, diapun mengangkat tubuhnya sedikit dan mengintip dibalik sekat meja kerjanya. Dilihatnya temannya itu hanya berdiri menatap pria yang sedang menghampirinya. Apakah pria itu suaminya? Batin Desi.


Desi buru-buru menunduk lagi saat pandangan salah satu pria berbadan kekar itu tertuju kearahnya. Setelah itu dia mengintip lagi, dia sangat penasaran dengan semua ini. Apakah pria itu yang telah berselingkuh dari Evelyn?


Ryan menghampiri Evelyn.


“Kau mau apa kemari? Jangan membuat keributan disini!” tanya Evelyn.


“Jeremy yang menyuruhku! Sebentar lagi dia kemari!” kata Ryan, menatap Evelyn.


“ Jeremy? Bukannya dia di Hongkong?” tanya Evelyn, keheranan.


“Dia sudah pulang!” jawab Ryan.


Evelynpun diam, dia tidak menyangka Jeremy akan pulang apalagi menyuruh Ryan mencarinya seperti ini, membuat keonaran dikantornya. Entah harus memakai cara apa mereka dengan mudahnya masuk ke perkantoran ini. Bagaimana dengan polisi? Apakah tidak ada yang melapor polisi?


Desi mengangkat lagi kepalanya mengintip dan dia terkejut saat melihat pria bertubuh kekar itu berdiri didekatnya dan melihat pergerakannya.


“Duduk!” bentak pria itu membuat Evelyn menoleh kearah suara dan melihat Desi yang buru-buru menundukkan kepalanya ke balik sekat.


“Jangan ganggu dia!” teriak Evelyn.


Desi benar-benar ketakutan di bentak seperti itu tapi ternyata Evelyn tidak kelihatan takut, sungguh membuatnya merasa aneh.


Cukup lama Ryan dan orang-orangnya mengusai ruangan ini. Di beberapa titik yang rawan dari pintu masuk sudah berdiri tegak orang-orang Jeremy yang lain.


Akhirnya terdengar suara langkah-langkah kaki memasuki ruangan itu. Evelyn menoleh kearah pintu begitu juga dengan Ryan. Lagi-lagi Desi mengintip saking penasarannya siapa yang datang. Dia terkejut melihat sosok pria bertubuh tinggi dengan memakai stelan jasnya yang terlihat mahal, apalagi saat melihat wajahnya yang tampan, dia langsung tersenyum.


Desi bertanya-tanya dalam hati, apa pria itu suaminya Evelyn? Kenapa Evelyn tidak mengatakan kalau suaminya begitu tampan? Tapi ah tampan juga dia berselingkuh, menyakiti Evelyn,m tetap saja pria seperti itu memang tidak perlu dipertahankan! Batin Desi, dan dia terkejut saat mendapat lilrikan dari pria yang bertubuh kekar itu yang ternyata masih berdiri disana.


Desi kembali menundukkan wajahnya kembali ke sekat meja.


Evelyn terkejut melihat pria yang datang itu, dia tidak menyangka Jeremy akan datang ke kantornya dengan kondisi seperti ini. Pria itu terlihat agak berbeda hari ini. Dia tidak terlihat seperti seorang mafia, malah terlihat seperti seorang CEO tampan yang berkharisma.


*****

__ADS_1


__ADS_2